Showing posts with label konsultan wwtp. Show all posts
Showing posts with label konsultan wwtp. Show all posts

Sunday, 2 October 2016

Desain Proses Biologi Dalam Waste Water Treatment

Desain Proses Biologi Dalam Waste Water Treatment

Konsultan dan kontraktor untuk pengolahan Air Limbah

Proses biologi dalam sebuah sistem pengolahan air limbah adalah suatu proses yang sudah lumrah kita temukan. Kita akan menemukannya dalam banyak sekali IPAL Atau waste water treatment plant, mulai dari IPAL yang berjalan secara konvensional, hingga yang automatic.

Nama dari proses biologi pun berbeda-beda dan beragam, dari mulai nama yang standar hingga nama yang dibuat dalam istilah asing agar terkesan keren dan bisa dijual mahal.

Namun terlepas dari itu semua, semua proses biologi tentu memiliki PAKEM atau prinsip-prinsip tersendiri hingga desain proses tersebut bisa diwujudkan.

Dalam postingan kali ini, kita akan berbicara sekilas tentang cara melihat suatu proses biologi dan kesesuaiannya dengan air limbah yang kita hadapi. Dan sembari membicarakan hal ini, ada baiknya bagi pembaca disini mengerti beberapa konsep yang berhubungan secara langsung dengan proses biologi, antara lain :

1. 6 Hal Yang Harus Di Maintain Dalam Proses Biologi
2. Dissolved Oxygen : Salah Satu Faktor Penentu Keberhasilan Aerob Process
3. Cara Menurunkan BOD dalam Air Limbah
4. Pengenalan Proses Anaerob 
5. Cara Menurunkan COD di air Limbah
6. Beberapa Hal Yang Perlu diperhatikan Dalam Mendesain WWTP

Oke mudah-mudahan sebelum masuk ke postingan Ini, sobat sekalian sudah membaca semua artikel diatas. Sebab akan ada istilah-istilah serta pola pikir yang harus melekat sebelumnya sehingga bisa menyerap apa yang disampaikan disini.

Mari Kita mulai.

Perhatikan Hasil Analisa Inlet Sebelum Mendesain Proses Biologi!

Langkah Pertama dalam mendesain sebuah proses biological untuk IPAL adalah dengan memperhatikan hasil Analisa inlet air limbah. Walaupun mungkin standar baku yang harus Anda kejar tidak mensyaratkan banyak parameter namun saya sarankan Anda tetap melakukan analisa lengkap.

Sebab dari analisa lengkap akan ketahuan bahwa parameter apa apa sajakah yang menjadi sumber masalah dalam sistem Anda. Dan juga bisa diurai nantinya kalau suatu saat ada paramater yang out spek, kita memiliki data telusur.

Dari Hasil Analisa kita juga bisa melihat keterkaitan antara satu parameter dengan parameter lainnya. Seperti parameter TSS yang akan berkaitan dengan parameter COD dan BOD. Parameter Fe dan Mn yang berkaitan dengan parameter TDS, TSS, COD dan BOD dan masih banyak lagi. Untuk itulah pertama kali saat desain kita membutuhkan analisa kumplitnya.


bakteri tetap akan hidup walaupun keadaan untuk tumbuh ternyata tidak optimal

Lihat Kategori Biologi Untuk Penentuan Sistem Oke Sebelum desain kita juga harus memperhatikan Konversi nilai COD dan BOD yang ada. Dan perhatikan aturan Berikut.

1. Jika Nilai COD Lebih besar sedikit saja dari pada BOD, Artinya Limbah Anda Organic Based.
2. Jika Nilai COD 2 x Lipat Dari Nilai BOD itu artinya air limbah Anda adalah Soft Organic Tolerant Based
3. Jika Nilai COD 3x Lipat dari nilai BOD itu artinya Air Limbah Anda Hard Biological Tolerant Based.
4. Jika Nilai COD Lebih dari 3x lipat nilai BOD artinya air limbah tersebut Non Biological Tolerant based.

Dari keempat kategori diatas, yang bisa diolah secara biological hanya kategori 1 sampai 3, sedangkan yang keempat artinya tidak bisa lagi diolah secara biologi.

Penentuan Perlu Tidaknya Proses Biologi Pada WWTP
Untuk selanjutnya kita harus menentukan perlu atau tidaknya suatu proses biologi di-install dalam wwtp. Cara untuk menentukannya adalah dengan melihat nilai-nilai BOD dan COD serta membandingkannya dengan nilai parameter lainnya.

Jika setelah membaca hasil analisa total kita melihat bahwa parameter BOD setelah dikurangi faktor TSS masih tergolong tinggi maka disanalah peran proses biologi dalam IPAL/WWTP diperlukan. Untuk mengetahui topik ini ada baiknya sobat mengunjungi postingan tentang Cara Menurunkan TSS dalam Air Limbah.

3 Desain Proses Biologi Dalam Waste Water Treatment
kita mempelajari hasil analisa, kategori Nilai BOD-COD, dan juga perlu tidaknya proses biologi tentunya para engineer sudah dapat menentukan jenis proses biologi apa yang harus digunakan. Dan berikut ini adalah proses biologi yang umum dipilih :

1. Proses Aerasi

Cara Mengolah Air Limbah Yang benar

Proses aerasi dipilih jika nilai BOD dalam suatu air limbah melewati angkat tiga ratus. Dan itupun setelah diperhitungkan dengan pengurangan BOD setelah proses koagulasi, sedimentasi dan juga pemisahan minyak dan lemak.

Proses Aerasi dilakukan dengan membuat sebuah bak yang berukuran cukup besar (Umumnya sekitar 1 hari debit) yang didalamnya berisi activated sludge. Disana air limbah akan diproses dengan bakteri heterotrop untuk kemudian di dekomposisi sehingga rantai organiknya menjadi pecah dan berubah menjadi CO2 dan H2O.

Dalam tangki ini sobat olah-air akan menemukan juga gelembung-gelembung udara yang dihembuskan dari blower yang terus menyala selama 24 jam. Fungsinya adalah untuk memberikan asupan oksigen pada bakteri yang ada disana sehingga bisa bekerja dengan maksimal.

Bakteri adalah bagian dari proses biologi

2. Proses Anaerob


Proses Anaerob dipilih jika nilai BOD suatu air limbah ada diatas angka 900. Yah sebenarnya bisa juga sih menggunakan proses aerasi hanya saja nantinya akan membutuhkan sangat banyak sekali energi.

Prosesn Anaerob bisa disebut juga dengan proses tanpa udara ataupun fermentasi, disini biasanya akan terjadi suatu proses metanogenenis dan acidifikasi pada air limbah sehingga rantai-rantai organik yang kompleks akan terurai menjadi rantai organik panjang (alifatik).

Proses Anaerob sendiri sebenarnya ada 5 tipe diantaranya adalah Lagoon, CSTR, Anaerobic Filter, UASB, dan Juga Extended UASB (dan kita akan membahas ke 5 tipe ini nanti).

Dalam sebuah tangki anaerobic, isinya adalah media pelekat bakteri dan juga granular activated sludge yang merupakan active sludge yang didesain untuk proses anaerob.

Biasanya ukuran dari tangki anaerobic ini ada diangka 2 hari debit hingga 5 hari semuanya tergantung pada nilai si BOD itu sendiri.

Dalam beberapa kasus, proses anaerobic bisa dipecah menjadi beberapa anaerobic kecil dan dipadukan dengan proses aerasi agar didapatkan penurunan nilai BOD yang maksimum.

3. Proses Anoxic


Proses ini biasanya disebut sebagai proses denitrifikasi, dimana Nitrate dan Nitrite yang dihasilkan akibat proses dekomposisi dari proses aerasi akan dipecah menjadi gas Nitrogen.
Dalam prakteknya, hal ini bisa terjadi di Kolam Sediment II (Sediment After Biological) ataupun di kolam tenang (beberapa praktisi menyebutnya begitu).

Untuk mempercepat proses ini, biasanya ditambahkan bakteri khusus yakni nitrobacter yang banyak ditemukan pada tanah tanaman kacang sehingga zat nitrate dan nitrite dapat diolah dengan baik.


PS : 
Jika Anda ingin belajar lebih banyak tentang dunia pengolahan Air. Silahkan Follow Google plus Mr. Anggi Nurbana disini




Baca selengkapnya

Cara Menumbuhkan Bakteri di Kolam Aerasi atau Anaerob

Cara Menumbuhkan Bakteri di Kolam Aerasi dan Anaerob WWTP

Belajar WWTP Itu Sangat Menarik
Membicarakan sebuah waste water treatment, adalah suatu hal yang sangat menarik. Karena kita tidak saja belajar tentang suatu sistem mekanikal mesin, namun juga kita mau tidak mau harus turut belajar tentang proses biologi.

Dan kali ini, proses biologi yang akan kita pelajari dari sebuah waste water treatment system atau IPAL adalah tentang cara menumbuhkan bakteri.

Bakteri dapat kita temukan dimana saja, dari mulai peralatan yang kita gunakan, sampai udara yang kita hirup sekalipun. Keberadaan mereka sudah menjadi bagian dari hidup kita.

Diantara jenis bakteri, ada yang merugikan manusia (yang disebut bakteri pathogen) dan ada juga yang menguntungkan manusia. Dan bahkan membantu kita menjalani hidup dengan baik, salah satunya adalah bakteri probiotik yang ada di dalam tubuh manusia.



Bakteri Bisa Tumbuh Dimana Saja, Namun Menumbuhkan Yang Spesifik itu Lain Cerita

Walau bakteri bisa tumbuh dimana saja, namun menumbuhkan bakteri yang spesifik adalah soal lain lagi. Selain mahluk yang satu ini tidak terlihat, keawaman kita terhadap syarat-syarat spesifik suatu kehidupan mereka juga acap kali membuat kolam biologi yang kita buat menjadi kurang maksimal bahkan sia sia.

Oleh karenanya, berdasarkan dari cukup banyak pengalaman yang telah kami tangani. Dalam postingan ini kami hendak berbagi pada sobat olah-air.com sekalian tentang bagaimana cara menumbuhkan Bakteri di Kolam Aerasi ataupun anaerob.

Materi Cara menumbuhkan bakteri di proses biologi WWTP ini adalah sebuah materi eksklusif yang kalau saya ngajar secara khusus bisa dihargai 5 juta per-orangnya. Namun kali ini akan saya bagikan dasar-dasarnya secara Free hanya untuk Pembaca olah-air.com sekalian.

Oke. Mari kita mulai saja ya sharingnya disini!

5 Cara Menumbuhkan Bakteri di Area Biologi WWTP

1. Teknik Adapt Seeding


Cara yang pertama ini biasa dilakukan pada IPAL ataupun WWTP yang berkarakter sebagai IPAL Domestik.

Air limbah yang masuk merupakan air limbah dari toilet, yang merupakan tinja dan juga urin dari manusia dan terkadang ditambah limbah dapur dan wastafel.

Proses adapt seeding biasanya tidak memerlukan equipment khusus kita hanya harus menyediakan nutrisi yang menunjang pertumbuhan bakteri yang ada. Nutrisi yang terbaik adalah yang mengandung zat organik dengan komposisi protein dan juga unsur C, H, N dan P yang mudah diurai karena termasuk senyawa organik alifatik.

Air Limbah dibiarkan saja masuk dan diproses melalui IPAL yang ada baik secara anaerob ataupun aerob. Hingga pada suatu titik bakteri tersebut beradaptasi dan bisa mengolah senyawa-senyawa pengotor yang masuk.

Kekurangan dari Cara Menumbuhkan Bakteri Via Teknik Adapt Seeding ini adalah, bakteri akan lambat sekali beradaptasi. Waktu yang diperlukan bisa mencapai 3 bulan lamanya dan paling cepat 1,5 bulan.



Kekurangan lainnya adalah Proses Adapt ini juga belum tentu bisa dengan cepat berhasil, karena nantinya akan ada banyak faktor X yang masuk juga ke IPAL. Seperti masuknya Desinfektan (Karbol dsb), Racun dst. Hingga terkadang proses pengolahan limbah cair secara biologi yang diinginkan tidak kunjung tercapai, akibat bakterinya terus menerus mati dan tidak kunjung bisa beradaptasi.

Makanya teknik ini sekarang-sekarang sudah jarang digunakan karena dirasa terlalu lama dan sulit untuk bisa hand over dengan cepat (Para kontraktor pasti mengerti hal ini)

Lihat juga : 6 Hal Yang Harus Di Maintain Dalam Proses Biologi WWTP

2. Teknik Cross Seeding


Cara kedua dalam menumbuhkan bakteri di kolam aerasi ataupun anaerob adalah dengan teknik cross seeding.

Caranya adalah dengan mengambil lumpur aktif dari tempat lain dengan jumlah tertentu (yang harus dihitung oleh PT. CHEMINUSA sebagai ahlinya hehe) untuk kemudian dimasukan kedalam kolam biologi di tempat yang dituju.

Kelebihan teknik Cross Seeding ini adalah kecepatannya dalam membuat suatu IPAL menjadi berjalan secara normal. Terlebih lagi jika Activated sludge yang digunakan berasal dari pabrik yang sejenis. Misal pabrik minyak mengambil activated sludge dari pabrik minyak juga, atau semacamnya.

Walau memiliki kecepatan, namun teknik ini memiliki kekurangan karena jikalau jenis limbah, ataupun kondisi IPAL tidak sama maka yang terjadi adalah kematian bakteri secara masal yang ditandai dengan kolam aerasi yang menghitam berbau telur busuk.

Lihat Juga : Cara Menurunkan Nilai BOD dalam Air Limbah

Biasanya solusinya yang bisa diambil untuk mengatasi hal ini adalah ketika proses cross seeding dijalankan, kolam juga ditebarkan Enzymax Platino yang berfungsi sebagai bakteri prebiotik penjaga proses adaptasi.

Oh iya hampir lupa, teknik cross seeding ini tidak disarankan (Kemungkinan gagalnya besar) jika diterapkan pada suatu proses anaerob (terlebih jika organic based dengan BOD diatas 5000). Karena dalam kebanyakan kasus bakterinya tidak akan cocok dan cenderung mudah mati.

bakteri tetap akan hidup walaupun keadaan untuk tumbuh ternyata tidak optimal

3. Teknik Start Seeding


Cara ketiga dalam menumbuhkan bakteri adalah dengan menggunakan start seeding.

Teknik Start Seeding ini adalah teknik yang sangat populer dikalangan praktisi waste water treatment. Dikarenakan tingkat keberhasilannya yang tinggi dan juga ketahanannya yang luar biasa pada beragam kondisi IPAL, bahkan pada kondisi peak flow sekalipun.

Di Kolam Biologi di tebarkan biakan bakteri sesuai dengan cemaran dalam air limbah (Bisa Enterebacter, Acinobacter, Clostridium dsb), lalu ditambahkan dengan nutrisi khusus bakteri (NUTRIMO).

Kemudian air limbah dimasukan secara sedikit demi sedikit demi menjaga proses adaptasi. Ketika bakterinya sudah terbentuk, biasanya debit akan dinaikan hingga puncak pada beberapa hari lalu kemudian dinormalkan. Hal tersebut diulang selama beberapa minggu untuk mendapatkan kekuatan adaptasi yang maksimal.
bakteri Pemakan Lemak dan Minyak Special Formulasi By CHEMINUSA 021 7919 7920

Trik agar cara ini berhasil adalah dengan membuat nutrisi serta kondisi lainnya dalam proses ini se-optimal mungkin. Dan juga proses seeding biasanya harus dipantau oleh seeder ahli yang berpengalaman.

Kekurangan dari teknik ini adalah, terkadang membutuhkan waktu lama dalam kondisi stabilisasi (Walau tidak selama adapt seeding).

Cara menanganinya supaya cepat adalah dengan membuat bakteri biakan awal dalam skala besar. Sehingga proses start seeding bisa lebih cepat karena konsentrasi bakteri awal sangat tinggi. Dan jika membutuhkan jasa ini, Kami dari PT. CHEMINUSA punya Solusinya :)

Lihat Juga : Belajar Proses Anaerob di Waste Water Treatment Plant

4. Teknik Mix Seeding


Cara Keempat dalam menumbuhkan bakteri di IPAL/WWTP adalah dengan mencampurkan bakteri yang ada dengan bakteri lainnya.

Biasanya teknik ini dilakukan jika pabrik tempat WWTP tersebut berasal berniat membuat produk baru yang bahan bakunya berbeda dengan yang existing.

Bakteri yang telah ada di injeksi dengan bakteri tambahan (biasanya sifatnya enchancer) plus ditambah dengan nutrisi lengkap. Hal ini ditujukan agar air limbah yang baru datang tersebut bisa langsung diadaptasikan pada proses air limbah yang ada.

Teknik Mix Seeding ini biasanya di maintain pada bulan pertama, dan sudah aman pada bulan bulan berikutnya. Hanya saja jikalau tiba tiba produksi terhenti (Karena batching) maka bersiaplah melakukan adjust bakteri baru lagi saat produksi jalan lagi

Lihat Juga : Cara Menangani Lumpur Aktif Yang Berlebihan di IPAL

5. Teknik Boost Seeding


Cara Kelima dan terakhir ini hampir mirip dengan cara Mix Seeding tadi. Perbeedaannya adalah kita akan membuat kultur bakteri dengan sumber bakteri yang sudah ada di proses limbah existing. Lalu kemudian dibuat menjadi banyak.

Sehingga didapatkan jumlah konsentrasi bakteri dalam jumlah tinggi dalam suatu liquid yang siap ditebarkan di area biologi.

teknik kelima dalam menumbuhkan bakteri via boost seeding ini biasa dilakukan jika jumlah air limbah meningkat akibat produksi yang meningkat juga. Namun produk yang diproduksi jenisnya masih sama.

Bakteri Pemakan Nitrat, Amonia, Nitrit dan Phosfat


Nah Sobat, Itu dia sekilas gambaran 5 Cara dan teknik menumbuhkan Bakteri di Kolam Aerasi dan Anaerob. Dalam prakteknya kelima teknik tadi memerlukan ahli khusus yang memang sudah berpengalaman dalam bidangnya sehingga tingkat keberhasilannya menjadi sangat tinggi. Dan juga pihak perusahaan juga harus mau jujur dengan proses produksi yang terjadi agar didapatkan sistem pengolahan yang terbaik.

Sekian Informasi dari olah-air.com, Mudah-mudahan bermanfaat.


Jika Anda ingin belajar lebih serius Anda bisa melakukan request Workshop Training pada Kami. Atau jika Anda ingin belajar secara gratis, silahkan klik follow pada akun Google plus Anggi Nurbana.
Baca selengkapnya