Showing posts with label cara mendesain IPAL. Show all posts
Showing posts with label cara mendesain IPAL. Show all posts

Saturday, 4 February 2017

Keterkaitan Antar Parameter di Hasil Analisa

Art of CoA Reading : Membaca Keterkaitan Antar Parameter di Hasil Analisa

Hasil Analisa Air Limbah

This Is Knowledge Sharing Not Show Off
Oke Sebelum, adalagi yang mengirim pesan text Wa ataupun menelepon dan menyindir-nyindir saya bahwa saya ini sombong dan sok pamer pengetahuan.
Untuk Anda yang hendak melakukan hal tersebut, ingat! Inna Mal A'mallu Bi Niyat yang artinya Segala amal tergantung niatnya. Dan niat saya adalah untuk mengedukasi para pembaca disini dan secara luas Indonesia agar bisa mendapatkan pencarahan dan pemahaman lebih mendalam tentang hasil analisa.

Dibaca Dulu Awalan Ini : PENTING!
Sobat olah-air.com sekalian. Tulisan kali ini adalah sebuah tulisan yang saya rasa akan sangat berguna bagi sobat-sobat sekalian. Karena tulisan tentang "Membaca Keterkaitan Antar parameter di Hasil Analisa" ini akan memberikan pencerahan dan juga membuat Anda menjadi paham (Ya Walau Sedikit), tentang misteri hasil sebuah CoA.

Dengan memahami tulisan ini, saya mengharapkan pembaca disini akan :
1. Terhindar dari hasil analisa yang salah
2. Bisa menemukan sumber kesalahan dan error dari baku mutu yang terlewat

Dua manfaat tadi benar-benar bisa Anda dapatkan dengan baik, jikalau Anda memiliki skill ini. Dan penting untuk diingat bahwa semua skill akan semakin terasah ketika dilakukan repetisi atau perulangan berkali-kali selama waktu yang panjang.

Dan jujur, skill membaca keterkaitan hasil analisa ini saya dapatkan setelah melalui dan mempelajari banyak sekali hasil analisa dari beragam jenis industri. Dan saya bisa jamin Anda, setelah mempelajari skill ini akan dapat mengalisa secara singkat tentang proses didalam dan bagaimana harus menangani jenis limbah ini.

Satu hal yang harus saya berikan warning pada Anda, para pembaca Olah-Air.Com Adalah walaupun Anda sudah mengerti sedikit lewat membaca artikel ini. Saya Larang Anda untuk melalukan "Penghakiman" Terhadap suatu lembaga yang melakukan analisis, yang setelah Anda baca dengan ilmu ini ternyata tidak sesuai dengan nilai keterkaitan yang saya ajarkan. Karena bisa jadi pencemaran nama baik (Akan lebih bijak jika Anda hanya menghindari penggunaan lembaga atau instansi tersebut).


Apakah ada keterkaitan Antara Satu parameter dengan lainnya?

Ini subjudul yang sudah tentu saya jawab dengan Iya. Karena kita memang sedang menulis artikel yang berjudul hal tersebut. 

Tapi tentu akan ada pertanyaan, memang ada keterkaitan dimananya om Anggi?
Ya keterkaitan dalam banyak hal. Keterkaitan tersebut bisa menunjukan bahwa suatu parameter tersebut seharusnya tinggi atau rendah karena parameter yang berkorelasi dengannya menunjukah suatu hasil tertentu.

Bingung? Mari kita Jelaskan dengan Penjabaran Beberapanya

Sebenarnya kalau dijabarkan akan ditemukan banyak sekali keterkaitan antar satu dengan lainya. Namun untuk keep it simple saya akan mengelompokannya menjadi tujuh saja. Dan semoga Anda bisa memahaminya secara mudah juga.

1. Keterkaitan Antara Parameter COD dan BOD


Yang pertama dan paling mudah adalah melihat keterkaitan antara kedua parameter ini. Yup pasti berkaitan dan bahkan karena sangking berkaitannya saya banyak menemukan asumsi singkat praktisi WWTP,/IPAL atau K3 bahwa COD bernilai 2x dari BOD.

Pernyataan tersebut dinyatakan oleh mereka karena melihat nilai ini selalu berkaitan antara satu dengan lainnya. Dan sudah pasti nilai COD akan selalu lebih besar daripada BOD. Dan bagi Anda yang mau membaca artikel yang membahas panjang tentang hal ini silahkan bisa lihat artikel dibawah :

Lihat Artikel terkait : Korelasi Antara COD dan BOD


2. Keterkaitan Antara Parameter Heavy Metal, Anion, Kation, Surfaktan dengan TDS

tds juga dipengaruhi oleh sabun

TDS memiliki pengertian total padatan terlarut. Yang tentunya akan terdiri dari semua jenis mineral baik ionik maupun non-ionik yang terlarut dalam air. Jika suatu TDS memiliki nilai yang sangat tinggi, maka Anda bisa menilik asalnya dengan melihat segala parameter yang terkait dengannya.

Parameter yang terkait dengan nilai TDS yang begitu tinggi diantaranya adalah : Logam Berat (Fe, Pb, Mn, Ni, Zn, Hg, Cr dan teman-temannya), SO4, Klorida, dan banyak lagi. Jika di hasil analisa air limbah lengkap Anda tidak menemukan pencemar dominan untuk nilai TDS. Cobalah Investigasi pada jalur demin, apakah hasil reagentnya dibuang melalui jalur IPAL?

Sebab salah satu yang sulit dideteksi adalah keberadaan NaCl ataupun KCl dan parahnya senyawa di golongan 1A di SUB (Susunan Unsur Berkala) amat sulit untuk dapat dipisahkan dengan metode pengendapan.

3. Keterkaitan TSS, Heavy Metal, Mineral Oil dengan COD

Timbal adalah salah satu logam berat yang memakai oksigen untuk oksidasi

COD memiliki arti sebagai jumlah oksigen yang dibutuhkan/diperhitungkan secara kimiawi untuk dapat mengoksidasikan semua zat.

Beberapa parameter diatas adalah parameter yang memerlukan proses oksidasi. Dan TSS adalah yang paling utama dalam hal ini. Untuk setiap nilai TSS, setidanya diperlukan 2-6 mg/L Oksigen untuk dapat mengoksidasikannya.

Untuk perkara Heavy Metal, yang akan sangat berpengaruh adalah logam berat yang memiliki dua valensi. Dua valensi itu akan membuat logam tersebut membutuhkan oksigen untuk berangkat kepada nilai oksidasi yang lebih tinggi. Salah satunya adalah besi yang akan cenderung berada pada kondisi besi (III).


4. Keterkaitan pH dengan Nilai Hardness

Air Mengandung hardness akan bernilai basa

Yang ke-empat keterkaitan selanjutnya adalah tentang si nilai pH dengan keberadaan nilai kesadahan atau hardness. 

Teori saya ini dapat dibuktikan dengan cara analisa hardness itu sendiri yang merupakan proses titrasi dari kondis basa ke kondisi netral dengan menggunakan HCl. 

Dan Anda juga bisa menemukan sendiri bahwa, air itu sendir ketika memiliki pH basa alami karena kebanyakan telah bertemu dengan Ion Kalsium yang secara alami telah ada di alam dan didalam tanah itu sendiri.


5. Keterkaitan Fe dan Mn dengan TSS dan Turbidity

Mari kita lihat
Besi akan mempengaruhi warna air

Keberadaan Fe dan Mn di air akan membuat air tersebut menjadi keruh dan berwarna plus berbau. Maka sudah pasti dengan banyaknya nilai Fe dan Mn akan membuat TSS dan turbidity menjadi naik. Dan kalau Anda menemukan di suatu lab pernyataan saya ini tidak terlihat... Hmm.... Saya sarankan Anda segera ganti lab tempat pengujian.

6. Keterkaitan Antara Total Nitrogen dengan Ammonia dan lainnya

Urin salah satu penyumbang nitrogen dan ammonia


Kalau yang satu ini sudah jelas. Karena sumber ammonia, nitrat dan nitrit mengandung unsur N (Nitrogen) maka dari itu kalau Anda mendapati nilai Total Nitrogen cukup tinggi. Coba tengok 3 parameter yang terkait tadi. Atau jika belum menemukan juga, cobalah cari sumber organik apa yang masuk ke dalam air limbah? (Bisa protein atau lainnya).

Oh iya, asumsi ini bisa Anda balik. Kalau parameter ammonia, nitrat atau nitrit tinggi maka tidak mungkin nilai Total Nitrogen akan lebih rendah.


7. Keterkaitan Semuanya Dengan Proses Produksi


Yang terakhir. Semua hasil di hasil analisa air limbah tentunya akan terkait dengan proses produksi yang dilakukan. Logikanya, Tidak akan terlewat suatu standar baku mutu (Jika biasanya dalam masih masuk) ketika tidak ada suatupun proses produksi yang berubah.

Oh iya, Anda bisa investigasi dari mulai urutan proses yang berubah, perubahan operator, perubahan bahan baku, perubahan bahan pembantu ataupun perubahan jam operasional. 

Nah itu dia, artikel tentang keterkaitan antar parameter di hasil analisa. Mudah-mudahan artikel ini tidak membuat Anda puas untuk selalu belajar. Sebab ilmu Allah itu sangat luas, dan kita sebagai umat islam diminta untuk menuntut ilmu hingga liang lahat.


Akhirull kalam, segala sesuatu yang benar adanya dari ALLAH SWT dan yang salah dari saya pribadi.

Wassalammu'alaikum

Salam Lingkungan dan Air Bersih


Mr. Anggi Nurbana


Baca selengkapnya

Tuesday, 24 January 2017

Proses Minimalisasi Sludge Di Air Limbah

Proses Minimalisasi Sludge Di Air Limbah

Dengan pengeringan yang tepat Anda akan mudah mengurangi cost
Filter Press adalah salah satu mesin untuk minimasasi sludge


Sludge atau lumpur adalah sebuah permasalah klasik yang biasanya akan terikut pada hampir semua sistem pengolahan air limbah. Dalam jumlah kecil, pengurusan sludge memang tidak menjadi cost yang memberatkan, namun lain halnya kalau ternyata air limbah Anda mengandung sludge dalam jumlah yang masif yang mengakibatkan cost membengkak. Huh Sungguh tidak mengenakan bukan?

Dalam setiap 1 Ton sludge setiap perusahaan yang membuang ke pada penerima limbah b3 biasanya harus mengeluarkan cost sekitar 800 ribu hingga 1,4 juta rupiah. Jumlah uang ini tentu bukanlah kabar baik bagi sang pemilik perusahaan, tapi apa boleh buat demi menjaga lingkungan dan tidak dikenai sanksi tentu saja Anda harus tetap mengeluarkan cost tersebut.

Saya pribadi telah cukup banyak mendengar keluh kesah tentang masalah sludge ini dari para pemilik usaha ataupun para manager yang bertanggung jawab mengelolanya. Mereka semua cukup banyak yang bertanya tentang bagaimana solusi agar sludge ini bisa habis saat diolah?

Pertanyaan bagaimana sludge ini bisa habis saat diolah, tentu saja tidak bisa saya jawab dengan serius sebab untuk menghabiskan Sludge dari air limbah yang nota bene limbah b3 tentu saja akan menghabiskan biaya installasi yang cukup besar plus biaya operasionalnya. Yang lebih tepat kalau installasi tersebut dimiliki oleh perusahaan yang memang bergerak dibidang penyimpanan dan pemusnahan limbah b3.

Nah maka dari itu, dengan niat membantu Teman-teman pembaca Olah-air.com kali ini saya akan memberikan beberapa tips atau cara tentang bagaimana cara supaya Anda bisa setidaknya meminilamisasi jumlah sludge yang Anda buang ke pemusnah limbah B3 (Dan itu sama artinya dengan reduce cost juga kan hehe).

Oke marilah kita mulai artikel kita kali ini dengan membaca Basmalah (Harusnya dari tadi).

1. Optimalisasi dan Pengawasan Pada Proses Produksi

Anda dapat mengawasi setiap bagian pabrik untuk dapat mengurangi air limbahnya


Inilah upaya pertama yang bisa Anda pilih untuk meminimalisasi jumlah sludge yang harus Anda oleh di IPAL atau Installasi Waste Water Treatment Anda.

Sludge biasanya bersumber dari suatu proses produksi. Dalam berbagai lini biasanya sludge akan tercipta dari sisa bahan baku, bahan proses ataupun bahan jadi yang terbuang.

Maka adalah tepat dikatakan kalau dalam meminimalisasi jumlah sludge, maka yang harus kita optimalkan pertama kali adalah proses produksi di perusahaan kita. Salah satunya dengan menerapkan konsep reduce, reuse dan recycle.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan catering dapat mengurangi jumlah sludge di air limbahnya dengan menyaring terlebih dahulu limbah hasil pencucian peralatan masaknya. Sehingga kotoran seperti nasi, sisa ikan dan lainnya tidak masuk ke saluran air limbah dan bisa dibuang dalam cycle pembuangan sampah domestik.

Contoh lainnya adalah, perusahaan bisa melatih para operator untuk dapat bekerja dengan cara-cara efektif. Sehingga tidak menghabiskan bahan baku ataupun bahan proses lainnya. Lewat cara ini maka dapat membantu mengurangi cost untuk bahan dan mengurangi jumlah air limbah yang diproses juga.

Lihat Juga : Perbandingan 2 Sistem Distribusi Air bersih

2. Gunakan Sumber Air Bebas SS Saat Produksi

Installasi Mesin Water Treatment dapat menurunkan Sludge Di Air Baku Anda

Cara kedua yang bisa Anda lakukan adalah dengan memastikan bahwa air yang Anda gunakan sudah bebas dari Suspended Solid.

Saya kadang menemukan air dibeberapa perusahaan mengandung Suspended solid dalam tingkat yang cukup parah. Dan memperparah hal tersebut, perusahaan pengguna air tidak menggunakan sebuah sistem pengolahan air yang tepat untuk mengeleminasi SS tersebut.

Padahal si SS atau lumpur di air bersih mereka dapat membuat produk yang diproduksi menjadi kotor bahkan cacat. Disamping itu dengan mengurangi atau menghilangkan suspended solid di air bersih maka akan juga berdampak pada berkurangnya sludge di Air limbah Anda.

Lihat juga : 5 Parameter Kunci Pada Baku Mutu Air Limbah

3. Optimalisasi Dosis Koagulan

Coba Optimalkan Dosis koagulan Anda untuk mengurangi sludge

Koagulan seperti PAC, Tawas dan CaO tentu sudah lazim Anda dengar banyak digunakan pada sistem pengolahan Air dan Air Limbah. Namun tahukah Anda penggunaan dosis koagulan yang berlebih justru dapat menjadi masalah besar karena menciptakan sludge yang berlebih juga.

Anda bisa membuktikan tulisan ini dengan mengujinya sendiri. Koagulan seperti tawas dalam dosis yang berlebih akan menimbulkan sludge yang bersumber dari koagulan itu sendiri, bukan dari sludge yang ada di air limbah.

Dengan proses Optimalisasi dosis, tentu Anda dapat memotong cost dari Koagulan dan sludge. Sekali tembak kena dua burung :).

4. Penggunaan Teknologi Minim Sludge

Proses Activated Sludge Akan Menyumbang Sludge dalam Jumlah yang Cukup Banyak

Cara selanjutnya yang bisa Anda pilih untuk minimalisasi Sludge adalah dengan menggunakan teknologi minim sludge.

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, bahwa beberapa proses konvensional di air limbah seperti proses biologi aerob dan anaerob adalah salah satu penghasil sludge dalam jumlah yang banyak.

Sludge tersebut tidak lain tercipta akibat adanya proses ekskresi dari bakteri yang telah mengkonsumsi zat zat organik dalam air limbah Anda.

Maka dengan menggunakan teknologi minim sludge seperti proses Bio CLeaner Anda akan mendapatkan proses pengolahan yang tidak lagi berkubang lumpur. Malah IPAL Anda akan terlihat lebih asri.

Lihat Juga; Desain Proses Biologi di IPAL

5. Eliminasi Sludge Organik dengan Bakteri


Masih terkait dengan proses activated sludge baik aerob ataupun Anaerob. Anda dapat memilih menggunakan pemakan sludge sebelum proses pengeringan dimulai. Beberapa jenis yang terkandung dalam ramuan bakteri Bio Digester akan membantu Anda mengatasi hal ini.

Namun ingat, dalam menggunakannya tidak disarankan untuk menebarkannya pada proses kolam aerob atau anaerob Anda. Karena dikhawatirkan menghabisi semua lumpur aktif yang Anda nantinya.

6. Penggunaan Teknologi Pengering Sludge


Dan tips ke-enam dalam proses minimalisasi sludge di Air Limbah ini adalah dengan menggunakan teknologi pengeringan sludge.

Seperti yang kita tahun bahwa harga cost pengolahan akan bergantung pada berat sludge yang kita transfer ke pemusnah limbah B3. Maka salah satu cara mengurangi cost tersebut adalah dengan membuat limbah tersebut menjadi sedikit. Salah satu caranya adalah dengan mengeringkan si Sludge itu tadi.

Banyak mesin yang bisa Anda pilih untuk melakukan tugas pengeringan sludge ini. Dari mulai menggunakan Belt Press, Filter Press, Screw Press ataupun bisa juga dengan Drying bed atau lainnya. Namun saran saya pilihlah teknologi yang cocok untuk jam proses dan budget untuk IPAL Anda.

Nah itu dia 6 Tips Proses Minimalisasi Sludge di Air Limbah Anda. Mudah-mudahan dapat membantu Anda untuk mengurangi cost dari pembuangan limbah Anda dan bisa mengkonversinya untuk biaya CSR demi menyejahtrakan masyarakat sekitar.

Salam Lingkungan,


Mr. Anggi Nurbana

Baca selengkapnya

Monday, 2 January 2017

5 Parameter Penting di Baku Mutu Air Limbah

5 Parameter Penting di Baku Mutu Air Limbah

Kenapa IPAL bisa berhasil dan bisa juga gagal

Hallo sobat Olah-air.com dimanapun Anda berada. Senang rasanya masih diberi Kesempatan oleh ALLAH SWT, sang maha pencipta langit dan bumi untuk dapat berbagi kembali kepada kawan-kawan sekalian.

Kali ini kita akan mengulik dan ubek-ubek tentang 5 parameter penting di baku mutu air Limbah. Seperti yang kita tahu, standar baku mutu air limbah itu sendiri ada banyak sekali jenis dan penggolongannya.

Dari mulai standar baku mutu perdaerah (Biasanya per provinsi), kemudian ada standar baku mutu untuk tiap industri, Ada standar baku mutu untuk kawasan berikat atau tidak dan ada juga standar baku mutu untuk golongan jumlah total flow limbah industri. nah Lho...

Lihat Juga : Langkah-langkah Assessment WWTP

Total Parameter Asli Ada Banyak, Kenapa Cuma 5?

Yup memang aslinya parameter yang tertera di standar baku mutu cukup banyak. Ada sekitar 30 parameter. Namun kali ini saya hanya akan menghighlight sekitar 5 saja parameter. Sebab 5 Parameter inilah kunci dari suatu sistem pengolahan dapat dikatakan telah tepat dan sesuai dengan karakteristik air limbah yang diolah atau tidak.

5 Parameter Penting di Baku Mutu Air Limbah


1. Parameter Tingkat Keasaman Air Limbah Alias pH
Parameter yang paling penting yang harus Anda cek di air limbah Anda adalah pH. Kenapa pH?
Alasannya cukup mudah, karena pH adalah parameter yang akan turut menentukan si Air tersebut bisa dibuang ke lingkungan atau tidak.

Dan kemudian lagi, parameter ini dapat memberikan info apakah air limbah yang keluar dari sistem utility di perusahaan Anda dalam tingkat bahaya tinggi atau tidak.

Dengan mengetahui nilai parameter pH pada air limbah, minimal kita sebagai penanggung jawab air limbah mengetahui tentang apa yang terjadi dan cara penanganan singkatnya. Yah tentu secara awam semua orang setuju langkah pertama untuk mengolah air limbah adalah menetralkannya.

Lihat Juga : Cara Menghitung Waktu Tinggal di Tangki

2. Parameter Oxygen Demand Related
Parameter kedua yang tidak kalah penting adalah parameter yang oxygen related atau kalau di standar baku mutu biasanya ditandai dengan adanya OD. Seperti Chemcal Oxygen Demand dan Biological Oxygen Demand.

Walaupun parameter Oxygen Related ini tidak muncul pada beberapa golongan standar baku mutu air limbah. Namun keberadaannya cukup penting untuk dimaintain serendah mungkin, sebab jika dibiarkan berada di nilai melewati ambang batas maka parameter ini akan merampas "jatah" oxygen dari biota air dan akhirnya membuat perairan kita tidak lagi indah.

3. Parameter Total Suspended Solid
Parameter TSS ini wajib hukumnya untuk dikontrol oleh penanggung jawab lingkungan di perusahaan kita. Sebab parameter ini adalah parameter yang paling mudah untuk dapat digugat oleh lingkungan sekitar.

Parameter ini juga yang jikalau terlalu tinggi akan menimbulkan pendangkalan aliran sungai yang lama kelamaan akan menyebabkan banjir. Setipe dengan parameter ini adalah parameter kekeruhan atau turbidity.

Lihat Juga : Cara Menumbuhkan Bakteri di IPAL

4. Parameter Heavy Metal alias Logam Berat
Salah satu parameter yang berbahaya jika berada di perairan dalam nilai diatas ambang batas adalah parameter Logam berat.
Logam berat adalah logam yang memiliki molekul diatas berat molekul dari besi. Keberadaan logam berat dalam hitungan ppm saja sudah cukup untuk menjadi pembunuh bagi biota hidup baik yang berada di air maupun yang ada di darat.

beberapa contoh logam berat yang harus kita ketahui diantaranya adalah Cd (Kadnium), Hg (Raksa), Pb (Timbal), Zn, Fe, Cu dan Co.

Salah satu contoh keracunan logam berat yang paling terkenal dan diingat adalah kejadian pencemaran di teluk minamata jepang. Yang menyebabkan kecacatan masal. Oleh karena begitu berbahayanya parameter ini, oleh karenanya seharusnya perusahaan pelanggar parameter ini tidak bisa diberi toleransi lagi dengan membiarkannya tetap membuang air limbah ke lingkungan tanpa adanya proses IPAL.

5. Parameter TDS alias Conductivity
Parameter TDS mencerminkan berapa banyak padatan yang terlarut didalam air. Walaupun parameter TDS ini sebenarnya tidak membahayakan, namun terlewatnya parameter ini bisa menjadi indikasi adanya tumpahan atau cemaran berlebih yang masuk ke badan air.

Cemaran tersebut bisa berupa coolant, garam, chemical atau lainnya. Untuk itulah jikalau tiba-tiba parameter TDS melonjak naik hingga 2 kali lipat dari biasanya, penanggung jawab urusan lingkungan bisa berkordinasi dengan bagian EHS ataupun produksi untuk melakukan investigasi atas tumpahan atau kontaminasi yang terjadi di pabrik.


Beda cara bicara antara orang awam dan engineer


Baca selengkapnya

Wednesday, 13 April 2016

Jenis-jenis Tangki di WWTP/IPAL

Jenis-jenis Tangki di WWTP/IPAL

apa saja jenis tangki ipal
Tangki Sand Carbon dan Softener biasanya ada di WTP

Assalammu'alaikum wr.wb. Apa kabar sobat olah-air.com sekalian?
Senang sekali akhirnya dipagi hari ini ada kesempatan untuk menyapa teman-teman.. Mudah-mudahan di bulan rajab ini kita semua mendapatkan keberkahan baik dari segala sisi.

Kali ini kita akan membahas tentang jenis-jenis tangki di WWTP/IPAL. Jenis tangki ini saya bahas untuk lebih memfamiliarkan teman-teman yang mungkin baru saja masuk ke dalam dunia pengolahan limbah sehingga dapat mengetahui istilah-istilah pada tangki tersebut dan juga fungsinya. Yah sekedar pengetahuan basic lah ya..

Tangki IPAL : Dibahas Berdasarkan Fungsinya dulu 

Oke? are you ready? Jika iya mari kita mulai membahas jenis-jenis tangki di WWTP/IPAL dari yang paling pertama. Btw jika teman-teman ada permintaan untuk pembuatan tangki, yuk segera saja hubungi PT. CHEMINUSA sehingga mendapatkan tangki dengan desain dan harga terbaik. Karena kami menyediakan tangki dari jenis PE, FRP, MS, dan SS.

1. Tangki Sum Pit

Sum Pit (dibaca : Sam Pit), bukanlah alat untuk makan mie ayam yang biasa ada di pinggir jalan. Namun tangki ini adalah tangki tempat berkumpulnya air limbah dari satu section yang sama. Misal dalam sebuah pabrik minyak goreng yang biasanya akan ada sum pit untuk area Raw Material (CPO) dan juga bleaching.
Fungsi dari Sum Pit ini adalah sebagai tempat pengumpul limbah untuk satu departemen yang sama.

Lihat Juga : Cara menghilangkan Lumut dari Tangki

2. Equalization Tank

Equal artinya sama atau serupa. Jadi menurut pemahaman Mr.Anggi pribadi Equalization tank disini adalah sebuah tangki yang difungsikan sebagai tempat berkumpulnya air limbah dari seluruh Sum Pit atau seluruh section. Jenis tangki kedua ini sudah umum ada hampir di setiap unit IPAL.
Di Tangki ini juga kita akan dapat menentukan jumlah debit air limbah optimal secara harian.
Biasanya di Equalization tank, ada beberapa alat untuk meng-equalkan atau menghomogenkan air limbah yang datang. Caranya adalah dengan semburan angin dari kompresor/blower ataupun dengan cara mixing menggunkanan vertical/submersible agitator.

Lihat Juga : Jual Tangki Panel Fiber Glass Berkualitas 

3. DAF Tank

Dissolve air floatation. Tangki ini adalah jenis tangki pengolahan air limbah yang mengandung suspended solid yang berasal dari floating organic material. Air limbah di injeksi dengan koagulan dan flokulan lalu diterbangkan atau dihembuskan dengan udara sehingga tss atau sludge akan berada dan terapung dibagian atas, sedangkan air yang lebih jernih ada dibagian bawah.
Lihat Juga : Cara Memilih pH meter untuk proses Water Treatment


4. Anaerob Tank

Jenis tangki IPAL ke empat ini adalah tangki yang digunakan untuk mengolah air limbah yang memiliki nilai BOD dan COD diatas 5000 mg/L. Proses didalamnya adalah proses fermentasi, lewat proses ini akan dihasilkan gas methane. Ukuran dari anaerob tank ini cukup bervariasi tergantung dari besarnya nilai COD dan BOD dari air limbah itu sendiri. Ada yang sebesar 5 kali flow air limbah perhari ada yang hanya 3 hari.
Lihat Juga : Mengenal proses Anaerob Tank

5. Tangki Aerasi/Aerob

Jenis tangki ke lima ini biasa kita temukan pada hampir setiap pengolahan air limbah. IPAL Rumah sakit, Domestik, food and beverages akan menggunakan tangki jenis ini. Biasanya teman-teman dapat mengenalinya dari adanya bubble yang keluar dari tangki ini yang berasal dari kompressor ataupun blower.
Fungsi dari tangki ini adalah untuk mengolah limbah secara biological dengan cara membuat bakteri dapat mencerna zat-zat pengotor dibantu dengan suplai oksigen yang cukup. (Ada bahasan khusus tentang tangki ini, silahkan cari di kotak search)
Lihat Juga : Jual Bakteri Aerob dan Anaerob

6. Sedimentation Tank

Jenis tangki ipal ke enam ini digunakan untuk mengendapkan sludge yang ada di air limbah. Pada umumnya bentuknya akan seperti cone shapped bottom, yakni sebuah tangki cylinder dengan ujung seperti cone eskrim.
Sedimentation tank ini, rata-rata akan dikoneksikan dengan alat dewatering seperti filter press ataupun drying bed.

Lihat Juga: Cara menemukan Penyebab kerusakan sistem IPAL


7. Discharge Tank

Nah kita sampai di jenis tangki terakhir nih ya.
Discharge tank adalah tangki yang digunakan sebagai tempat pengumpul air limbah yang telah diolah pada tahapan akhir. Titik penaatan pada IPLC akan ada di posisi ini, dan teman-teman akan mengenali tangki ini dengan adanya ikan ataupun mahluk hidup lain yang dipelihara disini. Fungsi ikan tersebut hanya sebagai indikator bahwa air yang dibuang sudah aman untuk mahluk hidup diperarairan.

Nah sobat olah-air.com sekalian. Hari ini sekian dulu sharing dari saya, mohon maaf kalau informasinya belum begitu lengkap. Silahkan Anda mencarinya di search box olah-air,com ini. Karena saya tidak mungkin meramunya menjadi satu artikel saja :)

Tetap semangat belajar dan saran terakhir adalah, Hubungi saya jika Anda mau membeli tangki (Kalau iseng2 doang jangan ya.. biaya transportnya euy sayang kecuali mau digantiin hehehe)
bakteri tetap akan hidup walaupun keadaan untuk tumbuh ternyata tidak optimal


Salam Olah-air.com


Mr.Anggi
Baca selengkapnya

Friday, 25 March 2016

Cara Mudah Menghitung Head Pompa

Berhitung Head Pump Ala Koboy

Salah satu perhitungan adalah dilihat dari jarak secara vertikal maupun horizon


Assalammu'alaikum Wr. Wb.
Hallo sobat sekalian, senang sekali bisa menulis lagi. Kali ini kita akan membahas bahasan yang cukup ringan dan enteng plus selalu dibutuhkan saat mendesain suatu water treatment plant. Yakni tentang cara menghitung head pompa secara mudah.


Hitungan Ala Koboy untuk Head Pump

Yup saya tidak akan menghitung dengan cara-cara yang sulit dan jelimet (Meskipun itu yang benar) karena sebagai engineer dilapangan kita sudah pasti diminta memberikan perhitungan dengan cepat dan akurat. Dan sejauh pengalaman saya perhitungan model inilah yang paling mendekati dan banyak sekali dipergunakan oleh para engineer.

Btw buat Anda yang berasal dari lingkup teknik mesin, mungkin apa yang tertulis disini tidak cocok untuk menjadi konsumsi Anda karena cara menghitung head pompa ini adalah cara saya pribadi supaya mudah saja. Nanti kalau sudah tahu perkiraanya berapa kan kita tinggal lihat saja ke tabel yang ada di katalog pompa hehehe (Kalau bisa gampang ngapain ribet).

Lihat Juga : Teknik dasar Pengolahan Air yang Harus Kamu tahu

Data Apa Saja yang diperlukan

1. Data Jarak Secara Vertikal dimana Air akan melaju
Yup kalau boleh cerita secara praktek. Head adalah kekuatan pompa untuk menyemburkan cairan ke udara secara vertikal (Kalau Anda bayangkan semburannya adalah seperti semburan lumpur lapindo yang ngacleng ke atas). Anda harus mengetahui ke mana si Discharge akan melaju. Dan data ini harus dicatat.

2. Data Jarak Secara Horizontal
Kalau yang ini adalah dataa piping yang Anda perlukan untuk dicatat. Karena setiap 10 meter horizontal akan diperkirakan sama dengan 1 meter head. Yup sekoboy itulah kita akan berhitung. Ngaco? engga.. coba tanya sana-sini hasilnya pun tidak akan jauh berbeda.

3. Data Fitting, Elbow dsb
Selanjutnya yang Anda harus tahu adalah ada berapa kelokan yang akan dilalui oleh si fluida hingga sampai ke tempat yang dituju. Dan ini adalah salah satu data yang Anda perlukan secara mutlak untuk mendapatkan perhitungan dari head pompa.

lihat Juga : Jenis-jenis membrane RO

Sekarang Mari Berhitung Head Pompa


Setelah semua data kita dapatkan, mari memperhitungkan tentang headnya. Andaikan saja kita mendapatkan data sebagai berikut :
Perbedaan Tinggi : 3 meter
Total Track Horizontal : 100 meter
Total Kelokan : 7 Kelokan

Sehingga head dari pompa adalah : 3 + (100/10) + (7 x 0.5) = 16.5 meter Head
Total Head Pump jika disesuaikan dengan pompa adalah : (16.5 x 10)/7 = 23.6 mH

Yup sekian perhitungan ala koboy tentang cara cepat menentukan head suatu pompa. Btw pompa yang saya maksudkan ini adalah pompa air ya bukan pompa untuk liquid dengan spesific gravity yang lebih berat dari air (Karena perhitungannya sudah pasti berbeda).

Salam Hangat


Mr. Anggi
Baca selengkapnya

Thursday, 22 October 2015

Cara Mengetahui Kadar COD Tanpa Melakukan Analisa di Lab

Cara Mengetahui Kadar COD Tanpa Melakukan Analisa di Lab

Untuk mendapatkan Update informasi terbaru tentang Olah-air.com silahkan Likes Fan Page Facebooknya di : www.facebook.com/olahairdotcom

Hallo sobat olah-air.com sekalian.
Sudah lama sekali belum menulis lagi, karena kesibukan dalam proyek dan satu serta lain hal.
Walau begitu, saya melihat grafik olah-air.com yang terus naik hmm.. Berarti Blog ini benar-benar dibaca ya? Alhamdulillah kalau begitu :)

Kalau Mau Menurunkan COD Baca Ini : Cara Menurunkan COD dalam Air Limbah

Baiklah, kali ini kita akan membahas suatu ilmu karuhun.. Suatu ilmu rahasia yang tidak akan Anda dapatkan dalam buku manapun. Baik dalam metcalf eddy sekalipun. ilmu mengenai cara mengetahui kadar COD Tanpa melakukan analisa di Lab ini ilmu yang sangat mahal sekali. Karena saya dapatkan berdasarkan pengalaman, pengamatan serta trial dan error di lapangan. Untuk itu, bagi teman-teman pembaca setia Olah-air.com Silahkan kita simak baik2 ya :)

COD apakah itu?
Saya yakin teman-teman sekalian sudah familiar dengan yang namanya COD, COD bukan artinya Cash On Delivery (seperti ala Kaskus). Namun COD disini adalah Chemical Oxygen Demand, yakni jumlah oksigen yang dihitung secara kalkulasi kimia yang dibutuhkan untuk mengoksidasikan zat-zat yang Ada didalam air.

Lihat Juga : Korelasi Antara COD dan BOD

Apa Coba Kuncinya?
Oke.. Sudah tau kuncinnya? ya Kuncinya adalah Oksigen, serta zat yang dioksidasikan. Berarti Tinggi rendahnya COD ditentukan oleh banyaknya Oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasikan suatu zat. 
Dan perlu diingat lagi, bahwa ada zat yang dioksidasikan... Berarti zat ini berada dalam kondisi valensi/Biloks rendah atau negatif sehingga perlu di oksidasikan.

Apa Saja yang menjadi Ciri dari Tinggi Rendahnya COD di dalam Air?
Beberapa ciri sebenarnya sudah pernah saya tuliskan dalam beberapa pos saya sebelumnya di olah-air.com (Bagi yang ketinggalan silahkan ketik COD di kotak Search)

1. Banyak tidaknya Endapan atau TSS
Banyak atau tidaknya endapan secara langsung mempengaruhi nilai COD pada air. Kenapa? Karena dalam pengukuran COD, yang biasa digunakan adalah Kalium Dikromat (Sillahkan Ingat-ingat kembali pelajaran teknik kimia). Dan Kalium dikromat akan bereaksi dengan apapun yang bisa dioksidasikan. Dan Endapan atau sludge adalah termasuk zat yang bisa dioksidasikan. 
Sehingga, jika kita menemukan suatu sample yang memiliki Endapan atau TSS yang cukup tinggi. Maka bisa dipastikan COD dalam sampel tersebut nilainya tinggi. (lain halnya kalau Anda memisahkan endapannya terlebih dahulu).

Mau Menurunkan Nilai TSS? Lihat Artikel Cara Menurunkan TSS 

2. Bau si Air yang kita temukan
Hal kedua yang dapat menjadi acuan sebagai nilai tinggi atau rendahnya suatu COD adalah bau si sample. Mengenang bau.. Hmm.. Agak kurang enak disebutkan, tapi okelah.. adanya bau pertanda adanya zat aromatik yang terdispersi di udara.. Kata kuncinya.. Zat aromatik.. 
Berarti semakin bau suatu air atau sample maka kemungkinan besar si sample tersebut memiliki nilai COD yang tinggi dan begitu pula sebaliknya.
Kalau Airnya Bau Kemungkinan Besar COD-nya Cukup Tinggi

3. Nilai Viskositas atau kekentalan si Air
Kalau yang ini berdasarkan pengalaman. Biasanya air yang memiliki nilai kekentalan tidak wajar, akan mengandung nilai COD yang tinggi. Kalau dalam kasus pengolahan air limbah hal ini biasanya terjadi pada air limbah yang terlalu banyak diberi dosisi flokulan.

Ada yang Aneh Bos.. Endapan Ga Ada, Bau Juga Engga, Viskositasnya Normal! Tapi kok tetap tinggi?
Oke.. Pertanyaan menarik. .
Sebenarnya tiga ciri diatas hanya jadi dugaan awal saja. Namun jika tiga ciri diatas tidak ada pada sample air yang kita terima. Maka mari merenung sejenak tentang proses yang ada sebelumnya (Silahkan baca Kriteria Waste Water Engineer untuk Info ini).

Ingatlah atau coba lakukan introgasi tentang proses sebelumnya atau bagaimana si air bisa menjadi air limbah..

Dari sana akan ketahuan zat apakah yang menyebabkan si air memiliki nilai COD tinggi. Dan hal ini tidak bisa dilakukan hanya dengan pengamatan panca indra saja, namun harus sudah memakai intuisi.
Dalam beberapa kasus, misalnya di pabrik plating.. Anda harus ingat bahwa ada proses menggunakan Chrom. Dan Kemungkinan ada Chrom 3 disana.. Dan itu berarti harus dioksidasikan (Ngaruh ni sama nilai COD).

Dan kasus lainnya dalam produce water (Produce water itu adalah air yang dihasilkan dari aktivitas pengeboran, silahkan ngobrol dengan mud engineer tentang hal ini). Dalam produce water, kita harus ingat disana terdapat banyak sekali tambahan mineral. Namun zat apakah yang menyebabkan nilai CODnya menjadi tinggi? Hehe Apa Coba?? Coba ingat lagi kata kunci untuk COD.. Dan silahkan tebak sendiri.. (Ayoo Belajar masa disuapin terus) :).

Oke.. Sekian Postingan tentang Cara mengetahui kadar COD dalam Air tanpa Melakukan Analisa di Lab. Untuk mendapatkan Update informasi terbaru tentang Olah-air.com silahkan Likes Fan Page Facebooknya di : www.facebook.com/olahairdotcom

Salam Olah-Air.com

Mr. Anggi Nurbana

PS: Untuk Mendapatkan Update Terbaru dari postingan Artikel Olah-air.com. Disarankan untuk meng-add saya di google plus. Karena google memiliki fasilitas autoshare untuk setiap artikel terbaru, jadi Anda tidak akan pernah kelewatan info dari saya.


Baca selengkapnya

Tuesday, 6 October 2015

Cara Menghitung Ukuran Tangki Aerasi dan Kebutuhan Udara Aerasi

Cara Menghitung Ukuran Tangki Aerasi dan Kebutuhan Udara Aerasi


Ah.. Sudah lama rasanya dari tulisan saya yang terakhir di olah-air.com ini.
Kali ini kita akan membahas bagaimana ukuran tangki aerasi yang sesuai dan juga kebutuhan udara di tangki aerasi.

Untuk mendapatkan Artikel Terbaru dari Olah-air. Silahkan Add google plus penulis

Latar Belakang Dibahasnya ini

Sebelum jauh membahas tentang permasalahan ini, mari cerita latar belakang sedikit mengapa saya membahas "Cara Menghitung Ukuran Tangki Aerasi dan Kebutuhan Udara Aerasi". Tulisan ini dibuat untuk salah satu pertanyaan yang masuk ke email saya di anggi.kkei@gmail.com dari salah seorang engineer di perusahaan pembuat STP.

Okelah.. Berhubung lagi baik.. mari kita bahas saja langsung tentang persoalan ini.

Data yang didapat untuk Menghitung Aerasi

Engineer Selalu berhitung By Data. Bukan By Dukun

Sejauh dia berkorespondensi dengan saya, berikut adalah beberapa data yang diberikan, yang bisa kita pelajari disini :
Inlet : 
Debit 24 m3/Day
COD 350 mg/L
BOD 250 mg/L
Amonia 80 mg/L

Target Outlet :
COD 80 mg/L
BOD 50 mg/L
Amonia 1 mg/L ? (Sepertinya Data yang diberikan Pak Daiki ini harus dikoreksi sedikit)


Mari Pelajari Data Ini

Dari data yang diberikan oleh bapak Daiki (Bukan Nama Sebenarnya) ini, terlihat jelas bahwa air limbah yang kita hadapi berkategori air limbah domestik. Hal ini bisa dilihat dari besaran COD dan BOD (Yang masih masuk konversi organik) Plus dengan banyaknya amonia.
Dari sini juga bisa dilihat, bahwa yang dihadapi bukanlah air limbah domestik dari sebuah tempat tinggal. Namun air limbah ini berasal dari tempat dimana orang-orang hanya berkantor saja. Dan menurut pengalaman saya kemungkinan orang yang ada di kantor ini berkisar 100 orang/hari.

Lalu, dari target yang diminta ternyata mengacu pada standar baku mutu limbah domestik. Lebih tepatnya standar baku mutu limbah domestik untuk daerah jakarta. (Walau target amonianya seharusnya dikoreksi menjadi 10 mg/L)

Butuh Standar Baku mutu? Lihat Artikel Tentang Standar Baku mutu 

Urutan Desain yang Tepat untuk IPAL Limbah Domestik

Sebuah sistem yang baik, tidak bisa bertumpu hanya pada satu komponen saja. Seperti Sebuah Motor, yang terdiri dari mesin, roda, stang, spion dan lainnya. Jika salah satu komponen rusak, maka sistem si Motor maupun ke-amanan sang pengendara akan turut rusak. Untuk itu, sembari kita mereview lagi pembahasan tentang Desain IPAL domestik. 
Berikut adalah susunan Sistem IPAL yang berdasarkan pengalaman saya, amat disarankan untuk dibuat.
Setidaknya Desain Harus Mencakup Prinsip Dasar Ini

Kembali Ke Pertanyaan Utama "Berapa Ukuran Tangki Aerasi yang harus Disediakan?"

Ukuran tangki aerasi yang disarankan adalah 1,5 kali debit harian. Sehingga jika sewaktu-waktu ada lonjakan penghuni di kantor tersebut. Maka IPAL tidak akan kolaps dan tetap bisa bertahan.
Namun, seiring dengan pengalaman saya dalam membuat IPAL, ternyata bisa juga didesain area aerasi hanya 1/2 atau 1/3 dari debit harian. Dengan catatan memakai bakteri khusus yang diformulasikan dari campuran bakteri dan enzim pencerna zat organik.
Jadi untuk ukuran tangki aerasi ini, sebenarnya sekitar 36 m3. atau minimum sekali 24 m3. Yang jika dirinci maka ukuran bak ini sekitar 3 x 3 x 3m (Ingat selalu gunakan faktor koreksi untuk ketinggian air.)



bakteri tetap akan hidup walaupun keadaan untuk tumbuh ternyata tidak optimal
Tidak Terkait, namun penting : Inilah Jobdesk Dari Welding Inspector

Berapa Kebutuhan Udara pada Area Aerasi?

Anda Bisa Pilih Ring atau Root Blower untuk Aerasi

Sebenarnya pertanyaan ini sudah dibahas pada postingan saya sebelumnya di SINI.
Jadi langsung saja saya hitungkan dan berikan hasilnya. 
Hasinya, kebutuhan udara yang diperlukan adalah (Dihitung dari Blower) sekitar 0,3 m3/menit. Atau jika Teman-teman mau melihat tabel blower, maka akan didapatkan kapasitasnya sekitar 1,5 kW sampai 3 kW (Nanti tergantung konfigurasinya apakah mau disatukan dengan equalisasi atau hanya di area areasi saja)

Berapa jika kita konversikan ke DO, maka jawabannya sekitar 4 - 6 mg/L sudah cukup.

Apakah Dengan aerasi saja Amonia ini bisa turun drastis?
Jawabannya bisa Iya dan tidak, iya jika bakteri yang digunakan telah Pas dan Cocok dalam menangani Amonia (Disarankan membeli starter bakteri yang baik seperti Enzymax atau Enzymatic). Dan bisa tidak jika sistem yang dijalankan mengalami kerusakan atau ketidak sesuaian.
Intinya semuanya tidak terlepas dari Desain, Aktualisasi, serta pengoprasian yang tepat.

Oke Sekian Pembahasan kita kali ini, untuk pertanyaan seputarn pengolahan air dan air Limbah, atau ingin menjadikan kami sebagai konsultan untuk perusahaan Anda. Silahkan Kontak Kami dibawah ini.

Mau Mendapatkan Artikel terupadate langsung ke email Anda? Add google plus saya disini


Baca selengkapnya