Showing posts with label anggi nurbana. Show all posts
Showing posts with label anggi nurbana. Show all posts

Friday, 17 August 2018

Cara Menghilangkan Pengotor dari Biogas

Cara Menghilangkan Pengotor dari Biogas

Cara tercepat untuk membuat biogas menjadi bersih

Hallo sobat olah-air.com sekalian, senang sekali ketemu libur yang cukup panjang. Yang artinya saya bisa memberikan beberapa materi untuk website tercinta yang akan membahas tentang solusi-solusi dalam bidang water treatment dan environmental engineering.

Kali ini sesuai subject, kita akan membahas tentang cara menghilangkan pengotor dari biogas. Biogas adalah gas methane yang dihasilkan dari proses anaerobic yang banyak digunakan sebagai sumber energi. Dan rasanya untuk bahasan sejarah dan beberapa bahasan lainnya bisa ditemukan dalam link dibawah ini :

4 Partikel Pengotor / Pollutant pada Biogas dan Cara Menghilangkannya !

Ada setidaknya 5 partikel/senyawaan yang biasa kita temukan dalam biogas yang dihasilkan. 5 jenis partikel ini akan menurunkan kualitas dari biogas yang dihasilkan, merusak fasilitas biodigester dan juga akan membuat biogas yang dihasilkan gagal untuk menyala.

Dan dalam artikel ini kita kan membahas tentang apa sajakah mereka dan cara untuk menghilangkan pengotor tersebut dari Biogas.

Baca Juga :
- Pretreatment untuk Proses Biogas
- Sejarah Asal Mula Penggunaan Biogas 
- Proses Anaerob Penghasil Biogas

A. Uap Air

Air dapat kita temukan hampir disemua bahan baku dari biogas ini. dari mulai kotoran hewan ternak, limbah sawit, sampah organik, dedaunan kering (Jerami dsb) dan lainnya semuanya mengandung air maka tentu saja air akan menjadi salah satu kandungan yang keluar bersamaan dengan gas methane.

Keberadaan uap air dalam biogas dapat membuat biogas yang dihasilkan gagal ignite, dan berkualitas rendah. berikut ini adalah beberapa cara yang bisa diambil
 1. Mendinginkan Biogas dengan Passive Cooling ; 
Pipa pentransfer Biogas dapat dipendam dalam tanah untuk memberikan efek pendinginan pasif, untuk selanjutnya uap air akan menjadi kondensat yang dapat dipisahkan.

2. Pendinginan dengan Heat Exchanger
Biogas dapat didinginkan dengan dilewatkan pada heat exchanger, kemudian gas yang sudah dilewatkan dikeringkan.

3. Penyerapan Uap Air
Cara ini adalah yang paling umum dan gampang diaplikasikan. wadah pengumpul biogas diletakan bahan penyerap air seperti silica gel, kapur, glycol atau lainnya. Air akan terserap pada absorbent dan gas yang keluar akan lebih bersih dari uap air.

Baca Juga : Konsultan Pengolahan Air Indonesia

B. H2S atau Sulfida

Sulfida akan banyak ditemukan pada biogas yang dihasilkan dari sampah organik ataupun dari kotoran. Kandungan sulfida yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya korosi pada biodigester, dan juga bisa merusak tungku. Sulfida juga kita tahu dapat mereduksi senyawaan metal/logam sehingga menjadi karat dan rusak.

Keberadaan Sulfida dapat dideteksi dari baunya yang seperti telur busuk.

Cara untuk menghilangkan pengotor sulfida dalam biogas adalah sebagai berikut :

1. Proses Water Scrubbing
Biogas dilewatkan pada water scrubber tower. Dimana air disemprotkan dan airnya yang turun ke bawah akan mengandung sulfida, sedangkan udara yang keluar akan bebas dari sulfida. biasanya proses dilanjutkan denngan menggunakan gas dryer.

2. Menggunakan Karbon Aktif
Karbon aktif diletakan pada jalur aliran biogas atau tempat penyimpanan biogas. Carbon aktif dapat menyerap sulfida dan pengotor lainnya sehingga biogas yang dihasilkan bisa lebih bersih.

3. Menggunakan Fe(OH)3
Besi atau bahan kimia Besi Hydroksida bisa juga digunakan untuk menyerap sulfida. Sulfida akan menyebabkan Fe(OH)3 berubah menjadi FeS yang berwarna hitam

Cara Mendesain Biodigester

C. Ammonia

Ammonia pada biogas dapat menyebabkan timbulnya bau pesing pada biogas dan menyebabkan korosi pada peralatan dan pemipaan. Untuk menghilangkan ammonia dapat menggunakan beberapa cara berikut :

1. Water Scrubber
Prinsipnya sama dengan ketika menghilangkan Sulfida. Sifat ammonia yang larut di dalam air, akan membuatnya turun bersamaan dengan turunnya tetesan air dari water scrubber.

2. Proses pendinginan
Bisa dengan menggunakan proses passive cooling, dimana ammonia nanti akan terikut bersama dengan uap air yang mengembun. Namun proses water scrubber masih menunjukan hasil yang lebih baik dari pada proses ini.

Baca Juga : Solusi dari Permasalahan di Cooling Tower

D. Partikel atau Debu

untuk menghilangkan partikel debu ataupun yang sejenis dari biogas dapat dengan menggunakan dust filter atau pun semacam dust collector. Nanti akan diperlukan semacam blower ataupun compressor untuk mempercepat proses ini.

Oke Sobat olah-air.com itu dia cara-cara untuk melakukan pemurnian pada Biogas. Untuk aplikasi secara besar dan skala komersial tentang plant biogas, dapat menghubungi kami secara langsung.



Baca selengkapnya

Thursday, 2 August 2018

Pretreatment Untuk Proses Menghasilkan Biogas

Pretreatment Untuk Proses Menghasilkan Biogas di Biodigester

Biogas dihasilkan dengan mesin biodigester


Selamat malam, sobat sekalian. Alhamdulillah sekarang bisa kembali menulis ditengah kesibukan proyek yang sunggu menyita perhatian dan waktu. Kali ini kita masih akan membahas tentang proses Biodigester untuk menghasilkan biogas dari Biomassa.

Dalam postingan sebelumnya tentu sudah dijelaskan tentang pengertian dari Biogas dan Sejarahnya. serta beberapa proses anaerob untuk menghasilkan biogas.

Kalau belum, maka sobat Olah-Air.Com dapat membacanya pada postingan dibawah ini.

Kali ini sesuai dengan subject, kita akan membahas tentang proses pretreatment untuk menghasilkan Biogas dari alat biodigester. Yang akan kita bahas ini, adalah tentang aplikasi pada Biodigester skala kecil. Yakni skala 25 Kg perhari hingga 250 kg perhari. Skala kecil ini biasanya diterapkan pada alat biodigester yang dipasang pada pemukiman pendudukan yang cukup padat, dengan tujuan untuk menurunkan jumlah sampah, dan memberikan imbal balik energi untuk dapur umum.

Apa saja sih, proses pretreatment untuk menghasilkan biogas, langsung saja kita Cekidot dibawah ini :
- 6 Teknik Anaerob Penghasil Biogas
- Sejarah Komersialisasi Biogas

1. Pemilahan Sampah Yang Bisa dan Tidak

Proses pertama yang harus dilakukan pada sampah atau biomassa yang akan dimasukan pada biodigester adalah kita harus melakukan pemilahan terlebih dahulu. Kita pilah, mana sampah yang dapat diproses dengan bakteri pengurai sehingga menjadi biomassa penghasil biogas dan mana sampah yang tidak dapat terurai.

Pada umumnya, semua sampah yang sulit terurai seperti : plastik, kaca, kaleng, logam, fiber, bahan bakar harus dipisahkan terlebih dahulu. Sehingga tidak terjadi kerusakan pada biodigester.

Lalu beberapa sampah organik yang sulit terurai juga harus dipisahkan agar tidak merusak atau memberikan "penyakit" pada biodigester. Beberapa sampah organik yang juga harus turut dipisahkan (Berdasarkan pengalaman) antara lain :

a. Daun Pisang
Daun pisang, dilapangan dapat menyebabkan Biodigester menjadi kembung seperti orang bunting (Asli ini pengalaman). Walaupun masih tergolong sebagai bahan organik, namun ternyata dilapangan daun pisang ini sulit diuraikan oleh alat biodigester.

Daun pisang, dalam jumlah yang cukup banyak akan menggumpal dalam biodigester, dan tidak turut hancur menjadi slurry. Hal ini menyebabkan proses peleburan dan pemecahan gas methane menjadi terhambat. Berujung pada biodigester yang membengkak.

Oleh karenanya, sangat dianjurkan (Wajib dah) untuk memisahkan daun pisang dari sampah yang akan masuk ke dalam biodigester.

Daun pisang dapat dikubur dan diberikan taburan slurry dari biodigester sehingga berubah menjadi kompos bagi tanah.

Cara pretreatment untuk proses biogas


Lihat Juga : Cara Melihat Keterkaitan Parameter di Hasil Analisa Air Limbah

b. Kayu
Bahan organik kedua yang sangat disarankan untuk dipisahkan sehingga tidak masuk ke dalam biodigester yang kita kelola. Zat lignin dalam kayu, merupakan salah satu zat yang akan menghambat proses penguraian, karena lignin terdiri dari makromolekul kompleks.

Makanya, disarankan untuk tidak memasukan kayu (apalagi dalam ukuran besar), kedalam alat biodigester.

c. Biji Mangga dan Alpukat
Sampah organik ketiga adalah kedua jenis biji ini. Saya juga belum menemukan alasan kenapa kedua jenis biji ini sulit diuraikan dalam alat biodigester. walaupun tidak sampai menyebabkan biodigester menjadi "sakit" seperti akibat memakan daun pisang. namun biji mangga dan alpukat ini setelah lama diproses dalam biodigester ternyata tidak menjadi hancur. Malahan akan keluar seperti bentuk aslinya bersama dengan slurry.

Yang jelas, kedua jenis biji ini dapat menghambat pada saluran keluar slurry karena keduanya tida menjadi hancur dalam proses penguraian dalam biodigester.



Lihat Juga : Memasukan Nilai Ergonomi dalam tata letak System

d. Makan Yang Kemungkinan Mengandung Kimia
Jenis sampah organik keempat yang harus dipilah ini disebabkan karena bahan kimia dalam makanan tersebut akan mengganggu proses penguraian bakteri penghasil biogas dalam biodigester. Makan seperti Ikan Asin, bakso serta makan instan curah lain seperti kornet dan nugget curah kemungkinan mengandung Boraks, Formalin dan pengawet lainnya yang sebaiknya dipisahkan dari sampah organik yang akan masuk ke dalam biodigester.

Boraks, Formalin serta bahan pengawet dapat memberikan efek anti oksidasi dan anti bakteri. Sehingga dilapangan dapat membuat proses penguraian menjadi lebih sulit. Hasilnya adalah biodigester menjadi lebih cepat penuh dan lebih sedikit biogas atau gas metane yang dihasilkan.

Lihat Juga : Teknik Pengolahan Limbah di Pabrik Sawit


Cara Mengolah Sampah untuk proses biogas di Peta hijau


2. Pencacahan Sampah Organik

Proses pretreatment kedua adalah dengan mencacah sampah yang akan masuk ke dalam biodigester. Sampah organik dicacah atau dipotong potong dalam bentuk ukuran sekitar 2cm. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses penguraian oleh bakteri.

Proses pencacahan bisa dilakukan dengan menggunakan pisau ataupun dengan mesin pencacah tersendiri.

Lihat Juga : 7 Point Penting dalam mendesain STP

3. Pencampuran Sampah Organik

Proses pretreatment terakhir adalah dengan melakukan pencampuran sampah tadi ke dalam alat biodigester.

Sampah dimasukan perlahan sambil dilakukan pengocokan. Tujuannya agar tidak terjadi penumpukan biomassa dalam satu sisi biodigester saja. Dengan pencampuran perlahan juga, untuk menghindari air sampah menjadi berceceran.

Itu dia 3 proses pretreatment yang biasa dilakukan pada alat biodigester skala kecil untuk menghasilkan biogas. Semoga bermanfaat. Dan stay tune terus dengan Google Plus Mr. Anggi Nurbana agar selalu mendapatkan Update Informasi tentang pengolahan air dan air limbah.

Salam Lingkungan



Mr. Anggi Nurbana


Baca selengkapnya

Thursday, 3 May 2018

4 Cara Melunakan Air Limbah

4 Cara Melunakan Air Limbah



Air limbah adalah air yang telah tercemar oleh polutan tertentu sehingga air tersebut tidak lagi aman untuk dibuang ke lingkungan bebas. Air Limbah juga sangat berbeda dengan Limbah B3. Dimana limbah B3, memiliki kandungan air yang rendah, malah kebanyakan polutan daripada airnya.

Oh iya, kembali ke topik. kali ini kita akan membahas tentang cara-cara untuk melunakan air limbah. Yakni sebuah proses untuk membuat air limbah menjadi lebih mudah diolah. Tujuan proses ini tentu untuk dapat mengolah air limbah secara lebih efektif dan lebih murah serta aman.

Contoh kasus :
Sebuah perusahaan farmasi, memiliki buangan air limbah dari produk ekspektoran mereka. Jika limbah tersebut langsung dibuang ke lingkungan maka akan merusak. Dan jika langsung diolah, maka tentu membutuhkan proses yang berat. Oleh karena itu dilakukanlah proses pelunakan air limbah.

Dibawah ini adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk melunakan air limbah :

1. Penambahan Limbah Domestik
Sobat bisa menambahkan Limbah domestik yang berasal dari toilet ataupun dari washtafel pada air limbah konsentrat yang sobat miliki. Teknik ini akan membuat air limbah tercampur dan memiliki jumlah volume lebih tinggi, namun memiliki jumlah polutan yang lebih rendah secara rata-rata.
Dengan begitu, proses pengolahan air limbah dapat menjadi lebih mudah.

efek tambahannya adalah, nanti standar baku mutu yang harus digunakan akan menjadi lebih ketat. Karena bukan lagi standar baku mutu air limbah industri tapi ke limbah domestik.

2. Pencampuran dengan Limbah Jenis Lainnya
Teknik kedua hampir mirip dengan yang pertama. hanya saja ada sedikit perbedaan. Disini air limbah industri dicoba dinetralkan dengan limbah industri lainnya. Seperti air limbah hasil regenerasi anion di homogenkan dengan air limbah regenerasi cation. Maka akan terjadi air limbah yang netral (Walau tds-nya naik ya hhehe).

Pengaplikasian teknik ini pada intinya adalah dengan menghomogenkan jenis-jenis limbah yang bisa saling netral atau saling reaksi. Yang perlu diingat adalah menghindari reaksi oksidasi ataupun pembakaran terjadi.



3. Penggunaan Air Terbuang
Ada banyak air yang terbuang dan tidak masuk ke dalam kolam air limbah. Padahal air tersebut bisa membantu proses pelunakan air limbah sehingga menjadi lebih mudah diolah. Beberapa saran saya untuk air terbuang yang dapat digunakan antara lain :
a. Air Wastafel dan Wudhu
b. Air buangan Boiler
c. Air Buangan Cooling Tower
d. Air hujan (kalau yang ini sebenarnya ga boleh)

4. Gravitasi Process
Cara pelunakan air limbah yang keempat adalah dengan membuat beberapa proses fisika gravitasi. Pemisahan padatan tersuspensi dilakukan terlebih dahulu. Teknik ini bisa dilakukan dengan membuat beberapa pit sedimentasi. Bisa juga dengan membuat oil ataupun junk trap.
Dengan proses ini, parameter pengotor dapat dikurangi dengan usaha yang minimal, namun akan memberikan impact yang besar pada pengolahan selanjutnya.
ahli pengolahan air indonesia


Baca selengkapnya

Tuesday, 1 May 2018

7 Point Penting Dalam Pembuatan Desain STP

7 Point yang Penting untuk Dipertimbangkan dalam Pembuatan STP


STP atau Sewage Treatment Plant adalah salah satu sistem yang dibuat untuk dapat mengolah Limbah Domestik. STP sering disebut juga dengan IPAL Domestik, karena IPAL jenis ini dimaksudkan untuk mengolah limbah domestik.

Selama hampir 10 tahun bergelut dalam bidang pengolahan air limbah dan air bersih. Saya cukup banyak menjumpai STP yang dibuat dengan mengabaikan beberapa point penting yang saya sebutkan disini. Hasilnya STP tersebut akhirnya menjadi gagal dalam mengolah air limbah yang masuk.

Kegagalan tersebut akan menimbulkan hasil olahan STP melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Dan dalam jangka panjang akan membuat STP tersebut menjadi malfunction.

Dan dalam postingan kali ini, kita akan sama-sama mengulas secara singkat tentang apa saja sih point penting yang harus turut dipertimbangkan dalam pembuatan STP, sehingga memiliki hasil yang ideal dan mampu mengolah limbah hingga masuk ke dalam baku mutu yang dipersyaratkan.

Lihat Juga : Cara Memilih Metode NDT yang sesuai

1. Ukuran Biological Process

Point pertama yang harus dipertimbangkan adalah ukuran dari proses biologi untuk STP. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa STP akan mengolah air limbah yang banyak mengandung pengotor yang berasal dari aktifitas sehari-hari manusia. Yakni Mandi, Cuci, Kakus dan masak.
Oleh karenanya, kebanyakan air limbah yang masuk ke STP tentu mengandung senyawa organik dalam jumlah yang tinggi (walau tidak setinggi air limbah industri makanan dan minuman). Maka dari itu, sejatinya STP itu sendiri akan bertumpu pada proses biologi untuk menghilangkan pencemarnya.

Tingkat cemaran biologi pada STP biasanya diukur pada parameter : COD, BOD, Oil & Grease serta ammonia. Yang sebagian besar dari parameter tersebut akan diselesaikan lewat proses biologi jenis aerob atau aerasi.

Untuk ukuran tangki aerasi, idealnya harus memiliki 1 hari dari debit full limbah yang masuk. Atau paling sedikit berjumlah 3/4 hari. Jikalau kurang dari itu, maka dikhawatirkan proses pengolahan yang terjadi tidak akan maksimal dan akan lebih banyak gagalnya dari pada berhasil.

Misalkan, debit air limbah yang masuk perhari adalah 30 m3/day, maka untuk ukuran aerasi setidaknya adalah 22.5 m3.

Hal ini untuk memastikan bakteri memiliki waktu proses dan waktu tinggal yang cukup, untuk dapat menguraikan senyawa organik yang melekat sebagai pencemar di air limbah.

Lihat Juga : Cara menghilangkan Warna di Air Limbah

2. Ruang Hidup Bakteri


Point penting kedua dalam pembuatan desain STP adalah penyiapan ruang hidup bakteri. memang pada dasarnya banyak yang berpendapat bahwa untuk membuat bakteri dapat hidup maka cukup menyediakan ruangan biologi baik aerasi ataupun anaerob.
Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, namun untuk praktek saat ini saya rasa kurang tepat. Sebab saya pribadi telah membuktikan dilapangan, tanpa didukung dengan media bakteri maka proses pengolahan bisa menjadi seperti trial dan error. Lagi, bakteri juga akan lebih cepat tumbang ketika air limbah mengalami fluktuasi debit ataupun parameter pencemar.

Kita ibaratkan, manusia untuk hidup hanya disediakan sebuah aula yang luas. Dan dalam aula tersebut ada ratusan orang. Maka manusia tersebut tidak akan nyaman dalam beraktifitas dan bekerja karena privasinya terganggu. Senada dengan hal tersebut, untuk bakteri yang sama-sama mahluk hidup juga perlu diberikan ruang khusus tersendiri agar memiliki privasi dan kenyamanan yang lebih dalam beraktifitas.

Ruang untuk bakteri tesebut dapat diterapkan dengan media seperti :
a. Bioball
b. Honey Comb
c. MBBR
d. Biocylinder / Caged Crum Ball

dari keempat media bakteri tadi, saya paling merekomendasikan menggunakan metode ke-empat dikarenakan efektifitasnya di lapangan yang saya temukan lebih tinggi serta lebih tahan banting ketika menghadapi fluktuasi.

Lihat Juga : Honey Comb Vs Bio ball, Mana yang lebih baik?

3. Pretreatment

Point ketiga yang sangat penting dalam pembuatan rancangan STP adalah persiapan pretreatment sebelum air limbah masuk ke pengolahan Inti.

Pretreatment disini dimaksudkan untuk mencegah benda atau sesuatu yang bukan peruntukannya masuk ke dalam jalur pengolahan air limbah STP.

Pretreatment yang dapat dipasang antara lain :
a. Wastafel grease Trap
b. Junk Trap
c. Bak Kontrol
d. Water Mur
e. Emergency Line

4. Grease Separator


Grease atau Oil separator (Biasa disebut juga dengan grease trap) adalah bangunan atau alat yang digunakan untuk dapat menangkap lemak sebelum masuk ke dalam sistem pengolahan inti. Sebab lemak memiliki ikatan organik yang cukup kuat yang sulit dipecahkan dengan proses fisika ataupun biologi. Jikalau bisapun maka akan membutuhkan retention time yang lebih lama daripada biasanya.

Oleh karenanya menginstall grease separator sebelum STP adalah langkah yang cukup bijak untuk mengamankan effluent dari terlewatkannya baku mutu yang dipersyaratkan.

Grease atau oil trap dapat dibuat sekaligus besar ataupun dipecah menjadi bagian-bagian kecil tiap wastafel. Untuk hasil yang lebih efektif disarankan untuk memecah grease trap menjadi bagian kecil. Karena dengan begitu lemak akan dengan lebih mudah dipisahkan karena jumlahnya lebih sedikit dan lebih mudah dalam pemantauanannya.

Lihat Juga : Membaca Keterkaitan Antara Parameter di hasil analisa

5. Nutrient Dosing

Point kelima yang penting untuk dipertimbangkan adalah pemberian nutrisi atau nutrient dosing pada STP.

Point ini penting untuk dilakukan ketika dua hal ini terjadi :
a. Starting Culture
b. Idle System



Untuk starting culture, tujuannya adalah untuk membooster pertumbuhan bakteri dengan nutrisi yang tepat sebelum akhirnya dapat beradaptasi dengan makanan dari air limbah yang ada.

Dan untuk idle system adalah ketika tidak ada asupan air limbah yang masuk, maka bakteri dapat menjadi kanibal karena mereka menjadi kelaparan. Hal ini biasa terjadi ketika gedung mengalami libur cukup panjang. Dalam kejadian seperti ini perlu ditambahkan nutrisi tambahan untuk menjaga daya hidup bakteri yang telah dengan susah payah kita pelihara dalam sistem STP kita.

Lihat juga : Desain Proses Biologi di IPAL Domestik

6. Odour Remover

Bau adalah salah satu masalah yang sering ditemukan dan dikeluhkan oleh orang-orang yang berada disekitar STP baik karyawan ataupun warga sekitar.

Bau juga dapat mengurangi estetika serta semangat kerja, yang dalam jangka waktu lama bahkan bisa menyebabkan konflik.

Maka dari itu, untuk sebuah sistem STP yang baik, seharusnya sudah menyiapkan proses penghilangan atau peredaman bau yang muncul. Proses penghilangan bau itu sendiri dapat dibuat dengan pembuatan exhaust fan ataupun dengan pengembangan culture bakteri yang tepat. Bakteri jenis enterobacter, dan Azetobacter serta Bacillus dapat menjadi pilihan yang cukup tepat dan hemat energi dalam praktek penghilangan bau di STP.

Lihat Juga : Cara Menghilangkan Bau di WWTP/IPAL

7. Final Make-Up Process


Point terakhir yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan STP adalah perlunya dibuat proses make-up pada tahap akhir.

Proses make-up ini adalah untuk mendempul hasil buangan agar masuk ke dalam standar. Beberapa parameter seperti TSS, Total Coliform, Warna, Rasa, Bau, pH dan lainnya perlu di make-up untuk memastikan semuanya ok dan masuk ke dalam standar.

Bebeberapa cara make-up yang dapat dipilih antara lain :
a. Installasi Filter Carbon dan Sand/ Multimedia Filter
b. Pembelian jalur atau Tube Chlorinasi
c. Dosing dan pH Reader untuk alkali

Oke sobat olah-air.com itu dia 7 Point penting yang dapat sobat includekan dalam STP yang sedang sobat persiapkan. Untuk hasil terbaik dalam pembuatan STP, selalu pilihlah dan gunakan ahlinya.

Salam hangat,



Mr. Anggi Nurbana
Water Treatment Specialist

Baca selengkapnya

Thursday, 21 September 2017

5 Kesalahan Dalam Mendesain RO System

5 Kesalahan Dalam Mendesain RO System



Selamat datang kembali di website kesayangan kita yang selalu memberikan ilmu-ilmu seputar water treatment. Kali ini kita akan membahas tentang beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh para praktisi dibidang water treatment.

Kesalahan tersebut adalah seputar desain RO. Yang dimana, saya cukup banyak menemukan dilapang terjadi bukan hanya sekali atau dua kali namun sering kali ditemukan.

Dan yang lebih parahnya lagi, customer yang menghubungi kita mau terjadi perbaikan secara permanent dan tahan lama namun hanya dengan mengandalkan mengganti membrane. Ya, kebanyakan dari mereka hanya menyalahkan membrane yang dipakai atau installasi yang dipasang tidak sesuai. Haduh haduh..

Okelah, dari pada kita terlalu lama dipembukaan yang akhirnya malah kaga jelas juga mau dibawa kemana. Kita langsung saja ke materi utama sesuai judul diatas “ 5 Kesalahan Dalam Mendesain Sistem RO

1. Tidak menggunakan Pretreatment


Kesalahan pertama yang paling umum saya temukan dilapangan adalah, ketika sang kontraktor ataupun owner memiliki RO yang tidak ada pretreatmentnya.

RO tanpa Pretreatment adalah pencerminan dari  salah satu dari dua hal, antara Si Kontraktor yang kurang ilmunya, atau si Owner yang hanya mau tahu murahnya saja (Seriusan ini).

Ketiadaan Pretreatmtent pada system RO merupakan kesalahan yang sangat fatal. Karena ini akan mengakibatkan umur membrane yang semakin berkurang. Bilamana sebuah membrane standarnya bisa digunakan untuk system Reverse Osmosis selama 6 bulan sampai 1 tahun, maka dengan tiadanya Pretreatment di System RO usia si Membrane tadi bisa berkurang hingga setengahnya.

Masalah lain yang bisa terjadi adalah, naiknya konduktiviti atau TDS dari Air Permeata/Product. Hal ini disebabkan karena partikel pasir ataupun hypochloride yang merusak permukaan membrane sehingga terjadi proses RO yang tidak sempurna.

Lihat Juga : Tips Dalam Memilih Material Tangki

2. Menggunakan Pipa PVC


Kesalahan selanjutnya dalam mendesain system reverse osmosis adalah, ketika si Kontraktor menggunakan pipa PVC dalam prosesnya.

Perlu diingat, proses Reverse Osmosis akan melibatkan pompa bertekanan tinggi. Sehingga dapat berpotensi memecahkan pipa PVC dalam prosesnya. Oleh karenanya dalam proses RO khususnya RO untuk industry, saya selalu menggunakan Pipa Stainless ataupun Hardened PE dalam prosesnya. Untuk menghindari pecahnya pipa saat proses.

Resiko terkecilnya adalah akan adanya kikisan pipa PVC yang masuk ke membrane akibat terikut aliran high pressure.

Lihat Juga : Tips Memilih Pompa RO Untuk Air Laut

3. Tidak Memiliki Interlock

Keselahan ketiga dalam proses perancangan Reverse Osmosis adalah ketika system yang dibuat ini tidak memiliki interlock. Bagi yang belum tahu, interlock secara sederhana adalah sebuah system pengamanan yang dipacu oleh suatu keadaan lain.

Salah satu contohnya adalah sebuah Sistem RO di perusahaan Farmasi kota hujan. Disana system RO-nya tidak memiliki interlock untuk mematikan mesin ketika tangki penampungan hasil sudah penuh. Sehingga air akan luber jika mesin lupa dimatikan ketika tangki penuh.

Beberapa contoh interlock yang sebaiknya Anda pasang dalam system RO Anda adalah :
a. Interlock Pompa RO dengan Tangki Permeate
b. Interlock Over Pressure dengan Pompa RO
c. Interlock dengan system CIP ketika nilai tds melewati batas permeate

Lihat Juga : Cara Membaca P&ID Water dan Waste Water Treatment Plant

4. Hanya Berstandar Parameter TDS 

Kesalahan keempat dalam perancangan system RO adalah ketika yang menjadi kuncian di panel RO Anda hanyalah parameter TDS atau Conductivity saja. Hal ini sebaiknya Anda hindari untuk kebaikan Anda sendiri (dan usaha Anda tentunya).

Proses Reverse Osmosis, kebanyakan ditujukan untuk mendapatkan air yang murni yang tercermin dari nilai TDS yang rendah. Hal ini sedikit benar, namun untuk jangka panjang jadi salah. Lho kok gitu?

Ya iyalah om, Perlu Anda tahu bahwa standar baku mutu air minum bukan hanya berkutat dinilai TDS saja. Namun ada nilai lainnya seperti pH, Mikroba dan logam berat.

Dan system RO, hanya bisa untuk mengeleminasi dua cemaran yang saya sebutkan terakhir tapi tidak bisa menjaga nilai RO berada pada range netral. Oleh karenanya saya sarankan untuk para pembuat RO (Reverse Osmosis) untuk memasang On Site transmitter lainnya pada mesin RO mereka. Agar bisa menjaga kenetralan nilai pH air yang dihasilkan.

Lihat Juga : 6 Jenis Trouble Pada Sistem Reverse Osmosis

5. Tidak ada precaution system


Kesalahan kelima dari RO yang banyak dibuat oleh kontraktor lain di luar sana adalah, ketiaadaan precaution system di system RO mereka.

Karena, tahukah Anda bahwa air permeate RO dapat naik nilai TDSnya jika disimpan saja dalam tangki penyimpanan. Oleh karenanya perlu proses penjagaan dengan sirkulasi permeate agar tidak terjadi kenaikan nilai TDS.

Selain itu, agar tidak timbul bakteri di air ro yang telah kita hasilkan. Penting sekali untuk menginstal disinfection system pada use point air RO tersebut, khususnya bagi para pelaku usaha dunia consumer goods seperti makanan dan minuman. Karena saya pernah menemukan adanya Air permeate RO yang memiliki kandungan coliform dalam jumlah tinggi akibat ketiadaan disinfection system.

Nah itu dia, sudah lima kesalahan yang kita bahas. Saya rasa sudah saatnya kita berhenti. Sebab, tidak baik untuk mencari-cari kesalahan orang hehehe.
Sekian dari saya mohon maaf jikalau ada kekhilafan dalam penulisan artikel 5 kesalahan dalam mendesain system Reverse Osmosis. Mudah-mudahan kita dapat berjumpa dikesempatan lainnya.



Salam Hangat,

Mr. Anggi Nurbana

Baca selengkapnya

Monday, 10 July 2017

Cara Menghilangkan Warna di Air Limbah

Cara Menghilangkan Warna di Air Limbah

cara tercepat membuang warna di air limbah tekstil


Assalammu'alaikum wr. wb.
Apa kabar sobat olah-air.com sekalian? semoga sehat selalu dan diberikan keberkahan dalam setiap aktifitasnya.

Kali ini kita akan membahas tentang warna mewarnai, alias cara menghilangkan warna di air limbah. Proses penghilangan warna di air limbah ini menjadi cukup penting kita bahas karena warna pada air dapat menjadi indikasi penting tentang keberadaan polutan. Baik pollutant tersebut berbahaya ataupun tidak.

Warna Tidak Ada di Baku Mutu Air Limbah?

Kalau kita mau melihat ke dalam standar baku mutu air limbah yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia, ternyata kita tidak menemukan adanya parameter warna yang menjadi patokan buangan air limbah itu sendiri. Makanya, jangan heran kalau banyak perusahaan yang ketika membuang air limbahnya merasa baik-baik saja padahal air limbah mereka masih berwarna pekat.

Pemenuhan Warna Air Limbah Untuk Ketenangan Masyarakat dan Estetika
Sebagai seorang pengusaha, tentunya ingin agar usahanya berjalan dengan langgeng, aman dan damai tanpa ada banyak gangguan dari beragam pihak.

Gangguan tersebut biasanya bukan terjadi tanpa alasan, namun malah bisa menjadi suatu indikasi suatu masalah harus diselesaikan. Karena jika tidak diselesaikan gangguan-gangguan tersebut dapat menjadi sumber kebocoran dana besar dan merugikan bagi perusahaan. Salah satu yang sering dijadikan alat pemerasan ya adalah masalah warna pada air limbah ini.

Warna air limbah yang berbeda dengan warna air pada asalnya atau bahkan bisa berwarna pekat hingga tidak tembus cahaya dapat menjadi suatu polemik di masyarakat. Untuk masyarakat yang berada disekitar bantaran sungai ataupun yang menggunakan sumur dangkal tentunya akan merasakan keresahan yang bukan main.



Masyarakat yang tadinya merasa aman dan nyaman untuk dapat menggunakan air sungai, akhirnya merasa khawatir dan takut untuk menyentuh air yang dulu mereka biasa gunakan tersebut.

Walau dengan sejuta klaim yang telah diberikan oleh para pengusaha dan bagian EHS mereka, dalam otak kita sebagai manusia sehat tentu ragu bahwa air yang berwarna pekat tersebut bisa digunakan Jangankan kita, merekapun yang para pengusaha ataupun pekerja pabrik penghasil limbah itupun pasti takut menggunakannya.

Walau dengan sejuta klaim yang telah diberikan oleh para pengusaha dan bagian EHS mereka, dalam otak kita sebagai manusia sehat tentu ragu bahwa air yang berwarna pekat tersebut bisa digunakan Jangankan kita, merekapun yang para pengusaha ataupun pekerja pabrik penghasil limbah itupun pasti takut menggunakannya.
Lihat Juga : Cara Penanganan Lumpur Aktif Berlebih di Sistem WWTP

Masalah Warna Pada Air Limbah, Harus diatasi!
Yup demi menghilangkan keresahan warga dan juga demi menutup lubang kebocoran dana tutup mulut yang harus perusahaan Anda keluarkan setiap waktu maka solusi yang terbaik adalah dengan menghilangkan warna pada air limbah yang Anda hasilkan tersebut.

Targetnya tidak perlulah hingga benar-benar bening seperti air kemasan, minimal hingga sampai tembus cahaya ataupun warna tersebut hanya nampak seulas saja. Hal tersebut tentu sudah dapat membuat warga sekitar menjadi lebih tenang dan kantong perusahaan juga lebih aman hehehe..

Warna Pada Air, Dari Mana Sumbernya?
Kalau ditanya seperti ini, tentu jawaban saya adalah banyak. Sebab banyak sekali faktor yang dapat menjadi donatur dalam mewarnai air limbah tersebut. Dari mulai TSS, logam berat, zat organik dan lainnya. Yang tentunya tidak dapat kita generalisir.

Namun yang dapat Anda jadikan pegangan adalah, jenis kegiatan apa yang ada di perusahaan Anda sehingga dapat menghasilkan limbah berwarna seperti sekarang?

Dari sana kita tentu dapat menguraikan treatment yang sesuai untuk mengurangi ataupun bahkan menghilangkan warna yang melekat pada air limbah tersebut.

Cara-Cara Menghilangkan Warna di Air Limbah
Untuk dapat menyelesaikan suatu masalah, tentu kita harus menemukan akar masalah tersebut terlebih dahulu agar solusi yang diberikan menjadi efektif. Dan dalam hal ini saya akan coba memberikan beberapa solusinya langsung sedangkan akar masalahnya harus Anda temukan atau anda cocokan dengan solusi yang saya berikan ini.

1. Koagulasi dan Flokulasi
Proses ini cocok untuk sumber warna yang berasal dari TSS. Dimaka ketika endapan turun dan menjadi sludge maka serta merta warna juga akan berkurang intensitasnya.
Proses ini diawali dengan pengaturan pH hingga ke pH koagulasi optimal, lalu ditambahkan koagulan yang sesuai untuk jenis limbah tersebut kemudian dilanjut dengan penambahan flokulan.

Proses ini cocok untuk limbah-limbah sebagai berikut : Limbah Domestik, Limbah Pemotongan Hewan, Limbah Textil (Hilir) dan air limbah lain dengan tingkat TSS yang tinggi.

Lihat Juga : Mengenal Teknik Segregasi Air Limbah

2. Oksidasi
Cara kedua untuk menghilangkan warna pada air limbah ini dalah dengan proses oksidasi. Beberapa zat warna dapat dengan mudah dioksidasikan sehingga rusak dan akhirnya tidak lagi mewarnai air. Beberapa oksidator yang dapat anda coba antara lain ; Hidrogen Peroxida, O-Nascent, Hypochlorit.

Cara ini juga bisa digunakan untuk membantu proses koagulasi dan flokulasi manakala pengotor yang ada dalam air perlu dioksidasikan terlebih dahulu agar bisa diendapkan.

Proses ini cocok untuk ; Limbah Domestik, Limbah Pabrik Makanan dan Minuman, Limbah Farmasi, Limbah Textil.

Untuk proses pengeringan menggunakan warna dari sludge dryer


3. Proses Biologi
Cara ketiga untuk menghilangkan warna, adalah bisa menggunakan proses biologi. Cara ini bisa dipakai khusus untuk kasus warna yang disebabkan oleh zat-zat organik. Warna-warna dari industri farmasi, makanan minuman, serta limbah domestik adalah yang termasuk bisa dengan mudah diurai menggunakan proses ini.

Untuk warna yang berasal dari industri tekstil juga dapat diurai namun hasil penguraiannya tidak akan sebaik dengan dua proses sebelumnya.

Lihat Juga : Cost Dari Sebuah Sistem Reverse Osmosis


4. Absorpsi Dengan Media
Cara keempat ini dapat kita temukan banyak aplikasinya dalam setiap IPAL ataupun WWTP. Warna diserap menggunakan media active carbon ataupun ferolite /manganesse. Untuk activated carbon filter bisa untuk menyerap warna dari zat organik. Sedangkan ferolite dan manganesse bisa kita gunakan untuk menyerap zat anorganik seperti besi ataupun mangan.




5. Bleaching
Teknik kelima dalam menyerap warna yang bandel di dalam air limbah adalah dengan menggunakan bahan kimia bleaching. Teknik ini banyak dipakai untuk warna yang mudah rusak ikatannya menggunakan kaporit ataupun clorin.

Namun untuk warna-warna yang pekat sebaiknya menghindari penggunaan bleach sebab akan berakibat pada naiknya nilai tds dan toksitas air.

Itu dia pengetahuan umum mengenai cara-cara menghilangkan warna pada air limbah. Jika Anda masih memerlukan bantuan seputar pengolahan air limbah. Silahkan ikuti petunjuk dibawah ini.

Salam Hangat,


Mr. Anggi Nurbana





Baca selengkapnya