Showing posts with label ahli wwtp. Show all posts
Showing posts with label ahli wwtp. Show all posts

Thursday, 5 July 2018

6 Teknik Anaerob dalam Pengolahan Air Limbah


6 Jenis teknik Anaerob Dalam Pengolahan Air Limbah

Hallo sobat sekalian, masih bersama Mr. Anggi Nurbana di olah-air.com. Sesuai dengan janji saya pada postingan sebelumnya bahwa dalam sekitar 5-7 postingan ke depan kita akan membahas tentang proses biogas. Dan maka dari itu, pada postingan kali ini kita akan membahas tentang salah satu tahapan proses pembuatan biogas, yakni proses anaerob. 

Anaerob, sesuai namanya adalah suatu proses penguraian zat organic tanpa menggunakan udara. Proses ini biasanya dibantu oleh bakteri jenis autotroph. 

Dalam proses anaerob, bakteri dipaksa untuk melakukan penguraian zat makanan dengan memecahkan zat organik menjadi unsur dan senyawa yang lebih sederhana. Target utama dari proses anaerob adalah penguraian rantai panjang organic menjadi rantai pendek sehingga terjadi penurunan nilai COD, BOD maupun TOC pada air limbah sedangkan terbentuknya gas methane (biogas) adalah sebagai hasil samping yang diharapkan. 

Setidaknya ada 6 Jenis teknik anaerob yang cukup popular dan digunakan secara luas. Dalam postingan ini kita akan membahas secara singkat, gambaran tentang ke-enam proses anaerob tersebut dari segi positif dan negatifnya pula. Sudah siap? Yuk mari kita bahas bersama. 


1. Anaerobic Lagoon 


Proses Anaerob di Kelapa sawit sangat mudah dengan lagoon
Contoh Penampakan Anaerob metode Lagoon



Anaerobic Lagoon adalah system pengolahan air limbah metode biologi yang paling mudah. Mudah dikarenakan tidak memerlukan teknologi khusus, hanya memerlukan sebuah kolam atau danau yang cukup besar untuk menampung 30 hari debit. 

Tidak memerlukan pengaturan khusus seperti pembatasan nilai suspended solid ataupun pun penambahan bahan kimia. 

Metode Anaerobic lagoon ini, sangat banyak dipilih oleh perusahaan sawit. Khususnya mereka yang memiliki lahan yang sangat luas sehingga leluasa untuk membuat kolam bervolume ribuan kubik. 

Kekurangan metode ini adalah diperlukannya lahan yang sangat luas, sehingga tidak cocok untuk usaha yang berada di lingkup area terbatas (kalaupun ada mahal banget harga tanahnya) seperti Jabodetabek. 

Kekurangan lainnya dari metode anaerobic lagoon adalah harus ada usaha untuk pengerukan dead sludge secara berkala. Jikalau tidak maka akan terjadi pendangkalan kolam yang berakibat berkurangnya waktu tinggal anaerob terus berimplikasi pada gagalnya proses pengolahan. 


2. Continously Stirred Reactor (CSTR) 



Teknik Anaerobic kedua yang cukup dikenal adalah CSTR. CSTR adalah sebuah teknik anaerob dimana air limbah ditempatkan dalam sebuah bejana tertutup kemudian dilakukan pengadukan atau stirring secara constant. Hal ini membuat proses dekomposisi suspended solid menjadi lebih baik dibanding dengan proses dengan lagoon. 

Kelebihan lainnya adalah waktu tinggal air limbah dapat dikurangi lebih banyak menjadi hanya dibawah 7 hari saja. Selain itu, nilai biogas atau gas methane yang dihasilkan juga jauh lebih banyak dibanding dengan metode lagoon, sebab gas methane diarahkan untuk mengalir pada satu lubang pipa khusus. 

Kekurangan dari metode ini adalah , perlunya installasi cost yang cukup tinggi sebab memerlukan equipment stirrer dan tangki yang cukup besar. Ditambah lagi material untuk kedua equipment tersebut juga tidak bisa dari bahan fiber melainkan harus dari steel dengan proteksi linning tambahan. 

Kekurangan lainnya dari proses CSTR adalah, sulit mengambil biomassa yang mengendap dikarenakan sludge selalu tercampur dalam cairan limbah. 

Kekurangan ketiga adalah perlunya energy yang konstan untuk proses pengadukan air limbah yang datang. Dan sebagai catatan untuk bisa berhasil, air limbah yang datang diharapkan akan sama jumlahnya dengan air limbah yang keluar. 

3. Anaerobic Contact Process 
Proses ini hampir mirip dengan CSTR, namun ada tambahan sedimentation tank. Hal ini tentu bagus untuk membantu memisahkan air limbah yang sudah jernih dengan yang masih terlihat kotor dan mengandung banyak solid. Namun proses ini juga tentu memerlukan biaya lebih banyak dibandingkan dengan CSTR. 

4. Anaerobic Filter 
Teknik anaerob yang satu ini dianggap cukup baik untuk menumbuhkan dan mempertahankan daya hidup bakteri. Sebab bakteri diberikan rumah tinggal berupa rongga-rongga filter sehingga mereka bisa bekerja dengan lebih baik. 

Teknik ini tidak memerlukan banyak energy seperti CSTR, sehingga dalam installasinya tidak memerlukan banyak installasi elektrikal. 

Kekurangan dari teknik ini adalah kelemahannya dalam menghandle limbah yang mengandung banyak sludge biomassa. Serta banyak kemungkinnan tersumbatnya lubang filter. Maka dari itu, system ini tidak cocok untuk air limbah dengan kandungan TSS yang tinggi. 

Kekurangan lainnya adalah, kita harus selalu memantain pH dari air limbah tersebut dan memastikannya berada diatas angka 4. Sebab dalam salah satu aplikasi di perusahaan farmasi ternama, metode ini ternyata memakan filter itu sendiri ketika pH drop dibawah 4. 

5. Upflow Anaerobic Sludge Blanket Reactor 



Metode UASB ini cukup popular dimana-mana. Sebab metode yang satu ini terbukti cukup berhasil menangani limbah-limbah dengan organic load yang tinggi. Disamping itu, desainnya yang meninggi membuatnya tidak memakan banyak lahan sehingga banyak dipakai oleh perusahaan di daerah perkotaan. 

Waktu tinggal dengan menggunakan metode ini hanya sekitar 24 jam, jauh lebih sedikit dibanding dengan metode lagoon. Dan juga, tidak diperlukan installasi elektrikal seperti mixer membuatnya lebih low cost. 

Kekurangan dari proses Ini adalah keharusan untuk menurunkan tingkat suspended solid terlebih dahulu hingga berada direntang 500-800 mg/L. Kalau tidak maka dalam prosesnya akan menyulitkan operasional. 



5. Expanded Granular Sludge Bed Internal Circulation
Contoh EGSB gambar dari watertreaters.com

EGSB ini sebenarnya adalah pengembangan dan penyempurnaan dari proses UASB, perubahannya adalah dengan adanya suatu membrane atau bed tempat bakteri bersarang. Ditambah lagi adanya system sirkulasi dengan submersible mixer sehingga membuat penguraian lebih sukses.

Zat organic yang bersifat racun seperti benzene, ataupun rantai panjang yang sulit diurai dengan proses anaerob biasa ternyata dapat diurai dengan proses EGSB.

Kekurangan dari proses ini adalah biaya installasi dan operasional yang lebih mahal dibandingkan dengan lainnya. Kemudian jumlah biomass yang terbuang juga banyak karena proses pretreatment yang dilakukan sebelum masuk EGSB.

Oke sekian sedikit pembahasan tentang teknik pengolahan limbah dengan metode anaerob. Kita akan berjumpa lagi dalam postingan yang lainnya. Sampai jumpa.



Salam Lingkungan


Baca selengkapnya

Saturday, 9 December 2017

Cara Mengurangi Pemakaian Bahan Kimia Pada Water Treatment Plant

Cara Mengurangi Pemakaian Bahan Kimia Pada Water Treatment Plant


Penggunaan bahan kimia dalam sebuah proses water ataupun waste water treatment plant adalah sebuah hal yang lumrah kita saksikan dimanapun. Kehadiran Bahan kimia seyogyanya membuat proses pengolahan air ataupun air limbah menjadi lebih cepat dan mudah. Namun tidak seharusnya sebuah sistem water treatment bertumpu pada bahan kimia saja.

Suatu bahan kimia yang dipakai terlalu banyak dalam sebuah sistem pengolahan air tentu akan menimbulkan banyak masalah baru. Beberapa diantaranya adalah membengkaknya cost untuk kimia, TDS yang naik, Hingga Flock ataupun lumpur yang tidak kunjung mengendap.

Oleh karenanya, kita harus bisa mengurangi dan mengefisienkan penggunaan bahan kimia agar proses dapat berjalan dengan lebih baik.

Bagaimana Caranya? Berikut ini adalah 6 Cara yang bisa Anda lakukan demi Mengurangi Pemakaian Bahan Kimia Pada Proses Water Ataupun Waste Water Treatment.

1. Menggunakan Pre Treatment

Sebagian Besar Tujuan utama dari Penggunaan Bahan kimia untuk proses water treatment ataupun waste water adalah untuk memisahkan padatan terlarut dan sampah sejenisnya dari air. Maka dari itu untuk bisa mengurangi bahan kimia, Anda bisa menggunakan pre treatment.

Pre treatment yang dimaksudkan adalah membuat jalur sedimentasi by line ataupun juga bisa membuat jalur dengan banyak perangkap untuk kotoran. Sehingga proses treatment akan berjalan lebih ringan dengan konsumsi bahan kimia yang lebih sedikit.


2. Memilih Bahan Kimia Yang Tepat
Cara kedua yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi pemakaian bahan kimia tentu adalah dengan memilih bahan kimia yang tepat.

Seperti bahan kimia flocculant dapat Anda ganti dengan yang Jenis Ionic ataupun Non Ionic. Anda juga bisa mencoba beragam koagulan karena nyatanya dipasaran Anda dapat menemukan banyak koagulan alternatif dengan harga yang lebih rendah.


3. Membagi Proses Mixing Chemical
Mixing dapat dilakukan melalui proses inline dengan static mixer atau bisa juga dengan menggunakan tangki khusus untuk reaksi. Untuk reaksi yang lebih baik, Anda bisa menambahkan Static mixer pada line Anda sehingga reaksi dapat berjalan dengan lebih sempurna sebelum masuk ke tangki reaksi.

Dengan begini proses pengunaan bahan kimi bisa dikurangi.

4. Minimalisir Impact Sebelum Proses Sedimentasi
Benturan atau impact dalam proses reaksi bisa membuatnya terjadi lebih cepat dan lebih sempurna. Namun ketika proses reaksi telah terjadi dan rantai ikatan floct telah terbentuk maka benturan akan bisa membuyarkannya.

Maka dari itu, untuk meminimalisir pengunaan kimia berlebih dan membuat tidak ada lumpur yang pecah kembali. Anda bisa mengurangi impact. Impact ditimbulkan dari hentakan dan pressure, maka kurangi hentakan dengan mengurangi lekukan pada pipa dan turbulensi dari pompa.

Biasakan menggunakan gaya gravitasi untuk proses setelah reaksi.

5. Modifikasi Line Reaksi Sesudah Biologi
Air limbah yang memiliki organic pollutant cukup tinggi dapat menjadikan proses biologi sebagai proses pengolahan utama. Untuk itu, kita dapat menukar arus reaksi kimia dengan reaksi biologi. Sehingga rangkaian proses kimia akan ditaruh setelah proses sedimentasi di proses biologi.

Dengan menggunakan cara ini, jumlah lumpur akan berkurang sehingga secara otomatis bahan kimia juga turut dapat dikurangi.

6. Penyempurnaan Proses Mixing dengan Baffle
Terjadinya Vortex pada reaction tank, akan membuat proses reaksi tidak sempurna karena pencampuran kimia menjadi tidak homogen. Untuk itu saya sarankan untuk memperbanyak baffle agar tumbukan semakin banyak terjadi dan pencampuran kimia menjadi lebih sempurna.

Begitulah 6 Cara yang dapat Anda coba untuk mengurangi pemakaian bahan kimia dalam proses water dan waste water treatment. Jika Anda masih memerlukan bantuan jasa Engineering profesional silahkan hubungi kami segera.
Baca selengkapnya

Friday, 8 December 2017

Ahli Pengolahan Air Indonesia : PT CHEMINUSA

PT. Cheminusa, Ahli Pengolahan Air Indonesia

Pengenalan Singkat Pengolahan Air
Pengolahan air bersih (Water Treatment Plant) merupakan sebuah sistem yang dipergunakan untuk mengolah air dari kualitas yang jelek supaya mendapatkan kualitas air yang ditentukan untuk dipergunakan lebih jauh sesuai dengan hasil yang diinginkan.

Pengolahan air bersih saat ini semakin diperlukan oleh sebagian besar rumah tangga maupun perusahaan.

Semakin berkurangnya cadangan air bersih telah mendorong banyak institusi atau lembaga untuk menggalakkan perencanaan pembagunan instalasi pengolahan air bersih di beberapa daerah. Untuk hal ini percayakan saja pada PT. Cheminusa sebagai ahli pengolahan air di Indonesia.

Butuh Ahli Pengolahan? Hubungi Ahlinya 0852388325902

PT. Cheminusa merupakan ahli pengolahan air Indonesia yang telah sangat berpengalaman dalam mengolah air limbah menjadi air bersih yang layak pakai/layak konsumsi.

Mengapa harus PT. Cheminusa? Pasalnya ahli pengolahan air ini tidak sekedar sebagai konsultan penyedia jasa assessment WWTP, kami telah membuat atau membangun WWTP asli. Kami sudah mempunyai bukti-bukti dokumen ataupun plant hasil produk kami yang dapat diperlihatkan pada Anda bila Anda memerlukannya.



Pada dasarnya, pengolahan air bersih ialah bagaimana merubah kualitas air yang tidak selaras dengan harapan kita menjadi kualitas air yang cocok dengan harapan kita. Pasalnya air bersih adalah kebutuhan utama bagi setiap orang lantaran air minum bersih diperlukan untuk mendukung kesehatan tubuh.

Sayangnya, di daerah-daerah perkotaan, khususnya kota-kota besar, eksistensi air bersih yang layak konsumsi telah kian langka. Kabar bagusnya, sejalan dengan perkembangan teknologi ada berbagai teknologi pengolahan air yang bisa memproduksi air bersih yang beberapa diantaranya dimiliki oleh PT. Cheminusa.

Di bawah ini berbagai teknologi yang biasa digunakan dalam pengolahan air bersih yang berasal dari limbah rumah tangga maupun industri:

Jenis-Jenis Pengolahan Air Yang Umum
Saringan Pasir Lambat

Teknik ini adalah sistem konvensional dalam proses pengolahan air bersih. Cara ini tepat untuk air dengan kadar kekeruhan yang tidak begitu tinggi. Teknik saringan pasir lambat ini memakai 4 bagian dasar yaitu bagian penyadap, penampung, saringan pasir, serta penampung air bersih.

Kelebihan mempergunakan teknik ini ialah tanpa pemakaian bahan kimia dan murah biaya operasionalnya. Namun di balik kelebihannya ada beberapa kelemahan pada teknik ini, misalnya rendah kecepatan penyaringannya, tidak efektif bila dipergunakan pada air dengan kadar kekeruhannya tinggi, dan cara membersihkan filter mesti dibersihkan dengan cara manual.

Desalinasi Air Laut

Teknik pengolahan air bersih dengan mempergunakan desalinasi air laut amat cocok untuk warga yang terletak di daerah sekitar laut. Dasar teknik pengolahan air dengan sistem ini adalah menghilangkan garam sehingga air bisa menjadi tawar dan memiliki kualitas baik.



Ultrafiltrasi

Ultrafiltrasi adalah teknik pengolahan air bersih dengan cara modern yang memakai sebuah membran semi porous (berpori). Teknik ini tepat untuk menyaring air yang berisi makromolekul dengan bobot kira-kira 103-106 Da. Teknologi ini memakai bahan kimia pada bagian dalam clarifier yang berperan sebagai pengontrol pH, pembunuh bakteri dan koagulan.

Nanofiltrasi

Nanofiltrasi adalah teknologi pengolahan air modern yang dipergunakan ketika proses mikrofiltrasi atau ultrafiltrasi tidak dapat untuk memproduksi air yang bermutu. Nanofiltrasi memakai membran yang memiliki ukuran 0,0001 mikron sampai 0,001 mikron sehingga bisa menciptakan penyaringan yang optimal. Pengolahan air memakai teknik ini mampu menghasilkan air yang bersih dan bebas dari beragam zat/molekul yang ukurannya amat kecil.

Air bersih merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan kita. Dalam kebiasaan sehari-hari, air bersih dimanfaatkan untuk beragam kebutuhan, seperti masak, cuci, mandi, minum, dan yang lainnya. Hasil dari kegiatan-kegiatan itu yaitu air limbah atau air buangan. Kecuali dari rumah tangga, air limbah pun bisa berasal dari pabrik-pabrik atau industri.



Lantas bagaimana air limbah itu diolah jadi air bersih?

Percayakan saja pada PT. Cheminusa sebagai ahli pengolahan air Indonesia. Kami sudah berpengalaman puluhan tahun dalam mendesain, memasang/instalasi, memperbaiki instalasi pengolahan air di Indonesia hingga melakukan laporan hasil analisa dan overhoul.

Kami memiliki perangkat pengolahan air yang canggih dan modern disertai tenaga kerja yang ahli dan berpengalaman di bidang ini. Apabila Anda memiliki masalah dengan air limbah atau air buangan, janganlah ragu untuk menghubungi kami, PT. Cheminusa.

Baca selengkapnya