Showing posts with label Water Treatment. Show all posts
Showing posts with label Water Treatment. Show all posts

Friday, 19 October 2018

Prinsip Kerja Electro Deinonization (EDI) Dalam Proses Water Treatment

Prinsip Kerja Electro Deinonization (EDI) Dalam Proses Water Treatment




Dunia Industri yang sekarang semakin berkembang dan semakin menuntut spesifikasi yang semakin ketat dari beragam sisi. Salah satu sisi yang cukup ketat adalah dari bidang utility khususnya air. 


Beberapa industry seperti farmasi, instrumentasi juga pembuatan tinta khusus ternyata memerlukan suatu air dengan spesifikasi yang sangat khusus. Spesifikasi ini basa disebut sebagai Spesifikasi Ultra Pure Water. Yang hanya bisa didapatkan dari proses pemurnian tingkat tinggi salah satunya ada proses EDI. 



Dan dalam artikel kali ini kita akan menuliskan bagaimana sih proses EDI itu sehingga bisa menghasilkan air dengan tingkat kemurnian tinggi atau Ultra Pure Water?




Prinsip Penggunaan EDI 



Proses pemurnian air hingga pada tingkat ultra pure water, sebenarnya sudah biasa dilakukan dalam industry farmasi dan juga intrumentasi. Proses mendapatkan ultra pure water ini, biasa dilakukan dengan system Mixbed Demin. 



Sistem Mixbed demin ini, dahulu adalah yang utama dipakai untuk mendapatkan Ultra Pure Water sebelum proses EDI Ditemukan. Prosesnya adalah dengan proses penyerapan cation dan anion yang berada di air dengan resin yang ada dalam tangki. 



Proses penyerapan cation dan anion yang ada dalam air ini, harus melalui proses regenerasi resin yang dimana cukup merepotkan dan memerlukan banyak biaya baik. 


Kontraktor Pembuat EDI



Prinsip kerja EDI, memiliki perbedaan dengan prinsin kerja Mixbed Demin. Dimana cation dan anion ini nanti diberikan reaksi lewat arus listrik DC. Sehingga akhirnya dapat memisahkan diri dari air permeate menuju air concentrate. Hal ini memberikan kelebihan pada proses EDI, karena tidak perlunya proses regenerasi seperti pada proses Mixbed Demin. 




Kelebihan Penggunaan EDI 



Setelah mengetahui tentang prinsip kerja dari Proses EDI, maka kita akan membahas sedikit tentang apa saja sih kelebihan dari proses EDI (Electrodeionization). Cekidot 



a. Tidak memerlukan proses regenerasi 



Proses pemurnian air menggunakan EDI, tidak memerlukan proses regenerasi. Hal ini dikarenakan prinsip kerja dari EDI itu sendiri bukanlah merupakan pertukaran Ion. Tapi lebih kepada injeksi muatan electron pada senyawa pengotor yang ada diair. Fungsinya adalah untuk dapat dengan mudah membuat pengotor tersebut berpindah ke dalam cation atau anion chamber di Sistem EDI. 



Dengan ketiadaan proses regenerasi, tentu membuat operasional cost berkurang, diiringi dengan berkurangnya juga proses operasional dan juga installasi yang merepotkan. 





b. Tidak menghasilkan Limbah 



Proses penyerapan cation dan anion dengan meggunakan mixbed, akan membutuhkan proses regenerasi agar si mixbed dapat digunakan terus menerus. Proses regenerasi itu sendiri tentu kita tahu, bahwa dia memerlukan Asam HCl dan juga basa NaOH. Yang akhirnya nanti akan menghasilkan limbah regenerasi yang memiliki pH dan TDS diluar batas yang bisa diterima baku mutu. 

Lihat Juga : 5 Kekurangan Mesin EDI



Limbah regenerasi ini nantinya harus diolah dalam proses pengolahan air limbah (IPAL / WWTP) dan hal ini tentu merupakan cost tambahan yang harus diperhitungkan. Karena pemilik Demin harus mengeluarkan biaya Investasi dan operasional untuk dapat mengolahnya. 



Berbeda dengan proses pada EDI, dimana tidak perlu melakukan regenerasi sehingga owner tidak perlu pusing lagi memikirikan biaya untuk investasi IPAL dan juga operasionalnya. 





c. Sistem Operasional Yang Lebih Simple 



Ketiaadaan proses regenerasi, tentu akan membuat berkurangnya valve yang harus dioprasikan. Hal ini akan memudahkan proses operasional seperti halnya proses operasional antara RO dan Demin. 



Sistem operasional yang lebih simple akan berdampak pada menurunnya jumlah operator yang diperlukan untuk running system. Dan hal ini juga akan berdampak pada lebih stabilnya debit yang dihasilkan karena proses maintenance dan regenerasi juga akan berkurang jauh. 



d. Low Power Consumption 



Walaupun dalam prinsip kerjanya EDI menggunakan arus listrik DC. Tapi dalam kenyataan dilapangan jikalau kita hitung dengan berkurangnya proses pumping, regenerasi, maintenance dan lain-lain maka sudah tentu dari segi power consumption jauh lebih rendah daripada proses Mixbed ataupun demin yang digantikan. 

Lihat Juga : 6 Teknik Anaerob untuk Pengolahan Air Limbah



e. Area Sistem Yang Lebih Kecil 



Kelebihan terakhir dari pemilihan EDI sebagai proses untuk mendapatkan ultra pure water adalah karena EDI hanya memerlukan area yang jauh lebih kecil. Yakni hanya 30% dari area yang diperlukan oleh system Mixbed. 



Area yang lebih kecil ini didapat karena proses EDI telah mengeleminasi kegiatan regenerasi, back wash, rinsing, dan juga proses maintenance lainnya. Alhasil area system EDI ini sendiri menjadi lebih kecil. 



Keuntungan area ini tentu sangat diinginkan oleh para Owner yang memiliki area terbatas di pabrik mereka. 





Nah itu dia, Sedikit pembahasan tentang Prinsip kerja dari EDI beserta dengan beberapa kelebihan dari system ini. Untuk pertanyaan lebih lanjut atau permintaan Quotation EDI ini dapat menghubungi kami di PT. CHEMINUSA. 






Salam Hangat, 






Mr. Anggi Nurbana

Baca selengkapnya

Pretreatment Pada Proses EDI

Pretreatment Pada Proses EDI

Cara untuk memproses EDI kontraktor EDI


Assalammu’alaikum Sobat Olah-air.com sekalian. Apa kabar? Semoga sobat sekalian sehat selalu ya!

Kalau di artikel sebelumnya kita sudah membahas tentang prinsip EDI beserta beberapa kelebihannya. Maka dari itu dalam artikel kali ini kita akan membahas tentang pretreatment yang diperlukan oleh EDI itu sendiri.

Pemahaman tentang pretreatment untuk EDI ini cukup penting untuk dapat dimiliki oleh para owner atau pelaku usaha yang ingin memiliki ultra pure water lewat proses EDI. Sebab tanpa pengetahuan ini, bisa jadi EDI yang dimiliki hanya akan bertahan sebentar saja. Karena EDI mengalami kerusakan akibat input air yang belum diproses pre-treatment terlebih dahulu.

Proses pre-treatment ini juga yang sebenarnya membuat cost installasi dari system EDI dibilang lebih mahal sedikit dibandingkan dengan cost installasi pemurnian air menggunakan proses Mixbed Ion Exchange.

Namun jikalau kita timbang dengan pengeluaran operasional dalam jangka waktu panjang, Proses pretreatment ini akan membayarnya dengan memberikan hasil yang lebih stabil dan low cost operasional.

Seperti apa saja sih pretreatment yang diperlukan oleh proses EDI ini. Mari kita simak saja langsung dalam postingan dibawah ini.

a. Clean Water Generator 

beli EDI untuk water treatment cheminusa


Pretreatment pertama yang harus dilakukan untuk menjaga kestabilan dari proses EDI adalah dengan adanya Clean Water Generator System Yah istilah mudahnya sih standar water treatment proses.

Tujyan dari Clean Water Generator ini sendir adalah untuk mendapatkan air yang masuk ke dalam standar baku mutu air bersih dan layak digunakan untuk keperluan sehari hari.

Proses dalam Clean Water Generator atau Standar Water Treatment process ini biasaya akan meliputi sedimentasi, eleminasi partikel lumpur (Suspended Solid), penyerapan zat warna, penyerapan hardness dan juga eleminasi bakteri.

Untuk lebih mudahnya dapat melihat skema dibawah ini.

Clean Water Generator dapat dibuat lebih ringkas jika air sumber yang digunakan telah terjamin kualitasnya. Seperti air yang berasal dari WTP kawasan ataupun dari PDAM. Hal ini akan mengurangi proses injeksi chemical untuk koagulasi dan flokulasi, mengurangi sedimentasi dan proses sludge handling. Sehingga proses Clean Water Generator hanya akan berfokus untuk penyerapan pengotor, pengurangan hardness, bakteri dan pengurangan pollutant chlorinse serta ammonia saja.

b. Pure Water Generator 

Jual mesin EDI


Proses pre-treatment kedua ini sebenarnya sudah biasa dillakukan dibanyak perusahaan. Terlebih untuk perusahaan yang banyak menggunakan air dalam proses produksinya.

Industri Makanan dan Minuman, Industri Farmasi, Industri Plating, Industri Bahan kimia, industry kertas dan lain sebagainya biasanya memerlukan air dengan tingkat kemurnian yang cukup baik.

Pure Water juga biasanya diperlukan dalam mesin boiler dengan tekanan tinggi. Beberapa karakter dari Pure Water dapat dilihat dibawah ini.

Pure water biasanya didapatkan lewat proses filtrasi tingkat dua seperti dengan menggunakan Cartridge filter, Ultra Filtration ataupun nano filtration.

Hasil dari proses RO yang masih memiliki nilai TDS diatas 50 juga dapat digolongkan kepada proses Pure Water Generator.

c. High Pure Water Generator 



Proses pretreatment ketiga untuk inlet ataupun feed EDI system adalah High Pure Water Generator. Proses ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan inlet yang lebih stabil dan lebih murni dari pada Pure Water.

Ion atau pollutant yang biasa dikontrol dalam proses Ini antara lain :

- Hardness (Baik Calcium ataupun Magnessium)

- Silica

- Chlorine

- Dan Total Dissolved Solid

Seluruh parameter diatur ataupun ditreatment sedemikian rupa sehingga dapat masuk ke dalam standar inlet dari proses EDI.

Tidak jarang, untuk treatment High Pure ini digunakan proses RO dengan system TWO Phase ataupun menggunakan proses Demin Cation dan anion. 
perusahaan kontraktor EDI untuk water treatment farmasi
EDI tanpa Proses Pre-treatment, Bisakah? 

Kalau ditanya bisa atau tidak. Maka jawabannya adalah bisa! Asalkan air baku yang digunakan sudah masuk ke dalam standar High Pure Water seperti air hujan atau air pegunungan yang sangat murni. 

Dan bisa juga sih, air tanah atau air PDAM langsung masuk ke dalam system EDI, asalkan owner memiliki uang yang sangat banyak sehingga setiap hari bebas ganti modul EDI sesukanya hahaha.. 

Oke sobat olah-air.com itu dia tulisan singkat tentang pretreatment yang dilakukan pada system atau proses EDI. Semoga menjadi tercerahkan dan mendapatkan input positif untuk desain yang sedang sobat kerjakan. 

Jangan lupa, jikalau memerlukan bantuan ataupun jasa kontraktor untuk desain dan pengadaan EDI. Sobat dapat menghubungi kami langsung pada nomor yang tertera diatas. 







Salam Hangat,



Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Saturday, 9 December 2017

Cara Mengurangi Pemakaian Bahan Kimia Pada Water Treatment Plant

Cara Mengurangi Pemakaian Bahan Kimia Pada Water Treatment Plant


Penggunaan bahan kimia dalam sebuah proses water ataupun waste water treatment plant adalah sebuah hal yang lumrah kita saksikan dimanapun. Kehadiran Bahan kimia seyogyanya membuat proses pengolahan air ataupun air limbah menjadi lebih cepat dan mudah. Namun tidak seharusnya sebuah sistem water treatment bertumpu pada bahan kimia saja.

Suatu bahan kimia yang dipakai terlalu banyak dalam sebuah sistem pengolahan air tentu akan menimbulkan banyak masalah baru. Beberapa diantaranya adalah membengkaknya cost untuk kimia, TDS yang naik, Hingga Flock ataupun lumpur yang tidak kunjung mengendap.

Oleh karenanya, kita harus bisa mengurangi dan mengefisienkan penggunaan bahan kimia agar proses dapat berjalan dengan lebih baik.

Bagaimana Caranya? Berikut ini adalah 6 Cara yang bisa Anda lakukan demi Mengurangi Pemakaian Bahan Kimia Pada Proses Water Ataupun Waste Water Treatment.

1. Menggunakan Pre Treatment

Sebagian Besar Tujuan utama dari Penggunaan Bahan kimia untuk proses water treatment ataupun waste water adalah untuk memisahkan padatan terlarut dan sampah sejenisnya dari air. Maka dari itu untuk bisa mengurangi bahan kimia, Anda bisa menggunakan pre treatment.

Pre treatment yang dimaksudkan adalah membuat jalur sedimentasi by line ataupun juga bisa membuat jalur dengan banyak perangkap untuk kotoran. Sehingga proses treatment akan berjalan lebih ringan dengan konsumsi bahan kimia yang lebih sedikit.


2. Memilih Bahan Kimia Yang Tepat
Cara kedua yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi pemakaian bahan kimia tentu adalah dengan memilih bahan kimia yang tepat.

Seperti bahan kimia flocculant dapat Anda ganti dengan yang Jenis Ionic ataupun Non Ionic. Anda juga bisa mencoba beragam koagulan karena nyatanya dipasaran Anda dapat menemukan banyak koagulan alternatif dengan harga yang lebih rendah.


3. Membagi Proses Mixing Chemical
Mixing dapat dilakukan melalui proses inline dengan static mixer atau bisa juga dengan menggunakan tangki khusus untuk reaksi. Untuk reaksi yang lebih baik, Anda bisa menambahkan Static mixer pada line Anda sehingga reaksi dapat berjalan dengan lebih sempurna sebelum masuk ke tangki reaksi.

Dengan begini proses pengunaan bahan kimi bisa dikurangi.

4. Minimalisir Impact Sebelum Proses Sedimentasi
Benturan atau impact dalam proses reaksi bisa membuatnya terjadi lebih cepat dan lebih sempurna. Namun ketika proses reaksi telah terjadi dan rantai ikatan floct telah terbentuk maka benturan akan bisa membuyarkannya.

Maka dari itu, untuk meminimalisir pengunaan kimia berlebih dan membuat tidak ada lumpur yang pecah kembali. Anda bisa mengurangi impact. Impact ditimbulkan dari hentakan dan pressure, maka kurangi hentakan dengan mengurangi lekukan pada pipa dan turbulensi dari pompa.

Biasakan menggunakan gaya gravitasi untuk proses setelah reaksi.

5. Modifikasi Line Reaksi Sesudah Biologi
Air limbah yang memiliki organic pollutant cukup tinggi dapat menjadikan proses biologi sebagai proses pengolahan utama. Untuk itu, kita dapat menukar arus reaksi kimia dengan reaksi biologi. Sehingga rangkaian proses kimia akan ditaruh setelah proses sedimentasi di proses biologi.

Dengan menggunakan cara ini, jumlah lumpur akan berkurang sehingga secara otomatis bahan kimia juga turut dapat dikurangi.

6. Penyempurnaan Proses Mixing dengan Baffle
Terjadinya Vortex pada reaction tank, akan membuat proses reaksi tidak sempurna karena pencampuran kimia menjadi tidak homogen. Untuk itu saya sarankan untuk memperbanyak baffle agar tumbukan semakin banyak terjadi dan pencampuran kimia menjadi lebih sempurna.

Begitulah 6 Cara yang dapat Anda coba untuk mengurangi pemakaian bahan kimia dalam proses water dan waste water treatment. Jika Anda masih memerlukan bantuan jasa Engineering profesional silahkan hubungi kami segera.
Baca selengkapnya

Thursday, 21 September 2017

5 Kesalahan Dalam Mendesain RO System

5 Kesalahan Dalam Mendesain RO System



Selamat datang kembali di website kesayangan kita yang selalu memberikan ilmu-ilmu seputar water treatment. Kali ini kita akan membahas tentang beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh para praktisi dibidang water treatment.

Kesalahan tersebut adalah seputar desain RO. Yang dimana, saya cukup banyak menemukan dilapang terjadi bukan hanya sekali atau dua kali namun sering kali ditemukan.

Dan yang lebih parahnya lagi, customer yang menghubungi kita mau terjadi perbaikan secara permanent dan tahan lama namun hanya dengan mengandalkan mengganti membrane. Ya, kebanyakan dari mereka hanya menyalahkan membrane yang dipakai atau installasi yang dipasang tidak sesuai. Haduh haduh..

Okelah, dari pada kita terlalu lama dipembukaan yang akhirnya malah kaga jelas juga mau dibawa kemana. Kita langsung saja ke materi utama sesuai judul diatas “ 5 Kesalahan Dalam Mendesain Sistem RO

1. Tidak menggunakan Pretreatment


Kesalahan pertama yang paling umum saya temukan dilapangan adalah, ketika sang kontraktor ataupun owner memiliki RO yang tidak ada pretreatmentnya.

RO tanpa Pretreatment adalah pencerminan dari  salah satu dari dua hal, antara Si Kontraktor yang kurang ilmunya, atau si Owner yang hanya mau tahu murahnya saja (Seriusan ini).

Ketiadaan Pretreatmtent pada system RO merupakan kesalahan yang sangat fatal. Karena ini akan mengakibatkan umur membrane yang semakin berkurang. Bilamana sebuah membrane standarnya bisa digunakan untuk system Reverse Osmosis selama 6 bulan sampai 1 tahun, maka dengan tiadanya Pretreatment di System RO usia si Membrane tadi bisa berkurang hingga setengahnya.

Masalah lain yang bisa terjadi adalah, naiknya konduktiviti atau TDS dari Air Permeata/Product. Hal ini disebabkan karena partikel pasir ataupun hypochloride yang merusak permukaan membrane sehingga terjadi proses RO yang tidak sempurna.

Lihat Juga : Tips Dalam Memilih Material Tangki

2. Menggunakan Pipa PVC


Kesalahan selanjutnya dalam mendesain system reverse osmosis adalah, ketika si Kontraktor menggunakan pipa PVC dalam prosesnya.

Perlu diingat, proses Reverse Osmosis akan melibatkan pompa bertekanan tinggi. Sehingga dapat berpotensi memecahkan pipa PVC dalam prosesnya. Oleh karenanya dalam proses RO khususnya RO untuk industry, saya selalu menggunakan Pipa Stainless ataupun Hardened PE dalam prosesnya. Untuk menghindari pecahnya pipa saat proses.

Resiko terkecilnya adalah akan adanya kikisan pipa PVC yang masuk ke membrane akibat terikut aliran high pressure.

Lihat Juga : Tips Memilih Pompa RO Untuk Air Laut

3. Tidak Memiliki Interlock

Keselahan ketiga dalam proses perancangan Reverse Osmosis adalah ketika system yang dibuat ini tidak memiliki interlock. Bagi yang belum tahu, interlock secara sederhana adalah sebuah system pengamanan yang dipacu oleh suatu keadaan lain.

Salah satu contohnya adalah sebuah Sistem RO di perusahaan Farmasi kota hujan. Disana system RO-nya tidak memiliki interlock untuk mematikan mesin ketika tangki penampungan hasil sudah penuh. Sehingga air akan luber jika mesin lupa dimatikan ketika tangki penuh.

Beberapa contoh interlock yang sebaiknya Anda pasang dalam system RO Anda adalah :
a. Interlock Pompa RO dengan Tangki Permeate
b. Interlock Over Pressure dengan Pompa RO
c. Interlock dengan system CIP ketika nilai tds melewati batas permeate

Lihat Juga : Cara Membaca P&ID Water dan Waste Water Treatment Plant

4. Hanya Berstandar Parameter TDS 

Kesalahan keempat dalam perancangan system RO adalah ketika yang menjadi kuncian di panel RO Anda hanyalah parameter TDS atau Conductivity saja. Hal ini sebaiknya Anda hindari untuk kebaikan Anda sendiri (dan usaha Anda tentunya).

Proses Reverse Osmosis, kebanyakan ditujukan untuk mendapatkan air yang murni yang tercermin dari nilai TDS yang rendah. Hal ini sedikit benar, namun untuk jangka panjang jadi salah. Lho kok gitu?

Ya iyalah om, Perlu Anda tahu bahwa standar baku mutu air minum bukan hanya berkutat dinilai TDS saja. Namun ada nilai lainnya seperti pH, Mikroba dan logam berat.

Dan system RO, hanya bisa untuk mengeleminasi dua cemaran yang saya sebutkan terakhir tapi tidak bisa menjaga nilai RO berada pada range netral. Oleh karenanya saya sarankan untuk para pembuat RO (Reverse Osmosis) untuk memasang On Site transmitter lainnya pada mesin RO mereka. Agar bisa menjaga kenetralan nilai pH air yang dihasilkan.

Lihat Juga : 6 Jenis Trouble Pada Sistem Reverse Osmosis

5. Tidak ada precaution system


Kesalahan kelima dari RO yang banyak dibuat oleh kontraktor lain di luar sana adalah, ketiaadaan precaution system di system RO mereka.

Karena, tahukah Anda bahwa air permeate RO dapat naik nilai TDSnya jika disimpan saja dalam tangki penyimpanan. Oleh karenanya perlu proses penjagaan dengan sirkulasi permeate agar tidak terjadi kenaikan nilai TDS.

Selain itu, agar tidak timbul bakteri di air ro yang telah kita hasilkan. Penting sekali untuk menginstal disinfection system pada use point air RO tersebut, khususnya bagi para pelaku usaha dunia consumer goods seperti makanan dan minuman. Karena saya pernah menemukan adanya Air permeate RO yang memiliki kandungan coliform dalam jumlah tinggi akibat ketiadaan disinfection system.

Nah itu dia, sudah lima kesalahan yang kita bahas. Saya rasa sudah saatnya kita berhenti. Sebab, tidak baik untuk mencari-cari kesalahan orang hehehe.
Sekian dari saya mohon maaf jikalau ada kekhilafan dalam penulisan artikel 5 kesalahan dalam mendesain system Reverse Osmosis. Mudah-mudahan kita dapat berjumpa dikesempatan lainnya.



Salam Hangat,

Mr. Anggi Nurbana

Baca selengkapnya

Thursday, 8 June 2017

Memperhatikan Desain Ergonomi Dalam Sebuah Plant

Contoh Aplikasi Ilmu Ergonomi Pada Sebuah Water Treatment Plant

caranya adalah dengan menghitung spare area plant

Assalammu'alaikum Wr. Wb.
Apa kabar sobat sekalian pembaca setia blog ilmu pengetahuan di bidang water engineering OLAH-AIR.COM ?

Semoga baik-baik saja ya? :)

Lama tak bersua, karena aktifitas saya yang dalam beberapa bulan ini begitu padat. Dari mulai harus memimpin proyek, mendesain rancangan WTP dan WTP dan lain sebaginya yang tidak terasa membuat saya hampir lupa kalau saya ini ternyata memiliki blog yang satu ini hehehe..

Kali ini kita akan bercerita sedikit tentang yang namanya Ergonomi. Apakah itu?

Mahluk yang satu ini bukanlah termasuk golongan Mi Instan ataupun Mi Bakmi ya hahaha..

Dalam artian kuliah teknik, ergonomi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan elemen-elemen lain dalam sebuah sistem.



Hmm.. bagaimana? Mengertikah?

Baik, kalau kurang mengerti mari kita buat dalam bahasa yang lebih mudah. Dalam hal ini di plant, ilmu ergonomi adalah ilmu yang digunakan untuk membuat sebuah plant terasa lebih nyaman dan mudah dalam pengoprasian dan juga pemeliharaan. Nah gitu deh..

Beberapa Contoh Aplikasi Ergonomi Dalam Sebuah Plant Water Treatment
Adalah metode mengajar melalui contoh yang saya percaya dapat membuat suatu ilmu dapat lebih mudah dimengerti oleh para murid. Maka dari itu saya akan membuat sobat pembaca disini dapat mengerti dengan lebih mudah dengan menerangkan beberapa contoh diantaranya :

Baca Juga : Teknik Pengukuran Debit Air

1. Desain Equipment Yang Easy To Use

Contoh pertama yang dapat Anda temukan dalam hampir semua plant (Yah hampir semua, karena ada juga yang engga). Adalah suatu equipment akan sengaja di desain agar mudah digunakan.

Seperti layaknya desain sebuah setir mobil yang dirancang agar memudahkan proses mengemudi kendaraan. Maka equipment-equipment juga seyogyanya akan mengikuti kaidah tersebut.

Dari mulai bentuk yang memiliki kemudahan di angkat, dipindahkan dan ditangani. Kemudian kita juga bisa menemukan posisi peletakan control switch yang diposisikan sejajar dengan sekitar area siku manusia.

Beberapa hal tersebut adalah contoh pertama dari penerapan sebuah ilmu ergomi dalam sebuah plant.

2. Pemberian Area Maintenance dan Spare 

Contoh aplikasi kedua dari penerapan ilmu ergonomi bisa Anda temukan juga ketika memperhatikan keberadaan area maintenanca dan spare dalam setiap equipment atau move-able goods.

Untuk area maintenance biasanya akan memiliki radius 600 mm atau lebih dari equipment itu sendiri. Dan untuk area spare biasanya ditempatkan pada daerah yang mudah untuk akses.

Dalam hal ini, contoh kedua ini dapat dengan mudah kita temukan pada banyak perusahaan jepang. Dimana untuk setiap barang yang diletakan mereka selalu memikirkan akses keluar masuk barang tersebut. Terlebih lagi jika barang tersebut bersifat move to use.

Baca Juga : Teknik Pengolahan Air Sungai Menjadi Air Bersih

3. Pemberian Assesoris Untuk Operasional Pada Tangki

Contoh ketiga untuk aplikasi ergonomi di plant, dapat juga Anda temukan pada Tangki. Dimana pada sebuah tangki yang cukup besar, biasanya kita akan menemukan man hole dengan diameter 60 cm atau lebih. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan seorang operator masuk ke dalam dan melakukan proses perawatan pada tangki tersebut.



4. Pemberian Warna Spesifik

Contoh lainnya dari sebuah aplikasi ilmu ergonomi, adalah penerapan warna spesifik pada equipment tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah proses pencarian dan juga identifikasi.

Oh iya, saya juga tahu bahwa akan ada yang memasukan contoh aplikasi warna ini pada ilmu display teknik. Yah tapi dalam sebuah perancangan saya akan bilang ini masuk ke ranah ergonomi juga (Biar disekalianin gitu om).

Nah itu dia Beberapa contoh penerapa ilmu ergonomi pada desain plant water treatment. Masih banyak contoh lain yang dapat Anda temukan di field nyata. Maka dari itu, teruslah memiliki sikap mau belajar dan bertanya atas segala sesuatu agar ilmu kita terus berkembang.

Salam Hangat


Mr. Anggi Nurbana

Baca selengkapnya

Monday, 2 January 2017

2 Sistem Distribusi Air Bersih

2 Sistem Distribusi Air Bersih


Selamat malam, dan jumpa kembali di situs kesayangan kita www.olah-air.com.
Kali ini kita akan membahas tentang 2 macam sistem distribusi air bersih. Kalau dalam banyak bahasan sebelumnya saya membahas tentang proses pengolahan air limbah dan air bersih, maka kali saya akan membahas tentang teknik distribusinya.

Teknik Pendistribusian Air Bersih 

teknik pendistribusian air bersih secara umum ada dua macam, yang keduanya dapat dengan mudah dikenali dari sistem pemipaannya dan peralatan yang digunakan. Satu sama lain memiliki kelebihan dan kekurangan yang tentunya dapat dipilih sesuai dengan keadaan.

Oleh karenanya dalam tulisan saya kali ini, saya tidak akan memihak salah satu aliran karena menurut saya keduanya baik (tergantung alasan penggunannya).

Apa sajakah sistem distribusi air bersih itu?

Lihat juga : Cara Menilik Proses Recycle Pada Air 


1. Sistem Distribusi Tertutup

dirinya bisa memiliki banyak website yang update
Contoh Sistem Distrubusi Air Tertutup

Sistem distribusi tertutup adalah suatu sistem penyaluran air bersih dengan cara menggunakan kekuatan tekanan/pressure internal yang ada pada air. Sistem ini dapat terlihat dari caranya yang menggunakan pemipaan melingkar.

Sistem ini biasanya dipilih untuk daerah atau area yang sangat jauh dari reservoir atau pompa booster. Kelebihan dari sistem ini adalah lebih hemat energi dan juga bisa menjaga tekanan air hingga ujung use point.

Kekurangan dari sistem ini, tentunya adalah kebutuhan pemipaan yang akan bertambah panjang. Yang misalkan seharusnya hanya memiliki lintasan 100m maka bisa jadi harus dua kali lipatnya karena adanya area untuk menyambungkan lintasan.

Lihat Juga : Jual Pomp RO Sea Water Hydra Cell

2. Sistem Distribusi Air Bersih Terbuka

cara membagi air secara benar dan baik
Contoh sistem distribusi terbuka (Sumber gambar : Open.Edu)

Selanjutnya untuk sistem distribusi air bersih kedua adalah sistem penyaluran air dengan cara terbuka.

Maksud terbuka adalah sistem ini membuat pipa tidak mengelilingi suatu sistem. Sistem ini lebih mengedepankan pada penggunaan tekanan eksternal, dalam hal ini yang biasa digunakan pada sistem distribusi terbuka adalah tekanan dari pompa booster atau tekanan dari aliran air atas (Pressure Tank).

Lihat Juga : Cara Membaca P&ID Water Treatment

Kelebihan dari penggunaan sistem ini adalah, menggunakan pipa yang lebih pendek dibanding dengan sistem tertutup yang harus menggunakan pipa melingkari sistem.

Namun kekurangannya adalah, untuk area yang jauh dari sumber air atau reservoir maka akan mengalami tekanan air yang kecil. Maka dari itu disinilah fungsi pompa ada.


Baca selengkapnya

Sunday, 2 October 2016

Desain Proses Biologi Dalam Waste Water Treatment

Desain Proses Biologi Dalam Waste Water Treatment

Konsultan dan kontraktor untuk pengolahan Air Limbah

Proses biologi dalam sebuah sistem pengolahan air limbah adalah suatu proses yang sudah lumrah kita temukan. Kita akan menemukannya dalam banyak sekali IPAL Atau waste water treatment plant, mulai dari IPAL yang berjalan secara konvensional, hingga yang automatic.

Nama dari proses biologi pun berbeda-beda dan beragam, dari mulai nama yang standar hingga nama yang dibuat dalam istilah asing agar terkesan keren dan bisa dijual mahal.

Namun terlepas dari itu semua, semua proses biologi tentu memiliki PAKEM atau prinsip-prinsip tersendiri hingga desain proses tersebut bisa diwujudkan.

Dalam postingan kali ini, kita akan berbicara sekilas tentang cara melihat suatu proses biologi dan kesesuaiannya dengan air limbah yang kita hadapi. Dan sembari membicarakan hal ini, ada baiknya bagi pembaca disini mengerti beberapa konsep yang berhubungan secara langsung dengan proses biologi, antara lain :

1. 6 Hal Yang Harus Di Maintain Dalam Proses Biologi
2. Dissolved Oxygen : Salah Satu Faktor Penentu Keberhasilan Aerob Process
3. Cara Menurunkan BOD dalam Air Limbah
4. Pengenalan Proses Anaerob 
5. Cara Menurunkan COD di air Limbah
6. Beberapa Hal Yang Perlu diperhatikan Dalam Mendesain WWTP

Oke mudah-mudahan sebelum masuk ke postingan Ini, sobat sekalian sudah membaca semua artikel diatas. Sebab akan ada istilah-istilah serta pola pikir yang harus melekat sebelumnya sehingga bisa menyerap apa yang disampaikan disini.

Mari Kita mulai.

Perhatikan Hasil Analisa Inlet Sebelum Mendesain Proses Biologi!

Langkah Pertama dalam mendesain sebuah proses biological untuk IPAL adalah dengan memperhatikan hasil Analisa inlet air limbah. Walaupun mungkin standar baku yang harus Anda kejar tidak mensyaratkan banyak parameter namun saya sarankan Anda tetap melakukan analisa lengkap.

Sebab dari analisa lengkap akan ketahuan bahwa parameter apa apa sajakah yang menjadi sumber masalah dalam sistem Anda. Dan juga bisa diurai nantinya kalau suatu saat ada paramater yang out spek, kita memiliki data telusur.

Dari Hasil Analisa kita juga bisa melihat keterkaitan antara satu parameter dengan parameter lainnya. Seperti parameter TSS yang akan berkaitan dengan parameter COD dan BOD. Parameter Fe dan Mn yang berkaitan dengan parameter TDS, TSS, COD dan BOD dan masih banyak lagi. Untuk itulah pertama kali saat desain kita membutuhkan analisa kumplitnya.


bakteri tetap akan hidup walaupun keadaan untuk tumbuh ternyata tidak optimal

Lihat Kategori Biologi Untuk Penentuan Sistem Oke Sebelum desain kita juga harus memperhatikan Konversi nilai COD dan BOD yang ada. Dan perhatikan aturan Berikut.

1. Jika Nilai COD Lebih besar sedikit saja dari pada BOD, Artinya Limbah Anda Organic Based.
2. Jika Nilai COD 2 x Lipat Dari Nilai BOD itu artinya air limbah Anda adalah Soft Organic Tolerant Based
3. Jika Nilai COD 3x Lipat dari nilai BOD itu artinya Air Limbah Anda Hard Biological Tolerant Based.
4. Jika Nilai COD Lebih dari 3x lipat nilai BOD artinya air limbah tersebut Non Biological Tolerant based.

Dari keempat kategori diatas, yang bisa diolah secara biological hanya kategori 1 sampai 3, sedangkan yang keempat artinya tidak bisa lagi diolah secara biologi.

Penentuan Perlu Tidaknya Proses Biologi Pada WWTP
Untuk selanjutnya kita harus menentukan perlu atau tidaknya suatu proses biologi di-install dalam wwtp. Cara untuk menentukannya adalah dengan melihat nilai-nilai BOD dan COD serta membandingkannya dengan nilai parameter lainnya.

Jika setelah membaca hasil analisa total kita melihat bahwa parameter BOD setelah dikurangi faktor TSS masih tergolong tinggi maka disanalah peran proses biologi dalam IPAL/WWTP diperlukan. Untuk mengetahui topik ini ada baiknya sobat mengunjungi postingan tentang Cara Menurunkan TSS dalam Air Limbah.

3 Desain Proses Biologi Dalam Waste Water Treatment
kita mempelajari hasil analisa, kategori Nilai BOD-COD, dan juga perlu tidaknya proses biologi tentunya para engineer sudah dapat menentukan jenis proses biologi apa yang harus digunakan. Dan berikut ini adalah proses biologi yang umum dipilih :

1. Proses Aerasi

Cara Mengolah Air Limbah Yang benar

Proses aerasi dipilih jika nilai BOD dalam suatu air limbah melewati angkat tiga ratus. Dan itupun setelah diperhitungkan dengan pengurangan BOD setelah proses koagulasi, sedimentasi dan juga pemisahan minyak dan lemak.

Proses Aerasi dilakukan dengan membuat sebuah bak yang berukuran cukup besar (Umumnya sekitar 1 hari debit) yang didalamnya berisi activated sludge. Disana air limbah akan diproses dengan bakteri heterotrop untuk kemudian di dekomposisi sehingga rantai organiknya menjadi pecah dan berubah menjadi CO2 dan H2O.

Dalam tangki ini sobat olah-air akan menemukan juga gelembung-gelembung udara yang dihembuskan dari blower yang terus menyala selama 24 jam. Fungsinya adalah untuk memberikan asupan oksigen pada bakteri yang ada disana sehingga bisa bekerja dengan maksimal.

Bakteri adalah bagian dari proses biologi

2. Proses Anaerob


Proses Anaerob dipilih jika nilai BOD suatu air limbah ada diatas angka 900. Yah sebenarnya bisa juga sih menggunakan proses aerasi hanya saja nantinya akan membutuhkan sangat banyak sekali energi.

Prosesn Anaerob bisa disebut juga dengan proses tanpa udara ataupun fermentasi, disini biasanya akan terjadi suatu proses metanogenenis dan acidifikasi pada air limbah sehingga rantai-rantai organik yang kompleks akan terurai menjadi rantai organik panjang (alifatik).

Proses Anaerob sendiri sebenarnya ada 5 tipe diantaranya adalah Lagoon, CSTR, Anaerobic Filter, UASB, dan Juga Extended UASB (dan kita akan membahas ke 5 tipe ini nanti).

Dalam sebuah tangki anaerobic, isinya adalah media pelekat bakteri dan juga granular activated sludge yang merupakan active sludge yang didesain untuk proses anaerob.

Biasanya ukuran dari tangki anaerobic ini ada diangka 2 hari debit hingga 5 hari semuanya tergantung pada nilai si BOD itu sendiri.

Dalam beberapa kasus, proses anaerobic bisa dipecah menjadi beberapa anaerobic kecil dan dipadukan dengan proses aerasi agar didapatkan penurunan nilai BOD yang maksimum.

3. Proses Anoxic


Proses ini biasanya disebut sebagai proses denitrifikasi, dimana Nitrate dan Nitrite yang dihasilkan akibat proses dekomposisi dari proses aerasi akan dipecah menjadi gas Nitrogen.
Dalam prakteknya, hal ini bisa terjadi di Kolam Sediment II (Sediment After Biological) ataupun di kolam tenang (beberapa praktisi menyebutnya begitu).

Untuk mempercepat proses ini, biasanya ditambahkan bakteri khusus yakni nitrobacter yang banyak ditemukan pada tanah tanaman kacang sehingga zat nitrate dan nitrite dapat diolah dengan baik.


PS : 
Jika Anda ingin belajar lebih banyak tentang dunia pengolahan Air. Silahkan Follow Google plus Mr. Anggi Nurbana disini




Baca selengkapnya

Tuesday, 13 September 2016

6 Jenis Trouble Yang Biasa Terjadi Pada Mesin RO

6 Jenis Trouble Yang Biasa Terjadi Pada Mesin RO

Anda bisa menemukan jawaban untuk mesin reverse osmosis disini
Kalau Bagian Utility Ga Ngerti RO, Siap2 Aja Jadi Bulan-bulanan Bag. Lain
Hallo sobat sekalian, jumpa lagi di website kesayangan kita yakni olah-air.com dan kali ini kita akan membahas tentang masalah-masalah yang biasa terjadi pada mesin RO. Dan tanpa perlu menunggu sampe lebaran tahun depan, maka kita langsung saja mulai. Go Go Go!

1. Trouble RO #1 Reject Lebih Besar Daripada Permeate

Masalah yang pertama ini biasanya ditemui setelah RO Berjalan lebih dari setahun. Masalah ini biasanya dikarenakan membrane sudah tertutupi dengan kotoran sehingga nge-block. Wal hasil air yang seharusnya masuk ke area permeate malah akhirnya ter-reject.


Jika masalah ini Anda alami dalam tempo kurang dari setahun, maka artinya Ada yang salah pada sistem pretreatment Anda (Bisa jadi Anda mungkin ga pake pretreatment). Karena seperti yang kita tahu, bahwa membrane RO itu sangat sensitif sehingga air yang masuk harus benar-benar dijaga.

Solusi dari masalah yang ini hanya satu yakni penggantian membrane. Sebab kalaupun di cleaning hasil yang akan didapat akan ada dinilai yang mengecewakan dan jauh dari flow aslinya sehingga sangat tidak direkomendasikan (Yah Kecuali Budget lagi mepet).

Lihat Juga : 5 Keunggulan Mesin RO Air Laut

2. Trouble RO #2 Conductivity dari Permeate sama dengan conductivity yang masuk

Waduh, waduh, kalau masalah ini yang terjadi alamat harus keluar uang banyak deh untuk mengganti membrane.

Conductivity yang masuk dan yang keluar menandakan seal pada membrane telah rusak dan harus diganti. Hal ini jarang sekali terjadi, kalau conduct masuk dan keluar sama biang keroknya adalah kesalahan pada pemasangan membrane pada vessel.

Kasus seperti ini juga terjadi kalau antara membrane dan vessel ternyata tidak cocok panjangnya sehingga kadang kala perlu diganjal. Yang harus diperhatikan adalah pemilihan vessel harus menggunakan yang memang bermerek agar masalah seperti ini tidak terjadi.

Lihat Juga : Cara Menurunkan Total Suspended Solid Dalam Air (TSS)

3. Trouble RO #3 Conductivity Permeate meningkat dari nilai biasanya

Ada dua hal yang bisa mengakibatkan masalah ini terjadi. Hal yang pertama adalah karena inlet conductivity juga mengalami peningkatan.

Sebuah membrane RO pada umumnya mampu membuang TDS/Conduct sebanyak 95-97% dari tds yang masuk. Misal TDS masuk 200 mg/L maka minimal si sistem tadi bisa menghasilkan air dengan TDS 10 mg/L.

Namun jika saat proses Reverse Osmosis berjalan namun yang dihasilkan jauh diatas 5% dari TDS masuk maka hal tersebut bisa jadi ada loss rejection. Dan loss rejection yang terjadi seperti itu menandakan adanya kebocoran pada membrane RO yang kita gunakan.

Kalau di demin plant kenaikan TDS ini bisa kita selesaikan dengan proses regenerasi, maka lain halnya dengan proses di RO. Kenaikan Conductivity atau TDS tidak bisa diregenerasi ataupun di cleaning dan hanya bisa selesai jika si RO Tersebut diganti membranenya. Lalu setelah penggantian membrane untuk selanjutnya mesin RO Tersebut harus dipastikan antara vessel dan membrane yang dipasang benar-benar rapat dan kuat.

Lihat Juga : Daftar Hal Penting Dalam Mendesain WWTP dan WTP

4. Trouble RO #4 pH Air turun dibawah standar

Proses reverse osmosis akan menyingkirkan beragam mineral anorganik dan juga zat organik yang ada dalam air sehingga air tersebut benar-benar akan menjadi air yang murni dengan kandungan mineral minimal.

Kondisi ini mengakibatkan pH air akan cenderung turun hingga dibawah 6, terlebih lagi jika air yang masuk saja sudah memiliki pH yang demikian rendah (Dibawah 7).

Untuk mengakali hal tersebut maka salah satu caranya adalah dengan menaikan pH air yang masuk atau bisa juga dengan menggunakan membrane pH Adjuster seperti yang biasa kami pasang di beberapa tempat.

Lihat Juga : Daftar Bahan Kimia Untuk Proses Water Treatment

5. Trouble RO #5 Jumlah Permeate Turun dibawah standar

Katakanlah kebutuhan area produksi akan air dengan nilai TDS yang rendah adalah 20 m3/Jam. Maka biasanya kontraktor (Seperti PT.CHEMINUSA Salah satunya) akan membuat RO dengan kapasitas lebih tinggi dari itu yakni sekitar 26 m3/Jam.

Kapasitas tersebut sengaja dibuat lebih besar dengan tujuan agar memperpanjang umur RO. Karena secara logika saja ,jika kapasitas lebih besar maka akan ada suatu waktu istirahat lebih lama bagi mesin. Dan juga mesin memiliki waktu maintenance lebih lama, karena saat debit permeate turunpun maka pabrik tidak akan buru-buru mengadakan maintenance (Karena tentu kita sepakat, suatu proses maintenance akan menyebabkan adanya shut down juga pada engine yang menggunakan air tersebut).

Untuk mengembalikan performa mesin RO ke nilai optimum, Anda bisa melakukan membrane cleaning dengan proses asam dan basa sehingga kotoran yang melekat pada membrane terlepas dan membrane dapat memberikan nilai permeate optimum.

Namun yang perlu diketahui adalah proses cleaning ini jangan sering-sering dilakukan karena akan menyebabkan membrane menjadi tipis dan mudah terkelupas. Yah kira-kira sekali setiap 3 bulan lah.

Lihat Juga : Jenis-jenis Membrane RO

6. Trouble RO #6 Pressure pada pompa Melebihi standar

Pressure yang tinggi pada pompa mengindikasikan adanya sumbatan pada membrane ataupun vessel dan artinya perlu diadakan proses cleaning pada sistem RO Anda.

Namun jika ternyata pressure pompa tidak kunjung turun setelah cleaning dilakukan, maka Anda bisa melakukan pemeriksaan pada jalur permeate. Sebab bisa jadi tangki penampungan air permeate dalam keadaan penuh sehingga menaikan pressure pompa.

Namun jika hal tersebut juga tidak berhasil, maka cobalah matikan dan bongkar pompa Anda bisa jadi ada suatu hal yang menyumbat pompa Anda.

RO yang murah untuk industri


Nah itu dia 6 Masalah yang biasa terjadi pada mesin reverse Osmosis. Mudah-mudahan dapat menjadi suatu pengetahuan yang berharga bagi rekan-rekan sekalian.

PS : Jika Anda ingin terus mendapatkan update artikel dari website ini, maka silahkan Add google plus saya disini. Atau Anda juga bisa melakukan LIKE Halaman kami di Olah Air Indonesia.


Salam Hangat,

Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya