Showing posts with label Waste Water Treatment. Show all posts
Showing posts with label Waste Water Treatment. Show all posts

Wednesday, 14 September 2016

Teknik Pemisahan Sludge Dari Air Limbah

Teknik Pemisahan Sludge Dari Air Limbah

Bagaimana Menangani Sludge sudah demikian Banyak

Proses pengolahan air limbah bukanlah suatu proses yang selesai dalam satu langkah saja. Proses ini layaknya proses memasak, yang memerlukan persiapan, proses awal, pembumbuan hingga penghidangan.

Salah satu proses yang akan banyak kita temui dilapangan adalah proses pemisahan sludge dari air limbah. Yang dimana hal tersebut dilakukan untuk membuat parameter TSS, COD, BOD turun dan sekaligus agar air yang keluar tidak menjadi masalah (Akibat keruh jadi di komplen warga hehe).

Nah, apa saja sih teknik-teknik pemisahan sludge dari air limbah? Yuk kita lihat lebih lanjut dalam postingan ini.

1. Proses Pemisahan Lumpur Sludge dengan Gravitasi Alami

wtp adalah suatu proses untuk mendapatkan air bersih dari air kotor
Tangki sedimentasi menggunakan gaya gravitasi dalam menurunkan sludge

Proses yang paling banyak kita kenali dilapangan adalah dengan proses pemisahan secara gravitasi alami. Proses ini dikehidupan nyata banyak ditemukan saat seperti proses pengendapan tanah dari air. Air yang keruh jikalau ditaruh dalam bejana yang tenang, maka lama-kelamaan tanah yang ada dalam air tersebut akan turun dan mengendap menyisakan air bening dipermukaan atas.

Proses Gravitasi alami ini dalam suatu sistem WWTP direalisasikan dengan adanya suatu tangki sedimentasi.

Tangki sedimentasi sendiri bisa ditemukan dalam bentuk yang beragam, baik dalam bentuk kotak ataupun slinder. Namun yang jelas kesamaan dari kedua bentuk tersebut adalah dibagian bawahnya berbentuk seperti corong yang fungsinya untuk memudahkan proses penyedotan sludge yang sudah turun.

Lihat Juga : Pengenalan Air dalam dunia Boiler

2. Proses Pemisahan Lumpur Sludge Dengan Filtrasi

Filter sand carbon manganese dsb adalah beberapa contoh teknik ini

Cara yang kedua ini juga lazim ditemukan dalam suatu proses WWTP. Biasanya cara ini dipilih setelah kandungan lumpur atau sludge yang ada dalam air sudah sedikit (Dimana sebelumnya sudah didahulu proses sedimentasi agar lumpur berkurang). Sebab kalau tidak begitu maka bisa jadi celaka, karena sedikit-sedikit filter akan tersumbat dan akan mengakibatkan serinngnya proses maintenance (Backwash) dan juga penggantian media filtrasi.

Lihat Juga : Jasa Pembuatan TPS B3

Kalau di alam bebas proses filtrasi ini bisa kita temukan pada tanah. Dimana tanah akan berfungsi menyerap air dipermukaan dan memisahkannya dari kotoran kotoran. Selain itu kita juga dapat menemukannya dari proses penyaringan dengan bebatuan yang ada di sungai.

Kalau di suatu sistem WWTP, biasanya media yang digunakan berbentuk suatu media pasir (Sand Gravel), Carbon active, Membrane dan lainnya. Dimana air limbah dipompakan dengan suatu feed pump agar bisa melewati si media filtrasi tersebut. Hasilnya adalah air yang bening dan telah bebas dari kotoran tersuspensi. Bahkan pada beberapa kasus cara ini juga akan berhasil menurunkan kandungan zat zat organik serta mineral dalam air.

Lihat Juga : Cara Menurunkan COD dari dalam Air

3. Pemisahan Sludge Melalui Mesin

Filter press adalah salah satu mesin pemisah sludge dari air limbah

Teknik pemisahan ketiga ini juga cukup banyak akan kita temukan dilapangan. Biasanya cara ini digunakan setelah lumpur tersebut dikumpulkan dalam jumlah yang banyak namun masih mengandung air yang juga banyak, yah kalau bisa dibilang sekitar fifty fifty lah.

Proses pemisahan sludge melalui mesin ini juga biasanya dimaksudkan untuk menghasilkan lumpur yang hanya mengandung sedikit air. Hal ini ditujukan untuk mengurangi operational cost akibat biaya pembuangan sludge ke penampung limbah b3. Yah karena seperti yang kita teu, ongkos buang sludge ke penampung limbah B3 memakan biaya yang cukup mahal (rata-rata 800 – 1,2 jt per m3 limbah b3).

Lihat Juga : Cara Mengolah Air Gambut Menjadi Air Bersih

Beberapa nama alat yang berada pada area ini adalah ;

a. Drying Bed

Seperti namanya, drying bed adalah sebuah kolam dimana air lumpur ditidurkan sambil dikeringkan. Proses pengeringan biasanya akan menggunakan sinar matahari sebagai sumber panasnya. Air akan terserap melalui pori-pori yang ada di bed tersebut. Dan sludge akan kering setelah 1-2 hari.

Kekurangan dari menggunakan teknik pemisahan sludge ini adalah, diperlukannya area yang cukup luas dan juga sinar matahari yang cukup terik. Oleh karenanya teknik pemisahan sludge melalui metode Drying Bed amat tidak disarankan untuk pabrik yang memiliki area sempit ataupun pabrik yang berada pada area dengan suhu dingin (Kapan tau deh keringnya kalau suhu dingin mah).

b. Filter press

Kalau mesin kedua ini biasanya ditemukan pada pabrik-pabrik tempat memproses produk yang berhubungan dengan logam, seperti pabrik plating salah satunya.

Mesin filter press memiliki beberapa plat yang digunakan untuk menekan sludge sehingga berubah menjadi cake yang memiliki kandungan air dibawah 40%. Air filtratnya biasanya sudah bebas dari sludge dan siap dibuang ke lingkungan (jika baku mutunya telah tercapai).


Filter press ini juga biasa digunakan dibeberapa pabrik untuk memproses minyak goreng dan produk lainnya. Mesin ini biasanya dipilih untuk proses batch. Dimana prosesnya tidak continyu. Karena ada jeda waktu untuk mempress dan mengeringkan sludge tersebut.

bakteri tetap akan hidup walaupun keadaan untuk tumbuh ternyata tidak optimal
c. Belt Press

Belt Press ini adalah sebuah mesin pemisah lumpur dengan proses press menggunakan belt (Makanya namanya belt press hehe). Mesin jenis ini dapat dengan mudah dikenali dengan adanya conveyor yang bergerak memisahkan sludge yang telah di press.

Belt press ini biasanya dipilih untuk memisahkan sludge yang jumlahnya sangat banyak. Sludge diproses secara terus menerus dan nonstop selama jam operasi. Kekurangan dari penggunaan belt press ini adalah, sludge yang dipisahkan masih mengandung air cukup banyak yakni diatas 40%.

Makanya terkadang ada perusahaan yang menggunakan dehydrator untuk mengeringkan sludge dari belt press ini. Kalau tidak, wah bisa jebol kantong si boss karena harus membayar tagihan pengumpul limbah b3 yang tinggi.

Lihat Juga  : Inilah Alasan Kenapa History Record itu Penting di WWTP

d. Screw Press

Screw press biasa digunakan untuk memisahkan sludge yang memiliki kandungan minyak. Sludge dipisahkan dengan gerakan screw sehingga akhirnya terpisah dari air limbah. Screw press ini dapat ditemukan pada pabrik minyak goreng, pengolahan minyak bumi dan lainnya.
Mau Beli Alat Untuk Menghandle Sludge Anda? Hub. Kami Segera!

Wah tidak terasa sudah sampai tiga halaman deh artikel ini. Dan sekarang, mari kita nyate dulu mumpung baru aja dapet jatah daging dari Panitia Qurban hahaha.

PS :

Jika Anda ingin terus mendapatkan update artikel dari blog olah-air.com , Anda bisa mengklik follow pada tombol google plus ini. Dan bisa juga dengan LIKE Halaman Olah-Air.Com di Facebook.



Sampai jumpa di kesempatan berikutnya,



Salam Hangat,


Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Saturday, 12 December 2015

Bagaimana Menurunkan Kadar Besi Dalam Air Tanpa Menggunakan RO (Reverse Osmosis System)

Bagaimana Menurunkan Kadar Besi Dalam Air Tanpa Menggunakan RO (Reverse Osmosis System)

Bagaimana Cara menurunkan Kadar Besi dalam Air
Kalau Besi (IRON) yang ini ga bisa diturunkan pake cara biasa

Kalau bicara tentang reverse osmosis system, saya yakin diluar sana juga sudah banyak para praktisi yang sudah cukup kompten untuk menjelaskannya. Ya walau cukup banyak juga yang hanya bisa memasang tapi tidak tahu apa, kenapa dan bagaimananya.

Kenapa mesti tahu apa, kenapa dan bagaimananya??

Ilmu adalah pondasi dari setiap aktivitas yang kita lakukan, well setidaknya apapun yang saya lakukan termasuk Install RO (Reverse Osmosis) semua berdasarkan ilmu dan perhitungan yang saya miliki.

Tanpa adanya pemahaman terhadap prinsip dasar dan ilmu IPA, ditambah lagi dengan jam terbang dilapangan tentunya akan membuat seseorang membuat kesalahan-kesalahan dalam langkah yang diambil. Termasuk dalam memilih sistem yang tepat untuk pengolahan air/water treatment khususnya Reverse Osmosis System.


Flash Back Sedikit Kenapa Jadi Bahas Penurunan Kadar Besi

Saya masih ingat beberapa waktu yang lalu, saya dibully oleh orang yang mungkin hanya hobby baca artikel saja dari internet tanpa tahu kenyataan. Di milist teknik kimia saya bilang kalau besi itu bisa difiltrasi dengan menggunakan UF.

Dan tidak lama kemudian, ada seseorang (yang ngakunya ahli) membantah, sampai bilang saya ngaco.. Dengan berkata besi itu hanya bisa difiltrasi dengan RO atau menggunakan manganesse filter. Padahal.. Kalau dia lebih sering ke lapangan.. tentu dia tahu faktanya.. dan pasti tahu karakter dari besi..

Kalau mau tau cara nurunin COD disini : Teknik Untuk Menurunkan Nilai COD dalam Air

Menghindari Perdebatan Lebih Baik

Masih Curhat ni ya..
Maka dari pada saya berdebat di milist tersebut, yah lebih baik diamkan saja. Toh menang debat juga ga akan membuat saya mendapatkan proyek hehe.. Biarlah pengalaman yang menyadarkan dia.

Kembali ke bahasan ==> Besi bisa diturunkan kadarnya pake UF.

Sebelum pembaca ngotot tentang ukuran partikel besi. Mari kita kembali ke pelajaran dasar kimia..
Besi adalah suatu mineral yang memiliki dua valensi. Yakni besi (II) dan besi (III). Yang mana kita akan temukan besi (II) di FeSO4 dan besi tiga di FeCl3 (Ini kalau dipasaran).

Nah.. yang perlu diingat adalah stabil ga tuh Besi (II)??
Jawabannya adalah tidak, besi dua mudah sekali teroksidasi menjadi besi (III) yang nantinya besi (III) ini akan mudah membentuk sludge/endapan. bahkan tanpa perlu diberikan pereaksi sekalipun. Ga percaya?? Silahkan beli FeSO4, dan diamkan diudara terbukan selama setengah jam. Nanti akan jadi kuning.

Udah Tau Belum?? Cara Mengolah Limbah Cair Phenol

Nah apa tuh hubungannya dengan Filtrasi dengan UF?
Hehe.. Masa sih masih pada ga ngeh juga..
Kalau dalam bentuk endapan, maka besi akan mudah sekali disaring atau difiltrasi. Bahkan jika didepannya ditaruh sand filter sekalipun, maka jumlah besi yang keluar akan cukup berkurang. Apalagi ditambah dengan adanya penambahan bahan kimia seperti basa NaOH.

Aplikasinya gimana tuh Pak Anggi?

Download di Google Play Store (Becanda deng.. hehe soalnya bentar lagi olah-air.com ada aplikasi di webstore jadi teman-teman bisa dapet update postingan langsung di hape android.. Cie.. Canggih kan hehe).

Aplikasi sebenarnya adalah seperti ini, langkah-langkah dalam membuat besi berkurang dari dalam air dengan proses UF.

1. Tampunglah Air Dari sumbernya

Tahapan pertama dalam menurunkan kadar si Besi ini  sebenernya baca bismillah :), lalu kita persiapkanlah sebuah tempat penampungan.

Jika air yang akan Anda gunakan berasal dari sungai, atau sumur maka silahkan dibuat penampungan terlebih dahulu.

Penampungannya bisa berbentuk ground tank atau tangki PE pun ga apa apa.. Kalau Tangki Mild Steel atau SS, harus di lapis dulu supaya ga terjadi karat.

2. Lakukan aerasi

Langkan ketiga dalam menurunkan kadar besi adalah dengan aerasi.
Apa sih aerasi?? Baca ini dulu ya.. >> Cara Menghitung Tangki Aerasi

Dengan proses aerasi, kita akan menghemat penggunaan bahan kimia. Yang berarti juga meminimalisir TDS.
Si besi akan dioksidasikan oleh udara yang diinject melalui blower. Sehingga lama kelamaan akan berubah jadi besi III.


3. Inject Bahan Kimia (Jika Perlu)

Jika masih kurang yakin, Anda bisa melakukan injeksi bahan kimia koagulan plus basa untuk membuat si besi tadi benar-benar menjadi sludge yang dapat dipisahkan. Sehingga kadar besinya jadi turun.

4. Lakukan Filtrasi atau sedimentasi

Ada dua pilihan sih di langkah ke empat untuk menurunkan kadar besi tanpa RO ini. yaitu dengan melakukan filtrasi atau sedimentasi. Filtrasi dipilih jika debitnya kecil dan sludge ga terlalu banyak (Kalau banyak yah gempor dong ah.. sering ganti media).
Dan Kita pilih proses sedimentasi kalau sludgenya banyak banget.

Yang belum tahu proses sedimentasi itu apa, silahkan cek postingan ini :
Tiga Teknik Dasar Dalam Pengolahan Air

5. Boleh Deh Kita Filtrasi Dengan UF
Nah ketika sudah sampai disini, tahap terakhir kita bisa deh filtrasi ini air dengan menggunakan filter UF alias ultrafiltrasi. Dijamin Fe atau besinya sudah berkurang jauh kadarnya dari awal hingga ke titik ini.

Ye.. Curang si Om anggi mah.. ada Pretreatmentnya dulu!!

Hehe.. Kalau mau langsung juga bisa, kalau merasa banyak duit dan hobby ngeganti itu membrane UF ;p.

Mungkin hari ini cukup sekian artikel tentang cara menurunkan kadar Besi dalam air tanpa menggunakan Reverse Osmosis /RO.

Sebenarnya ada banyak cara lainnya yang lebih detail, kalau penasaran silahkan kontak saja langsung saya di Google plus atau via email.

PS :
Yang Email atau SMS Terror dan Spam, please hentikan ya   : (
Saya berbagi ilmu agar teman-teman dan pembaca mendapatkan pencerahan dan tidak melulu mengambil cara yang mahal. Rejeki sudah ada yang ngatur, jangan takut bapak yang pada jual RO jadi ga laku gara-gara saya bocorin ini ya..


Salam Hangat,


Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Friday, 11 December 2015

Share : Mengenal Proses Anaerob di Wastewater Treatment Plant

Apakah Proses Anaerob Itu?

Definisi Proses Anaerob
Bukan contoh proses Anaerob, Tapi contoh kelakuan Lucu bocah :)

Jika Anda suka memakan makanan yang telah berfermentasi seperti keju atau Yoghurt, bayangkanlah bahwa itu adalah sebagian proses anaerob.

Proses Anaerobic = Kondisi Minim Udara

Sesuai namanya, proses anaerob adalah proses pengolahan air limbah, dimana si limbah dikondisikan dalam ruangan minim udara (anaerob disini artinya minim udara, bukan hampa udara). Pada proses ini bakteri dipaksa bekerja untuk mengambil oksigen dari ikatan rantai organik, sehingga terjadilah proses pemecahan atau fermentasi dengan bakteri jenis autotrop.

Secara alami kita dapat menemukan proses anaerob dalam rawa atau danau yang sudah lama tidak terkena hujan. Kita juga secara samar ataupun jelas dapat melihat gas keluar dari proses ini. Gas ini adalah gas methane yang dihasilkan oleh bakteri autotrop.

Anaerob merupakan langkah pengolahan limbah yang paling efisien dalam menguraikan limbah, sayangnya proses anerob ini tidak cocok untuk semua kategori limbah.

Saat ini sudah mulai banyak proses anaerob dimanfaatkan untuk mendapatkan energi biogas. Salah satu daerah di Indonesia yang melakukan proses ini adalah komunitas My Darling di Bandung.
Karakter limbah yang menggunakan jenis pengolahan ini adalah limbah dengan BOD diatas 1500 mg/L. Dan dengan syarat konversi BOD ke COD tidak melebihi 3 kali lipatnya.

Kondisi BOD yang max sepertiga COD menggambarkan bahwa pengotor yang terkandung didalam air limbah kebanyakan berasal dari zat organik yang dapat di oksidasikan. Sedangkan jika jumlah BOD kurang dari sepertiga BOD, maka dapat dipastikan air limbah yang sedang kita olah tidak cocok dengan proses anaerob, kenapa? karena limbah tersebut kebanyakan berisi zat tidak dapat di uraikan oleh bakteri.


Beberapa Tahapan Proses Anaerob

ada tiga tahapan utama dalam proses anaerob
1. Proses Hydrolisisis
Pada tahapan ini bakteri baru bekerja dengan memecahkan rantai organik yang complex
2. Acidogenesis
pada tahapan ini bakteri berusaha untuk mengkonsumsi zat organik yang tertinggal. Sehingga tinggalah zat organik dalam susunan rantai organik yang lebih sederhana dan mudah dipecahkan.
3. Methanogenesis
Proses ini adalah proses terbentuknya zat yang menjadi bahan bakar, yakni metana. Pada proses ini bakteri berhasi mengubah karbohidrat dan zat organik lainnya menjadi CH4 (metana) dan juga Karbon dioksida. Sedangkan Nitrogen akan berubah menjadi amina ataupun amonia.


Nyambung Ama Tulisan ini : Cara Menurunkan COD dalam air Limbah

Persayaratan Proses Anaerob

Seperti manusia, bakteri juga memiliki syarat kelayakan hidup mereka sendiri. Beberpa persyaratan dari proses Anaerob ini bisa berlangsung dengan baik adalah sebagai berikut :

1. Pengaturan pH
Agar proses anaerob dapat berjalan dengan sempurna, pH air diatur hingga mendekati nilai netral. Yakni diangka 6-8,5. Jika pH lebih atau kurang dari itu, akan diperlukan waktu yang lebih lama bagi bakteri untuk dapat mengolah air limbah. Namun begitu proses sudah berjalan dengan lancar, biasanya air limbah yang sudah diolah melalui proses ini akan memiliki pH dibawah netral. yakni sekitar 5 atau 4. Hal ini karena zat asam organik yang dihasilkan oleh bakteri ketika proses fermentasi.

Baca Juga : Kalibrasi pH meter dapat menormalkan IPAL

2. Pengaturan Vesel
Wadah tempat terjadinya proses anaerob juga harus diatur sedemikian rupa hingga minim dari masuknya oksigen, namun tetap disediakan tempat untuk keluarnya gas methane. Desain yang cukup populer dari tangki anaerobic adalah sebagai berikut :


3. Pengaturan Mixing
Didalam tangki anaerob, adalah penting untuk membuat suatu alat mixing. Fungsi dari alat ini adalah untuk memberikan keleluasan bagi bakteri ketika bergerak. Dan juga membantu lepasnya gas methane dari air limbah. Tanpa adanya proses pengadukan, maka proses anaerob dapat berjalan lebih lama.

4.  Pemberian Nutrisi
Sebenarnya jenis pengolahan dengan proses anaerob ini tidak memerlukan nutrisi khusus, karena nutrisi utama mereka yakni zat organik telah disuplai oleh air limbah yang masuk. Namun dalam kasus tertentu, dimana tidak ada air limbah yang masuk karena pabrik dalam kondisi shut down, maka diperlukan asupan makanan bagi bakteri anaerob ini. Mengingat proses anaerob akan membutuhkan waktu yang sangat lama sekali untuk bisa kembali normal jika bakteri didalamnya mati. Nutrisi yang disarankan adalah makanan busuk atau zat organik seperti karbohidrat yang mirip dengan makanan mereka sebelumnya.



5. Hindari Kontaminasi
Apakah kontaminasi dari anaerob yang dimaksud? kontaminasi yang dimaksud adalah kontaminasi akibat masuknya zat organik ataupun anorganik yang bersifat toxic bagi bakteri. Seperti desinfektan dan beberapa detergen yang mengandung triclosan.
Oleh karena itu, disarankan untuk perusahaan yang memiliki area anaerob ditempatnya untuk tidak membuang desinfektan, ataupun bahan kimia di area sewage mereka. Karena dikhawatirkan dapat membunuh bakteri diarea anaerob


Proses Anaerob bukan Proses Final

Proses anaerob biasanya hanyalah merupakan rangkaian proses awal saja, tentunya setelah menyingkirkan TSS yang mengganggu. Keluaran dari Proses anaerob biasanya masih harus ditreatment kembali dengan menggunakan proses aerasi yang dipadukan dengan proses desinfikasi dengan menggunakan hypoclorite (atau yang lain). Untuk memastikan proses anerob dan aertion yang terjadi tidak menghasilkan bakteri patogen yang dapat merugikan manusia.

Baca Juga : Proses Desinfeksi Pengolahan Air 

Mungkin sekian pembahasan tentang Apakah proses anaerob dalam pengolahana air limbah. Semoga kita dapat bertemu kembali dalam postingan yang lainnya.

PS:
Saya memiliki  water treatment website lainnya yang berbahasa inggris. Jika pembaca disini memiliki ketertarikan dan pengetahuan dalam bidang pengolahan air dan air limbah. Silahkan bergabung dan menjadi penulis bersama kami di on-water.us.

Salam Hangat

Admin olah-air.com


Baca selengkapnya

Tuesday, 8 December 2015

Inilah Dia Korelasi Antara COD dan BOD

Inilah Dia Korelasi Antara COD dan BOD


Saya tau, mungkin sebagian dari pembaca on-water.us disini sudah familiar dengan istilah COD dan BOD, namun biarkan saya memberikan penjelasan singkat tentang apakah itu COD dan BOD sebelum kita masuk kedalam korelasinya.

Definisi COD dan BOD


COD artinya adalah jumlah oksigen yang dihitung secara kimia, yang dibutuhkan untuk mengoksidasikan zat-zat yang ada didalam air.

Sedangkan BOD artinya adalah jumlah oksigen yang dihitung secara biologis, yang dibutuhkan oleh mahluk mikrobiologi atau mahluk hidup untuk dapat mengoksidasikan zat didalam air.

Dari kedua definisi diatas, kita dapat menemukan suatu korelasi yang cukup jelas. Yakni baik COD dan BOD adalah sama-sama menunjukan kebutuhan jumlah oksigen yang digunakan untuk mengoksidasikan zat-zat didalam air. Dan korelasi ini sangat menarik untuk dibahas, Namun sebelum itu mungkin ada yang bertanya.. Mengapa Nilai kedua parameter tersebut bisa berbeda, bahkan jauh sekali?

Lihat Juga : Cara Menurunkan Konduktivitas dalam Air

COD dan BOD ditentukan lewat cara analisa yang berbeda.


Awal permulaan COD dan BOD adalah suatu perbedaan dalam hal melakukan analisis terhadap kedua parameter ini. Pada analisis nilai COD, sample direaksikan dengan menggunakan Kalium Iodida, untuk selanjutnya dititrasi dengan menggunakan Kalium Dikromat.

Sedangkan BOD diukur dengan cara melakukan inkubasi disuhu ruangan selama lima hari, untuk kemudian di reaksikan dengan MnO2 lalu dititrasi dengan Tio Sulfat.

Dari kedua analisis yang cukup jauh berbeda ini, tentu saja akan didapatkan hasil yang cukup jauh berbeda pula. Hal ini dikarenakan metode analisis COD berbasis pada titrasi dikromat sedangkan BOD berbasis pada oksidasi dengan bakteri selama masa inkubasi 5 hari. Namun, kita tetap dapat menemukan korelasi yang jelas untuk kedua hal ini.

Kita dapat melihat, dalam analisisnya pun kedua sample tetap dioksidasikan dengan menggunakan zat oksidator,Untuk COD menggunakan K2Cr2O7 sedangkan BOD menggunakan MnO2. Analisa COD benar-benar bertumpu pada kemampuan Potassium Dikromat dalam mengoksidasi senyawa organik, sedangkan BOD diukur dengan melihat pengurangan kadar akibat inkubasi dengan bakteri.


Paling Banyak Dibaca
: Kalibrasi pH Meter Bisa membuat IPAL Kembali Normal

Apakah COD Selalu Lebih Besar dari BOD?


Jika Anda sering membaca hasil analisa dari air limbah, maka pasti Anda akan menemukan Bahwa nilai COD selalu lebih besar dari BOD (Jika sebaliknya artinya hasil analisanya salah). Hal ini memang benar adanya. Karena nilai BOD hanya terpengaruh pada jumlah TSS dan juga zat organik yang ada dalam air. Sedangkan COD adalah total keseluruhan dari pengotor TSS, Zat Organik, Mineral bervalensi rendah, ditambah dengan zat kimia yang memakan oksigen (Oxygen scavanger).

Para engineer sering mengatakan bahwa nilai COD adalah dua kali nilai BOD, pernyataan tersebut kurang tepat. Karena dalam beberapa kasus, kita bahkan dapat menemukan nilai BOD 2/3 dari nilai COD, dan bahkan hanya kurang dari sepertiganya,


Kenapa bisa BOD kurang dari sepertiga nilai COD?


Untuk kasus dimana BOD kurang dari sepertiga dari nilai COD, berarti air limbah yang sedang Anda hadapi adalah air limbah yang mengadung banyak sekali zat penangkap oksigen diluar dari TSS ataupun zat organik. Yang mana bisa berasal dari Amnonia Anorganik, Logam berat, dan oxygen scavanger.

Jika Anda menemukan limbah Anda memiliki parameter BOD jauh sekali dibawah nilai COD, Saya menyarankan Anda juga melakukan analisa terhadap parameter lainnya seperti ; Cr (III), Fe ( II and III), Mn, Surfaktan (MBAS), dan TSS.

Dan jika Anda menemukan beberapa nilai diatas cukup tinggi, maka itulah sumber COD yang Anda cari. Dari korelasi tersebut, Anda bisa menurunkan nilai COD dari air limbah anda dengan merunut pada sistem pengolahan masing-masing parameter. Jika Anda bingung, saya sarankan Anda melihat buku pedoman Metcalf & Eddy disini.


Jika BOD Berkurang , apakah COD sudah pasti berkurang juga?

Ya, tentu saja akan berkurang. Mengingat BOD adalah bagian dari COD juga. Namun hal ini tidak berlaku sebaliknya, dikarenakan ada beberapa hal yang dapat membuat COD tinggi mesikipun BODnya rendah.

bakteri tetap akan hidup walaupun keadaan untuk tumbuh ternyata tidak optimal

Lihat Juga : Opini tentang WWTP adalah Magic Box

COD dan BOD berhubungan satu sama lainnya


Saya harap teman-teman disini sudah mendapatkan cukup gambaran tentang COD dan BOD serta korelasi antar keduany. jika masih ada yang ingin ditanyakan, silahkan email ke anggi.kkei@gmail.com, atau jika Anda tertarik dengan dunia water treatment atau wastewater treatment, saya menyarankan anda untuk membaca buku metcalf dan eddy yang membahas tentang dunia wastewater treatment secara lebih detail.


Salam Hangat,


Mr. Anggi For Olah-Air.com
Baca selengkapnya

Monday, 7 December 2015

Cara Menurunkan TSS (Total Suspended Solid) Dalam Air

Cara Menurunkan TSS Dalam Air


TSS atau total suspended solid, adalah total keseluruhan kotoran yang bersifat tampak dan tersuspensi dalam air. Mudahnya kotoran ini terlihat seperti lumpur yang ada didalam air.

Dari mana TSS berasal?

Banyak hal yang bisa menyebabkan timbulnya TSS pada air limbah Anda. TSS bisa berasal dari limbah organik, padatan yang masuk kedalam air, tanah, sampah plastik bahkan dari alga dan bakteri.
Dan untuk menurunkan TSS sangat penting bagi para wastewater engineer untuk mengetahui sumbernya terlebih dahulu sehingga dapat merancang sistem yang tepat.
Berikut adalah beberapa cara untuk menyingkirkan TSS dari Air Limbah :

1.  Proses Koagulasi dan Flokulasi

Proses ini adalah proses penggumpalan lumpur ataupun sludge dengan menggunakan bahan kimia yang bernama koagulan. Pertama air limbah dikondisikan dengan cara ditambahkan Basa agar memiliki suasana basa, untuk kemudian dikoagulasikan dengan bahan kimia.
bahan kimia yang biasa digunakan pada proses ini adalah PAC, Alum, FeCl3. Biasanya setelah dilakukan proses koagulasi ini, maka TSS akan berkumpul dan mengendap bersama. Untuk itu diperlukan proses selanjutnya yang disebut sebagai proses sedimentasi

2. Proses Sedimentasi

Proses ini adalah rangkaian dari proses sebelumnya yakni proses koagulasi. Pada Cara ini TSS yang sudah menjadi endapan atau sludge diendapakan dengan gravitasi pada tangki dengan berbentuk kerucut dibawah. Sehingga Endapan dapat dialirkan untuk masuk ke proses filtrasi ataupun dengan sludge press equipment seperti filter press atau screw press.

3. Proses Dengan Menggunakan Sistem DAF

Sistem DAF (Dissolve Air Floatation), digunakan untuk menurunkan TSS yang memiliki karakter mengambing diatas permukaan air. Biasanya TSS tersebut berasal dari zat organik yang terbawa pada air limbah.
Prinsip kerjanya adalah membuat digumpalan sludge dengan proses koagulasi dan flokulasi untuk selanjutnya endapan yang tercipta ditiupkan keatas dengan bantuan blower. Dan kemudian masuk kedalam tangki sludge thickener. Sedangkan air yang bersih akan berada dibawah dan dipompakan menuju line selanjutnya.

Cara Menurunkan Lumpur TSS

4. Menggunakan Floating Solid Trap

Sebenarnya sistem ini mirip sekali dengan grease trap yang digunakan untuk menangkap minyak dari air. Proses ini cocok untuk menurunkan TSS yang bersifat mengambang diatas permukaan air dan dengan debit yang rendah.

5. Proses Menggunakan Filter (Sand Filter ataupun Carbon Filter)

Proses menggunakan kedua jenis filter ini cocok untuk diterapkan pada air dengan tingkat TSS yang rendah Ataupun sering juga kita jumpai digunakan pada post treatment atau treatment tahap akhir.
Air dipompakan menuju pasir berkerapatan 40 - 80 mesh, sehingga kotoran terperangkap. Dan zat kotoran serta zat organik yang lolos selanjutnya dapat ditangkap oleh karbon aktif filter. Sehingga dihasilkan air yang bersih.

Penggunaan filter press ataupun screw press juga termasuk kategori ini. Sludge yang mengandung banyak air ditekan dengan menggunakan kain berkerapatan tinggi, sehingga dihasilkan sludge dengan kandungan air minimal.



Rangkaian proses penurunan TSS pada air

Untuk menurunkan TSS secara sempurna dari air, penting sekali untuk dapat merancang suatu desain wastewater treatment yang sesuai. Dan berikut adalah flow sheet desain rancangan yang biasa digunakan dalam wastewater treatment plant untuk mengurangi jumlah suspended solid.

 Semoga Tulisan Saya Diatas dapat memberikan sedikit gambaran bagi Anda yang Sedang mencari cara dalam mengolah Air Anda yang memiliki banyak TSS, lalu Anda ingin menurunkannya.

Artikel Ini Juga saya posting di on-water.us (Situs Water Treatment Dengan Bahasa Inggris), Milik Saya.




Baca selengkapnya

New Post : Cara Menurunkan COD dalam Air

Cara Menurunkan COD dalam Air


Tulisan ini juga saya posting di website saya yang satunya (On-Water.Us), Ini adalah versi Indonesianya.

Hallo, jumpa lagi di situs yang membahas tentang rahasia dunia water dan wastewater treatment, yakni www.olah-air.com . Kali ini kita akan membahas bersama tentang cara menurunkan nilai COD dalam air limbah.
Untuk Anda yang belum mengetahui secara jelas tentang apa itu COD dan dari mana sumber COD itu datang, saya sarankan Anda untuk membacananya pada artikel berikut :

Artikel Sebelumnya : Daftar Sumber COD yang Harus Anda Ketahui.

Mari kita langsung saja untuk membicarakan tentang langkah yang harus diambil ketika menginginkan nilai COD untuk turun.

1. Menggunakan Bahan Kimia Pengendap
dalam artikel sebelumnya, kita akan menemukan bahwa sebagian besar dari COD adalah bersumber dari TSS atau padatan tidak terlarut yang biasa disebut dengan sludge. Cara paling utama untuk menyingkirkan sludge adalah dengan menggunakan koagulan dan flokulan.

Prinsipnya adalah dengan mengikat sludge tersebut satu sama lain sehingga menjadi gumpalan sludge yang lebih besar dan kemudian dapat diendapkan dalam sebuah tangki sedimentasi.
Beberapa bahan kimia yang biasa digunakan sebagai koagulan antara lain ; PAC, FeCl3 (Ferric Chloride), dan Alum.

Proses pengendapan ini, akan sangat mempengaruhi terhadap nilai COD. Khususnya pada air limbah dengan jumlah TSS yang cukup tinggi. Sebagai informasi tambahan untuk 1 mg/L TSS anda bisa mendapatkan penurunan hingga 10 mg/L COD.

Agar proses penurunan COD menjadi lebih sempurna, disarankan untuk turut memperhatikan proses mixing dan juga sedimentasi. Dikarenakan tanpa proses mixing yang tepat, maka reaksi pengendapan yang terjadi akan kurang sempurna.

2. Penurunan COD dengan Proses Mikrobiologi
Proses penurunan COD dengan metode menggunakan bakteri atau mikroorganisme, ditujukan untuk COD yang berasal dari zat organik dengan kandungan biodegradable yang tinggi. Proses ini dilakukan melalui dua cara utama, yakni Aerasi dan anaerob.

Pada proses aerasi, COD diturunkan dengan cara membuat bakteri dapat memecah senyawa organik dalam air. Bakteri ini disebut bakter heterotrop karena memecah senyawa organik dengan menggunakan bantuan oksigen. Proses ini biasanya digunakan pada air limbah dengan COD kurang dari 3000 mg/L.

Pada Proses Anaerob, bakteri bekerja pada ruangan dengan kandungan Oksigen yang minim. Proses ini juga disebut proses fermentasi, dimana bakteri autotrop bekerja dengan memecah senyawa organik dari air limbah dengan tiga tahapan salah satunya adalah dengan mengambil oksigen dari senyawa organik.



Proses anaerob ini cocok untuk air limbah dengan kadar BOD lebih dari 2000 mg/L.
Sebelum memutuskan apakah ingin mengambil metode ini, penting sekali bagi Anda untuk memahami apakah jenis air limbah yang Anda hadapi. Karena proses mikrobiologi ini hanya cocok untuk limbah dengan kandungan organik. Anda bisa mengetahui hal ini dengan melihat perbandingan antara COD dan BOD.

Beberapa proses yang sejenis dengan ini adalah proses menggunakan MBR, SMBR ataupun SBR

Baca Juga : Pentingnya Memiliki Data History Di WWTP

3. Menurunkan COD dengan Oxidator
Beberapa bahan kimia, dapat membantu Anda untuk menurunkan COD dari air limbah. Chlorine, Hydrogen Peroxida serta Ozone akan mengoksdiasikan zat-zat kimia dalam air sehingga otomatis nilai COD akan turun. Namun tentu Anda harus membatasi dosis penggunanaan dari oxidator, karena oxidator memiliki sifat yang cukup berhaya terutama bagi mahluk hidup.

Teknik penurunan COD ini cocok untuk limbah yang memiliki nilai COD yang bersumber dari limbah non biodegradable seperti Phnol, surfaktan, dsb.

4. Proses Penurunan COD dengan Reaksi Fenton
reaksi fenton adalah salah satu reaksi yang telah dikenal secara luas mampu untuk menurunkan Nilai COD. Prinsipnya adalah pembentukan radikal bebas yang tercipta dari reaksi antara reagent fenton yaitu FeSO4 dengan Hydrogen Peroxida.

Reaksi fenton inilah yang nantinya menjadi cikal bakal lahirnya sistem AOP.

5. Advanced Oxidation Process
AOP merupakan teknologi terkini yang mampu untuk menurunkan nilai COD dari air limbah. Bahkan dari COD dengan nilai diatas 100 ribu sekalipun.
AOP diciptakan dari penyempurnaan reaksi fenton yang ditambahkan dengan adanya injeksi Ozone sehingga menambahkan memperbanyak hidroksil bebas yang akhirnya mampu untuk mengoksidasikan zat-zat kimia dalam air.
Kelebihan Proses AOP ini adalah kecepatan reaksinya yang sangat cepat. Jika dalam proses pengolahan dengan mikrobiologi penurunan COD dapat memakan waktu berhari-hari. Maka proses dengan AOP ini hanya memerlukan waktu hitungan jam bahkan menit.
Kelebihan lainnya juga terletak pada area yang digunakan untuk sistem ini sangat kecil dibandingakan dengan sistem yang lainnya.
Ditambah lagi, proses ini tidak memerlukan banyak bahan kimia untuk ditambahkan di air limbah. Sehingga saat ini proses AOP mendapatkan banyak perhatian dari para ahli diseluruh dunia.



6. Proses Filtrasi dan Absorpsi dengan Activated Carbon

Metode terakhir ini banyak digunakan pada proses finishing ataupun post treatment setelah proses pengolahan utama. Biasanya digunakan activated carbon sebagai filter. Karbon aktif akan menyerap zat-zat organik, ozone ataupun zat chlorine yang masih tersisa pada hasil pengolahan. Sehingga effluent aman untuk dibuang ke lingkungan.

Penyaringan dengan menggunakan karbon aktif ini juga biasa dipakai pada proses water treatment untuk menghilangkan bau, serta menurunkan kandungan zat kimia pada air.

Mudah-mudahan artikel ini dapat memberikan gambaran pada Anda tentang cara menurunkan nilai COD pada air limbah. terakhir, saya ingin mengingatkan pada Anda bahwa COD bukanlah zat namun sebuah parameter yang terakumulasi dari zat-zat  yang membutuhkan proses oksidasi. Untuk itu diperlukan pemahaman lebih dalam terhadap apakah yang menyumbang nilai COD pada air limbah Anda.

Baca selengkapnya