Showing posts with label WWTP. Show all posts
Showing posts with label WWTP. Show all posts

Monday, 27 May 2019

Daftar Peralatan Pada IPAL Domestik / STP

Daftar Peralatan Pada IPAL Domestik / STP




Halo sobat pembaca olah-air.com sekalian dimanapun kalian berada, pada postingan ini saya masih akan tetap membahas tentang pengolahan air limbah domestik dan lebih tepatnya pada sisi peralatannya. 

Saya sengaja membahas cukup banyak hal tentang pengolahan air limbah domestik pada kurun waktu yang singkat dikarenakan proyek yang sedang saya garap saat ini kebanyakan adalah proses pengolahan air limbah domestik sehingga ingatan serta ide-ide tentang prosesnya masih hangat dan enak untuk segera dituliskan. 

Oiya, dalam postingan kali ini saya akan membahas list peralatan intinya saja dari sebuah STP atau IPAL Domestik. Sebab kalau mau diberikan variasi tentu saja akan menjadi ratusan daftar tapi saya akan fokus pada 5 peralatan inti yang wajib ain tersedia di IPAL domestik Anda. 

Jadi, apakah Anda sudah siap untuk mengetahui apa saja yang masuk ke daftar ini? Yuk mari kita bahas segera! 

5 Peralatan Wajib Pada IPAL Domestik / STP

1. Tangki STP 

tangkinya terdiri dari 3 chamber yang setiap chamber dihitung teliti


Peralatan atau Equipment pertama yang sudah pasti diperlukan tentu saja adalah tangki STP itu sendiri. Ya tangki IPAL adalah sebuah equipment terpenting dalam pengolahan, sebab tanpa keberadaannya maka mau kita olah dimana coba?

tangki STP yang dikenal di masyarakat luas biasanya terdiri dari dua jenis yakni tangki beton/sipil atau tangki fiber. Kedua jenis tangki ini sama-sama boleh dipakai selama masuk ke dalam standar teknis yang dipersyaratkan (Bisa dilihat di Postingan ini).

Untuk mendesain sebuah tangki STP, kita juga tidak bisa hanya berdasarkan debit satu hari saja (saya biasa temukan ini pada para penjual STP konyol tak berdasar). Sebab tangki STP itu pada intinya terdiri dari beberapa chamber yang ukurannya dihitung berdasarkan teori penguraian tertentu.

Semisal untuk proses equalisasi yang akan membutuhkan volume tiga jam dan proses aerasi yang memerlukan minimal enam jam proses. Pada intinya semua ukuran ini didasarkan pada perhitungan teori yang sudah banyak diakui oleh para praktisi dan juga akademisi.

Untuk lebih detail tentang ukuran masing-masing sekat/chamber STP ini, saya sudah membahasnya di postingan berikut ini : Bagian-bagian Tangki STP IPAL Domestik 


2. Blower dan Diffusser 

kontraktor pembuat ipal domestik


Injeksi udara adalah salah satu hal yang kerap akan Anda temui ketika masuk ke Sistem pengolahan air limbah domestik. Injeksi udara dimaksudkan untuk dapat mensuplai oksigen bagi bakteri agar dapat menguraikan zat organik yang ada pada limbah. Selain itu, oksigen juga diharapkan dapat membantu proses pemotongan ikatan organik yang ada pada air limbah.

Aplikasi injeksi udara di IPAL Domestik biasanya dilakukan dengan bantuan blower yang kemudian ditransmisikan dengan menggunakan diffusser.

Pada Air Blower Udara memasuki pusat impeller yang berputar dan dibagi antara baling-baling impeller. Saat impeler berputar, akselerator udara keluar menggunakan gaya sentrifugal. Udara berkecepatan tinggi ini kemudian menyebar dan melambat di housing blower sekitarnya untuk menciptakan tekanan.

Dua jenis air blower yang biasa kita temukan di sistem IPAL adalah Root Blower dan Ring Blower. Dimana Root blower biasanya lebih banyak dipilih karena tidak terlalu berisik sedangkan Ring Blower dipilih ketika Budget yang murah menjadi tujuan utama.

Untuk dapat memilih kapasitas blower yang tepat, saya juga sudah pernah menuliskannya pada artikel lain di website olah-air.com, Anda dapat membacanya pada Link Berikut ini :

Cara menghitung Kapasitas Blower untuk Pengolahan Air Limbah Organik

Diffusser adalah alat yang bekerja untuk mendifusikan udara dengan ukuran partikel tertentu ke dalam air. Bentuk dan tipe diffusser ini berbeda-beda tergantung dari brand yang Anda gunakan. Dua jenis yang paling umum adalah jenis plate (seperti piringan) dan Tube (seperti pipa). 

digunakan untuk dapat menginjeksikan udara pada air limbah organik tinja


Penjelasan tentang cara menghitung diffusser nanti akan saya sertakan pada artikel lainnya, namun sebenarnya untuk diffusser sendiri sudah dengan mudah dilihat pada tabel yang diberikan oleh vendor ataupun sales diffusser itu sendiri.

3. Pompa Transfer 



Pompa transfer biasa digunakan untuk memindahkan air limbah dari satu titik, ke titik lainnya. terkadang digunakan juga untuk memindahkan kotoran ke wadah penampung.

Dalam pengolahan air limbah domestik, pompa transfer yang paling banyak dipilih adalah dari jenis submersible pump. Submersible pump adalah pompa model celup yang biasa dioprasikan untuk memindahkan air kotor salah satunya adalah air limbah domestik.

Pemilihan kapasitas pompa transfer harus didasarkan pada debit perjam yang dikalikan dua, dengan kata lain kecepatan transfer pompa adalah dua kali lebih cepat dari debit perjam. Hal ini dimaksudkan agar pompa mampu mengatasi beban puncak ataupun fluktuasi input pengolahan jika terjadi lonjakan.

Sebagai bantuan pengamanan untuk pompa transfer, pastikan kita melengkapi tangki STP dengan penangkap sampah. Tujuan penangkap sampah adalah jangan sampai sampah besar masuk ke dalam mesin pompa dan membuatnya macet yang berakibat pada rusaknya sistem IPAL.

4. Pompa Dosing Set dan Mixer 



Pompa dosing adalah pompa yang digunakan untuk dapat menginjeksikan bahan kimia ataupun lainnya dalam jumlah tertentu ke dalam proses pengolahan.

Pompa dosing digunakan jika dosis yang dipakai harus terukur dan tepat, untuk menghindari efek negatif pada proses pengolahan itu sendiri.

Bahan kimia asam, basa, dan desinfektan (kaporit atau klorin) adalah bahan kimia yang paling umum menggunakan dosing pump.

Keberadaan dosing pump biasanya satu set dengan mixernya baik inline (static mixer) ataupun menggunakan vertical agitator. Selain itu, biasanya dosing pump juga hadir bersama dengan tangki penampung bahan kimianya.

Kapasitas dosing pump biasanya ditentukan dari dosis maximal yang diperlukan oleh air limbah tersebut dikalikan dengan dua, Maksudnya adalah agar stroke si dosing pump bisa optimal karena disetting pada angka 50%.

5. Pompa Filter dan Filternya 



Pompa filter digunakan untuk mendorong air limbah masuk ke dalam media filtrasi sehingga kotorannya bisa terserap.

Pompa yang paling banyak digunakan sebagai pompa dorong adalah pompa centrifugal baik yang single stage ataupun multistage. Untuk filternya paling banyak dipilih filter dengan media carbon bercampur dengan sand silica.

untuk cara sizing filter, saya belum buat artikelnya. Tapi kalau sobat pembaca ada Budget untuk investasi otak lewat ikut training, silahkan daftar di Training Saya ya :)

Oke sobat pembaca, itu dia 5 Daftar Equipment yang biasa hadir di Sistem pengolahan air limbah domestik. Saya harap dengan adanya tulisan ini Anda menjadi lebih paham bahwa sistem pengolahan air limbah domestik tidak hanya berbicara tentang tangki saja namun masih ada daftar peralatan lain yang dibutuhkan.

Salam Hangat,



Mr. Anggi Nurbana

Baca selengkapnya

Sunday, 26 May 2019

Teknik Penyaluran Air Limbah Domestik

Teknik Penyaluran Air Limbah Domestik


Hallo sobat semua, langsung saja kali ini saya akan menyajikan tabel sebagai saran ataupun input ketika memilih teknik alir mana yang mau diambil untuk mengalirkan air limbah domestik.

Kenapa harus dipilih secara cermat?
jawaban yang paling utama adalah permasalah Budget, karena bagi para pelaku Industri masalah limbah adalah masalah expense yang harus dikontrol agar bisa keluar sekecil mungkin.

Jawaban kedua adalah untuk mengejar jadwal installasi dan Running IPAL.

Langsung saja, perbandingannya dapat dilihat pada tabel berikut ini :



Gravity Line
Artinya air limbah dialirkan dengan gravitasi, dimana pipa semakin jauh akan semakin dalam masuk ke dalam tanah.

Pumping Station 
Artinya air limbah dialirkan dengan menggunakan tenaga pompa, sehingga tidak tergantung dengan elevasi ataupun kelokan.

Trucking
Artinya air limbah dialirkan dengan cara disedot dari sumber kemudian dipindahkan dengan truck pengangkut khusus untuk kemudian diturunkan di STP utama.


Lihat Juga : 

Standar Teknis IPAL Domestik

List Komponen untuk Di Install pada Sistem IPAL domestik
Baca selengkapnya

List Komponen dari STP atau IPAL Domestik

List Komponen dari STP atau IPAL Domestik


Beberapa hari yang lalu, saya baru saja menyelesaikan sebuah presentasi tentang cara mengolah air limbah domestik suatu pabrik yang cukup besar yang berada di Banten. Setelah selesai saya menyampaikan presentasi, team leader tersebut meminta saya untuk dapat memberikan gambaran kasar tentang nilai dari total keseluruhan installasi yang harus dipasang disana.

Karena sangat banyaknya titik installasi serta perbaikan installasi septic tank yang harus diperbaiki, maka saya sampaikan bahwa saya tidak dapat memberikan perkiraan dalam jangka waktu yang cepat (1-2 hari). Perkiraan untuk plant yang memiliki total area lebih dari 10 hektar dan persebaran septic tank dimana-mana seperti ini setidaknya saya memerlukan waktu membuat konsep selama 1 minggu, namun tentu bisa saja sih dalam 1-2 hari asal sudah jelas ada PO-nya (Sambil bercanda tapi serius juga) hahaha.

Singkat kata, esoknya saya sudah ditanya tentang estimasi keseluruhan installasi dan perbaikan yang harus dilakukan di Plant mereka. Saya pun menjawabnya bahwa perkiraanya kasar pak tapi bisa saya pertanggung jawabkan. Dari pihak user mengiyakan dan memintanya. Okelah akhirnya saya mulai menghitung.

Diketahui total seluruh Plant memiliki 48 titik Septic Tank yang terdiri dari banyak toilet, selain itu, septic tank disana juga perlu direnovasi karena masih memakai konsep yang dilarang yakni konsep penyerapan Tinja. Maka saya coba menghitung estimasi satu persatu nilainya.

Ditambah lagi, pemipaan dari output septic tank ini tidak dirancang untuk masuk ke sistem pengolahan tapi malah langsung turun ke saluran air hujan atau sewer. Pastinya hal ini juga masuk ke List perbaikan yang harus dilakukan, dimana harus dipasang jalur pemipaan untuk keluaran dari septic tank yang dimana juga harus turut membobok beton diatasnya (sudah pasti akan termasuk merapihkannya kembali).



Perhitungan dan detail terus berlanjut, hingga akhirnya saya sampai pada sebuah angka kisaran yang menurut saya reasonable. Dan karena saya juga didesak oleh pihak user, maka dari itu saya akhirnya memberikan kasarannya.

Dan guess what, setelah saya berikan perhitungannya respon dari user adalah sangat menggelikan. Ya sangat menggelikan sekali, karena dia menganggap perhitungan saya tidak masuk akal dan harganya mahal sekali. Dan respon saya setelah mendengar hal tersebut adalah, memberikan detail pekerjaan yang akan dilaksanakan agar user sendiri menjadi mengerti dari mana saja nilai tersebut muncul. Dan tetap saja user menilai nilai ini terlalu tinggi.

List Pekerjaan untuk Membuat STP


“Ya elah, inikan cuma tinja kenapa sih harus diolah?” Ini adalah kalimat yang sering saya dengar dari user ketika saya melakukan presentasi. Dan tebak, padahal mereka yang mengundang saya datang kesana untuk memberikan keterangan, namun malah disambar dengan perkataan nyinyir seperti itu (Kalau ga niat ga usah Undang Saya lagi Om, undang Tukang Somay aja tuh enak buat menuhin perut!)



Oke, kembali ke topik ya! Untuk membuat sebuah STP kita tidak bisa hanya membangun STP/IPAL Domestiknya saja, karena perlu adanya rangkaian installasi yang mendukung Input maupun Output dari STP itu sendiri. Jangan sampai kita bangun installasi pengolahan air limbah, tapi air limbahnya sendiri tidak diatur dari mana mereka datang dan kemana mereka keluar. Dan percayalah, perusahaan besar-besar juga engineernya berpikir tidak sampai kesini.



Apa saja yang harus di install dalam sebuah sistem STP yang terintegrasi? dan bagaimana tahapannya, yuk kita simak dibawah ini :

1. Renovasi/Perbaikan Septic Tank Existing

Hal pertama yang harus dilakukan agar sesuai dengan peraturan PerMenLH no.68 tahun 2016, adalah dengan membuat septic tank menjadi kedap. Kedap disini agar kita semua yakin tidak ada air limbah domestik yang diresapkan ke tanah. Karena air limbah domestik memiliki parameter pencemar yang dapat merusak lingkungan sekaligus menimbulkan wabah penyakit.

Renovasi Septic tank dilakukan dengan cara membuat Toilet menjadi kedap atau tidak meresapkan lagi air tinja ke dalam tanah. Caranya adalah dengan measang Plur atau Concrette pada dinding maupun lantainya serta melapisinya dengan Aquaproof ataupun Linning Fiber. Hal ini dilakukan tentu agar air tinja tidak meresap lagi ke dalam tanah.

Walaupun, kedengarannya pekerjaannya hanya nambal dan pelapisan aquaproof namun pada kenyataannya list pekerjaannya akan menjadi seperti ini :

a. Penyedotan Septic Tank dengan Mobil Tinja

b. Pembobokan Tutup Septic Tank

c. Pembersihan Bagian dalam (Air hasil pembersihan dibuang)

d. Perbaikan Concrette dan pengecoran bagian dalam

e. Aplikasi Fiber Linning/Aqua Proof

f. Pembuatan tutup Septic tank

Kita bisa lihat bukan, dari satu judul perbaikan saja ternayta dilapangan bisa bersambung menjadi beberapa item pekerjaan yang seharusnya para user juga bisa menghitungnya bahwa semua harus ada nilainya.

Ditambah lagi, kita tahu bahwa pekerjaan ini termasuk ke dalam pekerjaan High Risk Confined Space yang pekerjaanya harus dilengkapi peralatan tertentu dan juga telah dinyatakan layak bekerja disana.



2. Penambahan Tangki Grey Water

Oke, mari kita lanjut!

Selanjutnya setelah si Septic Tank diperbaik sehingga menjadi kedap, maka ada pekerjaan lagi sebelum masuk ke pembuatan IPAL atau STP yakni membuat tangki grey water.

Fungsi tangki ini adalah untuk menampung air limbahnya (minus tinja) sehingga Grey Water ini sajalah yang akan diolah pada STP nantinya.

Jangan dilupakan, bahwa pada tangki ini juga biasanya akan ada installasi Pompa submersible untuk mendorong air limbah tersebut masuk ke jalur pipa input untuk selanjutnya diolah ke Sistem STP.

Dan walau kelihatannya hanya satu pekerjaan saja, ternyata jika kita break down maka pekerjaan pembuatan tangki ini akan menjadi seperti ini :

a. Marking

b. Penggalian dan buang puing

c. Pemasangan Struktur

d. Pengecoran

e. Pelapisan dengan Aquaproof atau Linning

f. Pemasangan Dudukan atau rail pompa

g. pemasangan pompa submersible

h. Pemasangan Panel Pompa

i. Pemasangan Tutup

j. Pemasangan jalur dari septic tank ke Grey Water Tank

Oow ternyata cukup banyak pekerjaanya ya bukan hanya Abrakadabra seperti yang dibayangkan user!

3. Pembuatan Jalur Input (dari Septic Tank ke STP)

Langkah selanjutnya adalah membuat jalur khusus untuk grey water sehingga bisa sampai ke STP. Sesuai dengan peraturan PerMenLH no.68 tahun 2016, dimana saluran air limbah domestik tidak boleh bercampur dengan air hujan. Maka artinya air limbah domestik harus memiliki pemipaan khusus yang terpisah dari air lainnya.

Untuk jenis pipa yang digunakan tidak disebutkan secara spesifik namun biasanya yang akan dipilih adalah jenis PVC dikarenakan paling mudah ditemukan dan harganya relatif lebih murah.

Dalam pemasangan jalur pemipaan untuk STP (yang berasal dari septic tank) yang perlu dilakukan adalah :

a. Survey dan Marking area untuk pemasangan pipa

b. clearing area pemasangan pipa

c. Pembobokan area untuk pemasangan pipa

d. Pemasangan support untuk pipa

e. Pemasangan Pipa

f. Pembuatan dan Pemasangan kembali tutup got/saluran

4. Pembuatan STP/IPAL Domestik

Dan sampailah kita pada tahapan ini, yakni tahapan pemasangan STP ataupun IPAL Domestik. STP atau IPAL domestik ini tidak berdiri sendiri tapi terdiri dari banyak komponen yang saling berkaitan, antara lain

a. Tangki Sipil (Untuk Menyimpan STP Tank)

b. Tangki STP

c. Mesin Blower

d. Pompa Transfer

e. Dosing Pump

g. Junk Trap

h. Air Diffusser

i. Honey Comb atau media bakteri

j. Media Filter

k. Filter Pump

l. Discharge Tank

m. Control Panel





5. Pembuatan Jalur Output STP/IPAL Domestik

Dan yang terakhir untuk sebagai penyempurna sistem STP, kita juga harus menyiapkan jalur pemipaan Output untuk dipasang.

Pemipaan biasanya juga dilengkapi dengan support layaknya standar pemipaan lainnya, dan juga dilengkapi dengan flow meter untuk mengukur debit yang keluar.

Tahapan untuk installasi pemipaan output ini antara lain sama dengan pipa untuk input :

a. Survey dan Marking area untuk pemasangan pipa

b. clearing area pemasangan pipa

c. Pembobokan area untuk pemasangan pipa

d. Pemasangan support untuk pipa

e. Pemasangan Pipa

f. Pembuatan dan Pemasangan kembali tutup got/saluran

g. Pemasangan Flow Meter

h. Pemberian plan tulisan titik penaatan.

Oke sobat itu dia List Komponen untuk Installasi STP atau IPAL Domestik yang sengaja saya tuliskan untuk menjadi penjelasan bagi para user yang hendak menginstall STP di Tempat mereka guna mengikuti undang-undang yang berlaku.

Dan juga saya harap para pembaca Olah-Air.Com menjadi lebih paham lagi bahwa nilai cost ataupun harga dari sebuah Installasi STP tidak bisa dilihat dari harga intinya saja. Dan kalau mau masang intinya saja sih saya terima2 saja, asal nanti jangan menanyakan kelengkapan yang tidak ada di Agreement..


Salam Hangat,


Mr. Anggi Nurbana

Baca selengkapnya

Tuesday, 5 March 2019

Prinsip Elektrokoagulasi Pada Air Limbah

Prinsip Elektrokoagulasi Pada Air Limbah


Hallo sobat olah-air.com sekalian, dimanapun kamu berada. Sesuai judul kita kali ini, kita akan membahas tentang prinsip dari elektrokoagulasi. Bagaimana sudah siap untuk menyimak?

Prinsip Elektrokoagulasi

Proses elektrokoagulasi adalah proses dimana terjadinya koagulasi (penggumpalan) yang menggunakan bantuan listrik atau electricity. Proses ini akan melibatkan pengaturan arus dan juga voltase dari listrik DC yang digunakan kemudian dialirkan melalui katoda dan anoda yang terdiri dari logam-logam tertentu sehingga menghasilkan aliran getaran listrik pada tingkatan electron. Dari sanalah katoda maupun anoda akan terkikis sehingga berubah fungsi menjadi koagulan yang bereaksi dengan air limbah.



Dari gambar diatas, terlihat bahwa untuk melakukan pengolahan dengan metode elektrokoagulasi beberapa alat dan bahan yang diperlukan antara lain :

1. Wadah penampung air limbah

2. Sumber Arus Listrik

3. Konverter arus listrik AC ke DC

4. Plat katoda dan anoda


Ke-empat alat dan bahan tadi harus dipersiapkan dan dalam keadaan terkontrol dengan baik. Untuk arus yang digunakan adalah tidak tentu, tergantung dari jenis air limbah yang ditemui dan juga target yang diinginkan. Selain itu ukuran volume wadah penampung juga minimal harus mampu menampung 1 jam debit air limbah, dikarenakan proses ini sama seperti proses mixing yang memerlukan waktu reaksi yang optimal.

Untuk katoda dan anoda tidak harus spesifik Fe ataupun alumunium, tapi tergantung pada jenis air limbah yang diproses. Namun dikarenakan kedua jenis logam ini adalah yang paling banyak tersedia dipasaran dan sifat kedua jenis logam ini dapat memberikan koagulasi yang baik maka kedua jenis logam ini paling direkomendasikan.






Oke sobat, itu dia tulisan singkat tentang prinsip dari proses elektro koagulasi. Untuk tulisan lainnya dapat disimak pada Link dibawah ini :


Salam hangat,


Mr. Anggi Nurbana

Baca selengkapnya

Monday, 4 March 2019

Kelebihan Pengolahan Limbah Metode Elektrokoagulasi EC

Kelebihan Pengolahan Limbah Metode Elektrokoagulasi EC

Bagaimana cara mengolah air limbah yang baik
Halo sobat sekalian, jumpa lagi bersama mr. anggi di website kesayangan kita yang selalu konsisten membahas teknik-teknik pengolahan air bersih dan air limbah. 

Kali ini kita akan membahas tentang suatu kelebihan teknik pengolahan air limbah dengan metode elektrokoagulasi. Elektrokoagulasi adalah suatu teknik pengolahan air limbah yang menggunakan arus listrik dalam proses pemisahan material polutan dalam air. Elektrokoagulasi disingkat EC, telah cukup lama populer digunakan untuk mengolah limbah textile, dikarenakan sifatnya yang mampu menguraikan warna tanpa memberikan kontribusi TDS yang signifikan.

Kali ini kita akan membahas beberapa alasan kenapa Anda atau perusahaan Anda dapat memilih teknik elektrokoagulasi sebagai metode pengolahan air limbah Anda (Dapat ya bukan harus!) :

Lihat Juga : 
- Langkah Langkan Assesment WWTP

1. Impact Minimal pada TDS


Kelebihan pertama yang dimiliki oleh system Elektrokoagulasi atau EC adalah system ini mampu untuk mengolah limbah tanpa menambah nilai TDS. 

Pada system konvensional, kita biasanya akan mengolah air limbah dengan mencampurkan koagulan dan flokulan dalam jumlah tertentu untuk dapat menurunkan sludge ataupun lumpur polutan yang tercampur pada air limbah. 

Pada proses ini, maka secara otomatis tds akan naik karena adanya kation dan anion yang turut terlarut dalam air akibat adanya penambahan bahan kimia. Sehingga dapat dikatakan proses konvensional hampir selalu akan mengakibatkan air effluent mengalami kenaikan TDS. 

Berbeda halnya dengan metode elektrokoagulasi, dimana polutan baik yang terlarut maupun yang menjadi koloid dalam air limbah akan bereaksi dengan plat logam yang dialiri listrik sehingga akhirnya membentuk gumpalan. 

Gumpalan tersebut nantinya diendapkan ataupun dapat diapungkan dan di scrapping, sehingga air dapat terbebas dari polutan. Proses ini tidak menyebabkan kenaikan TDS secara signifikan seperti proses konvensional, karena tidak adanya anion yang bereaksi (kalaupun ada maka sedikit saja). Oleh karenanya dapat dikatakan proses TDS mampu menangani air limbah dengan impact TDS yang minimal. 

Lihat Juga : 
- 7 Point penting dalam pembuatan STP

2. Minim bahan kimia


Kelebihan yang kedua dari proses pengolahan air limbah dengan metode elektrokoagulasi adalah metode ini menurunkan jumlah penggunaan bahan kimia. Dan memang jumlahnya akan jauh lebih sedikit dibanding dengan metode konvensional.

Hal ini dikarenakan penambahan kimia disubtitusi dengan reaksi elektrokoagulasi dengan menggunakan plat katoda dan anoda. Plat Alumunium, ataupun seng akan terkikis sesuai dengan jenis polutan yang diproses.

Disini proses elektrokoagulasi akan mengurangi jumlah koagulan yang dipakai, sehingga dapat dikatakan proses ini lebih minim kimia dibandingkan dengan proses konvensional.

Namun bukan berarti proses ini tidak menggunakan bahan kimia sebab pada faktanya proses ini tetap membutuhkan flokulan untuk dapat menggumpalkan secara sempurna flok halus yang sudah terbentuk.


3. Bisa Mengolah Mineral Terlarut


Kelebihan ketiga dari proses elektrokoagulasi adalah mampu untuk menurunkan jumlah mineral yang terlarut dalam air. Beberapa mineral seperti Calcium dan Magnessium bahkan dapat diendapakan dengan baik melalui metode ini (yang diiringi dengan pengaturan pH).

Berbeda halnya dengan proses konvensional yang hanya dapat mengendapkan mineral ataupun kotoran yang tampak, metode ini mampu untuk mengendapkan kotoran yang tidak tampak. Hasil pengetesan dilapangan menunjukan pada air dengan kadar TDS diatas 300 dengan menggunakan metode elektrokoagulasi dapat membantu memunculkan polutan seperti silica, calcium dan magnesium sehingga dapat diendapkan yang tentunya akan berdampak pada penurunan nilai TDS.

Lihat Juga : 
- Proses Mengurangi Lumpur di air limbah secara efektif

4. Rentang Pengolahan yang cukup luas


Proses pengolahan kimia pada air limbah hanya efektif untuk dapat mengolah air limbah yang kotorannya bersifat mudah diendapkan. Sedangkan proses pengolahan biologi efektif untuk mengolah air limbah dengan kandungan zat organic yang memiliki rantai linear.

Berbeda halnya dengan proses elektrokoagulasi, proses ini mampu untuk mengolah air limbah dengan rentang yang cukup luas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table dibawah ini :



Oke sobat olah-air.com dimanapun kamu berada, itu dia 4 kelebihan penggunaan metode elektrokoagulasi untuk aplikasi pengolahan air limbah anda. Jika Anda tertarik untuk menerapkan proses Elektrokoagulasi, Anda dapat menghubungi kami pada nomor banner yang tertera diatas. Atau jika mau tau lebih banyak tentang aplikasi elektrokoagulasi, silahkan lihat beberapa artikel lainnya yang sudah kami siapkan. 


Salam Hangat,





Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Thursday, 3 May 2018

4 Cara Melunakan Air Limbah

4 Cara Melunakan Air Limbah



Air limbah adalah air yang telah tercemar oleh polutan tertentu sehingga air tersebut tidak lagi aman untuk dibuang ke lingkungan bebas. Air Limbah juga sangat berbeda dengan Limbah B3. Dimana limbah B3, memiliki kandungan air yang rendah, malah kebanyakan polutan daripada airnya.

Oh iya, kembali ke topik. kali ini kita akan membahas tentang cara-cara untuk melunakan air limbah. Yakni sebuah proses untuk membuat air limbah menjadi lebih mudah diolah. Tujuan proses ini tentu untuk dapat mengolah air limbah secara lebih efektif dan lebih murah serta aman.

Contoh kasus :
Sebuah perusahaan farmasi, memiliki buangan air limbah dari produk ekspektoran mereka. Jika limbah tersebut langsung dibuang ke lingkungan maka akan merusak. Dan jika langsung diolah, maka tentu membutuhkan proses yang berat. Oleh karena itu dilakukanlah proses pelunakan air limbah.

Dibawah ini adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk melunakan air limbah :

1. Penambahan Limbah Domestik
Sobat bisa menambahkan Limbah domestik yang berasal dari toilet ataupun dari washtafel pada air limbah konsentrat yang sobat miliki. Teknik ini akan membuat air limbah tercampur dan memiliki jumlah volume lebih tinggi, namun memiliki jumlah polutan yang lebih rendah secara rata-rata.
Dengan begitu, proses pengolahan air limbah dapat menjadi lebih mudah.

efek tambahannya adalah, nanti standar baku mutu yang harus digunakan akan menjadi lebih ketat. Karena bukan lagi standar baku mutu air limbah industri tapi ke limbah domestik.

2. Pencampuran dengan Limbah Jenis Lainnya
Teknik kedua hampir mirip dengan yang pertama. hanya saja ada sedikit perbedaan. Disini air limbah industri dicoba dinetralkan dengan limbah industri lainnya. Seperti air limbah hasil regenerasi anion di homogenkan dengan air limbah regenerasi cation. Maka akan terjadi air limbah yang netral (Walau tds-nya naik ya hhehe).

Pengaplikasian teknik ini pada intinya adalah dengan menghomogenkan jenis-jenis limbah yang bisa saling netral atau saling reaksi. Yang perlu diingat adalah menghindari reaksi oksidasi ataupun pembakaran terjadi.



3. Penggunaan Air Terbuang
Ada banyak air yang terbuang dan tidak masuk ke dalam kolam air limbah. Padahal air tersebut bisa membantu proses pelunakan air limbah sehingga menjadi lebih mudah diolah. Beberapa saran saya untuk air terbuang yang dapat digunakan antara lain :
a. Air Wastafel dan Wudhu
b. Air buangan Boiler
c. Air Buangan Cooling Tower
d. Air hujan (kalau yang ini sebenarnya ga boleh)

4. Gravitasi Process
Cara pelunakan air limbah yang keempat adalah dengan membuat beberapa proses fisika gravitasi. Pemisahan padatan tersuspensi dilakukan terlebih dahulu. Teknik ini bisa dilakukan dengan membuat beberapa pit sedimentasi. Bisa juga dengan membuat oil ataupun junk trap.
Dengan proses ini, parameter pengotor dapat dikurangi dengan usaha yang minimal, namun akan memberikan impact yang besar pada pengolahan selanjutnya.
ahli pengolahan air indonesia


Baca selengkapnya

Tuesday, 1 May 2018

7 Point Penting Dalam Pembuatan Desain STP

7 Point yang Penting untuk Dipertimbangkan dalam Pembuatan STP


STP atau Sewage Treatment Plant adalah salah satu sistem yang dibuat untuk dapat mengolah Limbah Domestik. STP sering disebut juga dengan IPAL Domestik, karena IPAL jenis ini dimaksudkan untuk mengolah limbah domestik.

Selama hampir 10 tahun bergelut dalam bidang pengolahan air limbah dan air bersih. Saya cukup banyak menjumpai STP yang dibuat dengan mengabaikan beberapa point penting yang saya sebutkan disini. Hasilnya STP tersebut akhirnya menjadi gagal dalam mengolah air limbah yang masuk.

Kegagalan tersebut akan menimbulkan hasil olahan STP melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Dan dalam jangka panjang akan membuat STP tersebut menjadi malfunction.

Dan dalam postingan kali ini, kita akan sama-sama mengulas secara singkat tentang apa saja sih point penting yang harus turut dipertimbangkan dalam pembuatan STP, sehingga memiliki hasil yang ideal dan mampu mengolah limbah hingga masuk ke dalam baku mutu yang dipersyaratkan.

Lihat Juga : Cara Memilih Metode NDT yang sesuai

1. Ukuran Biological Process

Point pertama yang harus dipertimbangkan adalah ukuran dari proses biologi untuk STP. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa STP akan mengolah air limbah yang banyak mengandung pengotor yang berasal dari aktifitas sehari-hari manusia. Yakni Mandi, Cuci, Kakus dan masak.
Oleh karenanya, kebanyakan air limbah yang masuk ke STP tentu mengandung senyawa organik dalam jumlah yang tinggi (walau tidak setinggi air limbah industri makanan dan minuman). Maka dari itu, sejatinya STP itu sendiri akan bertumpu pada proses biologi untuk menghilangkan pencemarnya.

Tingkat cemaran biologi pada STP biasanya diukur pada parameter : COD, BOD, Oil & Grease serta ammonia. Yang sebagian besar dari parameter tersebut akan diselesaikan lewat proses biologi jenis aerob atau aerasi.

Untuk ukuran tangki aerasi, idealnya harus memiliki 1 hari dari debit full limbah yang masuk. Atau paling sedikit berjumlah 3/4 hari. Jikalau kurang dari itu, maka dikhawatirkan proses pengolahan yang terjadi tidak akan maksimal dan akan lebih banyak gagalnya dari pada berhasil.

Misalkan, debit air limbah yang masuk perhari adalah 30 m3/day, maka untuk ukuran aerasi setidaknya adalah 22.5 m3.

Hal ini untuk memastikan bakteri memiliki waktu proses dan waktu tinggal yang cukup, untuk dapat menguraikan senyawa organik yang melekat sebagai pencemar di air limbah.

Lihat Juga : Cara menghilangkan Warna di Air Limbah

2. Ruang Hidup Bakteri


Point penting kedua dalam pembuatan desain STP adalah penyiapan ruang hidup bakteri. memang pada dasarnya banyak yang berpendapat bahwa untuk membuat bakteri dapat hidup maka cukup menyediakan ruangan biologi baik aerasi ataupun anaerob.
Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, namun untuk praktek saat ini saya rasa kurang tepat. Sebab saya pribadi telah membuktikan dilapangan, tanpa didukung dengan media bakteri maka proses pengolahan bisa menjadi seperti trial dan error. Lagi, bakteri juga akan lebih cepat tumbang ketika air limbah mengalami fluktuasi debit ataupun parameter pencemar.

Kita ibaratkan, manusia untuk hidup hanya disediakan sebuah aula yang luas. Dan dalam aula tersebut ada ratusan orang. Maka manusia tersebut tidak akan nyaman dalam beraktifitas dan bekerja karena privasinya terganggu. Senada dengan hal tersebut, untuk bakteri yang sama-sama mahluk hidup juga perlu diberikan ruang khusus tersendiri agar memiliki privasi dan kenyamanan yang lebih dalam beraktifitas.

Ruang untuk bakteri tesebut dapat diterapkan dengan media seperti :
a. Bioball
b. Honey Comb
c. MBBR
d. Biocylinder / Caged Crum Ball

dari keempat media bakteri tadi, saya paling merekomendasikan menggunakan metode ke-empat dikarenakan efektifitasnya di lapangan yang saya temukan lebih tinggi serta lebih tahan banting ketika menghadapi fluktuasi.

Lihat Juga : Honey Comb Vs Bio ball, Mana yang lebih baik?

3. Pretreatment

Point ketiga yang sangat penting dalam pembuatan rancangan STP adalah persiapan pretreatment sebelum air limbah masuk ke pengolahan Inti.

Pretreatment disini dimaksudkan untuk mencegah benda atau sesuatu yang bukan peruntukannya masuk ke dalam jalur pengolahan air limbah STP.

Pretreatment yang dapat dipasang antara lain :
a. Wastafel grease Trap
b. Junk Trap
c. Bak Kontrol
d. Water Mur
e. Emergency Line

4. Grease Separator


Grease atau Oil separator (Biasa disebut juga dengan grease trap) adalah bangunan atau alat yang digunakan untuk dapat menangkap lemak sebelum masuk ke dalam sistem pengolahan inti. Sebab lemak memiliki ikatan organik yang cukup kuat yang sulit dipecahkan dengan proses fisika ataupun biologi. Jikalau bisapun maka akan membutuhkan retention time yang lebih lama daripada biasanya.

Oleh karenanya menginstall grease separator sebelum STP adalah langkah yang cukup bijak untuk mengamankan effluent dari terlewatkannya baku mutu yang dipersyaratkan.

Grease atau oil trap dapat dibuat sekaligus besar ataupun dipecah menjadi bagian-bagian kecil tiap wastafel. Untuk hasil yang lebih efektif disarankan untuk memecah grease trap menjadi bagian kecil. Karena dengan begitu lemak akan dengan lebih mudah dipisahkan karena jumlahnya lebih sedikit dan lebih mudah dalam pemantauanannya.

Lihat Juga : Membaca Keterkaitan Antara Parameter di hasil analisa

5. Nutrient Dosing

Point kelima yang penting untuk dipertimbangkan adalah pemberian nutrisi atau nutrient dosing pada STP.

Point ini penting untuk dilakukan ketika dua hal ini terjadi :
a. Starting Culture
b. Idle System



Untuk starting culture, tujuannya adalah untuk membooster pertumbuhan bakteri dengan nutrisi yang tepat sebelum akhirnya dapat beradaptasi dengan makanan dari air limbah yang ada.

Dan untuk idle system adalah ketika tidak ada asupan air limbah yang masuk, maka bakteri dapat menjadi kanibal karena mereka menjadi kelaparan. Hal ini biasa terjadi ketika gedung mengalami libur cukup panjang. Dalam kejadian seperti ini perlu ditambahkan nutrisi tambahan untuk menjaga daya hidup bakteri yang telah dengan susah payah kita pelihara dalam sistem STP kita.

Lihat juga : Desain Proses Biologi di IPAL Domestik

6. Odour Remover

Bau adalah salah satu masalah yang sering ditemukan dan dikeluhkan oleh orang-orang yang berada disekitar STP baik karyawan ataupun warga sekitar.

Bau juga dapat mengurangi estetika serta semangat kerja, yang dalam jangka waktu lama bahkan bisa menyebabkan konflik.

Maka dari itu, untuk sebuah sistem STP yang baik, seharusnya sudah menyiapkan proses penghilangan atau peredaman bau yang muncul. Proses penghilangan bau itu sendiri dapat dibuat dengan pembuatan exhaust fan ataupun dengan pengembangan culture bakteri yang tepat. Bakteri jenis enterobacter, dan Azetobacter serta Bacillus dapat menjadi pilihan yang cukup tepat dan hemat energi dalam praktek penghilangan bau di STP.

Lihat Juga : Cara Menghilangkan Bau di WWTP/IPAL

7. Final Make-Up Process


Point terakhir yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan STP adalah perlunya dibuat proses make-up pada tahap akhir.

Proses make-up ini adalah untuk mendempul hasil buangan agar masuk ke dalam standar. Beberapa parameter seperti TSS, Total Coliform, Warna, Rasa, Bau, pH dan lainnya perlu di make-up untuk memastikan semuanya ok dan masuk ke dalam standar.

Bebeberapa cara make-up yang dapat dipilih antara lain :
a. Installasi Filter Carbon dan Sand/ Multimedia Filter
b. Pembelian jalur atau Tube Chlorinasi
c. Dosing dan pH Reader untuk alkali

Oke sobat olah-air.com itu dia 7 Point penting yang dapat sobat includekan dalam STP yang sedang sobat persiapkan. Untuk hasil terbaik dalam pembuatan STP, selalu pilihlah dan gunakan ahlinya.

Salam hangat,



Mr. Anggi Nurbana
Water Treatment Specialist

Baca selengkapnya

Saturday, 17 September 2016

6 Hal Yang Harus diMaintain Dalam Proses Biologi WWTP

6 Hal Yang Harus diMaintain Dalam Proses Biologi WWTP

Proses Pengambilan Sample di Sum Pit untuk Mengetahui Kondisi Aktual

Proses biologi adalah sebuah proses yang hampir dapat kita temukan dalam setiap WWTP. Pada umumnya, proses ini akan ada pada WWTP domestik ataupun STP. Tidak ketinggalan dalam perusahaan-perusahaan yang mengikut sertakan zat organik dalam prosesnya bagian Biologi pun sudah pasti hadir.

Ada Beragam Jenis Proses Biologi
Proses biologi hadir dalam beberapa wujud yang tidak mesti sama antara satu dengan lainnya. Ada yang menggunakan wujud tangki aerasi, anaerob, tangki membrane bio reactor, mbbr, sbr, dan juga ada yang seperti roda berputar alias RBC. Bahkan salah satu perusahaan engineering untuk masalah limbah dari Amerika yang bernama Organica, menggabungkan proses biologinya dengan taman dan pohon-pohon.

Tapi diluar dari bentuknya yang amat beragam, sebenarnya proses biologi itu memiliki prinsip-prinsip yang sama. Dan yang utamanya adalah, semuanya dibuat harus telah diuji cobakan pada jenis bakteri tertentu dan untuk mengolah air limbah jenis tertentu pula.

Artikel Terkait : Pengetahuan Wajib Engineer Waste Water

Apakah Sistem Biologi tiap WWTP Sama?
Jawabannya tentu saja tidak, karena semua kembali kepada jenis limbahnya yang berbeda, kandungan polutan yang terdapat didalamnya, tingkat pencemaran, debit dan hal-hal lainnya. Yang hal tersebut Anda bisa simak di salah satu postingan saya disini : KLIK DISINI

6 Hal Yang Harus Di Maintain Dalam Proses Biologi di WWTP
Nah, saya harap beberapa paragraf diatas sudah memberikan pembukaan yang cukup tepat untuk postingan kali ini (Kalau tidak mohon di maafkan, karena mungkin penulisnya kurang piknik hehe). Maka tanpa berlama-lama lagi mari kita simak hal apa saja sih yang harus di maintain dalam proses biologi di WWTP.

1. Kadar Dissolved Oxygen
Hal pertama yang harus di maintain pada proses biologi adalah kadar oxygen yang ada didalamnya. Wa bil Khusus pada tangki aerasi dimana bakteri yang hidup disini memerlukan kandungan oxygen yang cukup tinggi yakni sekitar 3 - 5 mg/L dan mereka akan terganggu hidupnya bahkan mengalami kematian massif (Akan terjadi lumpur hitam yang berbau busuk) jika nilai tersebut berada dibawahnya.

Namun lain halnya dengan tangki anaerobic, dimana disana keberadaan oxygen justru akan menjadi racun bagi bakteri yang berada didalamnya. Untuk itu kandungan DO di tangki ini justru harus ditekan seminimal mungkin yakni berada di bawah nilai 0,5 ppm.

Artikel Terkait : Pengertian Dissolve Oxygen dan Pengaruhnya pada proses

2. Suhu
Suhu memegang peranan penting dalam proses pertumbuhan bakteri dalam proses biologi di wwtp. Beruntung kita tidak tinggal di eropa yang memiliki empat musim dengan suhu yang memiliki rentang yang sangat jauh sehingga merepotkan pengaturan suhu.

Suhu untuk proses biologi sendiri biasanya ada di rentang 30-40 Derajat Celcius dan jika berada jauh diatas atau dibawah nilai tersebut biasanya proses pemecahan rantai organik akan berlangsung lebih lambat. Bahkan pada kasus suhu yang sangat tinggi (Dekat dengan suhu didih) beberapa bakteri dapat tereleminiasi. Itulah sebabnya dalam beberapa industri, sebelum masuk ke area WWTP air limbah biasanya didinginkan terlebih dahulu dengan cooling tower atau proses lainnya.

Cukup Menarik : Pengolahan Limbah Tekstil Dengan Kotoran Sapi, Mungkinkah?

3. Nutrisi Untuk Mikroba
Seperti halnya manusia, Bakteri dan mikroba lainnya juga adalah Mahluk yang memerlukan makanan dalam hidupnya. Kalau manusia makannya Nasi, Rendang, Plus Lalapan (Uppss itu mah nasi padang), bakteri ini lain lagi ceritanya.

Bakteri tidak memakan nutrisi kompleks yang sulit dipecah seperti manusia, mereka lebih mudah mencerna nutrisi yang sudah dalam bentuk cair dan memiliki kandungan mikro nutrisi khusus untuk mereka. Seperti Glukosa, Laktosa, dan lainnya.

Untuk menghitung jumlah nutrisi yang tepat pada proses biologi biasanya kita akan menggunakan rumus F/M Ratio. Dimana beberapa faktor yang termasuk didalamnya adalah nilai flow dari air limbah, nilai BOD inlet, volume tangki biologi dan juga nilai MLSS hasil pengukuran.



Mesti Baca Jika Pake Aerasi : Cara Menentukan Ukuran Blower Pada Proses Aerasi

4. Retention Time 
Retention time adalah salah satu hal yang paling pertama ditentukan ketika mendesain si WWTP itu sendiri. Beberapa orang menyebut retention time adalah waktu tinggal dari bakteri, dan sayapun setuju untuk ikut dengan istilah tersebut.

Semakin lama Retention time yang dimiliki oleh suatu proses biologi biasanya akan terjadi penurunan nilai COD, BOD, TOC yang lebih baik pula. Namun tentu saja hal tersebut akan berdampak pada membengkaknya volume dari tangki proses biologi itu sendiri.

Untuk proses biologi anaerob, waktu tinggal yang disarankan berkisar dari 1,5 hari hingga 5 hari (tergantung nilai BOD Load) dan untuk proses biologi aerasi waktu tinggal yang disarankan berkisar 1/2 hari sampai 1,5 hari.

Maka dari itu sekarang ini kita sering menjumpai digunakannya media pelekat bakteri seperti honey comb, bio ball dan Bio Cylinder yang dapat membuat waktu tinggal bakteri menjadi lebih lama tanpa memperbesar ukuran si tangki itu sendiri.

Basic Banget ! : Pengetahuan Jenis-Jenis Tangki IPAL

5. pH
Nilai pH mempengaruhi keberhasilan dari proses wwtp dan juga tingkat penerimaannya terhadap standar baku mutu yang berlaku. Dalam prakteknya nilai pH sangat berdampak signifikan pada semua lini oprasi WWTP. Dari mulai proses mixing, proses reaksi dengan kimia, sedimentasi, dan juga proses biologi.

Dalam proses biologi sendiri, nilai pH yang disarankan ada diangka 6-8. Dalam rentang pH tersebut proses pemecahan rantai organik dapat berlangsung optimal dan juga bakteri dapat tumbuh dengan baik.

Setelah dimaintain pada posisi pH 6-8, terkadang saya pribadi menemukan ada beberapa kasus dimana proses acidogenesis berlangsung dengan sangat baik sehingga pH air keluaran proses biologi telah turun nilainya hingga ke rentang asam. Untuk mengakali hal tersebut biasanya kita akan menggunakan penambahan basa ke dalamnya, namun tetap dalam konsentrasi yang tidak membuat proses biologi menjadi kolaps.

Artikel Terkait : Kenapa Koagulasi pH-nya Mesti diatur?

6. Kontaminasi Toxic Chemical
Nah ini dia salah satu hal yang sangat sering diabaikan oleh para operator, manager, maupun pemilik usaha yang memiliki WWTP.
Anggapan WWTP adalah magic box sering kali membuat seluruh pihak membuang apa saja ke dalam area wwtp yang salah satunya adalah zat racun bagi mereka.

Sudah kita ketahui bersama bahwa Di Proses WWTP ada bakteri yang juga memiliki respon penolakan terhadap zat racun pada mereka. Respon penolakan tersebut bisa berupa terjadinya busa, hingga kematian lumpur aktif secara masif.

Masih Nyambung : Proses Desinfeksi pada Water Treatment

Oleh karena zat-zat yang bersifat desinfektan seperti Hypochlorite, Formalin, Phenol, KMnO4 dan lainnya sangat dilarang untuk masuk kedalam area WWTP. Kecuali sudah mendapat perlakuan pengenceran terlebih dahulu sehingga tidak membahayakan proses biologi.

Mr. Anggi dari Cheminusa


Nah tidak terasa sudah cukup banyak pikiran ini tertuang dalam postingan 6 hal yang harus diMaintain dalam proses Biologi WWTP. Mudah-mudahan tulisan ini tidak dianggap sebagai pengetahuan saja karena para praktisi dunia WWTP tentu tahu betapa sulitnya menumbuhkan bakteri WWTP dari awal.

Salam Hangat,


Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya