Showing posts with label WWTP. Show all posts
Showing posts with label WWTP. Show all posts

Thursday, 3 May 2018

4 Cara Melunakan Air Limbah

4 Cara Melunakan Air Limbah



Air limbah adalah air yang telah tercemar oleh polutan tertentu sehingga air tersebut tidak lagi aman untuk dibuang ke lingkungan bebas. Air Limbah juga sangat berbeda dengan Limbah B3. Dimana limbah B3, memiliki kandungan air yang rendah, malah kebanyakan polutan daripada airnya.

Oh iya, kembali ke topik. kali ini kita akan membahas tentang cara-cara untuk melunakan air limbah. Yakni sebuah proses untuk membuat air limbah menjadi lebih mudah diolah. Tujuan proses ini tentu untuk dapat mengolah air limbah secara lebih efektif dan lebih murah serta aman.

Contoh kasus :
Sebuah perusahaan farmasi, memiliki buangan air limbah dari produk ekspektoran mereka. Jika limbah tersebut langsung dibuang ke lingkungan maka akan merusak. Dan jika langsung diolah, maka tentu membutuhkan proses yang berat. Oleh karena itu dilakukanlah proses pelunakan air limbah.

Dibawah ini adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk melunakan air limbah :

1. Penambahan Limbah Domestik
Sobat bisa menambahkan Limbah domestik yang berasal dari toilet ataupun dari washtafel pada air limbah konsentrat yang sobat miliki. Teknik ini akan membuat air limbah tercampur dan memiliki jumlah volume lebih tinggi, namun memiliki jumlah polutan yang lebih rendah secara rata-rata.
Dengan begitu, proses pengolahan air limbah dapat menjadi lebih mudah.

efek tambahannya adalah, nanti standar baku mutu yang harus digunakan akan menjadi lebih ketat. Karena bukan lagi standar baku mutu air limbah industri tapi ke limbah domestik.

2. Pencampuran dengan Limbah Jenis Lainnya
Teknik kedua hampir mirip dengan yang pertama. hanya saja ada sedikit perbedaan. Disini air limbah industri dicoba dinetralkan dengan limbah industri lainnya. Seperti air limbah hasil regenerasi anion di homogenkan dengan air limbah regenerasi cation. Maka akan terjadi air limbah yang netral (Walau tds-nya naik ya hhehe).

Pengaplikasian teknik ini pada intinya adalah dengan menghomogenkan jenis-jenis limbah yang bisa saling netral atau saling reaksi. Yang perlu diingat adalah menghindari reaksi oksidasi ataupun pembakaran terjadi.



3. Penggunaan Air Terbuang
Ada banyak air yang terbuang dan tidak masuk ke dalam kolam air limbah. Padahal air tersebut bisa membantu proses pelunakan air limbah sehingga menjadi lebih mudah diolah. Beberapa saran saya untuk air terbuang yang dapat digunakan antara lain :
a. Air Wastafel dan Wudhu
b. Air buangan Boiler
c. Air Buangan Cooling Tower
d. Air hujan (kalau yang ini sebenarnya ga boleh)

4. Gravitasi Process
Cara pelunakan air limbah yang keempat adalah dengan membuat beberapa proses fisika gravitasi. Pemisahan padatan tersuspensi dilakukan terlebih dahulu. Teknik ini bisa dilakukan dengan membuat beberapa pit sedimentasi. Bisa juga dengan membuat oil ataupun junk trap.
Dengan proses ini, parameter pengotor dapat dikurangi dengan usaha yang minimal, namun akan memberikan impact yang besar pada pengolahan selanjutnya.
ahli pengolahan air indonesia


Baca selengkapnya

Tuesday, 1 May 2018

7 Point Penting Dalam Pembuatan Desain STP

7 Point yang Penting untuk Dipertimbangkan dalam Pembuatan STP


STP atau Sewage Treatment Plant adalah salah satu sistem yang dibuat untuk dapat mengolah Limbah Domestik. STP sering disebut juga dengan IPAL Domestik, karena IPAL jenis ini dimaksudkan untuk mengolah limbah domestik.

Selama hampir 10 tahun bergelut dalam bidang pengolahan air limbah dan air bersih. Saya cukup banyak menjumpai STP yang dibuat dengan mengabaikan beberapa point penting yang saya sebutkan disini. Hasilnya STP tersebut akhirnya menjadi gagal dalam mengolah air limbah yang masuk.

Kegagalan tersebut akan menimbulkan hasil olahan STP melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Dan dalam jangka panjang akan membuat STP tersebut menjadi malfunction.

Dan dalam postingan kali ini, kita akan sama-sama mengulas secara singkat tentang apa saja sih point penting yang harus turut dipertimbangkan dalam pembuatan STP, sehingga memiliki hasil yang ideal dan mampu mengolah limbah hingga masuk ke dalam baku mutu yang dipersyaratkan.

Lihat Juga : Cara Memilih Metode NDT yang sesuai

1. Ukuran Biological Process

Point pertama yang harus dipertimbangkan adalah ukuran dari proses biologi untuk STP. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa STP akan mengolah air limbah yang banyak mengandung pengotor yang berasal dari aktifitas sehari-hari manusia. Yakni Mandi, Cuci, Kakus dan masak.
Oleh karenanya, kebanyakan air limbah yang masuk ke STP tentu mengandung senyawa organik dalam jumlah yang tinggi (walau tidak setinggi air limbah industri makanan dan minuman). Maka dari itu, sejatinya STP itu sendiri akan bertumpu pada proses biologi untuk menghilangkan pencemarnya.

Tingkat cemaran biologi pada STP biasanya diukur pada parameter : COD, BOD, Oil & Grease serta ammonia. Yang sebagian besar dari parameter tersebut akan diselesaikan lewat proses biologi jenis aerob atau aerasi.

Untuk ukuran tangki aerasi, idealnya harus memiliki 1 hari dari debit full limbah yang masuk. Atau paling sedikit berjumlah 3/4 hari. Jikalau kurang dari itu, maka dikhawatirkan proses pengolahan yang terjadi tidak akan maksimal dan akan lebih banyak gagalnya dari pada berhasil.

Misalkan, debit air limbah yang masuk perhari adalah 30 m3/day, maka untuk ukuran aerasi setidaknya adalah 22.5 m3.

Hal ini untuk memastikan bakteri memiliki waktu proses dan waktu tinggal yang cukup, untuk dapat menguraikan senyawa organik yang melekat sebagai pencemar di air limbah.

Lihat Juga : Cara menghilangkan Warna di Air Limbah

2. Ruang Hidup Bakteri


Point penting kedua dalam pembuatan desain STP adalah penyiapan ruang hidup bakteri. memang pada dasarnya banyak yang berpendapat bahwa untuk membuat bakteri dapat hidup maka cukup menyediakan ruangan biologi baik aerasi ataupun anaerob.
Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, namun untuk praktek saat ini saya rasa kurang tepat. Sebab saya pribadi telah membuktikan dilapangan, tanpa didukung dengan media bakteri maka proses pengolahan bisa menjadi seperti trial dan error. Lagi, bakteri juga akan lebih cepat tumbang ketika air limbah mengalami fluktuasi debit ataupun parameter pencemar.

Kita ibaratkan, manusia untuk hidup hanya disediakan sebuah aula yang luas. Dan dalam aula tersebut ada ratusan orang. Maka manusia tersebut tidak akan nyaman dalam beraktifitas dan bekerja karena privasinya terganggu. Senada dengan hal tersebut, untuk bakteri yang sama-sama mahluk hidup juga perlu diberikan ruang khusus tersendiri agar memiliki privasi dan kenyamanan yang lebih dalam beraktifitas.

Ruang untuk bakteri tesebut dapat diterapkan dengan media seperti :
a. Bioball
b. Honey Comb
c. MBBR
d. Biocylinder / Caged Crum Ball

dari keempat media bakteri tadi, saya paling merekomendasikan menggunakan metode ke-empat dikarenakan efektifitasnya di lapangan yang saya temukan lebih tinggi serta lebih tahan banting ketika menghadapi fluktuasi.

Lihat Juga : Honey Comb Vs Bio ball, Mana yang lebih baik?

3. Pretreatment

Point ketiga yang sangat penting dalam pembuatan rancangan STP adalah persiapan pretreatment sebelum air limbah masuk ke pengolahan Inti.

Pretreatment disini dimaksudkan untuk mencegah benda atau sesuatu yang bukan peruntukannya masuk ke dalam jalur pengolahan air limbah STP.

Pretreatment yang dapat dipasang antara lain :
a. Wastafel grease Trap
b. Junk Trap
c. Bak Kontrol
d. Water Mur
e. Emergency Line

4. Grease Separator


Grease atau Oil separator (Biasa disebut juga dengan grease trap) adalah bangunan atau alat yang digunakan untuk dapat menangkap lemak sebelum masuk ke dalam sistem pengolahan inti. Sebab lemak memiliki ikatan organik yang cukup kuat yang sulit dipecahkan dengan proses fisika ataupun biologi. Jikalau bisapun maka akan membutuhkan retention time yang lebih lama daripada biasanya.

Oleh karenanya menginstall grease separator sebelum STP adalah langkah yang cukup bijak untuk mengamankan effluent dari terlewatkannya baku mutu yang dipersyaratkan.

Grease atau oil trap dapat dibuat sekaligus besar ataupun dipecah menjadi bagian-bagian kecil tiap wastafel. Untuk hasil yang lebih efektif disarankan untuk memecah grease trap menjadi bagian kecil. Karena dengan begitu lemak akan dengan lebih mudah dipisahkan karena jumlahnya lebih sedikit dan lebih mudah dalam pemantauanannya.

Lihat Juga : Membaca Keterkaitan Antara Parameter di hasil analisa

5. Nutrient Dosing

Point kelima yang penting untuk dipertimbangkan adalah pemberian nutrisi atau nutrient dosing pada STP.

Point ini penting untuk dilakukan ketika dua hal ini terjadi :
a. Starting Culture
b. Idle System



Untuk starting culture, tujuannya adalah untuk membooster pertumbuhan bakteri dengan nutrisi yang tepat sebelum akhirnya dapat beradaptasi dengan makanan dari air limbah yang ada.

Dan untuk idle system adalah ketika tidak ada asupan air limbah yang masuk, maka bakteri dapat menjadi kanibal karena mereka menjadi kelaparan. Hal ini biasa terjadi ketika gedung mengalami libur cukup panjang. Dalam kejadian seperti ini perlu ditambahkan nutrisi tambahan untuk menjaga daya hidup bakteri yang telah dengan susah payah kita pelihara dalam sistem STP kita.

Lihat juga : Desain Proses Biologi di IPAL Domestik

6. Odour Remover

Bau adalah salah satu masalah yang sering ditemukan dan dikeluhkan oleh orang-orang yang berada disekitar STP baik karyawan ataupun warga sekitar.

Bau juga dapat mengurangi estetika serta semangat kerja, yang dalam jangka waktu lama bahkan bisa menyebabkan konflik.

Maka dari itu, untuk sebuah sistem STP yang baik, seharusnya sudah menyiapkan proses penghilangan atau peredaman bau yang muncul. Proses penghilangan bau itu sendiri dapat dibuat dengan pembuatan exhaust fan ataupun dengan pengembangan culture bakteri yang tepat. Bakteri jenis enterobacter, dan Azetobacter serta Bacillus dapat menjadi pilihan yang cukup tepat dan hemat energi dalam praktek penghilangan bau di STP.

Lihat Juga : Cara Menghilangkan Bau di WWTP/IPAL

7. Final Make-Up Process


Point terakhir yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan STP adalah perlunya dibuat proses make-up pada tahap akhir.

Proses make-up ini adalah untuk mendempul hasil buangan agar masuk ke dalam standar. Beberapa parameter seperti TSS, Total Coliform, Warna, Rasa, Bau, pH dan lainnya perlu di make-up untuk memastikan semuanya ok dan masuk ke dalam standar.

Bebeberapa cara make-up yang dapat dipilih antara lain :
a. Installasi Filter Carbon dan Sand/ Multimedia Filter
b. Pembelian jalur atau Tube Chlorinasi
c. Dosing dan pH Reader untuk alkali

Oke sobat olah-air.com itu dia 7 Point penting yang dapat sobat includekan dalam STP yang sedang sobat persiapkan. Untuk hasil terbaik dalam pembuatan STP, selalu pilihlah dan gunakan ahlinya.

Salam hangat,



Mr. Anggi Nurbana
Water Treatment Specialist

Baca selengkapnya

Saturday, 17 September 2016

6 Hal Yang Harus diMaintain Dalam Proses Biologi WWTP

6 Hal Yang Harus diMaintain Dalam Proses Biologi WWTP

Proses Pengambilan Sample di Sum Pit untuk Mengetahui Kondisi Aktual

Proses biologi adalah sebuah proses yang hampir dapat kita temukan dalam setiap WWTP. Pada umumnya, proses ini akan ada pada WWTP domestik ataupun STP. Tidak ketinggalan dalam perusahaan-perusahaan yang mengikut sertakan zat organik dalam prosesnya bagian Biologi pun sudah pasti hadir.

Ada Beragam Jenis Proses Biologi
Proses biologi hadir dalam beberapa wujud yang tidak mesti sama antara satu dengan lainnya. Ada yang menggunakan wujud tangki aerasi, anaerob, tangki membrane bio reactor, mbbr, sbr, dan juga ada yang seperti roda berputar alias RBC. Bahkan salah satu perusahaan engineering untuk masalah limbah dari Amerika yang bernama Organica, menggabungkan proses biologinya dengan taman dan pohon-pohon.

Tapi diluar dari bentuknya yang amat beragam, sebenarnya proses biologi itu memiliki prinsip-prinsip yang sama. Dan yang utamanya adalah, semuanya dibuat harus telah diuji cobakan pada jenis bakteri tertentu dan untuk mengolah air limbah jenis tertentu pula.

Artikel Terkait : Pengetahuan Wajib Engineer Waste Water

Apakah Sistem Biologi tiap WWTP Sama?
Jawabannya tentu saja tidak, karena semua kembali kepada jenis limbahnya yang berbeda, kandungan polutan yang terdapat didalamnya, tingkat pencemaran, debit dan hal-hal lainnya. Yang hal tersebut Anda bisa simak di salah satu postingan saya disini : KLIK DISINI

6 Hal Yang Harus Di Maintain Dalam Proses Biologi di WWTP
Nah, saya harap beberapa paragraf diatas sudah memberikan pembukaan yang cukup tepat untuk postingan kali ini (Kalau tidak mohon di maafkan, karena mungkin penulisnya kurang piknik hehe). Maka tanpa berlama-lama lagi mari kita simak hal apa saja sih yang harus di maintain dalam proses biologi di WWTP.

1. Kadar Dissolved Oxygen
Hal pertama yang harus di maintain pada proses biologi adalah kadar oxygen yang ada didalamnya. Wa bil Khusus pada tangki aerasi dimana bakteri yang hidup disini memerlukan kandungan oxygen yang cukup tinggi yakni sekitar 3 - 5 mg/L dan mereka akan terganggu hidupnya bahkan mengalami kematian massif (Akan terjadi lumpur hitam yang berbau busuk) jika nilai tersebut berada dibawahnya.

Namun lain halnya dengan tangki anaerobic, dimana disana keberadaan oxygen justru akan menjadi racun bagi bakteri yang berada didalamnya. Untuk itu kandungan DO di tangki ini justru harus ditekan seminimal mungkin yakni berada di bawah nilai 0,5 ppm.

Artikel Terkait : Pengertian Dissolve Oxygen dan Pengaruhnya pada proses

2. Suhu
Suhu memegang peranan penting dalam proses pertumbuhan bakteri dalam proses biologi di wwtp. Beruntung kita tidak tinggal di eropa yang memiliki empat musim dengan suhu yang memiliki rentang yang sangat jauh sehingga merepotkan pengaturan suhu.

Suhu untuk proses biologi sendiri biasanya ada di rentang 30-40 Derajat Celcius dan jika berada jauh diatas atau dibawah nilai tersebut biasanya proses pemecahan rantai organik akan berlangsung lebih lambat. Bahkan pada kasus suhu yang sangat tinggi (Dekat dengan suhu didih) beberapa bakteri dapat tereleminiasi. Itulah sebabnya dalam beberapa industri, sebelum masuk ke area WWTP air limbah biasanya didinginkan terlebih dahulu dengan cooling tower atau proses lainnya.

Cukup Menarik : Pengolahan Limbah Tekstil Dengan Kotoran Sapi, Mungkinkah?

3. Nutrisi Untuk Mikroba
Seperti halnya manusia, Bakteri dan mikroba lainnya juga adalah Mahluk yang memerlukan makanan dalam hidupnya. Kalau manusia makannya Nasi, Rendang, Plus Lalapan (Uppss itu mah nasi padang), bakteri ini lain lagi ceritanya.

Bakteri tidak memakan nutrisi kompleks yang sulit dipecah seperti manusia, mereka lebih mudah mencerna nutrisi yang sudah dalam bentuk cair dan memiliki kandungan mikro nutrisi khusus untuk mereka. Seperti Glukosa, Laktosa, dan lainnya.

Untuk menghitung jumlah nutrisi yang tepat pada proses biologi biasanya kita akan menggunakan rumus F/M Ratio. Dimana beberapa faktor yang termasuk didalamnya adalah nilai flow dari air limbah, nilai BOD inlet, volume tangki biologi dan juga nilai MLSS hasil pengukuran.



Mesti Baca Jika Pake Aerasi : Cara Menentukan Ukuran Blower Pada Proses Aerasi

4. Retention Time 
Retention time adalah salah satu hal yang paling pertama ditentukan ketika mendesain si WWTP itu sendiri. Beberapa orang menyebut retention time adalah waktu tinggal dari bakteri, dan sayapun setuju untuk ikut dengan istilah tersebut.

Semakin lama Retention time yang dimiliki oleh suatu proses biologi biasanya akan terjadi penurunan nilai COD, BOD, TOC yang lebih baik pula. Namun tentu saja hal tersebut akan berdampak pada membengkaknya volume dari tangki proses biologi itu sendiri.

Untuk proses biologi anaerob, waktu tinggal yang disarankan berkisar dari 1,5 hari hingga 5 hari (tergantung nilai BOD Load) dan untuk proses biologi aerasi waktu tinggal yang disarankan berkisar 1/2 hari sampai 1,5 hari.

Maka dari itu sekarang ini kita sering menjumpai digunakannya media pelekat bakteri seperti honey comb, bio ball dan Bio Cylinder yang dapat membuat waktu tinggal bakteri menjadi lebih lama tanpa memperbesar ukuran si tangki itu sendiri.

Basic Banget ! : Pengetahuan Jenis-Jenis Tangki IPAL

5. pH
Nilai pH mempengaruhi keberhasilan dari proses wwtp dan juga tingkat penerimaannya terhadap standar baku mutu yang berlaku. Dalam prakteknya nilai pH sangat berdampak signifikan pada semua lini oprasi WWTP. Dari mulai proses mixing, proses reaksi dengan kimia, sedimentasi, dan juga proses biologi.

Dalam proses biologi sendiri, nilai pH yang disarankan ada diangka 6-8. Dalam rentang pH tersebut proses pemecahan rantai organik dapat berlangsung optimal dan juga bakteri dapat tumbuh dengan baik.

Setelah dimaintain pada posisi pH 6-8, terkadang saya pribadi menemukan ada beberapa kasus dimana proses acidogenesis berlangsung dengan sangat baik sehingga pH air keluaran proses biologi telah turun nilainya hingga ke rentang asam. Untuk mengakali hal tersebut biasanya kita akan menggunakan penambahan basa ke dalamnya, namun tetap dalam konsentrasi yang tidak membuat proses biologi menjadi kolaps.

Artikel Terkait : Kenapa Koagulasi pH-nya Mesti diatur?

6. Kontaminasi Toxic Chemical
Nah ini dia salah satu hal yang sangat sering diabaikan oleh para operator, manager, maupun pemilik usaha yang memiliki WWTP.
Anggapan WWTP adalah magic box sering kali membuat seluruh pihak membuang apa saja ke dalam area wwtp yang salah satunya adalah zat racun bagi mereka.

Sudah kita ketahui bersama bahwa Di Proses WWTP ada bakteri yang juga memiliki respon penolakan terhadap zat racun pada mereka. Respon penolakan tersebut bisa berupa terjadinya busa, hingga kematian lumpur aktif secara masif.

Masih Nyambung : Proses Desinfeksi pada Water Treatment

Oleh karena zat-zat yang bersifat desinfektan seperti Hypochlorite, Formalin, Phenol, KMnO4 dan lainnya sangat dilarang untuk masuk kedalam area WWTP. Kecuali sudah mendapat perlakuan pengenceran terlebih dahulu sehingga tidak membahayakan proses biologi.

Mr. Anggi dari Cheminusa


Nah tidak terasa sudah cukup banyak pikiran ini tertuang dalam postingan 6 hal yang harus diMaintain dalam proses Biologi WWTP. Mudah-mudahan tulisan ini tidak dianggap sebagai pengetahuan saja karena para praktisi dunia WWTP tentu tahu betapa sulitnya menumbuhkan bakteri WWTP dari awal.

Salam Hangat,


Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya