Showing posts with label Pengolahan Air. Show all posts
Showing posts with label Pengolahan Air. Show all posts

Wednesday, 14 September 2016

Teknik Pemisahan Sludge Dari Air Limbah

Teknik Pemisahan Sludge Dari Air Limbah

Bagaimana Menangani Sludge sudah demikian Banyak

Proses pengolahan air limbah bukanlah suatu proses yang selesai dalam satu langkah saja. Proses ini layaknya proses memasak, yang memerlukan persiapan, proses awal, pembumbuan hingga penghidangan.

Salah satu proses yang akan banyak kita temui dilapangan adalah proses pemisahan sludge dari air limbah. Yang dimana hal tersebut dilakukan untuk membuat parameter TSS, COD, BOD turun dan sekaligus agar air yang keluar tidak menjadi masalah (Akibat keruh jadi di komplen warga hehe).

Nah, apa saja sih teknik-teknik pemisahan sludge dari air limbah? Yuk kita lihat lebih lanjut dalam postingan ini.

1. Proses Pemisahan Lumpur Sludge dengan Gravitasi Alami

wtp adalah suatu proses untuk mendapatkan air bersih dari air kotor
Tangki sedimentasi menggunakan gaya gravitasi dalam menurunkan sludge

Proses yang paling banyak kita kenali dilapangan adalah dengan proses pemisahan secara gravitasi alami. Proses ini dikehidupan nyata banyak ditemukan saat seperti proses pengendapan tanah dari air. Air yang keruh jikalau ditaruh dalam bejana yang tenang, maka lama-kelamaan tanah yang ada dalam air tersebut akan turun dan mengendap menyisakan air bening dipermukaan atas.

Proses Gravitasi alami ini dalam suatu sistem WWTP direalisasikan dengan adanya suatu tangki sedimentasi.

Tangki sedimentasi sendiri bisa ditemukan dalam bentuk yang beragam, baik dalam bentuk kotak ataupun slinder. Namun yang jelas kesamaan dari kedua bentuk tersebut adalah dibagian bawahnya berbentuk seperti corong yang fungsinya untuk memudahkan proses penyedotan sludge yang sudah turun.

Lihat Juga : Pengenalan Air dalam dunia Boiler

2. Proses Pemisahan Lumpur Sludge Dengan Filtrasi

Filter sand carbon manganese dsb adalah beberapa contoh teknik ini

Cara yang kedua ini juga lazim ditemukan dalam suatu proses WWTP. Biasanya cara ini dipilih setelah kandungan lumpur atau sludge yang ada dalam air sudah sedikit (Dimana sebelumnya sudah didahulu proses sedimentasi agar lumpur berkurang). Sebab kalau tidak begitu maka bisa jadi celaka, karena sedikit-sedikit filter akan tersumbat dan akan mengakibatkan serinngnya proses maintenance (Backwash) dan juga penggantian media filtrasi.

Lihat Juga : Jasa Pembuatan TPS B3

Kalau di alam bebas proses filtrasi ini bisa kita temukan pada tanah. Dimana tanah akan berfungsi menyerap air dipermukaan dan memisahkannya dari kotoran kotoran. Selain itu kita juga dapat menemukannya dari proses penyaringan dengan bebatuan yang ada di sungai.

Kalau di suatu sistem WWTP, biasanya media yang digunakan berbentuk suatu media pasir (Sand Gravel), Carbon active, Membrane dan lainnya. Dimana air limbah dipompakan dengan suatu feed pump agar bisa melewati si media filtrasi tersebut. Hasilnya adalah air yang bening dan telah bebas dari kotoran tersuspensi. Bahkan pada beberapa kasus cara ini juga akan berhasil menurunkan kandungan zat zat organik serta mineral dalam air.

Lihat Juga : Cara Menurunkan COD dari dalam Air

3. Pemisahan Sludge Melalui Mesin

Filter press adalah salah satu mesin pemisah sludge dari air limbah

Teknik pemisahan ketiga ini juga cukup banyak akan kita temukan dilapangan. Biasanya cara ini digunakan setelah lumpur tersebut dikumpulkan dalam jumlah yang banyak namun masih mengandung air yang juga banyak, yah kalau bisa dibilang sekitar fifty fifty lah.

Proses pemisahan sludge melalui mesin ini juga biasanya dimaksudkan untuk menghasilkan lumpur yang hanya mengandung sedikit air. Hal ini ditujukan untuk mengurangi operational cost akibat biaya pembuangan sludge ke penampung limbah b3. Yah karena seperti yang kita teu, ongkos buang sludge ke penampung limbah B3 memakan biaya yang cukup mahal (rata-rata 800 – 1,2 jt per m3 limbah b3).

Lihat Juga : Cara Mengolah Air Gambut Menjadi Air Bersih

Beberapa nama alat yang berada pada area ini adalah ;

a. Drying Bed

Seperti namanya, drying bed adalah sebuah kolam dimana air lumpur ditidurkan sambil dikeringkan. Proses pengeringan biasanya akan menggunakan sinar matahari sebagai sumber panasnya. Air akan terserap melalui pori-pori yang ada di bed tersebut. Dan sludge akan kering setelah 1-2 hari.

Kekurangan dari menggunakan teknik pemisahan sludge ini adalah, diperlukannya area yang cukup luas dan juga sinar matahari yang cukup terik. Oleh karenanya teknik pemisahan sludge melalui metode Drying Bed amat tidak disarankan untuk pabrik yang memiliki area sempit ataupun pabrik yang berada pada area dengan suhu dingin (Kapan tau deh keringnya kalau suhu dingin mah).

b. Filter press

Kalau mesin kedua ini biasanya ditemukan pada pabrik-pabrik tempat memproses produk yang berhubungan dengan logam, seperti pabrik plating salah satunya.

Mesin filter press memiliki beberapa plat yang digunakan untuk menekan sludge sehingga berubah menjadi cake yang memiliki kandungan air dibawah 40%. Air filtratnya biasanya sudah bebas dari sludge dan siap dibuang ke lingkungan (jika baku mutunya telah tercapai).


Filter press ini juga biasa digunakan dibeberapa pabrik untuk memproses minyak goreng dan produk lainnya. Mesin ini biasanya dipilih untuk proses batch. Dimana prosesnya tidak continyu. Karena ada jeda waktu untuk mempress dan mengeringkan sludge tersebut.

bakteri tetap akan hidup walaupun keadaan untuk tumbuh ternyata tidak optimal
c. Belt Press

Belt Press ini adalah sebuah mesin pemisah lumpur dengan proses press menggunakan belt (Makanya namanya belt press hehe). Mesin jenis ini dapat dengan mudah dikenali dengan adanya conveyor yang bergerak memisahkan sludge yang telah di press.

Belt press ini biasanya dipilih untuk memisahkan sludge yang jumlahnya sangat banyak. Sludge diproses secara terus menerus dan nonstop selama jam operasi. Kekurangan dari penggunaan belt press ini adalah, sludge yang dipisahkan masih mengandung air cukup banyak yakni diatas 40%.

Makanya terkadang ada perusahaan yang menggunakan dehydrator untuk mengeringkan sludge dari belt press ini. Kalau tidak, wah bisa jebol kantong si boss karena harus membayar tagihan pengumpul limbah b3 yang tinggi.

Lihat Juga  : Inilah Alasan Kenapa History Record itu Penting di WWTP

d. Screw Press

Screw press biasa digunakan untuk memisahkan sludge yang memiliki kandungan minyak. Sludge dipisahkan dengan gerakan screw sehingga akhirnya terpisah dari air limbah. Screw press ini dapat ditemukan pada pabrik minyak goreng, pengolahan minyak bumi dan lainnya.
Mau Beli Alat Untuk Menghandle Sludge Anda? Hub. Kami Segera!

Wah tidak terasa sudah sampai tiga halaman deh artikel ini. Dan sekarang, mari kita nyate dulu mumpung baru aja dapet jatah daging dari Panitia Qurban hahaha.

PS :

Jika Anda ingin terus mendapatkan update artikel dari blog olah-air.com , Anda bisa mengklik follow pada tombol google plus ini. Dan bisa juga dengan LIKE Halaman Olah-Air.Com di Facebook.



Sampai jumpa di kesempatan berikutnya,



Salam Hangat,


Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Thursday, 1 September 2016

7 Alasan Kenapa Perusahaan Anda Harus Merevitalisasi Air Hujan

7 Alasan Kenapa Perusahaan Anda Harus Merevitalisasi Air Hujan


Hallo sobat pembaca semua, jumpa lagi dalam olah-air.com dan kali ini kita masih akan berbicara tentang revitalisasi air.
Kalau di dua postingan sebelumnya kita telah menyinggung tentang aturan pemerintah dan juga cara menghitung biopori serta sumur resapan maka kali ini kita akan membahas tentang keuntungan dari mengikuti peraturan ini.

Dalam tulisan ini saya tidak akan menjadi seorang idealis dengan memperlihatkan kepada Anda keuntungan yang Lingkungan dan masyarakat dapatkan, karena saya yakin bahwa yang dicari Industri bukan itu hehe..

Agar tidak bertele-tele mari kita langsung saja menuju kepada inti artikel ini, yakni tentang 7 alasan kenapa Perusahaan Harus Merivitalisasi Air.

1 Pengurusan Izin Yang Lancar

IMB atau Izin mendirikan bangunan adalah suatu izin yang vital dan harus dimiliki setiap industri yang memiliki suatu lahan dimana disana didirikan bangunan. Izin ini sekarang hanya dapat keluar dan juga diperpanjang jika di tempat tersebut sudah tersedia sumur resapan, bio pori atau kolam resapan.

Izin ini akan terkait juga dengan izin penggunaan bangunan dan sertifikat layak fungsi dari pemerintah setempat. nah maka dari itu, walau mungkin tidak sampai seluruh sumur resapan yang dipersyaratkan dibuat setidaknya kita memiliki cukup sumur resapan untuk dijadikan bukti dalam rangka memperpanjang izin-izin bangunan yang ada di perusahaan kita.


2 Mencegah Penurunan Tanah dan Banjir

Tahukah Anda bahwa Tanah kita setiap tahun senantiasa mengalami penurunan? Beberapa daerah malah mengalami penurunan permukaan tanah yang cukup parah beberapa diantaranya adalah daerah Jakarta dan semarang yang mencapai hingga lebih dari 5 cm pertahunnya. Yang kalau hal ini dibiarkan maka dalam tempo beberapa puluh tahun saja ramalan pulau di Indonesia akan tenggalam akan menjadi kenyataan. Hii.. Ngeri sekali.

Dan pada skala area perusahaan, semakin besar penuruan tanah yang terjadi maka semakin besar kemungkinan perusahaan Anda akan terkena banjir. Ingat air akan mengalir dari tempat lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.

Pembuatan Sumur resapan dan biopori adalah dua cara untuk mencegah hal tersebut terjadi. Dengan membuat sumur resapan dan biopori tanah akan lebih mudah menyerap air hujan sehingga penurunan tanah bisa dicegah dan diminimalisir. Tentunya Anda ingin perusahaan Anda tidak kebanjiran ketika hujan bukan?

3 Memastikan cadangan Air Anda Tetap Ada

Beberapa perusahaan yang berada diluar kawasan Industri biasanya menggunakan air dalam untuk proses produksinya seperti yang dilakukan oleh sebuah perusahaan minuman ringan yang ada di Bekasi.

Dan setiap sumur dalam tentunya memiliki batas waktu penggunaan tersendiri. Dan dengan membuat kedua jenis pemanfaat ini maka proses batas waktu tersebut kemungkinan besar bisa kita perpanjang lewat serapan air yang dialirkan pada sumur dalam ini. Jadi misalkan seharusnya sumur tersebut habis setelah digunakan selama 20 tahun, maka dengan adanya pemanfaat air hujan tadi waktunya bisa diperpanjang 2-3 tahun.

4 Menghemat Penggunaan Air

Air hujan memiliki kandungan TDS dan mineral yang lebih rendah dibandingkan dengan air tanah. Dan air hujan ini bisa dibilang cukup baik untuk dapat menjadi feed boiler bahkan lebih baik.

Dengan membuat kolam resapan, Perusahaan dapat menangkap air hujan yang ada dengan dilimpaskan ke dalam kolam resapan. Dari sana perusahaan dapat memanfaatkannya untuk beragam keperluan dari mulai bahan baku produksi, boiler feed water, gardening, toilet dan lainnya. Lumayan kan menghemat penggunaan air.


5 Menunjukan Peerusahaan Anda Patuh dan Peduli Lingkungan

Saya yakin setiap pemilik perusahaan ingin memberikan impresi yang baik bagi customer dan juga para karyawan ataupun pengunjung yang datang ke perusahaan.
Pembuatan sumur resapan dan juga biopori dapat menjadi salah satu cara menunjukan hal tersebut. Dengan membuat biopori ataupun sumur resapan pada area-area yang dapat dilihat oleh customer ataupun pengunjung dan dengan menghiasinya dengan atribut lingkungan, Perusahaan Akan terlihat sebagai perusahaan yang peduli pada lingkungan. Dan bukan tidak mungkin jika hal tersebut akan membuat pelanggan Anda menjadi lebih senang berbisnis dengan Anda.

Nah itu dia 5 Alasan Kenapa perusahaan Anda harus melakukan revitalisasi pada air hujan. Semoga tulisan ini dapat menginsipirasi kita semua.

Lihat Juga :
- 3 Aturan Pemerintah Soal Revitalisasi Air Hujan
- Cara Menghitung jumlah Biopori dan Sumur Resapan
- Mengenal pH dan Kenapa Harus diukur
- Mengenal Water Hammer : Sang Penyebab Boiler Meledak

Baca selengkapnya

Cara Menentukan Jumlah Biopori dan Sumur Resapan



Hallo sobat olah-air.com semuanya, jumpa lagi bersama dengan Mister Anggi yang kali ini akan mengulas sedikit tentang suatu hal yang menjadi pertanyaan beberapa pembaca setia disini (dan termasuk teman-teman di WA) yakni tentang bagaimana sih cara menghitung jumlah Biopori dan sumur resapan yang benar?

Yup dalam tulisan kali ini kita akan membahasnya bersama-sama baik dari segi pengalaman dan juga teori yang ditemukan dilapangan. Tapi sebelum kita lebih jauh melangkah, marilah kita ulangi kembali deskripsi singkat tentang Sumur Resapan dan Biopori.


Definisi Sumur Resapan dan Bio Pori


Sumur resapan adalah suatu sumur yang didesain untuk dapat meresapkan air hujan ke dalam tanah. Bentuk dari sumur resapan ini bisa bulat silinder ataupun kotak berbentuk balok dengan kedalaman tidak lebih dalam daripada tinggi muka air tanah.

Sedangkan Biopori adalah versi kecil dari sumur resapan, yakni sebuah lubang dengan ukuran diameter 10 cm (4 Inch) hingga 15 cm (6 Inch) dengan kedalaman sekitar satu meter.

Persamaan antara keduanya adalah, sama-sama masuk di dalam perundang-undangan MenLH 12 tahun 2009 dan untuk di pergun ada di perihal pemanfaatan air hujan. Plus keberadaan mereka berdua sudah seperti saudara yang tidak terpisahkan.

Cara Menghitung Jumlah Sumur Resapan dan Biopori


Sebenarnya cara menghitung jumlah kedua bangunan (Kalau bisa dibilang begitu) sudah dijabarkan dalam peraturan perundang-undangan. Namun memang tidak sangat spesifik, dan kadang menghitung sesuatu kalau tidak ada tuntunan atau contoh perhitungannya akan menjadi cukup menyulitkan, oleh karenanya silahkan ikut langkah-langkah berikut :

1. Dapatkan data-data Penting

Persiapkanlah data-data yang akan kita gunakan untuk menghitung, data tersebut adalah jumlah area keseluruhan perusahaan ataupun instansi dan juga jumlah luas seluruh area yang tertutupi bangunan konkrit (termasuk kedalam jalan).

Kedua data tadi akan sangat berguna dan tentunya harus didukung oleh adanya lay-out dengan skala yang menjelaskan tenang luas tersebut (Ingat data dokumen lebih kuat daripada sekedar omongan kira-kira).



2. Cari Jumlah Luas Sumur Resapan atau Biopori Existing

Langkah kedua ini cukup penting, terlebih bagi perusahaan dan pelaku industri. Kenapa? Sebab supaya bisa membuat jumlah biopori dan juga sumur resapan semakin sedikit. Makanya ingat-ingat sebanyak mungkin luas sumur resapan yang sudah ada dan juga biopori yang sudah ada.

3. Cari Area Untuk Menempatkan

Untuk sumur resapan, area yang menjad sasaran sudah jelas adalah di dekat gedung yang dmana disana ada pipa talang limpasan air. Sedangkan untuk Biopori tentu yang menjadi tempat adalah area dimana tidak ada kendaraan lalu lalang disana, mungkin yang bisa dipilih adalah area sekitar taman dan juga pekarangan lobby (Untuk Show Off).



4. Mulai Menghitung

Yang palling pertama mari kita berhitung tentang jumlah sumur resapan yang harus dibuat.

Diketahui luas area adalah 7000m2 dan luas area yang tertutupi bangunan dan kedap air adalah sekitar 4000 m2. Ketinggian muka air tanah adalah 3 meter. Maka jumlah area sumur resapan yang perlu dibuat adalah 4% dari area kedap air. Yakni 0.04 x 4000 = 160 m2 yang harus jadi sumur resapan.

Untuk jumlah sumur resapan dalam unit adalah total luas area sumur resapan yang harus dibangun, dibagi dengan volume sumur resapan yang akan dibuat. Dan harus diingat untuk kedalaman sumur resapan harus tidak lebih dalam dari kedalaman muka air tanah. Contoh :

Desain sumur resapan : 2,5 (h) x 2,2 (p) x 1,8 (l) = 9.9 m3

Total sumur resapan dalam unit adalah : 160 / 9.9 = 16,16 sumur resapan.



Untuk biopori perhitungannya lebih simpel, yakni untuk setiap 7m2 luas area perusahaan maka harus dibuat 1 biopori. Maka dari itu jumlah biopori adalah : 7000/7 = 1000 Lubang Biopori



Nah Sobat olah-air.com sekalian itulah langkah-langkah cara menghitung total sumur resapan dan juga biopori. Mudah-mudahan jadi terbantu. Dan sampai jumpa dalam positngan berikutnya.

Lihat Juga :
Baca selengkapnya

3 Aturan Pemerintah Untuk Revitalisasi Tanah Lewat Air Hujan


Semakin hari jumlah manusia semakin bertambah banyak sehingga kebutuhan untuk perumahan pun semakin bertambah pula. Ditambah lagi pertumbuhan Industri di Indonesia terbilang cukup cepat hal ini bisa kita tengok dari banyaknya kawasan industri yang dibangun di Indonesia salah satunya adalah kawasan industri kendal yang baru saja selesai di bangun pada tahun 2015 kemarin.

Banyaknya bangunan yang dibangun oleh manusia seperti kedua contoh diatas tentunya membuat semakin banyak area tertutup oleh bangunan dan lainnya sehingga tidak bisa lagi menyerap air. Belum lagi dengan kegiatan manusia dalam menyedot air dari dalam tanah, yang menyebabkan semakin sedikitnya air dalam tanah.

Memang apa akibatnya ?


Akibatnya memang tidak secara cepat akan terasa seperti Anda makan sambel yang setelah makan segera kepedesan hehe. Namun akibatnya akan seperti sebuah kanker yang secara diam-diam menggerogoti dan naik stadiumnya, sehingga ketika sudah akut maka mulailah muncul beragam bencana alam.

Bencana kekeringan, banjir, longsor, dan tanah retak tiba tiba (seperti yang terjadi di India baru-baru ini) adalah hasil dari ketiadaan air di dalam tanah. Tentu anda tidak akan percaya kalau tidak merasakanya sendiri, tapi percayalah para ahli hidrologi di Indonesia sudah memperingatkan tentang hal ini.

Salah satu contoh nyatanya adalah suatu kawasan industri di daerah semarang yang dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan permukaan tanah. Tidak tanggung-tanggung penurunan tanahnya mencapai 8cm pertahun, yang artinya dalam sepuluh tahun saja bisa berukurang hingga sekitar 1 meter. Dan yang lebih ngeri lagi di sebelah kawasan industri tersebut itu laut lho..

Kenapa Harus Peduli?


Sebagian besar dari mungkin tidak peduli dan menganggap toh masi lama sebelum air benar-benar habis atau pulau yang kita diami sekarang ini menjadi turun permukaannya dan benar-benar tenggelam. Yah bisa sampai puluhan tahun.

Tapi cobalah kita pikirkan, bagaimana nasib generasi setelah kita kelak? Tegakah kita mewariskan tanah yang telah rusak? Tegakah kita mewariskan bencana? Tegakah kita membiarkan anak cucu kita mati kehausan, karena sebagian besar air sudah kita sedot dan kita tukar menjadi air limbah?

3 Aturan Pemerintah Untuk Revitalisasi Tanah Lewat Air Hujan


Ya sesuai dengan tajuk utama kita pada tulisan kali ini, kita akan membahas tentang suatu perundang-undangan lebih tepatnya pada PermenLH nomor 12 tahun 2009. Peraturan ini lebih dikuatkan lagi dengan adanya beberapa PerGub yang menguatkan, salah satunya adalah PerGub DKI Jakarta tentang sumur resapan yang memberikan arahan dengan lebih dalam lagi.

Oh iya, apa saja sih aturan pemerintah untuk konservasi air ini?

Dalam intinya ada tiga tipe/jenis bangunan yang wajib dimiliki oleh pemilik/pengguna gedung untuk membantu mengkonservasi air hujan yakni ;

a. Sumur Resapan

Adalah sebuah lubang sumur yang sengaja dibuat untuk meresapkan air kedalamnya. Kedalaman dari sumur resapan ini dibuat tidak boleh lebih dalam dari pada air muka tanah. Untuk jumlahnya, dihitung berdasarkan jumlah area yang tertutupi oleh bangunan.



Sumur resapan didesain untuk dapat menampung limpasan air hujan dari atap gedung untuk kemudian diresapkan kedalam tanah lewat rongga yang ada dibagian samping ataupun bawah.

Jika terjadi keadaan sumur yang terlalu penuh, maka dibuatlah kolam kontrol yang nantinya dialirkan menuju saluran drain.

b. Kolam Pengumpul Air Hujan

Kolam Pengumpul air hujan, adalah kolam yang dibuat untuk menampung air hujan dengan tujuan pemanfaatan kembali. Untuk bangunannya bisa dibuat diatas atau didalam permukaan tanah, hal tersebut tergantung dari ketinggian muka air tanah. Biasanya kolam ini dibuat pas dimana talang air hujan dari suatu bangunan menjatuhkan airnya.

Jumlah dari kolam resapan ini ditentukan dari 1% nilai luas seluruh lahan yang ditempati oleh suatu instansi atau perusahaan. Jadi katakanlah sebuah perusahaan mengambil area sekitar 10 ribu m2, maka setidaknya ada 100m2 yang harus diperuntukan untuk membuat kolam resapan.

c. Biopori

Biopori adalah sebuah lubang berukuran 4 Inchi yang ditanam sejauh sekitar 1 meter ke dalam tanah. Fungsi dari biopori itu sendiri adalah untuk menyerap air dan juga memproduksi kompos (jika ingin). Jika merunut pada undang-undang dan aturan dari BPLHD setempat maka jumlah biopori biasanya adalah 1 biopori per 7m2 lahan yang digunakan oleh perusahaan.

Ketiga bangunan kecil tadi dipersyaratkan harus ada pada setiap perusahaan, instansi atau lembaga. Dan keberadaannya sekarang ini terus menerus didengungungkan oleh dinas setempat. Namun, bukan orang indonesia namanya kalau harus patuh kalau tidak ada hukuman hehe.. Hukuman dari ketiadaan Pemanfaatan air hujan akan berdampak pada tidak keluarnya izin mendirikan bangunan baru dan juga ditambah dengan akan sulitnya pengurusan AMDAL dan UKL UPL. Nah.. Makanya dalam tulisan-tulisan selanjutnya saya akan coba mengulas satu persatu tentang topik pemanfaatan air hujan ini.



Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Oh iya, jika Anda tertarik dengan artikel di website ini, Anda dapat melakukan search dengan menekan tombol ini. Maka Akan keluar seluruh daftar artikel yang ada.

Atau Silahkan Klik Link Dibawah ini :
Baca selengkapnya