Showing posts with label Dasar Pengolahan Air Limbah. Show all posts
Showing posts with label Dasar Pengolahan Air Limbah. Show all posts

Monday, 10 July 2017

Cara Menghilangkan Warna di Air Limbah

Cara Menghilangkan Warna di Air Limbah

cara tercepat membuang warna di air limbah tekstil


Assalammu'alaikum wr. wb.
Apa kabar sobat olah-air.com sekalian? semoga sehat selalu dan diberikan keberkahan dalam setiap aktifitasnya.

Kali ini kita akan membahas tentang warna mewarnai, alias cara menghilangkan warna di air limbah. Proses penghilangan warna di air limbah ini menjadi cukup penting kita bahas karena warna pada air dapat menjadi indikasi penting tentang keberadaan polutan. Baik pollutant tersebut berbahaya ataupun tidak.

Warna Tidak Ada di Baku Mutu Air Limbah?

Kalau kita mau melihat ke dalam standar baku mutu air limbah yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia, ternyata kita tidak menemukan adanya parameter warna yang menjadi patokan buangan air limbah itu sendiri. Makanya, jangan heran kalau banyak perusahaan yang ketika membuang air limbahnya merasa baik-baik saja padahal air limbah mereka masih berwarna pekat.

Pemenuhan Warna Air Limbah Untuk Ketenangan Masyarakat dan Estetika
Sebagai seorang pengusaha, tentunya ingin agar usahanya berjalan dengan langgeng, aman dan damai tanpa ada banyak gangguan dari beragam pihak.

Gangguan tersebut biasanya bukan terjadi tanpa alasan, namun malah bisa menjadi suatu indikasi suatu masalah harus diselesaikan. Karena jika tidak diselesaikan gangguan-gangguan tersebut dapat menjadi sumber kebocoran dana besar dan merugikan bagi perusahaan. Salah satu yang sering dijadikan alat pemerasan ya adalah masalah warna pada air limbah ini.

Warna air limbah yang berbeda dengan warna air pada asalnya atau bahkan bisa berwarna pekat hingga tidak tembus cahaya dapat menjadi suatu polemik di masyarakat. Untuk masyarakat yang berada disekitar bantaran sungai ataupun yang menggunakan sumur dangkal tentunya akan merasakan keresahan yang bukan main.



Masyarakat yang tadinya merasa aman dan nyaman untuk dapat menggunakan air sungai, akhirnya merasa khawatir dan takut untuk menyentuh air yang dulu mereka biasa gunakan tersebut.

Walau dengan sejuta klaim yang telah diberikan oleh para pengusaha dan bagian EHS mereka, dalam otak kita sebagai manusia sehat tentu ragu bahwa air yang berwarna pekat tersebut bisa digunakan Jangankan kita, merekapun yang para pengusaha ataupun pekerja pabrik penghasil limbah itupun pasti takut menggunakannya.

Walau dengan sejuta klaim yang telah diberikan oleh para pengusaha dan bagian EHS mereka, dalam otak kita sebagai manusia sehat tentu ragu bahwa air yang berwarna pekat tersebut bisa digunakan Jangankan kita, merekapun yang para pengusaha ataupun pekerja pabrik penghasil limbah itupun pasti takut menggunakannya.
Lihat Juga : Cara Penanganan Lumpur Aktif Berlebih di Sistem WWTP

Masalah Warna Pada Air Limbah, Harus diatasi!
Yup demi menghilangkan keresahan warga dan juga demi menutup lubang kebocoran dana tutup mulut yang harus perusahaan Anda keluarkan setiap waktu maka solusi yang terbaik adalah dengan menghilangkan warna pada air limbah yang Anda hasilkan tersebut.

Targetnya tidak perlulah hingga benar-benar bening seperti air kemasan, minimal hingga sampai tembus cahaya ataupun warna tersebut hanya nampak seulas saja. Hal tersebut tentu sudah dapat membuat warga sekitar menjadi lebih tenang dan kantong perusahaan juga lebih aman hehehe..

Warna Pada Air, Dari Mana Sumbernya?
Kalau ditanya seperti ini, tentu jawaban saya adalah banyak. Sebab banyak sekali faktor yang dapat menjadi donatur dalam mewarnai air limbah tersebut. Dari mulai TSS, logam berat, zat organik dan lainnya. Yang tentunya tidak dapat kita generalisir.

Namun yang dapat Anda jadikan pegangan adalah, jenis kegiatan apa yang ada di perusahaan Anda sehingga dapat menghasilkan limbah berwarna seperti sekarang?

Dari sana kita tentu dapat menguraikan treatment yang sesuai untuk mengurangi ataupun bahkan menghilangkan warna yang melekat pada air limbah tersebut.

Cara-Cara Menghilangkan Warna di Air Limbah
Untuk dapat menyelesaikan suatu masalah, tentu kita harus menemukan akar masalah tersebut terlebih dahulu agar solusi yang diberikan menjadi efektif. Dan dalam hal ini saya akan coba memberikan beberapa solusinya langsung sedangkan akar masalahnya harus Anda temukan atau anda cocokan dengan solusi yang saya berikan ini.

1. Koagulasi dan Flokulasi
Proses ini cocok untuk sumber warna yang berasal dari TSS. Dimaka ketika endapan turun dan menjadi sludge maka serta merta warna juga akan berkurang intensitasnya.
Proses ini diawali dengan pengaturan pH hingga ke pH koagulasi optimal, lalu ditambahkan koagulan yang sesuai untuk jenis limbah tersebut kemudian dilanjut dengan penambahan flokulan.

Proses ini cocok untuk limbah-limbah sebagai berikut : Limbah Domestik, Limbah Pemotongan Hewan, Limbah Textil (Hilir) dan air limbah lain dengan tingkat TSS yang tinggi.

Lihat Juga : Mengenal Teknik Segregasi Air Limbah

2. Oksidasi
Cara kedua untuk menghilangkan warna pada air limbah ini dalah dengan proses oksidasi. Beberapa zat warna dapat dengan mudah dioksidasikan sehingga rusak dan akhirnya tidak lagi mewarnai air. Beberapa oksidator yang dapat anda coba antara lain ; Hidrogen Peroxida, O-Nascent, Hypochlorit.

Cara ini juga bisa digunakan untuk membantu proses koagulasi dan flokulasi manakala pengotor yang ada dalam air perlu dioksidasikan terlebih dahulu agar bisa diendapkan.

Proses ini cocok untuk ; Limbah Domestik, Limbah Pabrik Makanan dan Minuman, Limbah Farmasi, Limbah Textil.

Untuk proses pengeringan menggunakan warna dari sludge dryer


3. Proses Biologi
Cara ketiga untuk menghilangkan warna, adalah bisa menggunakan proses biologi. Cara ini bisa dipakai khusus untuk kasus warna yang disebabkan oleh zat-zat organik. Warna-warna dari industri farmasi, makanan minuman, serta limbah domestik adalah yang termasuk bisa dengan mudah diurai menggunakan proses ini.

Untuk warna yang berasal dari industri tekstil juga dapat diurai namun hasil penguraiannya tidak akan sebaik dengan dua proses sebelumnya.

Lihat Juga : Cost Dari Sebuah Sistem Reverse Osmosis


4. Absorpsi Dengan Media
Cara keempat ini dapat kita temukan banyak aplikasinya dalam setiap IPAL ataupun WWTP. Warna diserap menggunakan media active carbon ataupun ferolite /manganesse. Untuk activated carbon filter bisa untuk menyerap warna dari zat organik. Sedangkan ferolite dan manganesse bisa kita gunakan untuk menyerap zat anorganik seperti besi ataupun mangan.




5. Bleaching
Teknik kelima dalam menyerap warna yang bandel di dalam air limbah adalah dengan menggunakan bahan kimia bleaching. Teknik ini banyak dipakai untuk warna yang mudah rusak ikatannya menggunakan kaporit ataupun clorin.

Namun untuk warna-warna yang pekat sebaiknya menghindari penggunaan bleach sebab akan berakibat pada naiknya nilai tds dan toksitas air.

Itu dia pengetahuan umum mengenai cara-cara menghilangkan warna pada air limbah. Jika Anda masih memerlukan bantuan seputar pengolahan air limbah. Silahkan ikuti petunjuk dibawah ini.

Salam Hangat,


Mr. Anggi Nurbana





Baca selengkapnya

Sunday, 2 October 2016

Daftar Produk Bakteri Untuk WWTP / IPAL PT. CHEMINUSA

Daftar Produk Bakteri Untuk WWTP / IPAL PT. CHEMINUSA


Proses biological dengan bakteri adalah salah satu bagian penting dalam suatu proses wwtp. Karena bakteri mampu untuk memecahkan zat organik dalam air limbah sehingga kadar parameter pencemar dapat berkurang.

Dan berikut ini adalah Daftar 10 Produk bakteri yang dapat Anda gunakan dalam rangka memperbaiki kualitas pengolahan biologi di sistem WWTP Anda.

1. Chemi Enzymax AE
tempat yang menjual Bakteri

Deskripsi :
Merupakan Formulasi Bakteri Konsentrat dengan beragam fungsi, biasa juga disebut dengan Konsentrat Sapu Jagad dikarenakan fungsinya yang dapat menurunkan beragam parameter pengotor dalam air limbah.

Memiliki kandungan bakteri-bakteri pengurai penting dalam konsentrasi tinggi seperti : Tio Bacillus, Lactobacillus, Enterobacter, Proteus, Nitrosomonas.

Berfungsi sangat baik dalam tangki aerasi sebagai bakteri aerob. Dan bisa juga berfungsi sebagai seeding awal dalam pengembangan activated sludge untuk kasus spesifik. Bisa mengolah lemak, surfaktan, sabun dan juga zat volatile sehingga berimbas pada turunnya beragam parameter baku mutu air limbah termasuk COD dan BOD.

Penggunaan:

  • Pabrik dengan parameter air limbah terlewat seperti Nitrate, Sulfida, Nitrite, Surfaktan.
  • Cemaran Air Limbah dengan kandungan Zat Warna
  • Cemaran Air Limbah dengan bau septik
  • Cemaran air limbah dengan jumlah deterjen yang cukup banyak
  • Seeding Kolam Aerasi

2. Chemi Enzymax AN

Deskripsi Produk :
Dikembangkan secara khusus agar bisa mengolah air limbah yang memiliki kandungan BOD dan organic content yang sangat tinggi dalam proses anaerobic. Berfungsi sebagai biakan awal dan juga sekaligus sebagai bakteri booster yang bisa bekerja untuk memperbaiki kondisi IPAL yang sudah berjalan.

Memiliki Kandungan Bakteri dipadukan dengan enzym seperti : Bakteri Sacharomycess, Bacillus Sp, Nitrobacter dan Enzym Amilase. Ditambah dengan kandungan nutrisi yang dibutuhkan untuk penyebaran bakteri ke seluruh tangki.

Dalam aplikasinya agar dapat berfungsi secara maksimal dibutuhkan media pelekat bakteri Organocyl atau Bio Ball.

Banyak digunakan pada kolam anaerobic, proses seeding anaerobic, proses denaturasi dan juga proses di tangki anoxic.

Penggunaan :

  • Untuk Seeding awal bakteri anaerob
  • Pabrik Makanan, Minuman, Pemotongan Hewan
  • Cocok Untuk STP Model Pendam
  • IPAL Yang mengandung banyak lemak

3. Enzymax Biologia en Polpo
Cara menggunakan bakteri yang bisa menyerap polutan

Deskripsi :
Merupakan bakteri konsentrat yang disimpan dalam bentuk powder/serbuk. Dengan proses pembuatan yang melekatkan bakteri pada media hidupnya sehingga bakteri dapat tetap bertahan hidup dalam kondisi serbuk.

Diformulasikan khusus sebagai starter bersama dengan media pelekat silinder yang nantinya akan mampu menjadi activated sludge dengan jumlah buangan sludge minimal.

Bakteri ini juga dapat berfungsi sebagai Organic Detonator, yang secara cepat memecahkan senyawa organik dalam bentuk siklik (Benzene) sekalipun sehingga dapat segera dikonsumsi oleh bakteri lainnya.

berfungsi terbaik dalam proses Aerasi dengan media pelekat bakteri silinder dan amat cocok untuk proses pengurangan sludge yang sudah mati di kolam aerasi dan anaerob.

Memiliki Komposisi bacteri dari jenis Agrobacterium, Rhizobium, Clostridium, Enterobacter serta nutrisi organik.

Penggunaan :

  • Kolam Aerasi dengan Ukuran Kecil (Kurang dari 1 hari debit)
  • IPAL dengan lahan yang sangat terbatas
  • Pengolahan limbah darah, makanan, minuman, farmasi, kotoran, peternakan
  • Pengolahan air limbah yang mengandung Amonia, Organo Phosfat dan senyawa organik siklik atau alifatik
  • Starter Kolam Aerasi

4. Enzymax Bio Digester
cepat menghancurkan lemak

Deskripsi :
Bakteri yang berwarna putih krem dengan kekentalan seperti susu dan berbau seperti susu basi ini mengandung bakteri prebiotik dalam konsentrasi tinggi yang dapat membantu membasmi bakteri patogen dari air limbah.

Enzymax Bio Digester juga mampu memakan segala sludge yang bersifat organik sehingga mampu memangkas kebutuhan penggunakan alat filter press maupun belt press.

Cocok sekali untuk pengolahan air limbah dengan jumlah lumpur yang besar seperti limbah pabrik makanan, minuman dan bisa juga digunakan untuk limbah domestik.

Komposisi : Lactobacillus, Bacillus Cereus, Bacillus Polymxa, Lichenoformis dan bakteri Acinotebacter.

Penggunaan :

  • Proses Penguraian Sludge Organik
  • Proses Air Limbah dengan kandungan bakteri patogen
  • Nutrisi bakteri yang untuk kolam aerasi yang menjadi black water
  • Menyerap warna yang berasal dari zat organik

5. ARGEN - 2

Deskripsi Produk :
ARGEN-2 Adalah bakteri yang secara khusus diformulasikan untuk dapat memecahkan senyawa Ammonia organik sehingga berubah menjadi Nitrogen.

Dalam prakteknya akan terlihat dalam penurunan kadar bau pesing dari air limbah dan juga akan berakibat pada penurunan nilai nitrat dan nitrit.

Ditambah lagi bakteri ARGEN-2 ini mampu untuk mengkonversi phospfat menjadi nutrisi untuk tumbuh dan perkembangan bakteri sehingga tidak lagi menjadi masalah dalam parameter air limbah.

Komposisi bakteri terdiri dari Nitrobacter, Azetobacter, Pseudomonas

Penggunaan :

  • STP Pabrik ataupun STP Perkantoran
  • WWTP Dengan Limbah yang memiliki kandungan Ammonia baik organik maupun anorganik
  • WWTP dengan limbah yang memiliki kandungan Phosfat
  • Menurunkan nilai COD dan BOD yang berasal bukan dari TSS dan Lemak
6. Enzymax Gluttony

Deskripsi Produk :
Solusi terbaik untuk air limbah yang mengandung lemak yang membandel. Lemak yang ada dalam jumlah masif sehingga membeku dan bahkan menutupi hampir seluruh bagian kolam grease trap.

Paling baik digunakan untuk restoran, pabrik roti, susu, keju dan pabrik yang memiliki kandungan air limbah dengan lemak yang tinggi.

Komposisi bakteri terdiri dari Tio Bacillus, Agrobacterium, Rhizobium, Clostridium, Lactobacillus dan beberapa enzym rahasia untuk dapat menghancurkan segala macam lemak.

Penggunaan : 

  • Kolam Grease Trap
  • Kolam Equalisasi
  • IPAL Restoran dan Pabrik Makanan, Susu, Keju dan sejenisnya



7. Enzymax Platino

Deskripsi :
Bakteri yang diformulasikan untuk mengolah jenis air limbah dengan zat organik yang berikatan sangat kuat. Mampu melunturkan tempelan zat organik dalam saluran sekaligus melarutkannya dalam air. Jika dilanjutkan dengan proses aerasi bertingkat maka dapat menurunkan nilai BOD ke nilai minimum.

Komposisi : Bakteri Bacillus, Bacillus Polymxa, Acinotebacter, Nitrosomonas

Penggunaan :

  • IPAL dengan air limbah berikatan organik yang kuat seperti : Cat, Degreasing dan solvent
  • IPAL Dengan air limbah infeksius
  • IPAL dengan kebutuhan akan bakteri fakultatif
HUBUNGI KAMI SEGERA :
PT. CHEMINUSA
Jl. Raya Pasar Minggu, Komplek Ligamas Indah Kav.9
Telp : 021 -7919 7920
Email : admin@cheminusa.com
HP : 0857.1147.2834 / 0878.7373.3767


Baca selengkapnya

Tuesday, 20 September 2016

Cara Mengecilkan Ukuran Area WWTP

Cara Mengecilkan Ukuran Area WWTP

WWTP dapat dikecilkan ukuran desainya dengan beragam cara


Installasi Pengolahan Air Limbah atau Waste Water Treatment Plant (WWTP) adalah suatu tempat yang banyak sekali pemilik industri kurang sukai. Mengapa kurang suka? sebab tempat ini bukanlah profit center yang akan terus mendatangkan uang, namun justru sebaliknya WWTP ini adalah cost center.

Ya WWTP ini adalah cost center karena selalu saja mengeluarkan uang. baik dari mulai perancangan, pembuatan, operasional, dan perizinan. Sampai-sampai saya sering mendengar keluhan dari pemilik usaha "Kok Mau Buang Aja Susah ya?" dan kalau sudah mendengar kata-kata tersebut, biasanya saya tidak lama pamit saja. sebab percuma berbicara dengan orang yang hanya mau profit tapi tidak memikirkan lingkungan.

Beragam cara selalu coba dilakukan pada WWTP ini. Seolah-olah bagian ini tidak boleh bergerak karena selalu membutuhkan biaya. Dan percayalah hal ini benar adanya.

Apa Saja Yang Selalu Coba di Cost Down di WWTP ?

Banyak sekali bagian yang selalu coba di cost down dari suatu WWTP. Dan berikut ini adalah beberapa diantaranya :
1. Chemical
2. Equipment
3. Man Power
4. Energi
5. Area

Nah Tiap-tiap point yang bisa dicost down tadi ini, dalam postingan kali ini kita akan membahas tentang point cost down pada area. Kenapa? Karena ini lah satu-satunya cost down yang menurut saya paling safe, asalkan diperhitungkan secara cermat.

Dan Areapun, percaya ataupun tidak seringkali tidak bisa diperbesar lagi, tidak seperti mesin yang dapat ditambah, area suatu pabrik terkadang tidak bisa ditambah karena kanan kiri dan depan belakang sudah terisi.

Makanya dalam postingan saya kali ini, saya akan membahas tentang cara mengecilkan area WWTP. Yah Walaupun hal ini mungkin tidak berlaku bagi pabrik atau perusahaan yang sudah sama sekali tidak memiliki area untuk WWTP bahkan tidak memiliki WWTP.

Dan paling pas tips ini diterapkan pada proses perancangan WWTP baru, sehingga area bisa dihemat semaksimal mungkin.

Lihat Juga : 6 Hal Yang Harus di Maintain pada proses Biologi

6 Tips Mengecilkan Ukuran Area WWTP


Dan seperti apa caranya? Mari kita simak beberapa point berikut ini:

1. Mengecilkan Area WWTP dengan Penambahan Jam Kerja WWTP
Jika sebuah pabrik ingin mengejar target produksi yang tinggi. Biasanya pabrik tersebut akan melemburkan karyawannya sehingga akhirnya target tersebut tercapai.

Dan hal senadapun tentu dapat kita lakukan pada WWTP yang perusahaan kita miliki. Alih-alih menambahkan area karena harus menginstal tangki baru ataupun equipment baru yang kita bingung mau ditaro dimana. Maka kita bisa memilih menambah jam kerja WWTP.

Yang biasanya WWTP jalan 8 jam, kita bisa buat dia menjadi 16 jam ataupun 24 jam. Tentunya demi menghemat cost pembayaran operator kita dapat menyettingnya dalam posisi auto.

Lihat Juga : Mengenal teknik segregasi

2. Mengecilkan Area WWTP dengan Penambahan Equipment
Tips kedua untuk mengecilkan area WWTP adalah dengan menambahkan Equipment. Proses yang tadinya berjalan secara gravitasi dapat kita buat lebih cepat jika kita dorong menggunakan equipment pompa.

Proses dosing yang tadinya dengan static mixer dan jerigen dilubang, bisa kita ganti dengan menggunakan dosing pump plus agitator. Dengan demikian debit limbah yang bisa diolah nantinya akan naik menjadi lebih besar sekaligus waktu operasinya lebih pendek. Alhasil nantinya dengan waktu operasi yang sama jumlah air limbah yang diolah bisa lebih banyak dan terkait dengan itu, area yang seharusnya ditambah besar misalkan, akhirnya menjadi lebih kecil bahkan tidak perlu ditambah.

Lihat Juga : 7 Alasan Mengapa Anda Harus Punya Alat Ukur di WWTP

3. Mengecilkan Area WWTP Dengan Penambahan Media Pelekat Bakteri

Tips ketiga untuk mengecilkan area WWTP ini adalah dengan menambahkan media pelekat bakteri. Hah Buat Apa?

Proses biologi, adalah proses yang paling banyak memakan area di WWTP. Bagaimana tidak,  karena  dalam prakteknya minimalnya kita membutuhkan tangki dengan volume sehari debit untuk dapat mengolah air limbah yang mengandung zat organik.

bayangkan kalau debit air limbah sehari adalah 100 m3/day, maka kita memerlukan membuat tangki 100 m3 juga?

Nah daripada harus membuat tangki sebesar itu, pilihan selanjutnya adalah dengan memangkas area tersebut via pemasangan media pelekat bakteri seperti bio ball, honey comb dan juga organcyl.

Lihat Juga : Jual Tangki Panel Fiber Glass Kualitas terbaik

4. Mengecilkan Area WWTP dengan Underground Tank

Oke kita masuk ke tips ke empat. Di Tips ke empat ini kita dapat mengecilkan area WWTP dengan membuat underground tank. Alih-alih membuat tangki diatas tanah, kita dapat memilih untuk membuat tangki dibawah tanah dengan begitu bagian atasnya dapat kita manfaatkan untuk hal lainnya.

Tapi saya sarankan untuk bagian atas tangki underground ini tidak dibangun bangunan ataupun dipasang equipment dengan beban yang berlebihan, karena takut rubuh bos hehe (Dan ini serius)


5. Mengecilkan Area WWTP dengan Vertical Tank

Kita juga bisa memperkecil penggunaan area dengan membuat tangki yang setinggi mungkin. Namun yang harus tetap kita perhitungkan adalah gaya hidrostatis samping dari si tangki tadi jangan sampai membahayakan equipment atau area sekitar. Karena kita tahu bahwa semakin tinggi suatu tangki, maka tekanan air didalamnya akan semakin besar.

Lihat Juga : Politik dalam dunia pengolahan air limbah

6. Mengecilkan Area WWTP dengan Penyatuan Proses

Tips terakhir dari saya adalah, Anda dapat mengecilkan area WWTP dengan cara menyatukan beberapa proses menjadi satu. Dari pada membuat tangki reaksi, sedimentasi dan equalisasi. Anda dapat membuat 3 tangki tersebut sekaligus dalam satu tangki.

Jadi konsepnya adalah, ketika si air limbah tadi masuk ke tangki equalisasi dan tangki tersebut penuh, kita dapat mengaduk si limbah tadi dengan chemical (Reakasi) plus mengendapakan yang sludgenya sehingga dapat langsung ditransfer ke area pengeringan lumpur dan air jernihnya dapat dibuang ke badan air.

Nah Sekian Postingan kita pada hari ini. Mudah-mudahan kita dapat berjumpa lagi dalam kesempatan berikutnya.

Salam hangat,


Mr. Anggi Nurbana
0852 8832 5902
Baca selengkapnya

Monday, 19 September 2016

Cara Mengurangi dan Menghilangkan Busa Foam Pada Air Limbah

Cara Mengurangi dan Menghilangkan Busa Foam Pada Air Limbah

Kalau Busa Yang Ini Tidak Berbahaya dan Dapat Dinikmati (Sumber Gambar www.seriouseat.com)

Busa pada air limbah adalah salah satu hal yang cukup sulit untuk dapat ditangani. Selain menjengkelkan, busa sendiri dapat menyebabkan banyak masalah bagi pabrik, seperti :

1. Tidak terlihatnya proses di WWTP Akibat Tertutup Busa
2. Protes dari Masyarakat setempat akibat busa yang berterbangan ke lingkungan sekitar
3. Potensi kontaminasi B3 akibat busa berterbangan
4. Menurunnya efektifitas chemical pada reaksi kimia
5. Dimarahinnya Bagian yang berhubungan dengan WWTP (maintenance/utilty/engineering/ehs) hehehe.

Maka karena demikian banyaknya masalah yang akan ditimbulkan oleh si busa ini, tentu kita setuju untuk mengenyahkannya sebelum banyak korban jatuh bergelimpangan dimana-mana (Lebay Mode).

Namun pertanyaannya adalah bagaimana sih metode yang tepat dan murah (Tentu saja kalau urusan limbah harus yang paling murah) untuk dapat mengurangi bahkan menghilangkan busa foam pada proses pengolahan air limbah?

Temukan Dulu Sumber Foam/ Busa Pada Air Limbah

Seperti pengobatan dalam dunia medis, tentunya yang paling tepat untuk menyembuhkan seorang pasien yang sakit adalah dengan menemukan dimana sih akar penyakitnya? Karena dengan menemukan akar penyakitnnya, maka si pasien bisa sembuh total dan tidak kambuh-kambuh lagi.

Seperti teori diatas, maka untuk menyembuhkan "Penyakit" busa ini kita terlebih dahulu harus menemukan penyebab dari timbulnya busa itu sendiri agar "pengobatan" yang kita berikan dapat bersifat permanen.

Basic Knowledge : Perbedaan air Limbah dan Limbah B3

 Beberapa Sumber Terjadinya Busa

1. Udara Yang terperangkap Akibat Pengadukan
2. Bakteri Filament
3. Surfaktan
4. Injeksi Udara yang berlebihan

Setiap penyebab terjadinya busa tadi secara jelas dapat diketahui melalui investigasi lapangan oleh seorang waste water engineer yang didukung dengan pemeriksaan data history inlet, outlet dan operasional wwtp.

Nah setelah kita ketahui penyebab dari datangnya busa tersebut pada proses pengolahan air limbah kita, berikut ini adalah beberapa cara untuk mengurangi dan menghilangkan busa foam pada Air Limbah :

9 Cara Pengendalian Foam Pada Air Limbah


1. Kontrol Injeksi Udara
Proses ini dapat Anda pilih jika ternyata foam terjadi pada area-area yang menggunakan udara baik untuk pengadukan, ataupun untuk proses biologi. Seperti halnya tangki equalisasi ataupun tangki aerasi.

Dalam skala kecil, operator dapat mencobanya dengan mengambil sampel dan meniupkan udara pada sampel tersebut dengan sedotan (Sangat tidak disarankan namun demi kecepatan aksi cara ini bisa dilakukan). Jika pada sampel tersebut timbul buih yang cukup banyak maka operator bisa segera menurunkan injeksi udara yang masuk ke tangki.

Lihat Juga : Teknik Segregasi Air Limbah

2. Pemasangan Baffle
Cara kedua untuk menghilangkan busa dari air limbah ini dapat Anda pilih jika ternyata busa sering muncul pada area mixing. Dalam pengalaman saya, busa sering muncul pada penggunaan agitator dengan kecepatan tinggi dengan blade yang bersirip besar sehingga akan menghasilkan vortex ditengah tangki.

Proses pengadukan seperti ini selain dapat menimbulkan foam, juga tidak efektif dalam mencampurkan chemical atau zat-zat supaya homogen. Untuk itu penggunaan baffle adalah salah satu pilihan yang tepat. dengan adanya baffle, pola vortex akan dirusak sehingga udara yang terperangkap akan lebih sedikit dan proses pengadukan akan memberikan hasil yang lebih homogen.



3. Memecah Area Biologi
Pada beberapa kasus, seperti pada pabrik pengolahan minyak goreng, dan lemak. Beberapa bakteri filamenteus dapat tumbuh dan menyebabkan adanya lapisan seperti surfaktan di permukaan air limbah. Hal ini tentunya akan menyebabkan udara terperangkap diatas dan menjadi foam yang merepotkan.

Untuk menanggulanginya, disarankan untuk memecah area biologi dari satu kolam besar ke beberapa kolam kecil. Hal ini untuk mencegah tumbuhnya bakteri filamen, sehingga nantinya keberadaan foam dapat berkurang bahkan hilang.

Lihat Cirinya Kalau Mengundang Kontraktor! : Syarat-syarat Ahli Water Treatment

4. Pemisahan dan Eliminasi Surfaktan
Deterjen, Sabun dan semacamnya memang didesain mengandung surfaktan untuk dapat mengangkat kotoran. Hal tersebut sebenarnya bagus adanya, namun jika jumlah surfaktan terlalu banyak maka tentu akan membuat lapisan takut air yang sangat tinggi sehingga sulit ditembus udara untuk masuk ataupun keluar dari air limbah.

Solusinya adalah dengan meminimalisasi surfaktan yang masuk ke air limbah Anda. Atau Anda bisa juga menggunakan detergen yang lebih mudah diurai seperti detergen LAS.



5. Penggunaan Chemical
Penggunaan Chemical seperti Anti Foam, adalah solusi paling cepat yang dapat Anda ambil. Namun sejatinya solusi ini adalah solusi sementara saja, karena tidak mengangkat si penyakit dari akarnya. Dan walau terkesan cepat solusi penggunaan chemical anti foam untuk menghilangkan busa pada air limbah akan menambah beban operasional wwtp secara rutin.

Opsi ini saya sarankan diambil sebagai opsi urgen saja, yakni untuk mengatasi masalah jangka pendek saja dan bukan jangka panjang.

Butuh Chemical? Kontak Disini : Daftar bahan Kimia Water Treatment

6. Sprinkler Method
Metode penyemprotan air dari bagian atas tangki dapat menjadi pilihan yang cukup baik, jika Anda memiliki cukup air pada plant Anda. Dengan adanya air yang jatuh ke foam, maka foam akan terpecah dan berkurang.

Kekurangan dari cara ini adalah nantinya jumlah air limbah yang Anda olah akan bertambah akibat adanya air tambahan yang masuk ke sistem WWTP.

Lihat juga : Cara Menghilangkan Lumut dari Tangki

7.  Penggunaan Skimmer
Skimmer atau penyapu dapat menjadi pilihan tepat untuk kasus dimana si busa relatif stabil dan terukur ketinggiannya. Dengan penggunaan skimmer, si busa akan disapukan ke area tertentu dimana mereka dikumpulkan dan dipecahkan.



8. Konfigurasi Pemipaan
Cara selanjutnya untuk menghilangkan Busa Foam dari sistem pengolahan air limbah Anda adalah dengan mengatur pemipaan. Busa pada umumnya terjadi karena adanya kontak cairan dengan udara, sehingga mereka terperangkap dan menimbulkan gelembung.

Untuk mengatasinya, Anda dapat membuat pipa yang masuk kedalam tangki se rendah mungkin sehingga tidak terjadi benturan antara cairan dengan udara yang terlalu banyak.

9. Penumbuhan Bakteri Probiotik

Opsi nomor sembilan ini dapat diambil jika busa terjadi pada proses biologi khususnya area anaerob. Anda dapat menumbuhkan jenis bakteri prebiotik dari usus. Dimana mereka akan mencegah masuknya udara dan menggunakan udara yang ada untuk proses pemecahan rantai organik.

Nah Itu dia Daftar Cara Mengurangi dan Menghilangkan Busa/Foam Pada Air limbah. Untuk lebih jelasnya tentang desain dan konsultasi dapat menghubungi kami langsung di PT. CHEMINUSA.



Salam Hangat,


Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Wednesday, 14 September 2016

Teknik Pemisahan Sludge Dari Air Limbah

Teknik Pemisahan Sludge Dari Air Limbah

Bagaimana Menangani Sludge sudah demikian Banyak

Proses pengolahan air limbah bukanlah suatu proses yang selesai dalam satu langkah saja. Proses ini layaknya proses memasak, yang memerlukan persiapan, proses awal, pembumbuan hingga penghidangan.

Salah satu proses yang akan banyak kita temui dilapangan adalah proses pemisahan sludge dari air limbah. Yang dimana hal tersebut dilakukan untuk membuat parameter TSS, COD, BOD turun dan sekaligus agar air yang keluar tidak menjadi masalah (Akibat keruh jadi di komplen warga hehe).

Nah, apa saja sih teknik-teknik pemisahan sludge dari air limbah? Yuk kita lihat lebih lanjut dalam postingan ini.

1. Proses Pemisahan Lumpur Sludge dengan Gravitasi Alami

wtp adalah suatu proses untuk mendapatkan air bersih dari air kotor
Tangki sedimentasi menggunakan gaya gravitasi dalam menurunkan sludge

Proses yang paling banyak kita kenali dilapangan adalah dengan proses pemisahan secara gravitasi alami. Proses ini dikehidupan nyata banyak ditemukan saat seperti proses pengendapan tanah dari air. Air yang keruh jikalau ditaruh dalam bejana yang tenang, maka lama-kelamaan tanah yang ada dalam air tersebut akan turun dan mengendap menyisakan air bening dipermukaan atas.

Proses Gravitasi alami ini dalam suatu sistem WWTP direalisasikan dengan adanya suatu tangki sedimentasi.

Tangki sedimentasi sendiri bisa ditemukan dalam bentuk yang beragam, baik dalam bentuk kotak ataupun slinder. Namun yang jelas kesamaan dari kedua bentuk tersebut adalah dibagian bawahnya berbentuk seperti corong yang fungsinya untuk memudahkan proses penyedotan sludge yang sudah turun.

Lihat Juga : Pengenalan Air dalam dunia Boiler

2. Proses Pemisahan Lumpur Sludge Dengan Filtrasi

Filter sand carbon manganese dsb adalah beberapa contoh teknik ini

Cara yang kedua ini juga lazim ditemukan dalam suatu proses WWTP. Biasanya cara ini dipilih setelah kandungan lumpur atau sludge yang ada dalam air sudah sedikit (Dimana sebelumnya sudah didahulu proses sedimentasi agar lumpur berkurang). Sebab kalau tidak begitu maka bisa jadi celaka, karena sedikit-sedikit filter akan tersumbat dan akan mengakibatkan serinngnya proses maintenance (Backwash) dan juga penggantian media filtrasi.

Lihat Juga : Jasa Pembuatan TPS B3

Kalau di alam bebas proses filtrasi ini bisa kita temukan pada tanah. Dimana tanah akan berfungsi menyerap air dipermukaan dan memisahkannya dari kotoran kotoran. Selain itu kita juga dapat menemukannya dari proses penyaringan dengan bebatuan yang ada di sungai.

Kalau di suatu sistem WWTP, biasanya media yang digunakan berbentuk suatu media pasir (Sand Gravel), Carbon active, Membrane dan lainnya. Dimana air limbah dipompakan dengan suatu feed pump agar bisa melewati si media filtrasi tersebut. Hasilnya adalah air yang bening dan telah bebas dari kotoran tersuspensi. Bahkan pada beberapa kasus cara ini juga akan berhasil menurunkan kandungan zat zat organik serta mineral dalam air.

Lihat Juga : Cara Menurunkan COD dari dalam Air

3. Pemisahan Sludge Melalui Mesin

Filter press adalah salah satu mesin pemisah sludge dari air limbah

Teknik pemisahan ketiga ini juga cukup banyak akan kita temukan dilapangan. Biasanya cara ini digunakan setelah lumpur tersebut dikumpulkan dalam jumlah yang banyak namun masih mengandung air yang juga banyak, yah kalau bisa dibilang sekitar fifty fifty lah.

Proses pemisahan sludge melalui mesin ini juga biasanya dimaksudkan untuk menghasilkan lumpur yang hanya mengandung sedikit air. Hal ini ditujukan untuk mengurangi operational cost akibat biaya pembuangan sludge ke penampung limbah b3. Yah karena seperti yang kita teu, ongkos buang sludge ke penampung limbah B3 memakan biaya yang cukup mahal (rata-rata 800 – 1,2 jt per m3 limbah b3).

Lihat Juga : Cara Mengolah Air Gambut Menjadi Air Bersih

Beberapa nama alat yang berada pada area ini adalah ;

a. Drying Bed

Seperti namanya, drying bed adalah sebuah kolam dimana air lumpur ditidurkan sambil dikeringkan. Proses pengeringan biasanya akan menggunakan sinar matahari sebagai sumber panasnya. Air akan terserap melalui pori-pori yang ada di bed tersebut. Dan sludge akan kering setelah 1-2 hari.

Kekurangan dari menggunakan teknik pemisahan sludge ini adalah, diperlukannya area yang cukup luas dan juga sinar matahari yang cukup terik. Oleh karenanya teknik pemisahan sludge melalui metode Drying Bed amat tidak disarankan untuk pabrik yang memiliki area sempit ataupun pabrik yang berada pada area dengan suhu dingin (Kapan tau deh keringnya kalau suhu dingin mah).

b. Filter press

Kalau mesin kedua ini biasanya ditemukan pada pabrik-pabrik tempat memproses produk yang berhubungan dengan logam, seperti pabrik plating salah satunya.

Mesin filter press memiliki beberapa plat yang digunakan untuk menekan sludge sehingga berubah menjadi cake yang memiliki kandungan air dibawah 40%. Air filtratnya biasanya sudah bebas dari sludge dan siap dibuang ke lingkungan (jika baku mutunya telah tercapai).


Filter press ini juga biasa digunakan dibeberapa pabrik untuk memproses minyak goreng dan produk lainnya. Mesin ini biasanya dipilih untuk proses batch. Dimana prosesnya tidak continyu. Karena ada jeda waktu untuk mempress dan mengeringkan sludge tersebut.

bakteri tetap akan hidup walaupun keadaan untuk tumbuh ternyata tidak optimal
c. Belt Press

Belt Press ini adalah sebuah mesin pemisah lumpur dengan proses press menggunakan belt (Makanya namanya belt press hehe). Mesin jenis ini dapat dengan mudah dikenali dengan adanya conveyor yang bergerak memisahkan sludge yang telah di press.

Belt press ini biasanya dipilih untuk memisahkan sludge yang jumlahnya sangat banyak. Sludge diproses secara terus menerus dan nonstop selama jam operasi. Kekurangan dari penggunaan belt press ini adalah, sludge yang dipisahkan masih mengandung air cukup banyak yakni diatas 40%.

Makanya terkadang ada perusahaan yang menggunakan dehydrator untuk mengeringkan sludge dari belt press ini. Kalau tidak, wah bisa jebol kantong si boss karena harus membayar tagihan pengumpul limbah b3 yang tinggi.

Lihat Juga  : Inilah Alasan Kenapa History Record itu Penting di WWTP

d. Screw Press

Screw press biasa digunakan untuk memisahkan sludge yang memiliki kandungan minyak. Sludge dipisahkan dengan gerakan screw sehingga akhirnya terpisah dari air limbah. Screw press ini dapat ditemukan pada pabrik minyak goreng, pengolahan minyak bumi dan lainnya.
Mau Beli Alat Untuk Menghandle Sludge Anda? Hub. Kami Segera!

Wah tidak terasa sudah sampai tiga halaman deh artikel ini. Dan sekarang, mari kita nyate dulu mumpung baru aja dapet jatah daging dari Panitia Qurban hahaha.

PS :

Jika Anda ingin terus mendapatkan update artikel dari blog olah-air.com , Anda bisa mengklik follow pada tombol google plus ini. Dan bisa juga dengan LIKE Halaman Olah-Air.Com di Facebook.



Sampai jumpa di kesempatan berikutnya,



Salam Hangat,


Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Wednesday, 9 December 2015

Basic Knowledge in WWTP : Kenapa Koagulasi pHnya diatur

Basic Knowledge in WWTP : Kenapa Koagulasi pHnya diatur

Photo pas Solid Innorganic Lecture (KiKa : Junius, Adi, Rayza, Prof Nielsen, Mr. Anggi)

Dunia WWTP atau pengolahan air limbah adalah dunia yang cukup menarik bagi saya. Karena disana semua ilmu yang saya pernah pelajari atau bahkan ilmu pengetahuan alam yang paling basic sekalipun akan berlaku. 

Salah satu case yang sering ditanyakan oleh para operator ataupun peserta training saya adalah ini. "Pak kenapa sih kalau mau koagulasi pH nya dibikin diatas 7?"

Pertanyaan yang bagus dan cukup menarik. Ya.. Bagi kawan-kawan yang berasal dari bidang ilmu lainnya seperti mechanical ataupun electrical tentu memiliki pertanyaan yang sama. Memang sih lain halnya dengan teman-teman seperjuangan yang memiliki basic kimia seperti saya.

Hampir semua pengendapan terjadi di pH Basa

Saya masih teringat ketika zaman sekolah di salah satu sekolah analis kimia terbaik di Indonesia "SMAKBo". 

Disana pelajaran praktikum laboratorium yang pertama kali dipelajari adalah di Laboratrium Gravimetri. Dan hal yang cukup memorable bagi saya adalah ketika suatu garam dilarutkan terlebih dahulu dalam suasana asam (sekitar pH 3). Untuk kemudian di tambahkan basa, dan Puff.. Jadilah Coco Crunch Endapan (reaksi biasa terjadi di pH 7 ke atas).

Sama halnya yang terjadi dengan reaksi di IPAL atau Installasi Pengolahan Limbah, kita dapat menemukan hampir semua IPAL akan memiliki dosing pump yang memiliki tugas menginjeksi basa ke tangki reaksinya. 

Ya walaupun ada beberapa yang karena air limbahnya sudah terkondisi basa tidak diinject, tapi mari lewatkan alasan ini dulu (Saya akan membahasnya di tulisan lainnya).

Jangan Lewatkan Dasarnya diSini : Teknik Dasar Pengolahan Air Limbah

Reaksi Standar di Sebuah IPAL

Masih berbicara tentang sebuah basic knowledge in WWTP, ini adalah sebuah reaksi standar dari sebuah sistem pengolahan air limbah. Anda dapat menemukannya hampir disemua tempat IPAL (Please kalau ada yang email saya dengan berlagak sok tau.. Saya sudah tuliskan hampir di semua, "Bukan disemua". Karena saya juga pernah membuat desain IPAL yang tidak memakai reaksi ini).

Reaksi diawali dengan adanya penambahan bahan kimia asam, biasanya adalah Asam Klorida ataupun Asam Sulfat. Dan Anda dapat menemukan ditangki reaksi pertama ada sebuah pH meter.
Tujuan dari proses pengasaman ini adalah untuk menyempurnakan proses pelarutan zat-zat organik maupun inorganik dalam air limbah. Sehingga, ketika terjadi proses pengendapan nanti maka endapan atau sludge yang terjadi bersifat homogen.

Selanjutnya Reaksi akan dilanjutkan dengan proses Pengkondisian basa. Penambahan basa ini ditujukan agar mendapatkan suasana basa. Sebab, mengingat sudah menjadi hukum alam bahwa kebanyakan logam dan mineral akan mengendap dalam suasana basa. (Untuk lebih jelasnya, saya menyarankann Anda untuk membeli buku Vogel jilid I dan II).

bakteri tetap akan hidup walaupun keadaan untuk tumbuh ternyata tidak optimal


Setelah proses pengkondisian dalam suasana basa terjadi, Anda akan menemukan penambahan koagulan disana. Untuk proses ini ada cukup banyak koagulan yang bisa dipilih yang tentu akan kembali pada jenis limbah yang sedang diolah disana.


Sedikit Bicara Tentang Koagulan
Beberapa koagulan yang biasa terdapat dipasaran Antara lain adalah PAC, Tawas, dan FeCl3. Untuk PAC biasa digunakan pada limbah dengan kadar zat anorganik yang cukup tinggi. Biasanya IPAL yang memakain PAC sebagai koagulan adalah IPAL dengan kadar mineral Nickel, dan Alumunium. Anda juga bisa menggunakannya untuk pengolahan limbah domestik.

Untuk koagulan tawas, biasanya digunakan untuk pengendapan dalam suasana basa yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan tawas bersifat cukup asam, dan akan menurunkan pH effluent hingga dibawah angka baku mutu air limbah. Biasanya tawas digunakan untuk air limbah yang mengandung organik cukup tinggi (Darah salah satunya), atau bisa juga untuk pengendapan Cobalt, dan Fluoride.

Koagulan lainnya adalah FeCl3. Ferric Chloride akan anda temukan pada beberapa pabrik tekstil. By the way.. saya rasa untuk masalah jenis jenis bahan kimia pengendap atau koagulan akan kita skip saja ya.. (Saya akan buat postingan tentang ini nanti).

Kembali ke suasana basa, Kok di akhir ada penambahan ini juga?
Terkadang Anda akan menemukan bahwa di beberapa IPAL ada penambahan NaOH lagi di bagian belakang atau effluent. Apa sih fungsi dari pengaturan pH disana?
Kalau yang dibelakang ini ada pengaturan pH biasanya sih karena kita harus mengacu pada standar baku mutu yang berlaku. Sebagai informasi tambahan, bahwa standar baku mutu untuk air limbah pH nya adalah di angka 6-9.

Sehingga Anda harus mengkondisikan pH di outlet berada pada angka tersebut. atau siap-siap saja ketika ada sidak dari pengelola kawasan atau dari LH setempat anda akan diberikan warning atau denda.


Oke ya bro, sis, sir, mam... Sudah dulu..
Untuk tulisan selanjutnya mudah-mudahan dapat segera di Updat.
Btw.. Jika Anda tertarik dengan Rahasia pengolahan Air bersih maupun air limbah. Silahkan add Google Plus saya. Di Anggi Nurbana.

Sekedar Intermezzo (ane bahas lanjutan kondisi koagulasi pH juga disana), google memiliki fasilitas ini. Sehingga ketika Anda add saya di google plus, maka secara otomatis update dari website ini akan masuk ke inbox teman-teman.

Oiya.. Satu lagi.. Jika yang bisa bahasa inggris.. Saya juga menulis untuk website Internasional tentang pengolahan air di On-Water.Us di situs itu ada beberapa artikel yang tidak saya tulis disini. Jadi silahkan dicek ya..

Akhirul kalam.. Yang benar datangnya dari ALLAH SWT dan yang salah dari diri saya pribadi. Mohon maaf kalau ada salah-salah kate..  :)

PS: 
Btw.. Buat para "Tukang Iri dan Pamer" saya menulis untuk memberikan pengetahuan kepada rekan-rekan yang mau belajar tentang pengolahan air. 

Jadi.. Dari pada Anda SMS saya atau email SPAM dengan bahasa-bahasa tidak sopan. Mengapa Anda tidak menjadi penulis saja disini :).  Kalau benar teori anda bisa dipraktekan, tentu akan banyak orang yang tertarik.

Mari jadikan Indonesia lebih bersih, aman dan bebas pencemaran

Salam Olah-Air.Com

Mr. Anggi Nurbana 
Water and Wastewater Treatment Specialist
Email : anggi.kkei@gmail.com
HP : 0852 8832 5902

Baca selengkapnya