Showing posts with label Biogas. Show all posts
Showing posts with label Biogas. Show all posts

Friday, 17 August 2018

Cara Menghilangkan Pengotor dari Biogas

Cara Menghilangkan Pengotor dari Biogas

Cara tercepat untuk membuat biogas menjadi bersih

Hallo sobat olah-air.com sekalian, senang sekali ketemu libur yang cukup panjang. Yang artinya saya bisa memberikan beberapa materi untuk website tercinta yang akan membahas tentang solusi-solusi dalam bidang water treatment dan environmental engineering.

Kali ini sesuai subject, kita akan membahas tentang cara menghilangkan pengotor dari biogas. Biogas adalah gas methane yang dihasilkan dari proses anaerobic yang banyak digunakan sebagai sumber energi. Dan rasanya untuk bahasan sejarah dan beberapa bahasan lainnya bisa ditemukan dalam link dibawah ini :

4 Partikel Pengotor / Pollutant pada Biogas dan Cara Menghilangkannya !

Ada setidaknya 5 partikel/senyawaan yang biasa kita temukan dalam biogas yang dihasilkan. 5 jenis partikel ini akan menurunkan kualitas dari biogas yang dihasilkan, merusak fasilitas biodigester dan juga akan membuat biogas yang dihasilkan gagal untuk menyala.

Dan dalam artikel ini kita kan membahas tentang apa sajakah mereka dan cara untuk menghilangkan pengotor tersebut dari Biogas.

Baca Juga :
- Pretreatment untuk Proses Biogas
- Sejarah Asal Mula Penggunaan Biogas 
- Proses Anaerob Penghasil Biogas

A. Uap Air

Air dapat kita temukan hampir disemua bahan baku dari biogas ini. dari mulai kotoran hewan ternak, limbah sawit, sampah organik, dedaunan kering (Jerami dsb) dan lainnya semuanya mengandung air maka tentu saja air akan menjadi salah satu kandungan yang keluar bersamaan dengan gas methane.

Keberadaan uap air dalam biogas dapat membuat biogas yang dihasilkan gagal ignite, dan berkualitas rendah. berikut ini adalah beberapa cara yang bisa diambil
 1. Mendinginkan Biogas dengan Passive Cooling ; 
Pipa pentransfer Biogas dapat dipendam dalam tanah untuk memberikan efek pendinginan pasif, untuk selanjutnya uap air akan menjadi kondensat yang dapat dipisahkan.

2. Pendinginan dengan Heat Exchanger
Biogas dapat didinginkan dengan dilewatkan pada heat exchanger, kemudian gas yang sudah dilewatkan dikeringkan.

3. Penyerapan Uap Air
Cara ini adalah yang paling umum dan gampang diaplikasikan. wadah pengumpul biogas diletakan bahan penyerap air seperti silica gel, kapur, glycol atau lainnya. Air akan terserap pada absorbent dan gas yang keluar akan lebih bersih dari uap air.

Baca Juga : Konsultan Pengolahan Air Indonesia

B. H2S atau Sulfida

Sulfida akan banyak ditemukan pada biogas yang dihasilkan dari sampah organik ataupun dari kotoran. Kandungan sulfida yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya korosi pada biodigester, dan juga bisa merusak tungku. Sulfida juga kita tahu dapat mereduksi senyawaan metal/logam sehingga menjadi karat dan rusak.

Keberadaan Sulfida dapat dideteksi dari baunya yang seperti telur busuk.

Cara untuk menghilangkan pengotor sulfida dalam biogas adalah sebagai berikut :

1. Proses Water Scrubbing
Biogas dilewatkan pada water scrubber tower. Dimana air disemprotkan dan airnya yang turun ke bawah akan mengandung sulfida, sedangkan udara yang keluar akan bebas dari sulfida. biasanya proses dilanjutkan denngan menggunakan gas dryer.

2. Menggunakan Karbon Aktif
Karbon aktif diletakan pada jalur aliran biogas atau tempat penyimpanan biogas. Carbon aktif dapat menyerap sulfida dan pengotor lainnya sehingga biogas yang dihasilkan bisa lebih bersih.

3. Menggunakan Fe(OH)3
Besi atau bahan kimia Besi Hydroksida bisa juga digunakan untuk menyerap sulfida. Sulfida akan menyebabkan Fe(OH)3 berubah menjadi FeS yang berwarna hitam

Cara Mendesain Biodigester

C. Ammonia

Ammonia pada biogas dapat menyebabkan timbulnya bau pesing pada biogas dan menyebabkan korosi pada peralatan dan pemipaan. Untuk menghilangkan ammonia dapat menggunakan beberapa cara berikut :

1. Water Scrubber
Prinsipnya sama dengan ketika menghilangkan Sulfida. Sifat ammonia yang larut di dalam air, akan membuatnya turun bersamaan dengan turunnya tetesan air dari water scrubber.

2. Proses pendinginan
Bisa dengan menggunakan proses passive cooling, dimana ammonia nanti akan terikut bersama dengan uap air yang mengembun. Namun proses water scrubber masih menunjukan hasil yang lebih baik dari pada proses ini.

Baca Juga : Solusi dari Permasalahan di Cooling Tower

D. Partikel atau Debu

untuk menghilangkan partikel debu ataupun yang sejenis dari biogas dapat dengan menggunakan dust filter atau pun semacam dust collector. Nanti akan diperlukan semacam blower ataupun compressor untuk mempercepat proses ini.

Oke Sobat olah-air.com itu dia cara-cara untuk melakukan pemurnian pada Biogas. Untuk aplikasi secara besar dan skala komersial tentang plant biogas, dapat menghubungi kami secara langsung.



Baca selengkapnya

Thursday, 2 August 2018

Pretreatment Untuk Proses Menghasilkan Biogas

Pretreatment Untuk Proses Menghasilkan Biogas di Biodigester

Biogas dihasilkan dengan mesin biodigester


Selamat malam, sobat sekalian. Alhamdulillah sekarang bisa kembali menulis ditengah kesibukan proyek yang sunggu menyita perhatian dan waktu. Kali ini kita masih akan membahas tentang proses Biodigester untuk menghasilkan biogas dari Biomassa.

Dalam postingan sebelumnya tentu sudah dijelaskan tentang pengertian dari Biogas dan Sejarahnya. serta beberapa proses anaerob untuk menghasilkan biogas.

Kalau belum, maka sobat Olah-Air.Com dapat membacanya pada postingan dibawah ini.

Kali ini sesuai dengan subject, kita akan membahas tentang proses pretreatment untuk menghasilkan Biogas dari alat biodigester. Yang akan kita bahas ini, adalah tentang aplikasi pada Biodigester skala kecil. Yakni skala 25 Kg perhari hingga 250 kg perhari. Skala kecil ini biasanya diterapkan pada alat biodigester yang dipasang pada pemukiman pendudukan yang cukup padat, dengan tujuan untuk menurunkan jumlah sampah, dan memberikan imbal balik energi untuk dapur umum.

Apa saja sih, proses pretreatment untuk menghasilkan biogas, langsung saja kita Cekidot dibawah ini :
- 6 Teknik Anaerob Penghasil Biogas
- Sejarah Komersialisasi Biogas

1. Pemilahan Sampah Yang Bisa dan Tidak

Proses pertama yang harus dilakukan pada sampah atau biomassa yang akan dimasukan pada biodigester adalah kita harus melakukan pemilahan terlebih dahulu. Kita pilah, mana sampah yang dapat diproses dengan bakteri pengurai sehingga menjadi biomassa penghasil biogas dan mana sampah yang tidak dapat terurai.

Pada umumnya, semua sampah yang sulit terurai seperti : plastik, kaca, kaleng, logam, fiber, bahan bakar harus dipisahkan terlebih dahulu. Sehingga tidak terjadi kerusakan pada biodigester.

Lalu beberapa sampah organik yang sulit terurai juga harus dipisahkan agar tidak merusak atau memberikan "penyakit" pada biodigester. Beberapa sampah organik yang juga harus turut dipisahkan (Berdasarkan pengalaman) antara lain :

a. Daun Pisang
Daun pisang, dilapangan dapat menyebabkan Biodigester menjadi kembung seperti orang bunting (Asli ini pengalaman). Walaupun masih tergolong sebagai bahan organik, namun ternyata dilapangan daun pisang ini sulit diuraikan oleh alat biodigester.

Daun pisang, dalam jumlah yang cukup banyak akan menggumpal dalam biodigester, dan tidak turut hancur menjadi slurry. Hal ini menyebabkan proses peleburan dan pemecahan gas methane menjadi terhambat. Berujung pada biodigester yang membengkak.

Oleh karenanya, sangat dianjurkan (Wajib dah) untuk memisahkan daun pisang dari sampah yang akan masuk ke dalam biodigester.

Daun pisang dapat dikubur dan diberikan taburan slurry dari biodigester sehingga berubah menjadi kompos bagi tanah.

Cara pretreatment untuk proses biogas


Lihat Juga : Cara Melihat Keterkaitan Parameter di Hasil Analisa Air Limbah

b. Kayu
Bahan organik kedua yang sangat disarankan untuk dipisahkan sehingga tidak masuk ke dalam biodigester yang kita kelola. Zat lignin dalam kayu, merupakan salah satu zat yang akan menghambat proses penguraian, karena lignin terdiri dari makromolekul kompleks.

Makanya, disarankan untuk tidak memasukan kayu (apalagi dalam ukuran besar), kedalam alat biodigester.

c. Biji Mangga dan Alpukat
Sampah organik ketiga adalah kedua jenis biji ini. Saya juga belum menemukan alasan kenapa kedua jenis biji ini sulit diuraikan dalam alat biodigester. walaupun tidak sampai menyebabkan biodigester menjadi "sakit" seperti akibat memakan daun pisang. namun biji mangga dan alpukat ini setelah lama diproses dalam biodigester ternyata tidak menjadi hancur. Malahan akan keluar seperti bentuk aslinya bersama dengan slurry.

Yang jelas, kedua jenis biji ini dapat menghambat pada saluran keluar slurry karena keduanya tida menjadi hancur dalam proses penguraian dalam biodigester.



Lihat Juga : Memasukan Nilai Ergonomi dalam tata letak System

d. Makan Yang Kemungkinan Mengandung Kimia
Jenis sampah organik keempat yang harus dipilah ini disebabkan karena bahan kimia dalam makanan tersebut akan mengganggu proses penguraian bakteri penghasil biogas dalam biodigester. Makan seperti Ikan Asin, bakso serta makan instan curah lain seperti kornet dan nugget curah kemungkinan mengandung Boraks, Formalin dan pengawet lainnya yang sebaiknya dipisahkan dari sampah organik yang akan masuk ke dalam biodigester.

Boraks, Formalin serta bahan pengawet dapat memberikan efek anti oksidasi dan anti bakteri. Sehingga dilapangan dapat membuat proses penguraian menjadi lebih sulit. Hasilnya adalah biodigester menjadi lebih cepat penuh dan lebih sedikit biogas atau gas metane yang dihasilkan.

Lihat Juga : Teknik Pengolahan Limbah di Pabrik Sawit


Cara Mengolah Sampah untuk proses biogas di Peta hijau


2. Pencacahan Sampah Organik

Proses pretreatment kedua adalah dengan mencacah sampah yang akan masuk ke dalam biodigester. Sampah organik dicacah atau dipotong potong dalam bentuk ukuran sekitar 2cm. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses penguraian oleh bakteri.

Proses pencacahan bisa dilakukan dengan menggunakan pisau ataupun dengan mesin pencacah tersendiri.

Lihat Juga : 7 Point Penting dalam mendesain STP

3. Pencampuran Sampah Organik

Proses pretreatment terakhir adalah dengan melakukan pencampuran sampah tadi ke dalam alat biodigester.

Sampah dimasukan perlahan sambil dilakukan pengocokan. Tujuannya agar tidak terjadi penumpukan biomassa dalam satu sisi biodigester saja. Dengan pencampuran perlahan juga, untuk menghindari air sampah menjadi berceceran.

Itu dia 3 proses pretreatment yang biasa dilakukan pada alat biodigester skala kecil untuk menghasilkan biogas. Semoga bermanfaat. Dan stay tune terus dengan Google Plus Mr. Anggi Nurbana agar selalu mendapatkan Update Informasi tentang pengolahan air dan air limbah.

Salam Lingkungan



Mr. Anggi Nurbana


Baca selengkapnya

Sunday, 1 July 2018

Sejarah Asal Mula Komersialisasi Biogas

Sejarah Asal Mula Komersialisasi Biogas


Saat ini kita semua tentu mengetahui bahwa sebagian besar energy yang diperlukan oleh manusia dihasilkan dari sumber daya tak terbarukan. Yang dimana sumber daya tersebut, setelah pemakaiannya akan meninggalkan “Jejak” racun bagi bumi.

Hal ini tentu, semakin menjadi masalah ketika racun tersebut menjadi boomerang bagi kehidupan aneka ragam mahluk hidup di bumi ini dengan dampaknya yang bernama pemanasan global.

Padahal selain sumber energy tak terbarukan yang biasa disebut fossil energy resource, bumi kita ini juga memiliki sumber daya terbarukan yang juga disebut renewable energy resources.

Renewable energy resources yang sudah banyak dilirik antara lain : tenaga air, tenaga angin, tenaga panas bumi (geothermal), dan juga ombak. Namun ada satu sumber daya lainnya yang ternyata masih sedikit kita manfaatkan, malah hampir semua pihak menggapnya hanya sebagai masalah yang harus dienyahkan yakni energy biomassa.

Biomassa secara mudah adalah bahan bakar yang dihasilkan oleh system yang dapat diperbaharui. Contohnya seperti biofuel ataupun biogas yang dihasilkan dari bahan baku tanaman yang diproses sedemikian rupa sehingga menjadi bahan bakar.

Salah satu biomassa yang cukup dikenal dan banyak dihasilkan dari proses pengolahan air limbah adalah biogas.

Sejarah Proses Biogas


Menurut para peneliti sejarah proses pengolahan air limbah yang menghasilkan biogas, telah mulai dilakukan sejak zaman sumeria (3000 tahun sebelum masehi). Dimana bangsa tersebut menggunakan proses anaerob untuk mengolah limbah domestic mereka.

Dan dalam sejarah yang dicatat oleh bangsa romawi, mereka telah biasa mengenal terjadinya gas yang terbakar diatas rawa sejak 50 tahun sebelum masehi.

Pada tahun 1776 Alessandro Volta memulai penelitian tentang biogas dengan mengumpulkan gas yang dihasilkan dari rawa Lake Como. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa udara yang keluar dari hasil fermentasi bisa memiliki sifat eksplosif ketika bertemu dengan udara bebas.

Ukuran yang tercatat paling awal yang saya baca adalah percobaan Louis Pasteur pada tahun 1884. Pada tahun tersebut beliau mencoba mendapatkan biogas dari kotoran kuda yang dikumpulkannya di jalanan kota Paris. Bersama dengan muridnya yang bernama Gavon, Louis Pasteur berhasil menghasilkan 100L gas methane dari 1 kubik kotoran kuda yang difermentasikan.

Louis Pasteur menyatakan bahwa dengan nilai konversi seperti ini, dan melihat jumlah kotoran yang berserakan di Paris, dia yakin bahwa proses ini dapat mengcover kebutuhan listrik jalanan kota paris jika diseriusi.

Produksi Biogas Pertama Untuk Keperluan Komersial


Dari hasil publikasi penemuan Louis Pasteur tersebut akhirnya pemerintah Prancis memberikannya kesempatan untuk memulai proyek pembuatan biogas. Akhirnya pada tahun 1897 lampu jalan di Paris menyala dengan menggunakan limbah domestic dengan proses anaerob. Hanya saja ternyata masih banyak gas methane yang terbuang di lingkungan dimana hal tersebut cukup berbahaya.

Usaha Penyempurnaan Proses Pembuatan Biogas


Pada tahun 1904 seorang ilmuwan bernama Travis melanjutkan proses produksi biogas dengan menggabungkannya dengan proses pengolahan air limbah. Dan pada tahun 1906 Sohngen menemukan adanya asam asetat sebagai hasil samping. Dia juga menemukan bahwa Methane terbentuk dari tiga senyawa yakni Formate, Hydorgen dan Carbon Dioxida (Ini kesimpulan dia ya, saya juga tahun kalau unsur utama Methane itu hanya Carbon dan Hydrogen).

Pada tahun 1906 seorang ilmuwan bernama Imhoff yang berasal dari Jerman mendesain sebuah tangki anaerob dengan waktu retensi selama 60 hari yang hari ini kita kenal sebagai “Imhoff Tank”.


Dan penjualan Biogas diprakarsai di Jerman pada tahun 1923, dimana Biogas mulai dijual kepada masyarakat luas. Dan hingga hari ini terus meluas ke seluruh dunia.

Pada tahun 1947, Imhoff mempublikasikan lagi hasil penemuannya yang menyatakan bahwa ; kotoran sapi memiliki potensi 100 kali biogas dibandingkan dengan limbah domestic. Hal serupa juga tidak jauh beda dengan kotoran ternak lainnya seperti kotoran kuda dan kotoran babi. Dan dari sana pada tahun 1950, sekitar 50 Plant Biogas dipasang di Negara Jerman.

Biogas Di Indonesia


Di Indonesia sendiri proses pembuatan biogas sudah cukup popular di kota-kota besar, hanya saja penggunannya yang paling banyak hanya sekedar untuk produksi gas bagi keperluan rumah tangga biasa saja. Dan plant ini sudah banyak dipasang oleh team kami di Daerah bandung, Sumedang, Surabaya dan daerah lainnya di Indonesia.

Untuk plant besar skala komersial, salah satu yang cukup terkenal adalah yang dimiliki oleh PT. Sewatama yang dibangun di daerah Kalimantan Selatan. Biogas Plant ini menggunakan POME (Palm Oil Mill Effluent) sebagai sumber karbonnya.

Biogas Plant ini diharapkan mampu menghasilkan energy sebanyak 2,4 Mega Watt dan dalam pengoprasiannya diharapkan dapat bersinergi dengan PT. PLN Area Kalimantan.

Harapan Untuk Proses Biogas Ke Depannya


Proses generasi energy dari limbah ataupun biomassa seperti Biogas ini harus kita dukung dan aplikasikan. Sebab proses ini selain mampu menciptakan energy terbarukan, juga dapat membantu mengolah air limbah menjadi sesuatu yang berguna dan membuatnya lebih aman bagi lingkungan.

Indonesia diharapkan menjadi Negara yang turut menghasilkan energy lewat jalan ini. Sebab Indonesia saat ini memiliki pabrik pengolahan sawit yang cukup banyak, dan tentu menghasilkan limbah yang luar biasa pula.

Akhir Kata : Mari Kita Ubah Frame Berpikir Kita


Untuk Anda yang selalu berpikir bahwa pengolahan limbah hanya menguras kantong Anda (Ya karena kelestarian lingkungan tidak menjadi main interest para pengusaha besar), maka lihatlah bahwa sesungguhnya limbah yang Anda buang masih memiliki nilai jual dan potensi energy yang besar. Maka berpartisipasilah dalam mengembangkannya dan mengaplikasikannya pada sector yang Anda pegang.



Salam Lingkungan



Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya