Showing posts with label Bio Pori. Show all posts
Showing posts with label Bio Pori. Show all posts

Tuesday, 31 January 2017

Bagaimana Caranya Membuat Biopori menjadi Benar Berguna?

Bagaimana Caranya Membuat Biopori menjadi Benar Berguna?

Bagaimana cara membuat biopori yang bagus

Kalau secara bahasa, judul yang saya buat ini mungkin agak sukar dicerna. Karena disusun atas pola kata-kata yang tidak SPOK. Well kalau menurut Anda salah, ya saya minta maaf.. karena ini website bukan buat belajar tatanan kata juga hehe..

Sebenarnya tulisan ini dapat dibilang sebuah tulisan agak menyindir. Iya menyindir para pembuat biopori diluar sana yang membuat biopori palsu, atau biopori KW atau Biopori tanpa guna. 

Kenapa saya bilang begitu, sebab biopori yang banyak dibuat orang diluaran sana dengan harga murah hanyalah lubang sepanjang 50 cm saja ditanah. Yang dalam 2-3 bulan sudah terurug dengan tanah dan hilang ditelan bumi. weleh-weleh..

Nah makanya tulisan ini, mudah-mudahan mencerahkan Anda yang ingin membuat biopori pada perusahaan Anda. Dan biopori tersebut adalah biopori yang sesuai dengan standar dan juga benar-benar berfungsi untuk meresapkan air.

Mau tau caranya? Yuk kita simak saja langsung dalam artikel ini.


1 Buatlah Biopori Dengan Desain yang sesuai



Suatu biopori akan benar-benar berguna jika dibuat dengan desain yang sesuai. Desain tersebut akan termasuk lubang ditanah berukuran 4 inch dengan kedalaman 80-100 cm, isi lubang yang terdiri dari pipa 4 inch berlubang, kawat tempat bahan kompos dan sampahnya.

Jika ada kekurangan satu saja, maka akan biopori yang dibuat bisa dibilang cacat dan tidak akan memberikan manfaat yang sempurna. Terutama dalam menyerap air.

Yang banyak saya temukan dilapangan adalah, Biopori yang dibuat hanya berupa lubang berukuran 4 inch dengan kedalaman kurang dari 60 cm. Yang tentu saja biopori macam itu dalam waktu cepat akan terurug tanah dan menjadi tidak berguna.


2 Penempatan Biopori yang proporsional


Hal kedua yang membuat suatu biopori berguna atau berfungsi secara maksimal adalah karena penempatannya yang proporsional.

Untuk mendapatkan hasil terbaik dari pembuatan biopori, disarankan untuk menbuat biopori dengan jarak antara biopori antara 3-5 meter. Hal ini bukanlah patokan pasti namun lebih kepada best practice yang saya alami dilapangan. Dimana itulah yang saya temukan dari kemampuan penyerapan biopori.

Jangan membuat biopori dalam rentang jarak yang terlalu dekat, sebab akan mengurangi fungsi masing-masing biopori dan malah membuat area tersebut tidak bisa difungsikan.

apakah Anda tahu bahwa manusia itu membuat hujan buatan

3 Bagian atas Biopori tertutup namun masih bisa memungkinkan air masuk

beberapa tutup yang disarankan adalah dof yang lain
|Tutup Bagian Atas Biopori dengan loster
Hal ketiga yang harus diperhatikan untuk membuat biopori tetap berguna adalah dengan membuatnya dengan tutup.

Biopori yang dibuat tanpa tutup akan membuat binatang-binatang sekitar masuk dan merusak kedalam lubang biopori tersebut. Selain itu, dapat saja sampah-sampah yang tidak dapat diurai oleh tanah menjadi masuk dan membuat biopori tersebut tertutup dan tidak dapat menyerap air hujan lagi.

Untuk itu, tutuplah bagian atasnya agar biopori yang telah anda buat tidak menjadi sia-sia. Namun jangan ditutup permanen, tapi pakailah tutup yang berlubang yang mudah untuk dibuka dan ditutup kembali tanpa menggunakan alat khusus.

4 Jumlah Biopori yang sesuai

Jasa pembuatan biopori yang benar
Proses pemasangan tutup biopori


Hal keempat yang harus Anda ingat agar biopori yang Anda buat benar-benar berguna adalah dengan membuat biopori dalam jumlah yang sesuai.

Sesuaikanlah jumlah biopori yang akan Anda buat dengan perhitungan jumlah biopori yang diberikan oleh konsultan atau pihak BPLHD. Karena, percayalah bahwa jumlah biopori tersebut keluar karena berdasarkan perhitungan dengan dasar data-data luas perusahaan Anda berbanding area kedap air.

Jikalau kita terlalu sedikit membuatnya, maka kemungkinan besar akan tetap ada air tergenang dan tidak masuk kedalam tanah sebanyak yang seharusnya.

5 Biopori diMaintenance Secara Berkala


Terkadang kita dilapangan, pasti menemukan ada beberapa masalah yang membuat alat yang sudah kita buat tidak lagi berfungsi dengan baik. Begitu halnya dengan biopori ini.

Anda akan menemukan dalam beberapa minggu akan ada serangga yang masuk dan mungkin bersarang, karena lubang biopori ini cukup nyaman bagi mereka. Kalau untuk masalah ini mungkin tidak terlalu mengganggu, namun tetap dibutuhkan pengecekan berkala.

Buanglah sampah non organik yang masuk ke lubang dan keluarkanlah daun-daun yang sudah menjadi kompos dan gantilah dengan daun yang baru.

Dengan proses maintenance secara berkala, maka Anda dapat menjaga keadaan biopori yang ada sehingga tidak berkurang ataupun menjadi malfungsi.

Yup Demikian 5 Cara untuk membuat Biopori yang benar-benar bermanfaat bagi Anda dan juga lingkungan. Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang Biopori. Silahkan saja melihat beberapa artikel dibawah ini. Atau Anda juga bisa mengikuti saya di G+.


Baca selengkapnya

Thursday, 1 September 2016

Cara Menentukan Jumlah Biopori dan Sumur Resapan



Hallo sobat olah-air.com semuanya, jumpa lagi bersama dengan Mister Anggi yang kali ini akan mengulas sedikit tentang suatu hal yang menjadi pertanyaan beberapa pembaca setia disini (dan termasuk teman-teman di WA) yakni tentang bagaimana sih cara menghitung jumlah Biopori dan sumur resapan yang benar?

Yup dalam tulisan kali ini kita akan membahasnya bersama-sama baik dari segi pengalaman dan juga teori yang ditemukan dilapangan. Tapi sebelum kita lebih jauh melangkah, marilah kita ulangi kembali deskripsi singkat tentang Sumur Resapan dan Biopori.


Definisi Sumur Resapan dan Bio Pori


Sumur resapan adalah suatu sumur yang didesain untuk dapat meresapkan air hujan ke dalam tanah. Bentuk dari sumur resapan ini bisa bulat silinder ataupun kotak berbentuk balok dengan kedalaman tidak lebih dalam daripada tinggi muka air tanah.

Sedangkan Biopori adalah versi kecil dari sumur resapan, yakni sebuah lubang dengan ukuran diameter 10 cm (4 Inch) hingga 15 cm (6 Inch) dengan kedalaman sekitar satu meter.

Persamaan antara keduanya adalah, sama-sama masuk di dalam perundang-undangan MenLH 12 tahun 2009 dan untuk di pergun ada di perihal pemanfaatan air hujan. Plus keberadaan mereka berdua sudah seperti saudara yang tidak terpisahkan.

Cara Menghitung Jumlah Sumur Resapan dan Biopori


Sebenarnya cara menghitung jumlah kedua bangunan (Kalau bisa dibilang begitu) sudah dijabarkan dalam peraturan perundang-undangan. Namun memang tidak sangat spesifik, dan kadang menghitung sesuatu kalau tidak ada tuntunan atau contoh perhitungannya akan menjadi cukup menyulitkan, oleh karenanya silahkan ikut langkah-langkah berikut :

1. Dapatkan data-data Penting

Persiapkanlah data-data yang akan kita gunakan untuk menghitung, data tersebut adalah jumlah area keseluruhan perusahaan ataupun instansi dan juga jumlah luas seluruh area yang tertutupi bangunan konkrit (termasuk kedalam jalan).

Kedua data tadi akan sangat berguna dan tentunya harus didukung oleh adanya lay-out dengan skala yang menjelaskan tenang luas tersebut (Ingat data dokumen lebih kuat daripada sekedar omongan kira-kira).



2. Cari Jumlah Luas Sumur Resapan atau Biopori Existing

Langkah kedua ini cukup penting, terlebih bagi perusahaan dan pelaku industri. Kenapa? Sebab supaya bisa membuat jumlah biopori dan juga sumur resapan semakin sedikit. Makanya ingat-ingat sebanyak mungkin luas sumur resapan yang sudah ada dan juga biopori yang sudah ada.

3. Cari Area Untuk Menempatkan

Untuk sumur resapan, area yang menjad sasaran sudah jelas adalah di dekat gedung yang dmana disana ada pipa talang limpasan air. Sedangkan untuk Biopori tentu yang menjadi tempat adalah area dimana tidak ada kendaraan lalu lalang disana, mungkin yang bisa dipilih adalah area sekitar taman dan juga pekarangan lobby (Untuk Show Off).



4. Mulai Menghitung

Yang palling pertama mari kita berhitung tentang jumlah sumur resapan yang harus dibuat.

Diketahui luas area adalah 7000m2 dan luas area yang tertutupi bangunan dan kedap air adalah sekitar 4000 m2. Ketinggian muka air tanah adalah 3 meter. Maka jumlah area sumur resapan yang perlu dibuat adalah 4% dari area kedap air. Yakni 0.04 x 4000 = 160 m2 yang harus jadi sumur resapan.

Untuk jumlah sumur resapan dalam unit adalah total luas area sumur resapan yang harus dibangun, dibagi dengan volume sumur resapan yang akan dibuat. Dan harus diingat untuk kedalaman sumur resapan harus tidak lebih dalam dari kedalaman muka air tanah. Contoh :

Desain sumur resapan : 2,5 (h) x 2,2 (p) x 1,8 (l) = 9.9 m3

Total sumur resapan dalam unit adalah : 160 / 9.9 = 16,16 sumur resapan.



Untuk biopori perhitungannya lebih simpel, yakni untuk setiap 7m2 luas area perusahaan maka harus dibuat 1 biopori. Maka dari itu jumlah biopori adalah : 7000/7 = 1000 Lubang Biopori



Nah Sobat olah-air.com sekalian itulah langkah-langkah cara menghitung total sumur resapan dan juga biopori. Mudah-mudahan jadi terbantu. Dan sampai jumpa dalam positngan berikutnya.

Lihat Juga :
Baca selengkapnya

3 Aturan Pemerintah Untuk Revitalisasi Tanah Lewat Air Hujan


Semakin hari jumlah manusia semakin bertambah banyak sehingga kebutuhan untuk perumahan pun semakin bertambah pula. Ditambah lagi pertumbuhan Industri di Indonesia terbilang cukup cepat hal ini bisa kita tengok dari banyaknya kawasan industri yang dibangun di Indonesia salah satunya adalah kawasan industri kendal yang baru saja selesai di bangun pada tahun 2015 kemarin.

Banyaknya bangunan yang dibangun oleh manusia seperti kedua contoh diatas tentunya membuat semakin banyak area tertutup oleh bangunan dan lainnya sehingga tidak bisa lagi menyerap air. Belum lagi dengan kegiatan manusia dalam menyedot air dari dalam tanah, yang menyebabkan semakin sedikitnya air dalam tanah.

Memang apa akibatnya ?


Akibatnya memang tidak secara cepat akan terasa seperti Anda makan sambel yang setelah makan segera kepedesan hehe. Namun akibatnya akan seperti sebuah kanker yang secara diam-diam menggerogoti dan naik stadiumnya, sehingga ketika sudah akut maka mulailah muncul beragam bencana alam.

Bencana kekeringan, banjir, longsor, dan tanah retak tiba tiba (seperti yang terjadi di India baru-baru ini) adalah hasil dari ketiadaan air di dalam tanah. Tentu anda tidak akan percaya kalau tidak merasakanya sendiri, tapi percayalah para ahli hidrologi di Indonesia sudah memperingatkan tentang hal ini.

Salah satu contoh nyatanya adalah suatu kawasan industri di daerah semarang yang dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan permukaan tanah. Tidak tanggung-tanggung penurunan tanahnya mencapai 8cm pertahun, yang artinya dalam sepuluh tahun saja bisa berukurang hingga sekitar 1 meter. Dan yang lebih ngeri lagi di sebelah kawasan industri tersebut itu laut lho..

Kenapa Harus Peduli?


Sebagian besar dari mungkin tidak peduli dan menganggap toh masi lama sebelum air benar-benar habis atau pulau yang kita diami sekarang ini menjadi turun permukaannya dan benar-benar tenggelam. Yah bisa sampai puluhan tahun.

Tapi cobalah kita pikirkan, bagaimana nasib generasi setelah kita kelak? Tegakah kita mewariskan tanah yang telah rusak? Tegakah kita mewariskan bencana? Tegakah kita membiarkan anak cucu kita mati kehausan, karena sebagian besar air sudah kita sedot dan kita tukar menjadi air limbah?

3 Aturan Pemerintah Untuk Revitalisasi Tanah Lewat Air Hujan


Ya sesuai dengan tajuk utama kita pada tulisan kali ini, kita akan membahas tentang suatu perundang-undangan lebih tepatnya pada PermenLH nomor 12 tahun 2009. Peraturan ini lebih dikuatkan lagi dengan adanya beberapa PerGub yang menguatkan, salah satunya adalah PerGub DKI Jakarta tentang sumur resapan yang memberikan arahan dengan lebih dalam lagi.

Oh iya, apa saja sih aturan pemerintah untuk konservasi air ini?

Dalam intinya ada tiga tipe/jenis bangunan yang wajib dimiliki oleh pemilik/pengguna gedung untuk membantu mengkonservasi air hujan yakni ;

a. Sumur Resapan

Adalah sebuah lubang sumur yang sengaja dibuat untuk meresapkan air kedalamnya. Kedalaman dari sumur resapan ini dibuat tidak boleh lebih dalam dari pada air muka tanah. Untuk jumlahnya, dihitung berdasarkan jumlah area yang tertutupi oleh bangunan.



Sumur resapan didesain untuk dapat menampung limpasan air hujan dari atap gedung untuk kemudian diresapkan kedalam tanah lewat rongga yang ada dibagian samping ataupun bawah.

Jika terjadi keadaan sumur yang terlalu penuh, maka dibuatlah kolam kontrol yang nantinya dialirkan menuju saluran drain.

b. Kolam Pengumpul Air Hujan

Kolam Pengumpul air hujan, adalah kolam yang dibuat untuk menampung air hujan dengan tujuan pemanfaatan kembali. Untuk bangunannya bisa dibuat diatas atau didalam permukaan tanah, hal tersebut tergantung dari ketinggian muka air tanah. Biasanya kolam ini dibuat pas dimana talang air hujan dari suatu bangunan menjatuhkan airnya.

Jumlah dari kolam resapan ini ditentukan dari 1% nilai luas seluruh lahan yang ditempati oleh suatu instansi atau perusahaan. Jadi katakanlah sebuah perusahaan mengambil area sekitar 10 ribu m2, maka setidaknya ada 100m2 yang harus diperuntukan untuk membuat kolam resapan.

c. Biopori

Biopori adalah sebuah lubang berukuran 4 Inchi yang ditanam sejauh sekitar 1 meter ke dalam tanah. Fungsi dari biopori itu sendiri adalah untuk menyerap air dan juga memproduksi kompos (jika ingin). Jika merunut pada undang-undang dan aturan dari BPLHD setempat maka jumlah biopori biasanya adalah 1 biopori per 7m2 lahan yang digunakan oleh perusahaan.

Ketiga bangunan kecil tadi dipersyaratkan harus ada pada setiap perusahaan, instansi atau lembaga. Dan keberadaannya sekarang ini terus menerus didengungungkan oleh dinas setempat. Namun, bukan orang indonesia namanya kalau harus patuh kalau tidak ada hukuman hehe.. Hukuman dari ketiadaan Pemanfaatan air hujan akan berdampak pada tidak keluarnya izin mendirikan bangunan baru dan juga ditambah dengan akan sulitnya pengurusan AMDAL dan UKL UPL. Nah.. Makanya dalam tulisan-tulisan selanjutnya saya akan coba mengulas satu persatu tentang topik pemanfaatan air hujan ini.



Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Oh iya, jika Anda tertarik dengan artikel di website ini, Anda dapat melakukan search dengan menekan tombol ini. Maka Akan keluar seluruh daftar artikel yang ada.

Atau Silahkan Klik Link Dibawah ini :
Baca selengkapnya