Showing posts with label Air Limbah. Show all posts
Showing posts with label Air Limbah. Show all posts

Thursday, 5 July 2018

6 Teknik Anaerob dalam Pengolahan Air Limbah


6 Jenis teknik Anaerob Dalam Pengolahan Air Limbah

Hallo sobat sekalian, masih bersama Mr. Anggi Nurbana di olah-air.com. Sesuai dengan janji saya pada postingan sebelumnya bahwa dalam sekitar 5-7 postingan ke depan kita akan membahas tentang proses biogas. Dan maka dari itu, pada postingan kali ini kita akan membahas tentang salah satu tahapan proses pembuatan biogas, yakni proses anaerob. 

Anaerob, sesuai namanya adalah suatu proses penguraian zat organic tanpa menggunakan udara. Proses ini biasanya dibantu oleh bakteri jenis autotroph. 

Dalam proses anaerob, bakteri dipaksa untuk melakukan penguraian zat makanan dengan memecahkan zat organik menjadi unsur dan senyawa yang lebih sederhana. Target utama dari proses anaerob adalah penguraian rantai panjang organic menjadi rantai pendek sehingga terjadi penurunan nilai COD, BOD maupun TOC pada air limbah sedangkan terbentuknya gas methane (biogas) adalah sebagai hasil samping yang diharapkan. 

Setidaknya ada 6 Jenis teknik anaerob yang cukup popular dan digunakan secara luas. Dalam postingan ini kita akan membahas secara singkat, gambaran tentang ke-enam proses anaerob tersebut dari segi positif dan negatifnya pula. Sudah siap? Yuk mari kita bahas bersama. 


1. Anaerobic Lagoon 


Proses Anaerob di Kelapa sawit sangat mudah dengan lagoon
Contoh Penampakan Anaerob metode Lagoon



Anaerobic Lagoon adalah system pengolahan air limbah metode biologi yang paling mudah. Mudah dikarenakan tidak memerlukan teknologi khusus, hanya memerlukan sebuah kolam atau danau yang cukup besar untuk menampung 30 hari debit. 

Tidak memerlukan pengaturan khusus seperti pembatasan nilai suspended solid ataupun pun penambahan bahan kimia. 

Metode Anaerobic lagoon ini, sangat banyak dipilih oleh perusahaan sawit. Khususnya mereka yang memiliki lahan yang sangat luas sehingga leluasa untuk membuat kolam bervolume ribuan kubik. 

Kekurangan metode ini adalah diperlukannya lahan yang sangat luas, sehingga tidak cocok untuk usaha yang berada di lingkup area terbatas (kalaupun ada mahal banget harga tanahnya) seperti Jabodetabek. 

Kekurangan lainnya dari metode anaerobic lagoon adalah harus ada usaha untuk pengerukan dead sludge secara berkala. Jikalau tidak maka akan terjadi pendangkalan kolam yang berakibat berkurangnya waktu tinggal anaerob terus berimplikasi pada gagalnya proses pengolahan. 


2. Continously Stirred Reactor (CSTR) 



Teknik Anaerobic kedua yang cukup dikenal adalah CSTR. CSTR adalah sebuah teknik anaerob dimana air limbah ditempatkan dalam sebuah bejana tertutup kemudian dilakukan pengadukan atau stirring secara constant. Hal ini membuat proses dekomposisi suspended solid menjadi lebih baik dibanding dengan proses dengan lagoon. 

Kelebihan lainnya adalah waktu tinggal air limbah dapat dikurangi lebih banyak menjadi hanya dibawah 7 hari saja. Selain itu, nilai biogas atau gas methane yang dihasilkan juga jauh lebih banyak dibanding dengan metode lagoon, sebab gas methane diarahkan untuk mengalir pada satu lubang pipa khusus. 

Kekurangan dari metode ini adalah , perlunya installasi cost yang cukup tinggi sebab memerlukan equipment stirrer dan tangki yang cukup besar. Ditambah lagi material untuk kedua equipment tersebut juga tidak bisa dari bahan fiber melainkan harus dari steel dengan proteksi linning tambahan. 

Kekurangan lainnya dari proses CSTR adalah, sulit mengambil biomassa yang mengendap dikarenakan sludge selalu tercampur dalam cairan limbah. 

Kekurangan ketiga adalah perlunya energy yang konstan untuk proses pengadukan air limbah yang datang. Dan sebagai catatan untuk bisa berhasil, air limbah yang datang diharapkan akan sama jumlahnya dengan air limbah yang keluar. 

3. Anaerobic Contact Process 
Proses ini hampir mirip dengan CSTR, namun ada tambahan sedimentation tank. Hal ini tentu bagus untuk membantu memisahkan air limbah yang sudah jernih dengan yang masih terlihat kotor dan mengandung banyak solid. Namun proses ini juga tentu memerlukan biaya lebih banyak dibandingkan dengan CSTR. 

4. Anaerobic Filter 
Teknik anaerob yang satu ini dianggap cukup baik untuk menumbuhkan dan mempertahankan daya hidup bakteri. Sebab bakteri diberikan rumah tinggal berupa rongga-rongga filter sehingga mereka bisa bekerja dengan lebih baik. 

Teknik ini tidak memerlukan banyak energy seperti CSTR, sehingga dalam installasinya tidak memerlukan banyak installasi elektrikal. 

Kekurangan dari teknik ini adalah kelemahannya dalam menghandle limbah yang mengandung banyak sludge biomassa. Serta banyak kemungkinnan tersumbatnya lubang filter. Maka dari itu, system ini tidak cocok untuk air limbah dengan kandungan TSS yang tinggi. 

Kekurangan lainnya adalah, kita harus selalu memantain pH dari air limbah tersebut dan memastikannya berada diatas angka 4. Sebab dalam salah satu aplikasi di perusahaan farmasi ternama, metode ini ternyata memakan filter itu sendiri ketika pH drop dibawah 4. 

5. Upflow Anaerobic Sludge Blanket Reactor 



Metode UASB ini cukup popular dimana-mana. Sebab metode yang satu ini terbukti cukup berhasil menangani limbah-limbah dengan organic load yang tinggi. Disamping itu, desainnya yang meninggi membuatnya tidak memakan banyak lahan sehingga banyak dipakai oleh perusahaan di daerah perkotaan. 

Waktu tinggal dengan menggunakan metode ini hanya sekitar 24 jam, jauh lebih sedikit dibanding dengan metode lagoon. Dan juga, tidak diperlukan installasi elektrikal seperti mixer membuatnya lebih low cost. 

Kekurangan dari proses Ini adalah keharusan untuk menurunkan tingkat suspended solid terlebih dahulu hingga berada direntang 500-800 mg/L. Kalau tidak maka dalam prosesnya akan menyulitkan operasional. 



5. Expanded Granular Sludge Bed Internal Circulation
Contoh EGSB gambar dari watertreaters.com

EGSB ini sebenarnya adalah pengembangan dan penyempurnaan dari proses UASB, perubahannya adalah dengan adanya suatu membrane atau bed tempat bakteri bersarang. Ditambah lagi adanya system sirkulasi dengan submersible mixer sehingga membuat penguraian lebih sukses.

Zat organic yang bersifat racun seperti benzene, ataupun rantai panjang yang sulit diurai dengan proses anaerob biasa ternyata dapat diurai dengan proses EGSB.

Kekurangan dari proses ini adalah biaya installasi dan operasional yang lebih mahal dibandingkan dengan lainnya. Kemudian jumlah biomass yang terbuang juga banyak karena proses pretreatment yang dilakukan sebelum masuk EGSB.

Oke sekian sedikit pembahasan tentang teknik pengolahan limbah dengan metode anaerob. Kita akan berjumpa lagi dalam postingan yang lainnya. Sampai jumpa.



Salam Lingkungan


Baca selengkapnya

Saturday, 22 July 2017

Cara Menghilangkan Kandungan Phosphor Dalam Air

Cara Menghilangkan Kandungan Phosphor Dalam Air

teknik tercepat dan yang bagus untuk phospate dan ortofosfat

Bagi yang sering berkecimpung dalam dunia perairan seperti saya, tentu tidak asing lagi dengan unsur yang bernama phosphor ini.

Unsur yang berada pada golongan yang sama dengan nitrogen ini sejatinya merupakan unsur yang dibutuhkan dalam perkembangan tanaman. Maka dari itu, cara mendeteksi keberadannya pada perairan juga mudah. Jika kita menemukan banyak tanaman air muncul dan berkembang, maka berarti disana banyak terkandung Phosphor.

Phosphor di Air, Baik atau Buruk?
Segala sesuatu yang diciptakan oleh ALLAH SWT pastilah memiliki manfaat. Dan semuanya diciptakan oleh ALLAH ya Latif secara detail, halus serta berimbang. Hal ini bisa kita lihat dari keberadaan phospor dalam air murni aslinya berada pada kisaran yang masih bisa ditolerir dan memang diperlukan oleh tanaman serta hewan yang berada di perairan. Sehingga ada yang mengatakan keberadaan phosphor di air itu baik.

Namun berbeda halnya dengan sekelompok orang yang menemukan bahwa, keberadaan phosphor pada air justru akan membuat masalah tersendiri. Masalah tersebut disebut eutrophikasi, yang berarti keberadaan nutrisi anorganik pada badan air yang membuat tanaman air tumbuh secara tidak terkendali.

Tumbuhnya tanaman air secara tidak terkendali tentu menjadi masalah yang serius. Mengingat tanaman yang tumbuh secara masif akan menghalangi laju masuknya oksigen ke dalam air. Dan hal ini sama dengan mengurangi jumlah DO dalam air, yang berakibat pada kematian hewan-hewan dalam air seperti ikan dan udang-udangan.

Terlebih lagi, tanaman air juga nantinya akan membuat pendangkalan badan air ketika tanaman tersebut mati dan tenggelam dalam badan air.

Phosphor, Dari Mana dia berasal?
Kalau ditanya seperti ini, tentu jawabannya adalah dari ALLAH SWT. Namun yang menjadi biang kerok kelebihan phosphor dalam badan air kali ini tetaplah manusia. Karena aktifitas manusia yang membuang limbah pada badan airlah yang membuat si Phospor ini banyak terkandung pada air.

Lihat Juga : 5 Kesalahan Dalam Mendesain Sistem RO

Phosphor Yang Biasa Ditemukan Di Perairan
Setidaknya ada dua jenis molekul yang biasa menyumbang phospor dalam jumlah yang cukup banyak. Dua molekul tersebut adalah :

a. Orthophospate
Kita biasa mengenalnya sebagai Phospate atau Fosfat, yang merupakan gugus molekul PO4 yang banyak terdapat pada pupuk serta zat anorganik lainnya. Dalam dunia analisa, metode pengujian zat ini dilakukan secara spektrofotometri dengan Molybdenum Blue sebagai indikatornya.

b. Poliphospate dan Fosfate Organik
Adalah phospate yang biasa berikatan pada zat organik. Karena biasa ditemukan pada zat organik, maka dari itu ikatan kimia polifosfat dapat berbentuk siklik. Dalam dunia analisa, poliphosfat dan phospate organik diuji dengan metode tidak langsung. Metode ini melibatkan proses destruksi dan pendidihan yang diakhir dengan pembacaan dengan spektrofotometer.

Lihat Juga : 6 Hal Yang Harus Di Jaga Pada Proses Biologi Air Limbah

Cara Menghilangkan Kandungan Phosphor
Walaupun cukup banyak yang mendukung keberadaan phosphor dalam air, namun hal tersebut tetap tidak membenarkan kandungan zat yang satu ini ada secara berlebihan. Karena kita tahu apapun yang ada secara berlebihan tentu akan menjadi suatu masalah dikemudian hari termasuk ya si Phosphor ini.

Nah, maka dari itu berikut ini adalah beberapa cara atau langkah yang dapat kamu tempuh untuk dapat menghilangkan phosphor dari badan air kamu.

a. Proses Koagulasi
Proses koagulasi adalah proses favorit yang paling banyak dipakai dalam mengurangi ataupun mengeleminiasi secara total kandungan phospfor dalam air. Prosesnya dilakukan dengan menambahkan zat koagulan yang dapat menggumpalkan phosphor sehingga dapat diendapkan. beberapa koagulan yang dapat kamu gunakan antara lain ; Tawas, PAC, Ca(OH)2, dan FeCl3.

Proses koagulasi bisa jadi tidak efektif untuk menghilangkan phosphor dalam air, manakala kandungan phospfor terlalu sedikit. Ataupun bisa juga ketika TDS air limbah telah mendeketi ambang batas baku mutu yang diperbolehkan.

Lihat Juga : Cara Mengecilkan Ukuran Area WWTP

b. Proses Biologi
Proses menghilangkan phosphor dalam air menggunakan teknik biologi, biasanya dipilih untuk jenis phospor organik yang kandungannya tidak terlalu tinggi. Hal ini mengingat kemampuan bakteri untuk dapat menguraikan phospor juga terbatas.

Proses biologi yang biasa digunakan adalah aerob dan anerob. Dimana nantinya Phospate akan berubah menjadi sludge bio mass yang lewat PAO (Phosphor Accumulating Organism).

Kekurangan proses biologi ini adalah karena prosesnya berlangsung secara lebih lama hingga mencapai titik ready. Dan juga memerlukan wilayah yang lebih besar.


c. Proses Filtrasi
Proses ketiga ini biasaya dilakukan pada phospate dengan kandungan yang tidak terlalu tinggi dan dalam debit yang rendah. Media filter yang dapat anda pilih adalah Zeolite dan juga kapur.

Proses filtrasi ini dapat menggunakan teknik pressure pumping ataupun secara gravitasi.

Nah itu dia tiga cara menghilangkan kandungan phosphor dalam air. Semoga pengetahuan ini menjadi manfaat bagi para pembaca sekalian. Dan saya mohon maaf jika dalam penyampaiannya ada bahasa-bahasa yang membingungkan saudara-saudara sekalian. Demikian artikel kita kali ini, sampai jumpa dilain kesempatan.


Salam Hangat,


Mr. Anggi Nurbana


Baca selengkapnya

Saturday, 20 August 2016

Perbedaan Air Limbah dan Limbah B3



Hi, Senang rasanya bisa berjumpa lagi dalam blog Olah-Air.com ini lagi, kali ini saya (Mr. Anggi Nurbana) akan menyampaikan suatu hal yang cukup sederhana namun sangat penting sekali untuk dipahami.

Hal tersebut adalah tentang Perbedaan air limbah dan limbah B3. Kedua hal ini mirip2 tapi sebenarnya perbedaanya sangat luar biasa banyak. Jika seorang apalagi seorang engineer yang mendesain melakukan generalisir terhadap hal ini maka bisa terjadi kekacauan pada proses pengolahan limbahnya. Ga Percaya?? Silahkan coba sendiri !


Definisi Air Limbah dan Limbah B3


Air Limbah, secara mudah dapat dibilang sebagai air yang mengandung limbah. Ingat ya air yang mengandung limbah. Jadi secara nyata kandungan air dalam air limbah tersebut adalah 80-99%. Sehingga polutan atau limbahnya itu sendiri ada dalam jumlah yang sedikit.

Kalau Limbah B3 secara definitif adalah segala zat dari sisa usaha yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang berpotensi meracuni dan mencemari lingkungan.

Aspek penting yang perlu sobat pembaca pahami adalah, Limbah B3 tidak melulu air. Limbah B3 bisa jadi berbentuk padat, gas, ataupun dalam bentuk uap.

Limbah B3 yang harus dikelompokan secara khusus dan dibuang ke penampung limbah B3 adalah limbah B3 yang sama sekali tidak dapat dimanfaatkan kembali. Selain itu limbah tersebut juga tidak dapat diolah ataupun direcyle sehingga bisa digunakan kembali, dan jikalau bisa pun maka memerlukan biaya yang sangat tinggi.

Lihat Juga : 
1. Rahasia Menemukan Penyebab Kerusakan di Sistem WWTP
2. Cara Memilih Sistem Reverse Osmosis Yang Tepat

Beberapa Contoh Air Limbah dan Limbah B3

Kalau di rumah sakit, air limbahnya itu adalah air dari hasil pencucian alat praktek dokter, dan dari toilet. Sedangkan untuk Limbah B3 cairnya itu salah satunya adalah Cairan Infeksius seperti darah.

Kalau Di sebuah Pabrik, maka air limbahnya tersebut adalah air yang bersinggungan dangan produk ataupun masuk dalam suatu proses produksi dan keluar sebagai buangan dengan kadar air diatas 80%. Sedangkan Limbah B3 Cairnya adalah salah satunya Cairan yang memiliki kandungan air limbah tinggi sekali dengan perbandingan dengan air bisa lebih dari 20%nya.

Semakin Besar Polutan Maka Semakin Tinggi Nilai Investasi dan Operasional IPAL
Ya, IPAL bukanlah barang murah yang bisa dengan sangat mudah dibuat. IPAL/WWTP adalah suatu sistem yang harus direncanakan secara matang dan dibuat secara presisi agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan standar baku mutu.

Oleh karenanya di awal sebelum mendesain ipal yang harus Anda ketahui adalah seberapa tinggi kandungan pencemar dalam air limbah Anda dan bagaimana dengan presentasinya. Sehingga, jikalau ternyata jumlah air limbah Anda sangat kecil namun kandungan polutannya sangat tinggi maka saya rasa tidak usahlah Anda membuat sebuah IPAL. Cukuplah Anda tampung dan nanti dibuang saja ke penampung limbah B3. Sehingga Anda bisa menghemat Budget dan begitu pula sebaliknya.

Sekian sedikit tulisan tentang perbedaan antara Air Limbah dan Limbah B3, semoga dapat menjadi pemahaman untuk para pembaca sekalian.

Salam Hangat


Mr. Anggi Nurbana

PS :
Untuk para pembaca yang ingin mendapatkan update ilmu pengolahan air limbah dan juga ilmu lingkungan lainnya maka jangan segan segan untuk menambahkan saya via google plus.


Baca selengkapnya

Mengenal Teknik Segregasi Limbah

Teknik Segregasi dalam Pengolahan Air Limbah

cara tercepat untuk mengolah limbah adalah dengan menghubungi yang berwajib

Selamat malam, mungkin lebih tepatnya tengah malam saat saya menulis artikel ini.
Waktu telah menunjukan jam setengah Dua Belas malam, namun rasanya ada hal mendesak yang ingin sekali saya sampaikan pada para pembaca dalam beberapa hari ini.

Kesibukan dalam melakukan assesment serta perancangan IPAL baru, membuat saya di beberapa bulan belakangan ini menjadi kehilangan waktu untuk berbagi dalam blog olah-air.com ini. Maka dari itu sebelumnya saya meminta maaf yang sebesar-besarnya.

Nah di postingan kali ini kita akan menelisik dahulu suatu anggapan miring yang banyak sekali dianut oleh para pemilik perusahaan yang di perusahaannya terdapat IPAL.

Baik di Perusahaan Manufaktur, Makanan, Tekstil hingga ke ranah jasa seperti Rumah sakit biasanya banyak yang memiliki anggapan berbahaya ini. Anggapan apakah itu?

Anggapan tersebut adalah IPAL = Magic Box!
Banyak yang menganggap segala jenis limbah ketika masuk ke dalam suatu installasi pengolahan air limbah, maka sudah pasti keluar akan menjadi netral dan bersih serta aman untuk dibuang ke lingkungan.

Makanya banyak diantara para pengusaha entah mengerti atau tidak malah dengan seenak-enaknya membuang apa saja melalui saluran air limbah yang dia miliki. Dan hasilnya tentu sudah jelas, bukannya air limbah yang masuk ke dalam baku mutu, namun yang terjadi adalah IPAL menjadi rusak ga karu-karuan.

Lihat Juga : Mengapa Perlu dilakukan Pengukuran DO pada Proses IPAL?

Sudah Terlalu Banyak Contoh, Sadarlah!
Kalau saya mau cerita, maka saya jujur sudah terlalu banyak sekali perusahaan yang saya tengok memiliki anggapan berbahaya seperti diatas tadi. Jadinya awalnya si IPAL ini berhasil mengolah air limbah menjadi air yang layak buang, eh malah air limbah tersebut menjadi bertambah beracun dan tidak bisa diolah dengan sistem IPAL yang ada. Weleh-weleh...

Masak Juga Ada Resepnya, Sama Seperti Suatu Sistem IPAL
Katakanlah Anda akan memasak sayur Asem. Maka yang sudah pasti Anda sediakan adalah asem, melinjo, labu siem, tangkil dan beberapa sayuran lainnya ditambah dengan bumbu-bumbu seperti cabe, bawang, garam dan lainnya sehingga bisa menjadi sebuah sayur asem yang lezat.

Dengan resep yang sudah standar tersebut, apa jadinya kalau saat memasak Anda memasukan bahan yang tidak seharusnya ada di masakan sayur asem tersebut, seperti nanas muda, buah semangka, bulu ayam, kluwek. Maka tentunnya bukan sayur asem lezat yang didapat, tapi malah sayur ga karu-karuan yang tersaji.

Logika yang samapun sebenarnya harusnya dapat kita pahami dalam sebuah sistem pengolahan air limbah. Karena sebuah IPAL sudah mengikuti suatu resep pengolahan tertentu yang dimana kalau resep tersebut ditambahi suatu bumbu dan bahan lain yang jumlahnya besar, maka yang dihasilkan bukan lagi hasil yang sesuai namun akan lebih ke hasil yang amburadul.

Lihat Juga : Tips Menghilangkan Lumut dari Tangki

Kenali Lagi Definisi Air Limbah
IPAL itu artinya adalah Installasi pengolahan Air Limbah, yang artinya adalah hanya air limbah yang boleh atau bisa masuk kedalam installasi tersebut. Dan jika bukan air limbah maka bukanlah tempatnya disana.

Dan kalau berkata air limbah, maka yang dimaksud adalah air dengan kandungan polutan dalam jumlah tertentu namun tidak sampai lebih banyak dari pada jumlah air itu sendiri. Gampangnya kalau air kopi, tentu lebih banyak airnya dari pada kopinya.

Segregasi, apakah itu?

Jika sebelumnya saya sudah menyinggung tentang asumsi ngawur IPAL = Magic Box dan juga Definisi air limbah. maka sudah saatnya kita juga berkenalan dengan yang namanya suatu proses segregasi.

Segregasi secara mudah adalah suatu proses pemisahan material antara jenis satu dengan lainnya. Dan dalam dunia pengolahan air limbah maka hal ini dikenali dengan suatu aktifitas untuk memisahkan satu jenis limbah dengan lainnya.


Ada dua jenis aktifitas Segregasi

Oh iya sebelum melangkah jauh, segala hal yang saya tuliskan disini murni berdasarkan pengalaman dan survei dilapangan. Sehingga tidak ada sumber resmi tertulis yang berupa buku yang akan membahas ini, dan jika Ada berarti kebetulan.

1. Segregasi Bisa dan Tidak
Proses segregasi yang harus dilakukan pertama kali adalah, kita harus memisahkan antara limbah yang bisa diolah dan tidak.
Hal ini bisa dengan beberapa cara, cara yang termudah adalah dengan menggunakan analisa fisik secara kasat mata. Apakah cemaran yang ada bisa dipisahkan dengan cara pengendapan biasa (Dengan atau tanpa chemical) ataukah membutuhkan proses yang sangat panjang.

Cara yang kedua adalah dengan membawa sampel air limbah tersebut ke laboratorium dan melihat polutan apa saja dan berapa tingginya ada di dalam air tersebut. Kalau ternyata jumlah polutan dapat dibilang cukup ekstrem kita bisa langsung saja menyimpulkan limbah tersebut tidak bisa masuk ke dalam IPAL yang sudah kita buat.

2. Segregasi Sejenis atau Tidak
Proses segregasi yang kedua yang bisa kita lakukan adalah dengan memperhatikan jenis air limbah yang kita miliki. Sama dengan mayoritas atau berbeda? Jika katakanlah Anda ada di sebuah pabrik plating dan dimana disana ada proses yang menghasilkan limbah air dengan mengandung Almunium dan satu lagi mengandung Chrom.

Kedua jenis limbah tersebut sudah pasti berbeda, dan tidak bisa disatukan dalam proses pengolahannya karena akan menjadi kacau.

Almunium cukup diolah dengan cara dinaikan ke pH 8 lalu diberikan sedikit koagulan dan flokulan. Sedangkan chrom perlu direduksi terlebih dahulu dengan menggunakan Tio Sulfat.

Makanya untuk kasus-kasus seperti ini, perlu dilakukan segregasi terlebih dahulu.

Nah sekian tulisan saya untuk teknik segregasi pada proses pengolahn air limbah. Semoga dapat menjadi pengetahuan yang cukup berarti bagi rekan-rekan semua.

Untuk mendapatkan Informasi yang lebih Update tentang pengolahan air limbah dan pengolahan air bersih. Silahkan Anda Ikuti saya via google plus. Jadi, kalau ada Update di Blog ini Anda akan menjadi orang pertama yang mendapatkannya.

Klik Disini dan tekan Ikuti.

Kunjungi Juga :
1. Mengenal Water Hammer 
2. Rahasia Korelasi Antara COD dan BOD
3. Cara Mudah Menentukan Nilai COD dalam Air Limbah


Baca selengkapnya