Showing posts with label Aerasi. Show all posts
Showing posts with label Aerasi. Show all posts

Wednesday, 20 February 2019

Bagaimana Proses Aerasi Bisa Menurunkan nilai BOD

Bagaimana Proses Aerasi Bisa Menurunkan nilai BOD

Contoh media lekat untuk menunjang perkembangan bakteri aerasi

Hallo sobat olah-air.com sekalian, sudah lama sekali kita tidak update dan berjumpa ya hahaha. Mohon maaf ini semua dikarenakan Negara api sedang menyerang.. Lho.. ;p

Kali ini kita akan berbicara tentang bagaimana sih ceritanya proses biologi secara aerasi bisa menurunkan nilai cemaran BOD. Penasaran kan? Yuk kita simak uraiannya.

Sebelum berangkat ke narasinya yang panjang, harus kita ingat bahwa BOD bukanlah zat namun hanya sebuah nilai konversi yang dihasilkan dari analisa tentang seberapa banyak oksigen yang dibutuhkan untuk membuat seluruh zat organic dapat teroksidasi. Sehingga besarnya nilai BOD tentu akan berbanding pula dengan besarnya jumlah zat organic yang ada dalam air limbah.

Dalam pengolahan air limbah dengan metode lumpur aktif, bakteri akan bercampur dengan air limbah dengan harapan adanya proses adaptasi terhadap polutan dalam air. Mikroorganisme atau bakteri akan kontak dengan bahan organic atau biodegradable dan menggunakannya sebagai sumber energy. Nantinya bakteri akan membentuk koloni atau rumah tinggal dengan terwujudnya lender yang lengket yang bisa kita temukan pada dinding ataupun pada media bakteri.

Tingkat keberhasilan penguraian polutan dalam air limbah, akan tergantung dari seberapa efektif bakteri memakan zat organic yang ada dalam air limbah, serta bagaimana kemampuan bakteri dalam membuat bioflok yang dapat dengan mudah settle down dalam air.

Biasanya dalam proses biologi, setelah proses aerasi akan dilanjutkan dengan proses clarifier dimana active sludge yang terbawa akan ditangkap oleh lamella dan dibuat settle down. Sebagian volume active sludge akan dikembalikan ke tangki aerasi (Sistem RAS) dan sebagian akan dibuang menuju tangki proses sludge.

Proses RAS ini penting untuk menjaga rasio active sludge hingga jangan sampai over ataupun kurang. Prosesnya bisa menggunakan pompa ataupun menggunakan metode gravitasi.

Proses biologi dengan metode activated sludge dalam kondisi optimumnya dapat menurunkan 80-90% BOD. Dan tingkat efisiensi ini tentu tidak terlepas dari keberhasilan dalam menjaga beberapa factor seperti :

- Nilai pH Inlet

- Nilai Debit intake yang masuk

- Ke stabilan polutan yang masuk

- Jumlah nutrisi dalam air limbah

- Serta mengeleminasi masuknya desinfektan ke dalam air limbah. 



Secara umum ada 5 jenis grup mikroorganisme yang dapat kita temukan pada proses aerasi khususnya pada metode activated sludge :

1. Bacteria : yakni bakteri aerob yang bekerja memakan nutrisi organic

2. Protozoa
: yang membantu dalam memakan bakteri yang telah mati dan juga menguraikan suspended solid

3. Metazoa : mikroorganisme yang membantu penguraian air limbah dengan nilai BOD yang sangat tinggi. Biasanya digunakan pada system lagoon.

4. Bakteri Filament : bakteri yang berbentuk seperti benang-benang halus, biasanya mengganggu proses settling dan membuat terjadinya bulking ataupun sumbatan pada pemipaan.

5. Alga (Lumut) dan Jamur : dua mikroorganisme ini biasanya bertumbuh ketika ditopang oleh cahaya matahari yang cukup dan juga dalam sludge yang telah mati. Sifatnya tidak massif ataupun dominan tapi akan menggangu pengamatan.
Baca selengkapnya

Saturday, 17 September 2016

6 Hal Yang Harus diMaintain Dalam Proses Biologi WWTP

6 Hal Yang Harus diMaintain Dalam Proses Biologi WWTP

Proses Pengambilan Sample di Sum Pit untuk Mengetahui Kondisi Aktual

Proses biologi adalah sebuah proses yang hampir dapat kita temukan dalam setiap WWTP. Pada umumnya, proses ini akan ada pada WWTP domestik ataupun STP. Tidak ketinggalan dalam perusahaan-perusahaan yang mengikut sertakan zat organik dalam prosesnya bagian Biologi pun sudah pasti hadir.

Ada Beragam Jenis Proses Biologi
Proses biologi hadir dalam beberapa wujud yang tidak mesti sama antara satu dengan lainnya. Ada yang menggunakan wujud tangki aerasi, anaerob, tangki membrane bio reactor, mbbr, sbr, dan juga ada yang seperti roda berputar alias RBC. Bahkan salah satu perusahaan engineering untuk masalah limbah dari Amerika yang bernama Organica, menggabungkan proses biologinya dengan taman dan pohon-pohon.

Tapi diluar dari bentuknya yang amat beragam, sebenarnya proses biologi itu memiliki prinsip-prinsip yang sama. Dan yang utamanya adalah, semuanya dibuat harus telah diuji cobakan pada jenis bakteri tertentu dan untuk mengolah air limbah jenis tertentu pula.

Artikel Terkait : Pengetahuan Wajib Engineer Waste Water

Apakah Sistem Biologi tiap WWTP Sama?
Jawabannya tentu saja tidak, karena semua kembali kepada jenis limbahnya yang berbeda, kandungan polutan yang terdapat didalamnya, tingkat pencemaran, debit dan hal-hal lainnya. Yang hal tersebut Anda bisa simak di salah satu postingan saya disini : KLIK DISINI

6 Hal Yang Harus Di Maintain Dalam Proses Biologi di WWTP
Nah, saya harap beberapa paragraf diatas sudah memberikan pembukaan yang cukup tepat untuk postingan kali ini (Kalau tidak mohon di maafkan, karena mungkin penulisnya kurang piknik hehe). Maka tanpa berlama-lama lagi mari kita simak hal apa saja sih yang harus di maintain dalam proses biologi di WWTP.

1. Kadar Dissolved Oxygen
Hal pertama yang harus di maintain pada proses biologi adalah kadar oxygen yang ada didalamnya. Wa bil Khusus pada tangki aerasi dimana bakteri yang hidup disini memerlukan kandungan oxygen yang cukup tinggi yakni sekitar 3 - 5 mg/L dan mereka akan terganggu hidupnya bahkan mengalami kematian massif (Akan terjadi lumpur hitam yang berbau busuk) jika nilai tersebut berada dibawahnya.

Namun lain halnya dengan tangki anaerobic, dimana disana keberadaan oxygen justru akan menjadi racun bagi bakteri yang berada didalamnya. Untuk itu kandungan DO di tangki ini justru harus ditekan seminimal mungkin yakni berada di bawah nilai 0,5 ppm.

Artikel Terkait : Pengertian Dissolve Oxygen dan Pengaruhnya pada proses

2. Suhu
Suhu memegang peranan penting dalam proses pertumbuhan bakteri dalam proses biologi di wwtp. Beruntung kita tidak tinggal di eropa yang memiliki empat musim dengan suhu yang memiliki rentang yang sangat jauh sehingga merepotkan pengaturan suhu.

Suhu untuk proses biologi sendiri biasanya ada di rentang 30-40 Derajat Celcius dan jika berada jauh diatas atau dibawah nilai tersebut biasanya proses pemecahan rantai organik akan berlangsung lebih lambat. Bahkan pada kasus suhu yang sangat tinggi (Dekat dengan suhu didih) beberapa bakteri dapat tereleminiasi. Itulah sebabnya dalam beberapa industri, sebelum masuk ke area WWTP air limbah biasanya didinginkan terlebih dahulu dengan cooling tower atau proses lainnya.

Cukup Menarik : Pengolahan Limbah Tekstil Dengan Kotoran Sapi, Mungkinkah?

3. Nutrisi Untuk Mikroba
Seperti halnya manusia, Bakteri dan mikroba lainnya juga adalah Mahluk yang memerlukan makanan dalam hidupnya. Kalau manusia makannya Nasi, Rendang, Plus Lalapan (Uppss itu mah nasi padang), bakteri ini lain lagi ceritanya.

Bakteri tidak memakan nutrisi kompleks yang sulit dipecah seperti manusia, mereka lebih mudah mencerna nutrisi yang sudah dalam bentuk cair dan memiliki kandungan mikro nutrisi khusus untuk mereka. Seperti Glukosa, Laktosa, dan lainnya.

Untuk menghitung jumlah nutrisi yang tepat pada proses biologi biasanya kita akan menggunakan rumus F/M Ratio. Dimana beberapa faktor yang termasuk didalamnya adalah nilai flow dari air limbah, nilai BOD inlet, volume tangki biologi dan juga nilai MLSS hasil pengukuran.



Mesti Baca Jika Pake Aerasi : Cara Menentukan Ukuran Blower Pada Proses Aerasi

4. Retention Time 
Retention time adalah salah satu hal yang paling pertama ditentukan ketika mendesain si WWTP itu sendiri. Beberapa orang menyebut retention time adalah waktu tinggal dari bakteri, dan sayapun setuju untuk ikut dengan istilah tersebut.

Semakin lama Retention time yang dimiliki oleh suatu proses biologi biasanya akan terjadi penurunan nilai COD, BOD, TOC yang lebih baik pula. Namun tentu saja hal tersebut akan berdampak pada membengkaknya volume dari tangki proses biologi itu sendiri.

Untuk proses biologi anaerob, waktu tinggal yang disarankan berkisar dari 1,5 hari hingga 5 hari (tergantung nilai BOD Load) dan untuk proses biologi aerasi waktu tinggal yang disarankan berkisar 1/2 hari sampai 1,5 hari.

Maka dari itu sekarang ini kita sering menjumpai digunakannya media pelekat bakteri seperti honey comb, bio ball dan Bio Cylinder yang dapat membuat waktu tinggal bakteri menjadi lebih lama tanpa memperbesar ukuran si tangki itu sendiri.

Basic Banget ! : Pengetahuan Jenis-Jenis Tangki IPAL

5. pH
Nilai pH mempengaruhi keberhasilan dari proses wwtp dan juga tingkat penerimaannya terhadap standar baku mutu yang berlaku. Dalam prakteknya nilai pH sangat berdampak signifikan pada semua lini oprasi WWTP. Dari mulai proses mixing, proses reaksi dengan kimia, sedimentasi, dan juga proses biologi.

Dalam proses biologi sendiri, nilai pH yang disarankan ada diangka 6-8. Dalam rentang pH tersebut proses pemecahan rantai organik dapat berlangsung optimal dan juga bakteri dapat tumbuh dengan baik.

Setelah dimaintain pada posisi pH 6-8, terkadang saya pribadi menemukan ada beberapa kasus dimana proses acidogenesis berlangsung dengan sangat baik sehingga pH air keluaran proses biologi telah turun nilainya hingga ke rentang asam. Untuk mengakali hal tersebut biasanya kita akan menggunakan penambahan basa ke dalamnya, namun tetap dalam konsentrasi yang tidak membuat proses biologi menjadi kolaps.

Artikel Terkait : Kenapa Koagulasi pH-nya Mesti diatur?

6. Kontaminasi Toxic Chemical
Nah ini dia salah satu hal yang sangat sering diabaikan oleh para operator, manager, maupun pemilik usaha yang memiliki WWTP.
Anggapan WWTP adalah magic box sering kali membuat seluruh pihak membuang apa saja ke dalam area wwtp yang salah satunya adalah zat racun bagi mereka.

Sudah kita ketahui bersama bahwa Di Proses WWTP ada bakteri yang juga memiliki respon penolakan terhadap zat racun pada mereka. Respon penolakan tersebut bisa berupa terjadinya busa, hingga kematian lumpur aktif secara masif.

Masih Nyambung : Proses Desinfeksi pada Water Treatment

Oleh karena zat-zat yang bersifat desinfektan seperti Hypochlorite, Formalin, Phenol, KMnO4 dan lainnya sangat dilarang untuk masuk kedalam area WWTP. Kecuali sudah mendapat perlakuan pengenceran terlebih dahulu sehingga tidak membahayakan proses biologi.

Mr. Anggi dari Cheminusa


Nah tidak terasa sudah cukup banyak pikiran ini tertuang dalam postingan 6 hal yang harus diMaintain dalam proses Biologi WWTP. Mudah-mudahan tulisan ini tidak dianggap sebagai pengetahuan saja karena para praktisi dunia WWTP tentu tahu betapa sulitnya menumbuhkan bakteri WWTP dari awal.

Salam Hangat,


Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya