Tuesday, 5 March 2019

Prinsip Elektrokoagulasi Pada Air Limbah

Prinsip Elektrokoagulasi Pada Air Limbah


Hallo sobat olah-air.com sekalian, dimanapun kamu berada. Sesuai judul kita kali ini, kita akan membahas tentang prinsip dari elektrokoagulasi. Bagaimana sudah siap untuk menyimak?

Prinsip Elektrokoagulasi

Proses elektrokoagulasi adalah proses dimana terjadinya koagulasi (penggumpalan) yang menggunakan bantuan listrik atau electricity. Proses ini akan melibatkan pengaturan arus dan juga voltase dari listrik DC yang digunakan kemudian dialirkan melalui katoda dan anoda yang terdiri dari logam-logam tertentu sehingga menghasilkan aliran getaran listrik pada tingkatan electron. Dari sanalah katoda maupun anoda akan terkikis sehingga berubah fungsi menjadi koagulan yang bereaksi dengan air limbah.



Dari gambar diatas, terlihat bahwa untuk melakukan pengolahan dengan metode elektrokoagulasi beberapa alat dan bahan yang diperlukan antara lain :

1. Wadah penampung air limbah

2. Sumber Arus Listrik

3. Konverter arus listrik AC ke DC

4. Plat katoda dan anoda


Ke-empat alat dan bahan tadi harus dipersiapkan dan dalam keadaan terkontrol dengan baik. Untuk arus yang digunakan adalah tidak tentu, tergantung dari jenis air limbah yang ditemui dan juga target yang diinginkan. Selain itu ukuran volume wadah penampung juga minimal harus mampu menampung 1 jam debit air limbah, dikarenakan proses ini sama seperti proses mixing yang memerlukan waktu reaksi yang optimal.

Untuk katoda dan anoda tidak harus spesifik Fe ataupun alumunium, tapi tergantung pada jenis air limbah yang diproses. Namun dikarenakan kedua jenis logam ini adalah yang paling banyak tersedia dipasaran dan sifat kedua jenis logam ini dapat memberikan koagulasi yang baik maka kedua jenis logam ini paling direkomendasikan.






Oke sobat, itu dia tulisan singkat tentang prinsip dari proses elektro koagulasi. Untuk tulisan lainnya dapat disimak pada Link dibawah ini :


Salam hangat,


Mr. Anggi Nurbana

Baca selengkapnya

Monday, 4 March 2019

Kelebihan Pengolahan Limbah Metode Elektrokoagulasi EC

Kelebihan Pengolahan Limbah Metode Elektrokoagulasi EC

Bagaimana cara mengolah air limbah yang baik
Halo sobat sekalian, jumpa lagi bersama mr. anggi di website kesayangan kita yang selalu konsisten membahas teknik-teknik pengolahan air bersih dan air limbah. 

Kali ini kita akan membahas tentang suatu kelebihan teknik pengolahan air limbah dengan metode elektrokoagulasi. Elektrokoagulasi adalah suatu teknik pengolahan air limbah yang menggunakan arus listrik dalam proses pemisahan material polutan dalam air. Elektrokoagulasi disingkat EC, telah cukup lama populer digunakan untuk mengolah limbah textile, dikarenakan sifatnya yang mampu menguraikan warna tanpa memberikan kontribusi TDS yang signifikan.

Kali ini kita akan membahas beberapa alasan kenapa Anda atau perusahaan Anda dapat memilih teknik elektrokoagulasi sebagai metode pengolahan air limbah Anda (Dapat ya bukan harus!) :

Lihat Juga : 
- Langkah Langkan Assesment WWTP

1. Impact Minimal pada TDS


Kelebihan pertama yang dimiliki oleh system Elektrokoagulasi atau EC adalah system ini mampu untuk mengolah limbah tanpa menambah nilai TDS. 

Pada system konvensional, kita biasanya akan mengolah air limbah dengan mencampurkan koagulan dan flokulan dalam jumlah tertentu untuk dapat menurunkan sludge ataupun lumpur polutan yang tercampur pada air limbah. 

Pada proses ini, maka secara otomatis tds akan naik karena adanya kation dan anion yang turut terlarut dalam air akibat adanya penambahan bahan kimia. Sehingga dapat dikatakan proses konvensional hampir selalu akan mengakibatkan air effluent mengalami kenaikan TDS. 

Berbeda halnya dengan metode elektrokoagulasi, dimana polutan baik yang terlarut maupun yang menjadi koloid dalam air limbah akan bereaksi dengan plat logam yang dialiri listrik sehingga akhirnya membentuk gumpalan. 

Gumpalan tersebut nantinya diendapkan ataupun dapat diapungkan dan di scrapping, sehingga air dapat terbebas dari polutan. Proses ini tidak menyebabkan kenaikan TDS secara signifikan seperti proses konvensional, karena tidak adanya anion yang bereaksi (kalaupun ada maka sedikit saja). Oleh karenanya dapat dikatakan proses TDS mampu menangani air limbah dengan impact TDS yang minimal. 

Lihat Juga : 
- 7 Point penting dalam pembuatan STP

2. Minim bahan kimia


Kelebihan yang kedua dari proses pengolahan air limbah dengan metode elektrokoagulasi adalah metode ini menurunkan jumlah penggunaan bahan kimia. Dan memang jumlahnya akan jauh lebih sedikit dibanding dengan metode konvensional.

Hal ini dikarenakan penambahan kimia disubtitusi dengan reaksi elektrokoagulasi dengan menggunakan plat katoda dan anoda. Plat Alumunium, ataupun seng akan terkikis sesuai dengan jenis polutan yang diproses.

Disini proses elektrokoagulasi akan mengurangi jumlah koagulan yang dipakai, sehingga dapat dikatakan proses ini lebih minim kimia dibandingkan dengan proses konvensional.

Namun bukan berarti proses ini tidak menggunakan bahan kimia sebab pada faktanya proses ini tetap membutuhkan flokulan untuk dapat menggumpalkan secara sempurna flok halus yang sudah terbentuk.


3. Bisa Mengolah Mineral Terlarut


Kelebihan ketiga dari proses elektrokoagulasi adalah mampu untuk menurunkan jumlah mineral yang terlarut dalam air. Beberapa mineral seperti Calcium dan Magnessium bahkan dapat diendapakan dengan baik melalui metode ini (yang diiringi dengan pengaturan pH).

Berbeda halnya dengan proses konvensional yang hanya dapat mengendapkan mineral ataupun kotoran yang tampak, metode ini mampu untuk mengendapkan kotoran yang tidak tampak. Hasil pengetesan dilapangan menunjukan pada air dengan kadar TDS diatas 300 dengan menggunakan metode elektrokoagulasi dapat membantu memunculkan polutan seperti silica, calcium dan magnesium sehingga dapat diendapkan yang tentunya akan berdampak pada penurunan nilai TDS.

Lihat Juga : 
- Proses Mengurangi Lumpur di air limbah secara efektif

4. Rentang Pengolahan yang cukup luas


Proses pengolahan kimia pada air limbah hanya efektif untuk dapat mengolah air limbah yang kotorannya bersifat mudah diendapkan. Sedangkan proses pengolahan biologi efektif untuk mengolah air limbah dengan kandungan zat organic yang memiliki rantai linear.

Berbeda halnya dengan proses elektrokoagulasi, proses ini mampu untuk mengolah air limbah dengan rentang yang cukup luas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table dibawah ini :



Oke sobat olah-air.com dimanapun kamu berada, itu dia 4 kelebihan penggunaan metode elektrokoagulasi untuk aplikasi pengolahan air limbah anda. Jika Anda tertarik untuk menerapkan proses Elektrokoagulasi, Anda dapat menghubungi kami pada nomor banner yang tertera diatas. Atau jika mau tau lebih banyak tentang aplikasi elektrokoagulasi, silahkan lihat beberapa artikel lainnya yang sudah kami siapkan. 


Salam Hangat,





Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Wednesday, 20 February 2019

Bagaimana Proses Aerasi Bisa Menurunkan nilai BOD

Bagaimana Proses Aerasi Bisa Menurunkan nilai BOD

Contoh media lekat untuk menunjang perkembangan bakteri aerasi

Hallo sobat olah-air.com sekalian, sudah lama sekali kita tidak update dan berjumpa ya hahaha. Mohon maaf ini semua dikarenakan Negara api sedang menyerang.. Lho.. ;p

Kali ini kita akan berbicara tentang bagaimana sih ceritanya proses biologi secara aerasi bisa menurunkan nilai cemaran BOD. Penasaran kan? Yuk kita simak uraiannya.

Sebelum berangkat ke narasinya yang panjang, harus kita ingat bahwa BOD bukanlah zat namun hanya sebuah nilai konversi yang dihasilkan dari analisa tentang seberapa banyak oksigen yang dibutuhkan untuk membuat seluruh zat organic dapat teroksidasi. Sehingga besarnya nilai BOD tentu akan berbanding pula dengan besarnya jumlah zat organic yang ada dalam air limbah.

Dalam pengolahan air limbah dengan metode lumpur aktif, bakteri akan bercampur dengan air limbah dengan harapan adanya proses adaptasi terhadap polutan dalam air. Mikroorganisme atau bakteri akan kontak dengan bahan organic atau biodegradable dan menggunakannya sebagai sumber energy. Nantinya bakteri akan membentuk koloni atau rumah tinggal dengan terwujudnya lender yang lengket yang bisa kita temukan pada dinding ataupun pada media bakteri.

Tingkat keberhasilan penguraian polutan dalam air limbah, akan tergantung dari seberapa efektif bakteri memakan zat organic yang ada dalam air limbah, serta bagaimana kemampuan bakteri dalam membuat bioflok yang dapat dengan mudah settle down dalam air.

Biasanya dalam proses biologi, setelah proses aerasi akan dilanjutkan dengan proses clarifier dimana active sludge yang terbawa akan ditangkap oleh lamella dan dibuat settle down. Sebagian volume active sludge akan dikembalikan ke tangki aerasi (Sistem RAS) dan sebagian akan dibuang menuju tangki proses sludge.

Proses RAS ini penting untuk menjaga rasio active sludge hingga jangan sampai over ataupun kurang. Prosesnya bisa menggunakan pompa ataupun menggunakan metode gravitasi.

Proses biologi dengan metode activated sludge dalam kondisi optimumnya dapat menurunkan 80-90% BOD. Dan tingkat efisiensi ini tentu tidak terlepas dari keberhasilan dalam menjaga beberapa factor seperti :

- Nilai pH Inlet

- Nilai Debit intake yang masuk

- Ke stabilan polutan yang masuk

- Jumlah nutrisi dalam air limbah

- Serta mengeleminasi masuknya desinfektan ke dalam air limbah. 



Secara umum ada 5 jenis grup mikroorganisme yang dapat kita temukan pada proses aerasi khususnya pada metode activated sludge :

1. Bacteria : yakni bakteri aerob yang bekerja memakan nutrisi organic

2. Protozoa
: yang membantu dalam memakan bakteri yang telah mati dan juga menguraikan suspended solid

3. Metazoa : mikroorganisme yang membantu penguraian air limbah dengan nilai BOD yang sangat tinggi. Biasanya digunakan pada system lagoon.

4. Bakteri Filament : bakteri yang berbentuk seperti benang-benang halus, biasanya mengganggu proses settling dan membuat terjadinya bulking ataupun sumbatan pada pemipaan.

5. Alga (Lumut) dan Jamur : dua mikroorganisme ini biasanya bertumbuh ketika ditopang oleh cahaya matahari yang cukup dan juga dalam sludge yang telah mati. Sifatnya tidak massif ataupun dominan tapi akan menggangu pengamatan.
Baca selengkapnya

Friday, 19 October 2018

5 Kekurangan dari Penggunaan Sistem EDI

Kekurangan Pada Proses EDI


Haloo sobat olah-air.com selamat malam. Di malam ini di sela-sela kesibukan merancang proses water dan waste water treatment untuk beberapa project. Saya akan mencoba membahas tentang beberapa kekurangan dari proses EDI.

Artikel ini ditujukan untuk menjawab salah seorang peserta workshop yang diadakan oleh tim saya beberapa waktu yang lalu. Dan bagi yang mau ikut workshop tersebut dapat menghubungi nomor tim kami diatas.

Lihat Juga : Jual Mesin EDI Untuk Industri

Mengapa Harus Tahu Kekurangannya?




Sudah selayaknya bagi seorang pengusaha untuk mengetahui resiko dan peluang dari setiap keputusan yang mereka ambil. Dengan mengetahui kekurangan atau resiko dari sesuatu, tentu kita sebagai owner dapat mengambil langkah preventif dan juga plan cadangan untuk mendapatkan hasil yang baik.

Dan dalam artikel Prinsip Proses EDI, saya sendiri sudah menyebutkan beberapa kelebihan dari proses EDI. Sehingga tidak adil rasanya kalau kita tidak membahas kekurangan EDI dalam artikel lainnya.

Seperti yang kita tahu, di Dunia ini tidak ada sesuatupun yang sempurna. Karena kesempurnaan itu sendiri hanya milik ALLAH Sang Tuhan pemilik dan pencipta alam semesta. Namun dari kekurang-kekurangan ciptaan yang ada di dunia, kita sebagai manusia yang diberikan akal serta pikiran tentu menjadi berpikir tentang bagaimana cara mengolah kekurangan tersebut menjadi lebih minimal untuk dapat dikontrol dengan lebih baik lagi. Termasuk dalam system EDI ini.

Nah daripada berlama-lama di pembukaan, yuk langsung saja kita simak daftar kekurangan system EDI.

Lihat Juga : Prinsip Kerja Mesin EDI

List Kekurangan Proses EDI

a. Biaya Installasi Lebih Tinggi

Kekurangan pertama yang akan ditemuka dalam system EDI adalah tentang biaya installasi awal yang sedikit lebih tinggi daripada menggunakan system Mixbed.

Tingginnya biaya installasi ini, bukanlah karena harga modul EDI yang tinggi (saja). Tingginya biaya installasi ini lebih mengarah pada kebutuhan pre-treatment system yang cukup banyak, terlebih lagi jika air yang digunakan tidak memiliki parameter air bersih.

Biaya installasi untuk standar water treatment, Pure Water Treatment dan High Pure Water Treatment perlu kita pikirkan ketika kita berniat menginstall system EDI. Yang tentunya hal ini menjadi kekurangan pertama yang harus kita pertimbangkan.

Proses RO baik One Phase ataupun two phase akan menjadi sebagian dari keseluruhan RAB yang muncul ketika niat membuat system EDI ini terwujud. Dan kita semua tahu bahwa untuk menginstall two phase RO, cukup banyak biaya yang harus kita keluarkan.

Namun, biaya installasi ini dapat kita reduce jika air yang digunakan sebagai air baku sudah memiliki kandungan parameter yang rendah.

b. Inlet Parameter Lebih Ketat

Walaupun memiliki system operasional dan maintenance yang jauh lebih mudah, EDI ternyata memiliki inlet parameter yang jauh lebih ketat jika dibandingkan dengan proses mixbed.

Parameter TDS/Conductivity harus dijaga serendah mungkin hingga bernilai dibawah 5 mg/L ataupun dibawah 18 mS/cm2. Selain itu parameter hardness, silica dan chlorine juga harus dijaga agar berada dibawah 1 mg/L. Dan untuk menjaganya kita memerlukan installasi pre-treatment yang cukup banyak.

apa saja kekurangan pada proses EDI
Jika air yang masuk ke dalam EDI ternyata tidak masuk ke dalam standard yang telah ditetapkan. Maka modul EDI akan terganggu, sehingga debit dapat menjadi turun atau menjadi nol akibat terjadinya clogging ataupun kerusakan permanen pada bagian internal modul EDI. 


c. Masih Kurangnya Spare Part dan Teknisi EDI 



Kekurangan ketiga dari system EDI ini adalah dari sisi ketersediaan teknisi dan spare part yang masih jarang. Harus diakui hal ini terjadi kerena intallasi EDI di Indonesia sendiri masih tergolong baru dan jarang. Oleh karenanya tenaga teknisi yang bisa memperbaiki system ini juga masih sangat sedikit. 



Begitu pula dengan spare-part masih harus mengandalkan proses import yang bisa memakan waktu 1 – 3 bulan lamanya. 



Namun hal tersebut tidak jadi masalah besar, jika sobat melakukan order EDI pada perusahaan kami. Sebab perusahaan kami telah berpengalaman dalam melakukan perbaikan dan installasi mesin EDI sehingga proses perbaikan menjadi lebih cepat. 



Dan lagi, jaringan supply kami telah menyebar hampir diseluruh dunia. Sehingga pengadaan spare part juga bisa lebih singkat hanya dalam hitungan 1-2 minggu saja. 

d. Mudah Terjadi Trouble Jika Inlet Water Bermasalah 


Kekurangan terakhir dari proses EDI ini adalah terlalu sensitifnya modul EDI yang ada dipasaran. Sehingga jika terjadi kesalahan sedikit saja pada proses inlet water, dapat berakibat menurunnya kualitas dan kuantitas product water dari si EDI ini. 



Tidak jarang juga mesin menjadi shut down akibat output yang diberikan tidak ada, dikarenakan terjadinya clogging pada cation/anion chamber yang ada di Modul EDI. 



Untuk menjaga hal ini jangan sampai terjadi, disarankan untuk menginstall pre-treatment yang tepat sebelum air umpan masuk ke dalam system EDI. 



Pastikan installator ataupun perusahaan yang menginstall EDI, paham betul apa saja akar masalah di EDI dan cara-cara tepat untuk mengatasinya. Selain itu, Anda juga harus memastikan bahwa perusahaan tersebut mampu membaca parameter air baku sehingga mampu mendesain pretreatment yang tepat. 

apa saja kekurangan dari mesin EDI CHeminusa






Lihat Juga : Pretreatment Pada Proses EDI

Oke sobat, tak terasa sudah malam juga ini. Maka kita sudahi dulu ya daftar kekurangan dari system EDI ini. Jika sobat memiliki pertanyaan atau kebutuhan Inquiry untuk EDI, silahkan menghubungi kami langsung pada nomor yang tertera di Website ini, kami siap membantu Anda!.

Salam hangat,



Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Jual Mesin EDI untuk Industri

Jual Mesin EDI untuk Industri

PT CHEMINUSA Kontraktor Pembuat Mesin EDI water Treatment


Apa itu EDI? 

EDI atau ELECTRODEIONIZATION adalah suatu system pemurnian air dengan memanfaatkan arus listrik DC untuk memisahkan cation dan anion dalam air sehingga didapatkan air dengan tingkat kemurnian tinggi. EDI sendiri sekarang banyak dijual untuk dapat menjadi alternative bagi penggunaan Mixbed Demin yang dirasa memiliki kekurangan. 



Aplikasi EDI 

EDI di seluruh dunia saat ini telah mendapatkan pengakuan yang cukup baik karena telah diaplikasikan dalam beragam lini industry. Maka dari itu saat ini cukup banyak produsen besar dari Membrane RO yang juga menjual system EDI rakitan. Beberapa jenis industry yang menggunakan EDI antara lain :
- Industri Farmasi 

- Industri Makanan dan Minuman 

- Penggunaan dalam Boiler Bertekanan Tinggi 

- Industri Microelectronic (Chip Komputer) 

- Laboratorium Pengujian 

Keuntungan Penggunaan Sistem EDI yang kami Jual 

EDI adalah proses pemurnian air yang bisa berlangsung secara non-stop serta tidak memerlukan proses regenerasi kimia yang merepotkan. Oleh sebab itu, dengan penggunaan EDI owner system tidak perlu lagi memikirkan down time akibat adanya regenerasi, dan juga mengurangi chemical handling dan storage untuk regenerasi. 

SKID yang kecil dari EDI juga akan menghemat lebih banyak lahan di pabrik, jika kita bandingkan dengan area SKID dari system MIXBED yang cukup besar. Jika dibandingkan areanya, maka area SKID untuk EDI yang kami jual hanya akan menduduki area 30% dari area SKID Demin Mixbed. 

Untuk dari segi output, EDI Jauh lebih stabil karena tidak terpengaruh kejenuhan dari resin. Hal ini sangat menguntungkan, karena dapat mengurangi reject dari produk yang sangat berharga. 

Output Mesin EDI Yang Kami Jual 

EDI yang kami jual memiliki Output yang akan sesuai expektasi dari Owner yang memesan system EDI tersebut. Secara umum berikut ini adalah output yang kami janjikan akan Anda dapatkan dari EDI yang kami jual :



5 Alasan Kenapa Beli EDI di PT. CHEMINUSA 

1. Engineer berpengalaman dan Terampil 

Kemi telah berpengalaman dalam bidang water treatment selama lebih dari 15 tahun. Oleh karenanya kami tidak hanya menjual system EDI karena mesin tersebut memiliki komponen yang bagus. Namun karena kami juga memiliki engineer yang berpengalaman dan terampil. 

Engineer kami telah terlatih untuk dapat menangani beragam permasalahan dan requirement dari system EDI. Sehingga proses installasi dan running akan dilakukan dengan smooth. Ditambah lagi proses transfer knowledge akan diberikan secara serius, sehingga operator Anda akan memiliki pemahaman yang baik dalam menjalankan system EDI yang kami install. 

2. Proses Pengerjaan Cepat 

Tim kami yang terampil, dibarengi dengan bagian pengadaan yang sudah berpengalaman akan membuat proses installasi EDI ditempat Anda menjadi lebih cepat. Total proses pengerjaan bisa hanya selama 1 bulan saja. 

3. Harga Terbaik 

Kami memberikan harga jasa installasi EDI yang sangat bersaing dengan competitor lainnya. Hal ini dikarenakan kami telah memiliki jalur pengadaan EDI yang baik ditambah lagi proses pengerjaan yang cepat membuat EDI yang kami jual adalah pilihan terbaik bagi Anda. 

4. Desain Komplit 

Kami mengerti bahwa system EDI tidak dapat berdiri sendiri. Untuk itu, kami juga akan memberikan rancangan desain system secara Komplit dan menyeluruh. Hal ini bertujuan untuk menjaga investasi EDI anda sehingga tahan lama dan dapat memberikan hasil yang konsisten serta stabil dari waktu ke waktu. 

Kami akan memberikan desain dari mulai water intake/Pre-Treatment, Main Treatment, hingga post treatment. Desain akan disesuaikan dengan requirement standard yang anda inginkan, baik itu sesuai dengan Pharmacopea, ASTM, ataupun ISO. 

5. Garansi Hasil 

Kami berani memberikan garansi hasil atas EDI yang kami jual. Garansi akan diberikan bersama dengan free maintenance dan servis selama waktu yang kita sepakati bersama. Ditambah lagi, kami juga memberikan sparepart cadangan yang akan Anda perlukan untuk proses perawatan ataupun penggantian berkala. 

Oke sobat, itulah dia 5 Alasan terbaik kenapa Sobat harus beli EDI di PT.CHEMINUSA. karena hanya kami yang Jual EDI dengan beragam kelebihan serta jaminan purna jual yang baik. 




Salam hangat,



Olah-Air.Com
Baca selengkapnya

Prinsip Kerja Electro Deinonization (EDI) Dalam Proses Water Treatment

Prinsip Kerja Electro Deinonization (EDI) Dalam Proses Water Treatment




Dunia Industri yang sekarang semakin berkembang dan semakin menuntut spesifikasi yang semakin ketat dari beragam sisi. Salah satu sisi yang cukup ketat adalah dari bidang utility khususnya air. 


Beberapa industry seperti farmasi, instrumentasi juga pembuatan tinta khusus ternyata memerlukan suatu air dengan spesifikasi yang sangat khusus. Spesifikasi ini basa disebut sebagai Spesifikasi Ultra Pure Water. Yang hanya bisa didapatkan dari proses pemurnian tingkat tinggi salah satunya ada proses EDI. 



Dan dalam artikel kali ini kita akan menuliskan bagaimana sih proses EDI itu sehingga bisa menghasilkan air dengan tingkat kemurnian tinggi atau Ultra Pure Water?




Prinsip Penggunaan EDI 



Proses pemurnian air hingga pada tingkat ultra pure water, sebenarnya sudah biasa dilakukan dalam industry farmasi dan juga intrumentasi. Proses mendapatkan ultra pure water ini, biasa dilakukan dengan system Mixbed Demin. 



Sistem Mixbed demin ini, dahulu adalah yang utama dipakai untuk mendapatkan Ultra Pure Water sebelum proses EDI Ditemukan. Prosesnya adalah dengan proses penyerapan cation dan anion yang berada di air dengan resin yang ada dalam tangki. 



Proses penyerapan cation dan anion yang ada dalam air ini, harus melalui proses regenerasi resin yang dimana cukup merepotkan dan memerlukan banyak biaya baik. 


Kontraktor Pembuat EDI



Prinsip kerja EDI, memiliki perbedaan dengan prinsin kerja Mixbed Demin. Dimana cation dan anion ini nanti diberikan reaksi lewat arus listrik DC. Sehingga akhirnya dapat memisahkan diri dari air permeate menuju air concentrate. Hal ini memberikan kelebihan pada proses EDI, karena tidak perlunya proses regenerasi seperti pada proses Mixbed Demin. 




Kelebihan Penggunaan EDI 



Setelah mengetahui tentang prinsip kerja dari Proses EDI, maka kita akan membahas sedikit tentang apa saja sih kelebihan dari proses EDI (Electrodeionization). Cekidot 



a. Tidak memerlukan proses regenerasi 



Proses pemurnian air menggunakan EDI, tidak memerlukan proses regenerasi. Hal ini dikarenakan prinsip kerja dari EDI itu sendiri bukanlah merupakan pertukaran Ion. Tapi lebih kepada injeksi muatan electron pada senyawa pengotor yang ada diair. Fungsinya adalah untuk dapat dengan mudah membuat pengotor tersebut berpindah ke dalam cation atau anion chamber di Sistem EDI. 



Dengan ketiadaan proses regenerasi, tentu membuat operasional cost berkurang, diiringi dengan berkurangnya juga proses operasional dan juga installasi yang merepotkan. 





b. Tidak menghasilkan Limbah 



Proses penyerapan cation dan anion dengan meggunakan mixbed, akan membutuhkan proses regenerasi agar si mixbed dapat digunakan terus menerus. Proses regenerasi itu sendiri tentu kita tahu, bahwa dia memerlukan Asam HCl dan juga basa NaOH. Yang akhirnya nanti akan menghasilkan limbah regenerasi yang memiliki pH dan TDS diluar batas yang bisa diterima baku mutu. 

Lihat Juga : 5 Kekurangan Mesin EDI



Limbah regenerasi ini nantinya harus diolah dalam proses pengolahan air limbah (IPAL / WWTP) dan hal ini tentu merupakan cost tambahan yang harus diperhitungkan. Karena pemilik Demin harus mengeluarkan biaya Investasi dan operasional untuk dapat mengolahnya. 



Berbeda dengan proses pada EDI, dimana tidak perlu melakukan regenerasi sehingga owner tidak perlu pusing lagi memikirikan biaya untuk investasi IPAL dan juga operasionalnya. 





c. Sistem Operasional Yang Lebih Simple 



Ketiaadaan proses regenerasi, tentu akan membuat berkurangnya valve yang harus dioprasikan. Hal ini akan memudahkan proses operasional seperti halnya proses operasional antara RO dan Demin. 



Sistem operasional yang lebih simple akan berdampak pada menurunnya jumlah operator yang diperlukan untuk running system. Dan hal ini juga akan berdampak pada lebih stabilnya debit yang dihasilkan karena proses maintenance dan regenerasi juga akan berkurang jauh. 



d. Low Power Consumption 



Walaupun dalam prinsip kerjanya EDI menggunakan arus listrik DC. Tapi dalam kenyataan dilapangan jikalau kita hitung dengan berkurangnya proses pumping, regenerasi, maintenance dan lain-lain maka sudah tentu dari segi power consumption jauh lebih rendah daripada proses Mixbed ataupun demin yang digantikan. 

Lihat Juga : 6 Teknik Anaerob untuk Pengolahan Air Limbah



e. Area Sistem Yang Lebih Kecil 



Kelebihan terakhir dari pemilihan EDI sebagai proses untuk mendapatkan ultra pure water adalah karena EDI hanya memerlukan area yang jauh lebih kecil. Yakni hanya 30% dari area yang diperlukan oleh system Mixbed. 



Area yang lebih kecil ini didapat karena proses EDI telah mengeleminasi kegiatan regenerasi, back wash, rinsing, dan juga proses maintenance lainnya. Alhasil area system EDI ini sendiri menjadi lebih kecil. 



Keuntungan area ini tentu sangat diinginkan oleh para Owner yang memiliki area terbatas di pabrik mereka. 





Nah itu dia, Sedikit pembahasan tentang Prinsip kerja dari EDI beserta dengan beberapa kelebihan dari system ini. Untuk pertanyaan lebih lanjut atau permintaan Quotation EDI ini dapat menghubungi kami di PT. CHEMINUSA. 






Salam Hangat, 






Mr. Anggi Nurbana

Baca selengkapnya

Pretreatment Pada Proses EDI

Pretreatment Pada Proses EDI

Cara untuk memproses EDI kontraktor EDI


Assalammu’alaikum Sobat Olah-air.com sekalian. Apa kabar? Semoga sobat sekalian sehat selalu ya!

Kalau di artikel sebelumnya kita sudah membahas tentang prinsip EDI beserta beberapa kelebihannya. Maka dari itu dalam artikel kali ini kita akan membahas tentang pretreatment yang diperlukan oleh EDI itu sendiri.

Pemahaman tentang pretreatment untuk EDI ini cukup penting untuk dapat dimiliki oleh para owner atau pelaku usaha yang ingin memiliki ultra pure water lewat proses EDI. Sebab tanpa pengetahuan ini, bisa jadi EDI yang dimiliki hanya akan bertahan sebentar saja. Karena EDI mengalami kerusakan akibat input air yang belum diproses pre-treatment terlebih dahulu.

Proses pre-treatment ini juga yang sebenarnya membuat cost installasi dari system EDI dibilang lebih mahal sedikit dibandingkan dengan cost installasi pemurnian air menggunakan proses Mixbed Ion Exchange.

Namun jikalau kita timbang dengan pengeluaran operasional dalam jangka waktu panjang, Proses pretreatment ini akan membayarnya dengan memberikan hasil yang lebih stabil dan low cost operasional.

Seperti apa saja sih pretreatment yang diperlukan oleh proses EDI ini. Mari kita simak saja langsung dalam postingan dibawah ini.

a. Clean Water Generator 

beli EDI untuk water treatment cheminusa


Pretreatment pertama yang harus dilakukan untuk menjaga kestabilan dari proses EDI adalah dengan adanya Clean Water Generator System Yah istilah mudahnya sih standar water treatment proses.

Tujyan dari Clean Water Generator ini sendir adalah untuk mendapatkan air yang masuk ke dalam standar baku mutu air bersih dan layak digunakan untuk keperluan sehari hari.

Proses dalam Clean Water Generator atau Standar Water Treatment process ini biasaya akan meliputi sedimentasi, eleminasi partikel lumpur (Suspended Solid), penyerapan zat warna, penyerapan hardness dan juga eleminasi bakteri.

Untuk lebih mudahnya dapat melihat skema dibawah ini.

Clean Water Generator dapat dibuat lebih ringkas jika air sumber yang digunakan telah terjamin kualitasnya. Seperti air yang berasal dari WTP kawasan ataupun dari PDAM. Hal ini akan mengurangi proses injeksi chemical untuk koagulasi dan flokulasi, mengurangi sedimentasi dan proses sludge handling. Sehingga proses Clean Water Generator hanya akan berfokus untuk penyerapan pengotor, pengurangan hardness, bakteri dan pengurangan pollutant chlorinse serta ammonia saja.

b. Pure Water Generator 

Jual mesin EDI


Proses pre-treatment kedua ini sebenarnya sudah biasa dillakukan dibanyak perusahaan. Terlebih untuk perusahaan yang banyak menggunakan air dalam proses produksinya.

Industri Makanan dan Minuman, Industri Farmasi, Industri Plating, Industri Bahan kimia, industry kertas dan lain sebagainya biasanya memerlukan air dengan tingkat kemurnian yang cukup baik.

Pure Water juga biasanya diperlukan dalam mesin boiler dengan tekanan tinggi. Beberapa karakter dari Pure Water dapat dilihat dibawah ini.

Pure water biasanya didapatkan lewat proses filtrasi tingkat dua seperti dengan menggunakan Cartridge filter, Ultra Filtration ataupun nano filtration.

Hasil dari proses RO yang masih memiliki nilai TDS diatas 50 juga dapat digolongkan kepada proses Pure Water Generator.

c. High Pure Water Generator 



Proses pretreatment ketiga untuk inlet ataupun feed EDI system adalah High Pure Water Generator. Proses ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan inlet yang lebih stabil dan lebih murni dari pada Pure Water.

Ion atau pollutant yang biasa dikontrol dalam proses Ini antara lain :

- Hardness (Baik Calcium ataupun Magnessium)

- Silica

- Chlorine

- Dan Total Dissolved Solid

Seluruh parameter diatur ataupun ditreatment sedemikian rupa sehingga dapat masuk ke dalam standar inlet dari proses EDI.

Tidak jarang, untuk treatment High Pure ini digunakan proses RO dengan system TWO Phase ataupun menggunakan proses Demin Cation dan anion. 
perusahaan kontraktor EDI untuk water treatment farmasi
EDI tanpa Proses Pre-treatment, Bisakah? 

Kalau ditanya bisa atau tidak. Maka jawabannya adalah bisa! Asalkan air baku yang digunakan sudah masuk ke dalam standar High Pure Water seperti air hujan atau air pegunungan yang sangat murni. 

Dan bisa juga sih, air tanah atau air PDAM langsung masuk ke dalam system EDI, asalkan owner memiliki uang yang sangat banyak sehingga setiap hari bebas ganti modul EDI sesukanya hahaha.. 

Oke sobat olah-air.com itu dia tulisan singkat tentang pretreatment yang dilakukan pada system atau proses EDI. Semoga menjadi tercerahkan dan mendapatkan input positif untuk desain yang sedang sobat kerjakan. 

Jangan lupa, jikalau memerlukan bantuan ataupun jasa kontraktor untuk desain dan pengadaan EDI. Sobat dapat menghubungi kami langsung pada nomor yang tertera diatas. 







Salam Hangat,



Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Friday, 17 August 2018

Cara Menghilangkan Pengotor dari Biogas

Cara Menghilangkan Pengotor dari Biogas

Cara tercepat untuk membuat biogas menjadi bersih

Hallo sobat olah-air.com sekalian, senang sekali ketemu libur yang cukup panjang. Yang artinya saya bisa memberikan beberapa materi untuk website tercinta yang akan membahas tentang solusi-solusi dalam bidang water treatment dan environmental engineering.

Kali ini sesuai subject, kita akan membahas tentang cara menghilangkan pengotor dari biogas. Biogas adalah gas methane yang dihasilkan dari proses anaerobic yang banyak digunakan sebagai sumber energi. Dan rasanya untuk bahasan sejarah dan beberapa bahasan lainnya bisa ditemukan dalam link dibawah ini :

4 Partikel Pengotor / Pollutant pada Biogas dan Cara Menghilangkannya !

Ada setidaknya 5 partikel/senyawaan yang biasa kita temukan dalam biogas yang dihasilkan. 5 jenis partikel ini akan menurunkan kualitas dari biogas yang dihasilkan, merusak fasilitas biodigester dan juga akan membuat biogas yang dihasilkan gagal untuk menyala.

Dan dalam artikel ini kita kan membahas tentang apa sajakah mereka dan cara untuk menghilangkan pengotor tersebut dari Biogas.

Baca Juga :
- Pretreatment untuk Proses Biogas
- Sejarah Asal Mula Penggunaan Biogas 
- Proses Anaerob Penghasil Biogas

A. Uap Air

Air dapat kita temukan hampir disemua bahan baku dari biogas ini. dari mulai kotoran hewan ternak, limbah sawit, sampah organik, dedaunan kering (Jerami dsb) dan lainnya semuanya mengandung air maka tentu saja air akan menjadi salah satu kandungan yang keluar bersamaan dengan gas methane.

Keberadaan uap air dalam biogas dapat membuat biogas yang dihasilkan gagal ignite, dan berkualitas rendah. berikut ini adalah beberapa cara yang bisa diambil
 1. Mendinginkan Biogas dengan Passive Cooling ; 
Pipa pentransfer Biogas dapat dipendam dalam tanah untuk memberikan efek pendinginan pasif, untuk selanjutnya uap air akan menjadi kondensat yang dapat dipisahkan.

2. Pendinginan dengan Heat Exchanger
Biogas dapat didinginkan dengan dilewatkan pada heat exchanger, kemudian gas yang sudah dilewatkan dikeringkan.

3. Penyerapan Uap Air
Cara ini adalah yang paling umum dan gampang diaplikasikan. wadah pengumpul biogas diletakan bahan penyerap air seperti silica gel, kapur, glycol atau lainnya. Air akan terserap pada absorbent dan gas yang keluar akan lebih bersih dari uap air.

Baca Juga : Konsultan Pengolahan Air Indonesia

B. H2S atau Sulfida

Sulfida akan banyak ditemukan pada biogas yang dihasilkan dari sampah organik ataupun dari kotoran. Kandungan sulfida yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya korosi pada biodigester, dan juga bisa merusak tungku. Sulfida juga kita tahu dapat mereduksi senyawaan metal/logam sehingga menjadi karat dan rusak.

Keberadaan Sulfida dapat dideteksi dari baunya yang seperti telur busuk.

Cara untuk menghilangkan pengotor sulfida dalam biogas adalah sebagai berikut :

1. Proses Water Scrubbing
Biogas dilewatkan pada water scrubber tower. Dimana air disemprotkan dan airnya yang turun ke bawah akan mengandung sulfida, sedangkan udara yang keluar akan bebas dari sulfida. biasanya proses dilanjutkan denngan menggunakan gas dryer.

2. Menggunakan Karbon Aktif
Karbon aktif diletakan pada jalur aliran biogas atau tempat penyimpanan biogas. Carbon aktif dapat menyerap sulfida dan pengotor lainnya sehingga biogas yang dihasilkan bisa lebih bersih.

3. Menggunakan Fe(OH)3
Besi atau bahan kimia Besi Hydroksida bisa juga digunakan untuk menyerap sulfida. Sulfida akan menyebabkan Fe(OH)3 berubah menjadi FeS yang berwarna hitam

Cara Mendesain Biodigester

C. Ammonia

Ammonia pada biogas dapat menyebabkan timbulnya bau pesing pada biogas dan menyebabkan korosi pada peralatan dan pemipaan. Untuk menghilangkan ammonia dapat menggunakan beberapa cara berikut :

1. Water Scrubber
Prinsipnya sama dengan ketika menghilangkan Sulfida. Sifat ammonia yang larut di dalam air, akan membuatnya turun bersamaan dengan turunnya tetesan air dari water scrubber.

2. Proses pendinginan
Bisa dengan menggunakan proses passive cooling, dimana ammonia nanti akan terikut bersama dengan uap air yang mengembun. Namun proses water scrubber masih menunjukan hasil yang lebih baik dari pada proses ini.

Baca Juga : Solusi dari Permasalahan di Cooling Tower

D. Partikel atau Debu

untuk menghilangkan partikel debu ataupun yang sejenis dari biogas dapat dengan menggunakan dust filter atau pun semacam dust collector. Nanti akan diperlukan semacam blower ataupun compressor untuk mempercepat proses ini.

Oke Sobat olah-air.com itu dia cara-cara untuk melakukan pemurnian pada Biogas. Untuk aplikasi secara besar dan skala komersial tentang plant biogas, dapat menghubungi kami secara langsung.



Baca selengkapnya

Thursday, 2 August 2018

Pretreatment Untuk Proses Menghasilkan Biogas

Pretreatment Untuk Proses Menghasilkan Biogas di Biodigester

Biogas dihasilkan dengan mesin biodigester


Selamat malam, sobat sekalian. Alhamdulillah sekarang bisa kembali menulis ditengah kesibukan proyek yang sunggu menyita perhatian dan waktu. Kali ini kita masih akan membahas tentang proses Biodigester untuk menghasilkan biogas dari Biomassa.

Dalam postingan sebelumnya tentu sudah dijelaskan tentang pengertian dari Biogas dan Sejarahnya. serta beberapa proses anaerob untuk menghasilkan biogas.

Kalau belum, maka sobat Olah-Air.Com dapat membacanya pada postingan dibawah ini.

Kali ini sesuai dengan subject, kita akan membahas tentang proses pretreatment untuk menghasilkan Biogas dari alat biodigester. Yang akan kita bahas ini, adalah tentang aplikasi pada Biodigester skala kecil. Yakni skala 25 Kg perhari hingga 250 kg perhari. Skala kecil ini biasanya diterapkan pada alat biodigester yang dipasang pada pemukiman pendudukan yang cukup padat, dengan tujuan untuk menurunkan jumlah sampah, dan memberikan imbal balik energi untuk dapur umum.

Apa saja sih, proses pretreatment untuk menghasilkan biogas, langsung saja kita Cekidot dibawah ini :
- 6 Teknik Anaerob Penghasil Biogas
- Sejarah Komersialisasi Biogas

1. Pemilahan Sampah Yang Bisa dan Tidak

Proses pertama yang harus dilakukan pada sampah atau biomassa yang akan dimasukan pada biodigester adalah kita harus melakukan pemilahan terlebih dahulu. Kita pilah, mana sampah yang dapat diproses dengan bakteri pengurai sehingga menjadi biomassa penghasil biogas dan mana sampah yang tidak dapat terurai.

Pada umumnya, semua sampah yang sulit terurai seperti : plastik, kaca, kaleng, logam, fiber, bahan bakar harus dipisahkan terlebih dahulu. Sehingga tidak terjadi kerusakan pada biodigester.

Lalu beberapa sampah organik yang sulit terurai juga harus dipisahkan agar tidak merusak atau memberikan "penyakit" pada biodigester. Beberapa sampah organik yang juga harus turut dipisahkan (Berdasarkan pengalaman) antara lain :

a. Daun Pisang
Daun pisang, dilapangan dapat menyebabkan Biodigester menjadi kembung seperti orang bunting (Asli ini pengalaman). Walaupun masih tergolong sebagai bahan organik, namun ternyata dilapangan daun pisang ini sulit diuraikan oleh alat biodigester.

Daun pisang, dalam jumlah yang cukup banyak akan menggumpal dalam biodigester, dan tidak turut hancur menjadi slurry. Hal ini menyebabkan proses peleburan dan pemecahan gas methane menjadi terhambat. Berujung pada biodigester yang membengkak.

Oleh karenanya, sangat dianjurkan (Wajib dah) untuk memisahkan daun pisang dari sampah yang akan masuk ke dalam biodigester.

Daun pisang dapat dikubur dan diberikan taburan slurry dari biodigester sehingga berubah menjadi kompos bagi tanah.

Cara pretreatment untuk proses biogas


Lihat Juga : Cara Melihat Keterkaitan Parameter di Hasil Analisa Air Limbah

b. Kayu
Bahan organik kedua yang sangat disarankan untuk dipisahkan sehingga tidak masuk ke dalam biodigester yang kita kelola. Zat lignin dalam kayu, merupakan salah satu zat yang akan menghambat proses penguraian, karena lignin terdiri dari makromolekul kompleks.

Makanya, disarankan untuk tidak memasukan kayu (apalagi dalam ukuran besar), kedalam alat biodigester.

c. Biji Mangga dan Alpukat
Sampah organik ketiga adalah kedua jenis biji ini. Saya juga belum menemukan alasan kenapa kedua jenis biji ini sulit diuraikan dalam alat biodigester. walaupun tidak sampai menyebabkan biodigester menjadi "sakit" seperti akibat memakan daun pisang. namun biji mangga dan alpukat ini setelah lama diproses dalam biodigester ternyata tidak menjadi hancur. Malahan akan keluar seperti bentuk aslinya bersama dengan slurry.

Yang jelas, kedua jenis biji ini dapat menghambat pada saluran keluar slurry karena keduanya tida menjadi hancur dalam proses penguraian dalam biodigester.



Lihat Juga : Memasukan Nilai Ergonomi dalam tata letak System

d. Makan Yang Kemungkinan Mengandung Kimia
Jenis sampah organik keempat yang harus dipilah ini disebabkan karena bahan kimia dalam makanan tersebut akan mengganggu proses penguraian bakteri penghasil biogas dalam biodigester. Makan seperti Ikan Asin, bakso serta makan instan curah lain seperti kornet dan nugget curah kemungkinan mengandung Boraks, Formalin dan pengawet lainnya yang sebaiknya dipisahkan dari sampah organik yang akan masuk ke dalam biodigester.

Boraks, Formalin serta bahan pengawet dapat memberikan efek anti oksidasi dan anti bakteri. Sehingga dilapangan dapat membuat proses penguraian menjadi lebih sulit. Hasilnya adalah biodigester menjadi lebih cepat penuh dan lebih sedikit biogas atau gas metane yang dihasilkan.

Lihat Juga : Teknik Pengolahan Limbah di Pabrik Sawit


Cara Mengolah Sampah untuk proses biogas di Peta hijau


2. Pencacahan Sampah Organik

Proses pretreatment kedua adalah dengan mencacah sampah yang akan masuk ke dalam biodigester. Sampah organik dicacah atau dipotong potong dalam bentuk ukuran sekitar 2cm. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses penguraian oleh bakteri.

Proses pencacahan bisa dilakukan dengan menggunakan pisau ataupun dengan mesin pencacah tersendiri.

Lihat Juga : 7 Point Penting dalam mendesain STP

3. Pencampuran Sampah Organik

Proses pretreatment terakhir adalah dengan melakukan pencampuran sampah tadi ke dalam alat biodigester.

Sampah dimasukan perlahan sambil dilakukan pengocokan. Tujuannya agar tidak terjadi penumpukan biomassa dalam satu sisi biodigester saja. Dengan pencampuran perlahan juga, untuk menghindari air sampah menjadi berceceran.

Itu dia 3 proses pretreatment yang biasa dilakukan pada alat biodigester skala kecil untuk menghasilkan biogas. Semoga bermanfaat. Dan stay tune terus dengan Google Plus Mr. Anggi Nurbana agar selalu mendapatkan Update Informasi tentang pengolahan air dan air limbah.

Salam Lingkungan



Mr. Anggi Nurbana


Baca selengkapnya

Thursday, 5 July 2018

6 Teknik Anaerob dalam Pengolahan Air Limbah


6 Jenis teknik Anaerob Dalam Pengolahan Air Limbah

Hallo sobat sekalian, masih bersama Mr. Anggi Nurbana di olah-air.com. Sesuai dengan janji saya pada postingan sebelumnya bahwa dalam sekitar 5-7 postingan ke depan kita akan membahas tentang proses biogas. Dan maka dari itu, pada postingan kali ini kita akan membahas tentang salah satu tahapan proses pembuatan biogas, yakni proses anaerob. 

Anaerob, sesuai namanya adalah suatu proses penguraian zat organic tanpa menggunakan udara. Proses ini biasanya dibantu oleh bakteri jenis autotroph. 

Dalam proses anaerob, bakteri dipaksa untuk melakukan penguraian zat makanan dengan memecahkan zat organik menjadi unsur dan senyawa yang lebih sederhana. Target utama dari proses anaerob adalah penguraian rantai panjang organic menjadi rantai pendek sehingga terjadi penurunan nilai COD, BOD maupun TOC pada air limbah sedangkan terbentuknya gas methane (biogas) adalah sebagai hasil samping yang diharapkan. 

Setidaknya ada 6 Jenis teknik anaerob yang cukup popular dan digunakan secara luas. Dalam postingan ini kita akan membahas secara singkat, gambaran tentang ke-enam proses anaerob tersebut dari segi positif dan negatifnya pula. Sudah siap? Yuk mari kita bahas bersama. 


1. Anaerobic Lagoon 


Proses Anaerob di Kelapa sawit sangat mudah dengan lagoon
Contoh Penampakan Anaerob metode Lagoon



Anaerobic Lagoon adalah system pengolahan air limbah metode biologi yang paling mudah. Mudah dikarenakan tidak memerlukan teknologi khusus, hanya memerlukan sebuah kolam atau danau yang cukup besar untuk menampung 30 hari debit. 

Tidak memerlukan pengaturan khusus seperti pembatasan nilai suspended solid ataupun pun penambahan bahan kimia. 

Metode Anaerobic lagoon ini, sangat banyak dipilih oleh perusahaan sawit. Khususnya mereka yang memiliki lahan yang sangat luas sehingga leluasa untuk membuat kolam bervolume ribuan kubik. 

Kekurangan metode ini adalah diperlukannya lahan yang sangat luas, sehingga tidak cocok untuk usaha yang berada di lingkup area terbatas (kalaupun ada mahal banget harga tanahnya) seperti Jabodetabek. 

Kekurangan lainnya dari metode anaerobic lagoon adalah harus ada usaha untuk pengerukan dead sludge secara berkala. Jikalau tidak maka akan terjadi pendangkalan kolam yang berakibat berkurangnya waktu tinggal anaerob terus berimplikasi pada gagalnya proses pengolahan. 


2. Continously Stirred Reactor (CSTR) 



Teknik Anaerobic kedua yang cukup dikenal adalah CSTR. CSTR adalah sebuah teknik anaerob dimana air limbah ditempatkan dalam sebuah bejana tertutup kemudian dilakukan pengadukan atau stirring secara constant. Hal ini membuat proses dekomposisi suspended solid menjadi lebih baik dibanding dengan proses dengan lagoon. 

Kelebihan lainnya adalah waktu tinggal air limbah dapat dikurangi lebih banyak menjadi hanya dibawah 7 hari saja. Selain itu, nilai biogas atau gas methane yang dihasilkan juga jauh lebih banyak dibanding dengan metode lagoon, sebab gas methane diarahkan untuk mengalir pada satu lubang pipa khusus. 

Kekurangan dari metode ini adalah , perlunya installasi cost yang cukup tinggi sebab memerlukan equipment stirrer dan tangki yang cukup besar. Ditambah lagi material untuk kedua equipment tersebut juga tidak bisa dari bahan fiber melainkan harus dari steel dengan proteksi linning tambahan. 

Kekurangan lainnya dari proses CSTR adalah, sulit mengambil biomassa yang mengendap dikarenakan sludge selalu tercampur dalam cairan limbah. 

Kekurangan ketiga adalah perlunya energy yang konstan untuk proses pengadukan air limbah yang datang. Dan sebagai catatan untuk bisa berhasil, air limbah yang datang diharapkan akan sama jumlahnya dengan air limbah yang keluar. 

3. Anaerobic Contact Process 
Proses ini hampir mirip dengan CSTR, namun ada tambahan sedimentation tank. Hal ini tentu bagus untuk membantu memisahkan air limbah yang sudah jernih dengan yang masih terlihat kotor dan mengandung banyak solid. Namun proses ini juga tentu memerlukan biaya lebih banyak dibandingkan dengan CSTR. 

4. Anaerobic Filter 
Teknik anaerob yang satu ini dianggap cukup baik untuk menumbuhkan dan mempertahankan daya hidup bakteri. Sebab bakteri diberikan rumah tinggal berupa rongga-rongga filter sehingga mereka bisa bekerja dengan lebih baik. 

Teknik ini tidak memerlukan banyak energy seperti CSTR, sehingga dalam installasinya tidak memerlukan banyak installasi elektrikal. 

Kekurangan dari teknik ini adalah kelemahannya dalam menghandle limbah yang mengandung banyak sludge biomassa. Serta banyak kemungkinnan tersumbatnya lubang filter. Maka dari itu, system ini tidak cocok untuk air limbah dengan kandungan TSS yang tinggi. 

Kekurangan lainnya adalah, kita harus selalu memantain pH dari air limbah tersebut dan memastikannya berada diatas angka 4. Sebab dalam salah satu aplikasi di perusahaan farmasi ternama, metode ini ternyata memakan filter itu sendiri ketika pH drop dibawah 4. 

5. Upflow Anaerobic Sludge Blanket Reactor 



Metode UASB ini cukup popular dimana-mana. Sebab metode yang satu ini terbukti cukup berhasil menangani limbah-limbah dengan organic load yang tinggi. Disamping itu, desainnya yang meninggi membuatnya tidak memakan banyak lahan sehingga banyak dipakai oleh perusahaan di daerah perkotaan. 

Waktu tinggal dengan menggunakan metode ini hanya sekitar 24 jam, jauh lebih sedikit dibanding dengan metode lagoon. Dan juga, tidak diperlukan installasi elektrikal seperti mixer membuatnya lebih low cost. 

Kekurangan dari proses Ini adalah keharusan untuk menurunkan tingkat suspended solid terlebih dahulu hingga berada direntang 500-800 mg/L. Kalau tidak maka dalam prosesnya akan menyulitkan operasional. 



5. Expanded Granular Sludge Bed Internal Circulation
Contoh EGSB gambar dari watertreaters.com

EGSB ini sebenarnya adalah pengembangan dan penyempurnaan dari proses UASB, perubahannya adalah dengan adanya suatu membrane atau bed tempat bakteri bersarang. Ditambah lagi adanya system sirkulasi dengan submersible mixer sehingga membuat penguraian lebih sukses.

Zat organic yang bersifat racun seperti benzene, ataupun rantai panjang yang sulit diurai dengan proses anaerob biasa ternyata dapat diurai dengan proses EGSB.

Kekurangan dari proses ini adalah biaya installasi dan operasional yang lebih mahal dibandingkan dengan lainnya. Kemudian jumlah biomass yang terbuang juga banyak karena proses pretreatment yang dilakukan sebelum masuk EGSB.

Oke sekian sedikit pembahasan tentang teknik pengolahan limbah dengan metode anaerob. Kita akan berjumpa lagi dalam postingan yang lainnya. Sampai jumpa.



Salam Lingkungan


Baca selengkapnya