Friday, 17 August 2018

Cara Menghilangkan Pengotor dari Biogas

Cara Menghilangkan Pengotor dari Biogas

Cara tercepat untuk membuat biogas menjadi bersih

Hallo sobat olah-air.com sekalian, senang sekali ketemu libur yang cukup panjang. Yang artinya saya bisa memberikan beberapa materi untuk website tercinta yang akan membahas tentang solusi-solusi dalam bidang water treatment dan environmental engineering.

Kali ini sesuai subject, kita akan membahas tentang cara menghilangkan pengotor dari biogas. Biogas adalah gas methane yang dihasilkan dari proses anaerobic yang banyak digunakan sebagai sumber energi. Dan rasanya untuk bahasan sejarah dan beberapa bahasan lainnya bisa ditemukan dalam link dibawah ini :

4 Partikel Pengotor / Pollutant pada Biogas dan Cara Menghilangkannya !

Ada setidaknya 5 partikel/senyawaan yang biasa kita temukan dalam biogas yang dihasilkan. 5 jenis partikel ini akan menurunkan kualitas dari biogas yang dihasilkan, merusak fasilitas biodigester dan juga akan membuat biogas yang dihasilkan gagal untuk menyala.

Dan dalam artikel ini kita kan membahas tentang apa sajakah mereka dan cara untuk menghilangkan pengotor tersebut dari Biogas.

Baca Juga :
- Pretreatment untuk Proses Biogas
- Sejarah Asal Mula Penggunaan Biogas 
- Proses Anaerob Penghasil Biogas

A. Uap Air

Air dapat kita temukan hampir disemua bahan baku dari biogas ini. dari mulai kotoran hewan ternak, limbah sawit, sampah organik, dedaunan kering (Jerami dsb) dan lainnya semuanya mengandung air maka tentu saja air akan menjadi salah satu kandungan yang keluar bersamaan dengan gas methane.

Keberadaan uap air dalam biogas dapat membuat biogas yang dihasilkan gagal ignite, dan berkualitas rendah. berikut ini adalah beberapa cara yang bisa diambil
 1. Mendinginkan Biogas dengan Passive Cooling ; 
Pipa pentransfer Biogas dapat dipendam dalam tanah untuk memberikan efek pendinginan pasif, untuk selanjutnya uap air akan menjadi kondensat yang dapat dipisahkan.

2. Pendinginan dengan Heat Exchanger
Biogas dapat didinginkan dengan dilewatkan pada heat exchanger, kemudian gas yang sudah dilewatkan dikeringkan.

3. Penyerapan Uap Air
Cara ini adalah yang paling umum dan gampang diaplikasikan. wadah pengumpul biogas diletakan bahan penyerap air seperti silica gel, kapur, glycol atau lainnya. Air akan terserap pada absorbent dan gas yang keluar akan lebih bersih dari uap air.

Baca Juga : Konsultan Pengolahan Air Indonesia

B. H2S atau Sulfida

Sulfida akan banyak ditemukan pada biogas yang dihasilkan dari sampah organik ataupun dari kotoran. Kandungan sulfida yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya korosi pada biodigester, dan juga bisa merusak tungku. Sulfida juga kita tahu dapat mereduksi senyawaan metal/logam sehingga menjadi karat dan rusak.

Keberadaan Sulfida dapat dideteksi dari baunya yang seperti telur busuk.

Cara untuk menghilangkan pengotor sulfida dalam biogas adalah sebagai berikut :

1. Proses Water Scrubbing
Biogas dilewatkan pada water scrubber tower. Dimana air disemprotkan dan airnya yang turun ke bawah akan mengandung sulfida, sedangkan udara yang keluar akan bebas dari sulfida. biasanya proses dilanjutkan denngan menggunakan gas dryer.

2. Menggunakan Karbon Aktif
Karbon aktif diletakan pada jalur aliran biogas atau tempat penyimpanan biogas. Carbon aktif dapat menyerap sulfida dan pengotor lainnya sehingga biogas yang dihasilkan bisa lebih bersih.

3. Menggunakan Fe(OH)3
Besi atau bahan kimia Besi Hydroksida bisa juga digunakan untuk menyerap sulfida. Sulfida akan menyebabkan Fe(OH)3 berubah menjadi FeS yang berwarna hitam

Cara Mendesain Biodigester

C. Ammonia

Ammonia pada biogas dapat menyebabkan timbulnya bau pesing pada biogas dan menyebabkan korosi pada peralatan dan pemipaan. Untuk menghilangkan ammonia dapat menggunakan beberapa cara berikut :

1. Water Scrubber
Prinsipnya sama dengan ketika menghilangkan Sulfida. Sifat ammonia yang larut di dalam air, akan membuatnya turun bersamaan dengan turunnya tetesan air dari water scrubber.

2. Proses pendinginan
Bisa dengan menggunakan proses passive cooling, dimana ammonia nanti akan terikut bersama dengan uap air yang mengembun. Namun proses water scrubber masih menunjukan hasil yang lebih baik dari pada proses ini.

Baca Juga : Solusi dari Permasalahan di Cooling Tower

D. Partikel atau Debu

untuk menghilangkan partikel debu ataupun yang sejenis dari biogas dapat dengan menggunakan dust filter atau pun semacam dust collector. Nanti akan diperlukan semacam blower ataupun compressor untuk mempercepat proses ini.

Oke Sobat olah-air.com itu dia cara-cara untuk melakukan pemurnian pada Biogas. Untuk aplikasi secara besar dan skala komersial tentang plant biogas, dapat menghubungi kami secara langsung.



Baca selengkapnya

Thursday, 2 August 2018

Pretreatment Untuk Proses Menghasilkan Biogas

Pretreatment Untuk Proses Menghasilkan Biogas di Biodigester

Biogas dihasilkan dengan mesin biodigester


Selamat malam, sobat sekalian. Alhamdulillah sekarang bisa kembali menulis ditengah kesibukan proyek yang sunggu menyita perhatian dan waktu. Kali ini kita masih akan membahas tentang proses Biodigester untuk menghasilkan biogas dari Biomassa.

Dalam postingan sebelumnya tentu sudah dijelaskan tentang pengertian dari Biogas dan Sejarahnya. serta beberapa proses anaerob untuk menghasilkan biogas.

Kalau belum, maka sobat Olah-Air.Com dapat membacanya pada postingan dibawah ini.

Kali ini sesuai dengan subject, kita akan membahas tentang proses pretreatment untuk menghasilkan Biogas dari alat biodigester. Yang akan kita bahas ini, adalah tentang aplikasi pada Biodigester skala kecil. Yakni skala 25 Kg perhari hingga 250 kg perhari. Skala kecil ini biasanya diterapkan pada alat biodigester yang dipasang pada pemukiman pendudukan yang cukup padat, dengan tujuan untuk menurunkan jumlah sampah, dan memberikan imbal balik energi untuk dapur umum.

Apa saja sih, proses pretreatment untuk menghasilkan biogas, langsung saja kita Cekidot dibawah ini :
- 6 Teknik Anaerob Penghasil Biogas
- Sejarah Komersialisasi Biogas

1. Pemilahan Sampah Yang Bisa dan Tidak

Proses pertama yang harus dilakukan pada sampah atau biomassa yang akan dimasukan pada biodigester adalah kita harus melakukan pemilahan terlebih dahulu. Kita pilah, mana sampah yang dapat diproses dengan bakteri pengurai sehingga menjadi biomassa penghasil biogas dan mana sampah yang tidak dapat terurai.

Pada umumnya, semua sampah yang sulit terurai seperti : plastik, kaca, kaleng, logam, fiber, bahan bakar harus dipisahkan terlebih dahulu. Sehingga tidak terjadi kerusakan pada biodigester.

Lalu beberapa sampah organik yang sulit terurai juga harus dipisahkan agar tidak merusak atau memberikan "penyakit" pada biodigester. Beberapa sampah organik yang juga harus turut dipisahkan (Berdasarkan pengalaman) antara lain :

a. Daun Pisang
Daun pisang, dilapangan dapat menyebabkan Biodigester menjadi kembung seperti orang bunting (Asli ini pengalaman). Walaupun masih tergolong sebagai bahan organik, namun ternyata dilapangan daun pisang ini sulit diuraikan oleh alat biodigester.

Daun pisang, dalam jumlah yang cukup banyak akan menggumpal dalam biodigester, dan tidak turut hancur menjadi slurry. Hal ini menyebabkan proses peleburan dan pemecahan gas methane menjadi terhambat. Berujung pada biodigester yang membengkak.

Oleh karenanya, sangat dianjurkan (Wajib dah) untuk memisahkan daun pisang dari sampah yang akan masuk ke dalam biodigester.

Daun pisang dapat dikubur dan diberikan taburan slurry dari biodigester sehingga berubah menjadi kompos bagi tanah.

Cara pretreatment untuk proses biogas


Lihat Juga : Cara Melihat Keterkaitan Parameter di Hasil Analisa Air Limbah

b. Kayu
Bahan organik kedua yang sangat disarankan untuk dipisahkan sehingga tidak masuk ke dalam biodigester yang kita kelola. Zat lignin dalam kayu, merupakan salah satu zat yang akan menghambat proses penguraian, karena lignin terdiri dari makromolekul kompleks.

Makanya, disarankan untuk tidak memasukan kayu (apalagi dalam ukuran besar), kedalam alat biodigester.

c. Biji Mangga dan Alpukat
Sampah organik ketiga adalah kedua jenis biji ini. Saya juga belum menemukan alasan kenapa kedua jenis biji ini sulit diuraikan dalam alat biodigester. walaupun tidak sampai menyebabkan biodigester menjadi "sakit" seperti akibat memakan daun pisang. namun biji mangga dan alpukat ini setelah lama diproses dalam biodigester ternyata tidak menjadi hancur. Malahan akan keluar seperti bentuk aslinya bersama dengan slurry.

Yang jelas, kedua jenis biji ini dapat menghambat pada saluran keluar slurry karena keduanya tida menjadi hancur dalam proses penguraian dalam biodigester.



Lihat Juga : Memasukan Nilai Ergonomi dalam tata letak System

d. Makan Yang Kemungkinan Mengandung Kimia
Jenis sampah organik keempat yang harus dipilah ini disebabkan karena bahan kimia dalam makanan tersebut akan mengganggu proses penguraian bakteri penghasil biogas dalam biodigester. Makan seperti Ikan Asin, bakso serta makan instan curah lain seperti kornet dan nugget curah kemungkinan mengandung Boraks, Formalin dan pengawet lainnya yang sebaiknya dipisahkan dari sampah organik yang akan masuk ke dalam biodigester.

Boraks, Formalin serta bahan pengawet dapat memberikan efek anti oksidasi dan anti bakteri. Sehingga dilapangan dapat membuat proses penguraian menjadi lebih sulit. Hasilnya adalah biodigester menjadi lebih cepat penuh dan lebih sedikit biogas atau gas metane yang dihasilkan.

Lihat Juga : Teknik Pengolahan Limbah di Pabrik Sawit


Cara Mengolah Sampah untuk proses biogas di Peta hijau


2. Pencacahan Sampah Organik

Proses pretreatment kedua adalah dengan mencacah sampah yang akan masuk ke dalam biodigester. Sampah organik dicacah atau dipotong potong dalam bentuk ukuran sekitar 2cm. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses penguraian oleh bakteri.

Proses pencacahan bisa dilakukan dengan menggunakan pisau ataupun dengan mesin pencacah tersendiri.

Lihat Juga : 7 Point Penting dalam mendesain STP

3. Pencampuran Sampah Organik

Proses pretreatment terakhir adalah dengan melakukan pencampuran sampah tadi ke dalam alat biodigester.

Sampah dimasukan perlahan sambil dilakukan pengocokan. Tujuannya agar tidak terjadi penumpukan biomassa dalam satu sisi biodigester saja. Dengan pencampuran perlahan juga, untuk menghindari air sampah menjadi berceceran.

Itu dia 3 proses pretreatment yang biasa dilakukan pada alat biodigester skala kecil untuk menghasilkan biogas. Semoga bermanfaat. Dan stay tune terus dengan Google Plus Mr. Anggi Nurbana agar selalu mendapatkan Update Informasi tentang pengolahan air dan air limbah.

Salam Lingkungan



Mr. Anggi Nurbana


Baca selengkapnya

Thursday, 5 July 2018

6 Teknik Anaerob dalam Pengolahan Air Limbah


6 Jenis teknik Anaerob Dalam Pengolahan Air Limbah

Hallo sobat sekalian, masih bersama Mr. Anggi Nurbana di olah-air.com. Sesuai dengan janji saya pada postingan sebelumnya bahwa dalam sekitar 5-7 postingan ke depan kita akan membahas tentang proses biogas. Dan maka dari itu, pada postingan kali ini kita akan membahas tentang salah satu tahapan proses pembuatan biogas, yakni proses anaerob. 

Anaerob, sesuai namanya adalah suatu proses penguraian zat organic tanpa menggunakan udara. Proses ini biasanya dibantu oleh bakteri jenis autotroph. 

Dalam proses anaerob, bakteri dipaksa untuk melakukan penguraian zat makanan dengan memecahkan zat organik menjadi unsur dan senyawa yang lebih sederhana. Target utama dari proses anaerob adalah penguraian rantai panjang organic menjadi rantai pendek sehingga terjadi penurunan nilai COD, BOD maupun TOC pada air limbah sedangkan terbentuknya gas methane (biogas) adalah sebagai hasil samping yang diharapkan. 

Setidaknya ada 6 Jenis teknik anaerob yang cukup popular dan digunakan secara luas. Dalam postingan ini kita akan membahas secara singkat, gambaran tentang ke-enam proses anaerob tersebut dari segi positif dan negatifnya pula. Sudah siap? Yuk mari kita bahas bersama. 


1. Anaerobic Lagoon 


Proses Anaerob di Kelapa sawit sangat mudah dengan lagoon
Contoh Penampakan Anaerob metode Lagoon



Anaerobic Lagoon adalah system pengolahan air limbah metode biologi yang paling mudah. Mudah dikarenakan tidak memerlukan teknologi khusus, hanya memerlukan sebuah kolam atau danau yang cukup besar untuk menampung 30 hari debit. 

Tidak memerlukan pengaturan khusus seperti pembatasan nilai suspended solid ataupun pun penambahan bahan kimia. 

Metode Anaerobic lagoon ini, sangat banyak dipilih oleh perusahaan sawit. Khususnya mereka yang memiliki lahan yang sangat luas sehingga leluasa untuk membuat kolam bervolume ribuan kubik. 

Kekurangan metode ini adalah diperlukannya lahan yang sangat luas, sehingga tidak cocok untuk usaha yang berada di lingkup area terbatas (kalaupun ada mahal banget harga tanahnya) seperti Jabodetabek. 

Kekurangan lainnya dari metode anaerobic lagoon adalah harus ada usaha untuk pengerukan dead sludge secara berkala. Jikalau tidak maka akan terjadi pendangkalan kolam yang berakibat berkurangnya waktu tinggal anaerob terus berimplikasi pada gagalnya proses pengolahan. 


2. Continously Stirred Reactor (CSTR) 



Teknik Anaerobic kedua yang cukup dikenal adalah CSTR. CSTR adalah sebuah teknik anaerob dimana air limbah ditempatkan dalam sebuah bejana tertutup kemudian dilakukan pengadukan atau stirring secara constant. Hal ini membuat proses dekomposisi suspended solid menjadi lebih baik dibanding dengan proses dengan lagoon. 

Kelebihan lainnya adalah waktu tinggal air limbah dapat dikurangi lebih banyak menjadi hanya dibawah 7 hari saja. Selain itu, nilai biogas atau gas methane yang dihasilkan juga jauh lebih banyak dibanding dengan metode lagoon, sebab gas methane diarahkan untuk mengalir pada satu lubang pipa khusus. 

Kekurangan dari metode ini adalah , perlunya installasi cost yang cukup tinggi sebab memerlukan equipment stirrer dan tangki yang cukup besar. Ditambah lagi material untuk kedua equipment tersebut juga tidak bisa dari bahan fiber melainkan harus dari steel dengan proteksi linning tambahan. 

Kekurangan lainnya dari proses CSTR adalah, sulit mengambil biomassa yang mengendap dikarenakan sludge selalu tercampur dalam cairan limbah. 

Kekurangan ketiga adalah perlunya energy yang konstan untuk proses pengadukan air limbah yang datang. Dan sebagai catatan untuk bisa berhasil, air limbah yang datang diharapkan akan sama jumlahnya dengan air limbah yang keluar. 

3. Anaerobic Contact Process 
Proses ini hampir mirip dengan CSTR, namun ada tambahan sedimentation tank. Hal ini tentu bagus untuk membantu memisahkan air limbah yang sudah jernih dengan yang masih terlihat kotor dan mengandung banyak solid. Namun proses ini juga tentu memerlukan biaya lebih banyak dibandingkan dengan CSTR. 

4. Anaerobic Filter 
Teknik anaerob yang satu ini dianggap cukup baik untuk menumbuhkan dan mempertahankan daya hidup bakteri. Sebab bakteri diberikan rumah tinggal berupa rongga-rongga filter sehingga mereka bisa bekerja dengan lebih baik. 

Teknik ini tidak memerlukan banyak energy seperti CSTR, sehingga dalam installasinya tidak memerlukan banyak installasi elektrikal. 

Kekurangan dari teknik ini adalah kelemahannya dalam menghandle limbah yang mengandung banyak sludge biomassa. Serta banyak kemungkinnan tersumbatnya lubang filter. Maka dari itu, system ini tidak cocok untuk air limbah dengan kandungan TSS yang tinggi. 

Kekurangan lainnya adalah, kita harus selalu memantain pH dari air limbah tersebut dan memastikannya berada diatas angka 4. Sebab dalam salah satu aplikasi di perusahaan farmasi ternama, metode ini ternyata memakan filter itu sendiri ketika pH drop dibawah 4. 

5. Upflow Anaerobic Sludge Blanket Reactor 



Metode UASB ini cukup popular dimana-mana. Sebab metode yang satu ini terbukti cukup berhasil menangani limbah-limbah dengan organic load yang tinggi. Disamping itu, desainnya yang meninggi membuatnya tidak memakan banyak lahan sehingga banyak dipakai oleh perusahaan di daerah perkotaan. 

Waktu tinggal dengan menggunakan metode ini hanya sekitar 24 jam, jauh lebih sedikit dibanding dengan metode lagoon. Dan juga, tidak diperlukan installasi elektrikal seperti mixer membuatnya lebih low cost. 

Kekurangan dari proses Ini adalah keharusan untuk menurunkan tingkat suspended solid terlebih dahulu hingga berada direntang 500-800 mg/L. Kalau tidak maka dalam prosesnya akan menyulitkan operasional. 



5. Expanded Granular Sludge Bed Internal Circulation
Contoh EGSB gambar dari watertreaters.com

EGSB ini sebenarnya adalah pengembangan dan penyempurnaan dari proses UASB, perubahannya adalah dengan adanya suatu membrane atau bed tempat bakteri bersarang. Ditambah lagi adanya system sirkulasi dengan submersible mixer sehingga membuat penguraian lebih sukses.

Zat organic yang bersifat racun seperti benzene, ataupun rantai panjang yang sulit diurai dengan proses anaerob biasa ternyata dapat diurai dengan proses EGSB.

Kekurangan dari proses ini adalah biaya installasi dan operasional yang lebih mahal dibandingkan dengan lainnya. Kemudian jumlah biomass yang terbuang juga banyak karena proses pretreatment yang dilakukan sebelum masuk EGSB.

Oke sekian sedikit pembahasan tentang teknik pengolahan limbah dengan metode anaerob. Kita akan berjumpa lagi dalam postingan yang lainnya. Sampai jumpa.



Salam Lingkungan


Baca selengkapnya

Sunday, 1 July 2018

Sejarah Asal Mula Komersialisasi Biogas

Sejarah Asal Mula Komersialisasi Biogas


Saat ini kita semua tentu mengetahui bahwa sebagian besar energy yang diperlukan oleh manusia dihasilkan dari sumber daya tak terbarukan. Yang dimana sumber daya tersebut, setelah pemakaiannya akan meninggalkan “Jejak” racun bagi bumi.

Hal ini tentu, semakin menjadi masalah ketika racun tersebut menjadi boomerang bagi kehidupan aneka ragam mahluk hidup di bumi ini dengan dampaknya yang bernama pemanasan global.

Padahal selain sumber energy tak terbarukan yang biasa disebut fossil energy resource, bumi kita ini juga memiliki sumber daya terbarukan yang juga disebut renewable energy resources.

Renewable energy resources yang sudah banyak dilirik antara lain : tenaga air, tenaga angin, tenaga panas bumi (geothermal), dan juga ombak. Namun ada satu sumber daya lainnya yang ternyata masih sedikit kita manfaatkan, malah hampir semua pihak menggapnya hanya sebagai masalah yang harus dienyahkan yakni energy biomassa.

Biomassa secara mudah adalah bahan bakar yang dihasilkan oleh system yang dapat diperbaharui. Contohnya seperti biofuel ataupun biogas yang dihasilkan dari bahan baku tanaman yang diproses sedemikian rupa sehingga menjadi bahan bakar.

Salah satu biomassa yang cukup dikenal dan banyak dihasilkan dari proses pengolahan air limbah adalah biogas.

Sejarah Proses Biogas


Menurut para peneliti sejarah proses pengolahan air limbah yang menghasilkan biogas, telah mulai dilakukan sejak zaman sumeria (3000 tahun sebelum masehi). Dimana bangsa tersebut menggunakan proses anaerob untuk mengolah limbah domestic mereka.

Dan dalam sejarah yang dicatat oleh bangsa romawi, mereka telah biasa mengenal terjadinya gas yang terbakar diatas rawa sejak 50 tahun sebelum masehi.

Pada tahun 1776 Alessandro Volta memulai penelitian tentang biogas dengan mengumpulkan gas yang dihasilkan dari rawa Lake Como. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa udara yang keluar dari hasil fermentasi bisa memiliki sifat eksplosif ketika bertemu dengan udara bebas.

Ukuran yang tercatat paling awal yang saya baca adalah percobaan Louis Pasteur pada tahun 1884. Pada tahun tersebut beliau mencoba mendapatkan biogas dari kotoran kuda yang dikumpulkannya di jalanan kota Paris. Bersama dengan muridnya yang bernama Gavon, Louis Pasteur berhasil menghasilkan 100L gas methane dari 1 kubik kotoran kuda yang difermentasikan.

Louis Pasteur menyatakan bahwa dengan nilai konversi seperti ini, dan melihat jumlah kotoran yang berserakan di Paris, dia yakin bahwa proses ini dapat mengcover kebutuhan listrik jalanan kota paris jika diseriusi.

Produksi Biogas Pertama Untuk Keperluan Komersial


Dari hasil publikasi penemuan Louis Pasteur tersebut akhirnya pemerintah Prancis memberikannya kesempatan untuk memulai proyek pembuatan biogas. Akhirnya pada tahun 1897 lampu jalan di Paris menyala dengan menggunakan limbah domestic dengan proses anaerob. Hanya saja ternyata masih banyak gas methane yang terbuang di lingkungan dimana hal tersebut cukup berbahaya.

Usaha Penyempurnaan Proses Pembuatan Biogas


Pada tahun 1904 seorang ilmuwan bernama Travis melanjutkan proses produksi biogas dengan menggabungkannya dengan proses pengolahan air limbah. Dan pada tahun 1906 Sohngen menemukan adanya asam asetat sebagai hasil samping. Dia juga menemukan bahwa Methane terbentuk dari tiga senyawa yakni Formate, Hydorgen dan Carbon Dioxida (Ini kesimpulan dia ya, saya juga tahun kalau unsur utama Methane itu hanya Carbon dan Hydrogen).

Pada tahun 1906 seorang ilmuwan bernama Imhoff yang berasal dari Jerman mendesain sebuah tangki anaerob dengan waktu retensi selama 60 hari yang hari ini kita kenal sebagai “Imhoff Tank”.


Dan penjualan Biogas diprakarsai di Jerman pada tahun 1923, dimana Biogas mulai dijual kepada masyarakat luas. Dan hingga hari ini terus meluas ke seluruh dunia.

Pada tahun 1947, Imhoff mempublikasikan lagi hasil penemuannya yang menyatakan bahwa ; kotoran sapi memiliki potensi 100 kali biogas dibandingkan dengan limbah domestic. Hal serupa juga tidak jauh beda dengan kotoran ternak lainnya seperti kotoran kuda dan kotoran babi. Dan dari sana pada tahun 1950, sekitar 50 Plant Biogas dipasang di Negara Jerman.

Biogas Di Indonesia


Di Indonesia sendiri proses pembuatan biogas sudah cukup popular di kota-kota besar, hanya saja penggunannya yang paling banyak hanya sekedar untuk produksi gas bagi keperluan rumah tangga biasa saja. Dan plant ini sudah banyak dipasang oleh team kami di Daerah bandung, Sumedang, Surabaya dan daerah lainnya di Indonesia.

Untuk plant besar skala komersial, salah satu yang cukup terkenal adalah yang dimiliki oleh PT. Sewatama yang dibangun di daerah Kalimantan Selatan. Biogas Plant ini menggunakan POME (Palm Oil Mill Effluent) sebagai sumber karbonnya.

Biogas Plant ini diharapkan mampu menghasilkan energy sebanyak 2,4 Mega Watt dan dalam pengoprasiannya diharapkan dapat bersinergi dengan PT. PLN Area Kalimantan.

Harapan Untuk Proses Biogas Ke Depannya


Proses generasi energy dari limbah ataupun biomassa seperti Biogas ini harus kita dukung dan aplikasikan. Sebab proses ini selain mampu menciptakan energy terbarukan, juga dapat membantu mengolah air limbah menjadi sesuatu yang berguna dan membuatnya lebih aman bagi lingkungan.

Indonesia diharapkan menjadi Negara yang turut menghasilkan energy lewat jalan ini. Sebab Indonesia saat ini memiliki pabrik pengolahan sawit yang cukup banyak, dan tentu menghasilkan limbah yang luar biasa pula.

Akhir Kata : Mari Kita Ubah Frame Berpikir Kita


Untuk Anda yang selalu berpikir bahwa pengolahan limbah hanya menguras kantong Anda (Ya karena kelestarian lingkungan tidak menjadi main interest para pengusaha besar), maka lihatlah bahwa sesungguhnya limbah yang Anda buang masih memiliki nilai jual dan potensi energy yang besar. Maka berpartisipasilah dalam mengembangkannya dan mengaplikasikannya pada sector yang Anda pegang.



Salam Lingkungan



Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Thursday, 3 May 2018

4 Cara Melunakan Air Limbah

4 Cara Melunakan Air Limbah



Air limbah adalah air yang telah tercemar oleh polutan tertentu sehingga air tersebut tidak lagi aman untuk dibuang ke lingkungan bebas. Air Limbah juga sangat berbeda dengan Limbah B3. Dimana limbah B3, memiliki kandungan air yang rendah, malah kebanyakan polutan daripada airnya.

Oh iya, kembali ke topik. kali ini kita akan membahas tentang cara-cara untuk melunakan air limbah. Yakni sebuah proses untuk membuat air limbah menjadi lebih mudah diolah. Tujuan proses ini tentu untuk dapat mengolah air limbah secara lebih efektif dan lebih murah serta aman.

Contoh kasus :
Sebuah perusahaan farmasi, memiliki buangan air limbah dari produk ekspektoran mereka. Jika limbah tersebut langsung dibuang ke lingkungan maka akan merusak. Dan jika langsung diolah, maka tentu membutuhkan proses yang berat. Oleh karena itu dilakukanlah proses pelunakan air limbah.

Dibawah ini adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk melunakan air limbah :

1. Penambahan Limbah Domestik
Sobat bisa menambahkan Limbah domestik yang berasal dari toilet ataupun dari washtafel pada air limbah konsentrat yang sobat miliki. Teknik ini akan membuat air limbah tercampur dan memiliki jumlah volume lebih tinggi, namun memiliki jumlah polutan yang lebih rendah secara rata-rata.
Dengan begitu, proses pengolahan air limbah dapat menjadi lebih mudah.

efek tambahannya adalah, nanti standar baku mutu yang harus digunakan akan menjadi lebih ketat. Karena bukan lagi standar baku mutu air limbah industri tapi ke limbah domestik.

2. Pencampuran dengan Limbah Jenis Lainnya
Teknik kedua hampir mirip dengan yang pertama. hanya saja ada sedikit perbedaan. Disini air limbah industri dicoba dinetralkan dengan limbah industri lainnya. Seperti air limbah hasil regenerasi anion di homogenkan dengan air limbah regenerasi cation. Maka akan terjadi air limbah yang netral (Walau tds-nya naik ya hhehe).

Pengaplikasian teknik ini pada intinya adalah dengan menghomogenkan jenis-jenis limbah yang bisa saling netral atau saling reaksi. Yang perlu diingat adalah menghindari reaksi oksidasi ataupun pembakaran terjadi.



3. Penggunaan Air Terbuang
Ada banyak air yang terbuang dan tidak masuk ke dalam kolam air limbah. Padahal air tersebut bisa membantu proses pelunakan air limbah sehingga menjadi lebih mudah diolah. Beberapa saran saya untuk air terbuang yang dapat digunakan antara lain :
a. Air Wastafel dan Wudhu
b. Air buangan Boiler
c. Air Buangan Cooling Tower
d. Air hujan (kalau yang ini sebenarnya ga boleh)

4. Gravitasi Process
Cara pelunakan air limbah yang keempat adalah dengan membuat beberapa proses fisika gravitasi. Pemisahan padatan tersuspensi dilakukan terlebih dahulu. Teknik ini bisa dilakukan dengan membuat beberapa pit sedimentasi. Bisa juga dengan membuat oil ataupun junk trap.
Dengan proses ini, parameter pengotor dapat dikurangi dengan usaha yang minimal, namun akan memberikan impact yang besar pada pengolahan selanjutnya.
ahli pengolahan air indonesia


Baca selengkapnya

Tuesday, 1 May 2018

7 Point Penting Dalam Pembuatan Desain STP

7 Point yang Penting untuk Dipertimbangkan dalam Pembuatan STP


STP atau Sewage Treatment Plant adalah salah satu sistem yang dibuat untuk dapat mengolah Limbah Domestik. STP sering disebut juga dengan IPAL Domestik, karena IPAL jenis ini dimaksudkan untuk mengolah limbah domestik.

Selama hampir 10 tahun bergelut dalam bidang pengolahan air limbah dan air bersih. Saya cukup banyak menjumpai STP yang dibuat dengan mengabaikan beberapa point penting yang saya sebutkan disini. Hasilnya STP tersebut akhirnya menjadi gagal dalam mengolah air limbah yang masuk.

Kegagalan tersebut akan menimbulkan hasil olahan STP melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Dan dalam jangka panjang akan membuat STP tersebut menjadi malfunction.

Dan dalam postingan kali ini, kita akan sama-sama mengulas secara singkat tentang apa saja sih point penting yang harus turut dipertimbangkan dalam pembuatan STP, sehingga memiliki hasil yang ideal dan mampu mengolah limbah hingga masuk ke dalam baku mutu yang dipersyaratkan.

Lihat Juga : Cara Memilih Metode NDT yang sesuai

1. Ukuran Biological Process

Point pertama yang harus dipertimbangkan adalah ukuran dari proses biologi untuk STP. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa STP akan mengolah air limbah yang banyak mengandung pengotor yang berasal dari aktifitas sehari-hari manusia. Yakni Mandi, Cuci, Kakus dan masak.
Oleh karenanya, kebanyakan air limbah yang masuk ke STP tentu mengandung senyawa organik dalam jumlah yang tinggi (walau tidak setinggi air limbah industri makanan dan minuman). Maka dari itu, sejatinya STP itu sendiri akan bertumpu pada proses biologi untuk menghilangkan pencemarnya.

Tingkat cemaran biologi pada STP biasanya diukur pada parameter : COD, BOD, Oil & Grease serta ammonia. Yang sebagian besar dari parameter tersebut akan diselesaikan lewat proses biologi jenis aerob atau aerasi.

Untuk ukuran tangki aerasi, idealnya harus memiliki 1 hari dari debit full limbah yang masuk. Atau paling sedikit berjumlah 3/4 hari. Jikalau kurang dari itu, maka dikhawatirkan proses pengolahan yang terjadi tidak akan maksimal dan akan lebih banyak gagalnya dari pada berhasil.

Misalkan, debit air limbah yang masuk perhari adalah 30 m3/day, maka untuk ukuran aerasi setidaknya adalah 22.5 m3.

Hal ini untuk memastikan bakteri memiliki waktu proses dan waktu tinggal yang cukup, untuk dapat menguraikan senyawa organik yang melekat sebagai pencemar di air limbah.

Lihat Juga : Cara menghilangkan Warna di Air Limbah

2. Ruang Hidup Bakteri


Point penting kedua dalam pembuatan desain STP adalah penyiapan ruang hidup bakteri. memang pada dasarnya banyak yang berpendapat bahwa untuk membuat bakteri dapat hidup maka cukup menyediakan ruangan biologi baik aerasi ataupun anaerob.
Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, namun untuk praktek saat ini saya rasa kurang tepat. Sebab saya pribadi telah membuktikan dilapangan, tanpa didukung dengan media bakteri maka proses pengolahan bisa menjadi seperti trial dan error. Lagi, bakteri juga akan lebih cepat tumbang ketika air limbah mengalami fluktuasi debit ataupun parameter pencemar.

Kita ibaratkan, manusia untuk hidup hanya disediakan sebuah aula yang luas. Dan dalam aula tersebut ada ratusan orang. Maka manusia tersebut tidak akan nyaman dalam beraktifitas dan bekerja karena privasinya terganggu. Senada dengan hal tersebut, untuk bakteri yang sama-sama mahluk hidup juga perlu diberikan ruang khusus tersendiri agar memiliki privasi dan kenyamanan yang lebih dalam beraktifitas.

Ruang untuk bakteri tesebut dapat diterapkan dengan media seperti :
a. Bioball
b. Honey Comb
c. MBBR
d. Biocylinder / Caged Crum Ball

dari keempat media bakteri tadi, saya paling merekomendasikan menggunakan metode ke-empat dikarenakan efektifitasnya di lapangan yang saya temukan lebih tinggi serta lebih tahan banting ketika menghadapi fluktuasi.

Lihat Juga : Honey Comb Vs Bio ball, Mana yang lebih baik?

3. Pretreatment

Point ketiga yang sangat penting dalam pembuatan rancangan STP adalah persiapan pretreatment sebelum air limbah masuk ke pengolahan Inti.

Pretreatment disini dimaksudkan untuk mencegah benda atau sesuatu yang bukan peruntukannya masuk ke dalam jalur pengolahan air limbah STP.

Pretreatment yang dapat dipasang antara lain :
a. Wastafel grease Trap
b. Junk Trap
c. Bak Kontrol
d. Water Mur
e. Emergency Line

4. Grease Separator


Grease atau Oil separator (Biasa disebut juga dengan grease trap) adalah bangunan atau alat yang digunakan untuk dapat menangkap lemak sebelum masuk ke dalam sistem pengolahan inti. Sebab lemak memiliki ikatan organik yang cukup kuat yang sulit dipecahkan dengan proses fisika ataupun biologi. Jikalau bisapun maka akan membutuhkan retention time yang lebih lama daripada biasanya.

Oleh karenanya menginstall grease separator sebelum STP adalah langkah yang cukup bijak untuk mengamankan effluent dari terlewatkannya baku mutu yang dipersyaratkan.

Grease atau oil trap dapat dibuat sekaligus besar ataupun dipecah menjadi bagian-bagian kecil tiap wastafel. Untuk hasil yang lebih efektif disarankan untuk memecah grease trap menjadi bagian kecil. Karena dengan begitu lemak akan dengan lebih mudah dipisahkan karena jumlahnya lebih sedikit dan lebih mudah dalam pemantauanannya.

Lihat Juga : Membaca Keterkaitan Antara Parameter di hasil analisa

5. Nutrient Dosing

Point kelima yang penting untuk dipertimbangkan adalah pemberian nutrisi atau nutrient dosing pada STP.

Point ini penting untuk dilakukan ketika dua hal ini terjadi :
a. Starting Culture
b. Idle System



Untuk starting culture, tujuannya adalah untuk membooster pertumbuhan bakteri dengan nutrisi yang tepat sebelum akhirnya dapat beradaptasi dengan makanan dari air limbah yang ada.

Dan untuk idle system adalah ketika tidak ada asupan air limbah yang masuk, maka bakteri dapat menjadi kanibal karena mereka menjadi kelaparan. Hal ini biasa terjadi ketika gedung mengalami libur cukup panjang. Dalam kejadian seperti ini perlu ditambahkan nutrisi tambahan untuk menjaga daya hidup bakteri yang telah dengan susah payah kita pelihara dalam sistem STP kita.

Lihat juga : Desain Proses Biologi di IPAL Domestik

6. Odour Remover

Bau adalah salah satu masalah yang sering ditemukan dan dikeluhkan oleh orang-orang yang berada disekitar STP baik karyawan ataupun warga sekitar.

Bau juga dapat mengurangi estetika serta semangat kerja, yang dalam jangka waktu lama bahkan bisa menyebabkan konflik.

Maka dari itu, untuk sebuah sistem STP yang baik, seharusnya sudah menyiapkan proses penghilangan atau peredaman bau yang muncul. Proses penghilangan bau itu sendiri dapat dibuat dengan pembuatan exhaust fan ataupun dengan pengembangan culture bakteri yang tepat. Bakteri jenis enterobacter, dan Azetobacter serta Bacillus dapat menjadi pilihan yang cukup tepat dan hemat energi dalam praktek penghilangan bau di STP.

Lihat Juga : Cara Menghilangkan Bau di WWTP/IPAL

7. Final Make-Up Process


Point terakhir yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan STP adalah perlunya dibuat proses make-up pada tahap akhir.

Proses make-up ini adalah untuk mendempul hasil buangan agar masuk ke dalam standar. Beberapa parameter seperti TSS, Total Coliform, Warna, Rasa, Bau, pH dan lainnya perlu di make-up untuk memastikan semuanya ok dan masuk ke dalam standar.

Bebeberapa cara make-up yang dapat dipilih antara lain :
a. Installasi Filter Carbon dan Sand/ Multimedia Filter
b. Pembelian jalur atau Tube Chlorinasi
c. Dosing dan pH Reader untuk alkali

Oke sobat olah-air.com itu dia 7 Point penting yang dapat sobat includekan dalam STP yang sedang sobat persiapkan. Untuk hasil terbaik dalam pembuatan STP, selalu pilihlah dan gunakan ahlinya.

Salam hangat,



Mr. Anggi Nurbana
Water Treatment Specialist

Baca selengkapnya

Sunday, 4 March 2018

Jasa Pembuat TPS B3 Terpercaya PT CHEMINUSA 085288325902


Jasa Pembuat TPS B3 Terpercaya PT CHEMINUSA

penyimpanan harus sesuai dengan standar bapedal nomor 9


Dunia industri yang semakin berkembang dan tumbuh, maka akan sejalan dengan tumbuh serta bertambahnya jumlah limbah B3 yang dihasilkan. Dalam hal ini kebijakan perusahaan dalam pengelolaan serta pemusnahan Limbah B3 juga harus diterapkan.

Salah satu titik dalam rangkaian pengelolaan dan pemusnahan limbah B3 ini adalah dengan menyimpan limbah b3 dalam suatu tempat penyimpanan sementara atau disebut sebagai TPS B3 yang banyak dibuat di perusahaan.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumya dalam postingan dengan judul syarat-syarat tps b3. Maka kami sebagai perusahaan yang sudah berpegalaman dalam pembuatan TPS B3, mencoba menawarkan jasa kami kepada perusahaan Anda.

Peraturan yang mengatur Pembuatan TPS B3


Untuk setiap unit Tempat Pembuangan Limbah Sementara atau TPS B3, haruslah mengikuti acuan yang diberikan oleh kementrian lingkungan hidup dengan nomor 18 tahun 1999 serta mengikuti keputusan bapedal No. 09 tahun 1995.

Dalam peraturan tersebut dijelaskan (Walau tidak secara detail) bahwa suatu TPS limbah b3 haruslah berupa bangunan yang mengikuti petunjuk teknis tertentu sehingga proses pembuatan ataupun jasa pembuatan tps b3 itu sendiri harus mengacu padanya.

Garis besar dari peraturan Bapedal tersebut antara lain :

1. Bangunan dirancang sesuai dengan jenis dan jumlah limbah b3 yang akan disimpan.

2. Bangunan memiliki atap dan dinding yang melindunginya dari sinar matahari langsung dan hujan.

3. Dibuat tanpa plafon untuk memudahkan proses sirkulasi udara (karena dikhawatirkan nanti ada racun terakumulasi di ruangan). Serta diberi kasa agar hewan seperti burung tidak masuk ke TPS B3.

4. Memilki sistem penerangan yang memadai, serta memiliki colokan listrik

5. Memiliki penangkal petir (Kalau yang ini saya sendiri tidak terlalu concern)

6. TPS B3 memiliki saluran got untuk persiapan jika ada kebocoran.

7. TPS B3 juga memiliki ketinggian diatas tanah, sehingga air tidak menuju tps b3

Untuk peraturan yang lebih spesifik, sebenarnya standar saja dan bisa disimak dalam peraturan yang saya tunjuk tadi.


5 Alasan Kenapa Menggunakan Jasa Pembuat TPS B3 Terpercaya dari PT CHEMINUSA


Sebagai kontraktor yang berpengalaman, kami memiliki alasan tersendiri mengapa perusahaan Anda harus memilih kami sebagai kontraktor Jasa Pembangun TPS B3.

1. Berpengalaman Dalam Bidang Pengelolaan Limbah dan Limbah B3


Dengan pengalaman para personil selama bertahun-tahun dalam bidang pengolahan air limbah serta limbah b3 membuat perusahaan kami memiliki nilai plus dalam pembuatan tps b3 ini.

Kami mengetahui jenis-jenis limbah b3, cara penyimpanannya serta bagaimana cara memisahkannya.

Keahlian kami dalam perancangan engineering, juga dapat membantu anda dalam membuat rancangan TPS B3 untuk nantinya di submit ke BPLHD setempat. Atau untuk keperluan Audit.



2. Bangunan Di Desain Sesuai Peraturan Plus dengan Asesorisnya


Berbeda dengan jasa pembuat TPS B3 lainnya yang hanya asal saja membuat bangunan tanpa pemahaman yang komprehensif. Perusahaan kami membuat TPS B3 yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Selain itu, kami juga memasangan segala asesorisnya seusai standar yang ditetapkan. Agar nantinya proses perizinan di perusahaan Anda tidak menjadi terhambat.

Asesoris seperti alat pemadam, p3k dan lainnya tidak akan terlupa dipasang dalam TPS limbah B3 Anda.



3. Rancangan TPS B3 sesuai Kontur Tanah, Area dan Jenis Limbah B3


Tentu dengan pengalaman kami dalam Jasa Pembuatan TPS B3 membuat kami akan membuat Tempat Penampungan Sementara Limbah B3 dengan rancangan yang lebih detail.

Kami akan memberikan kepada Anda laporan secara terperinci, tentang alasan-alasan mengapa TPS B3 Anda harus dibuat sedemikian rupa.

Hal ini bagus untuk perusahaan yang hendak mengikuti ISO : 14001 tentang lingkungan.



4. Proses Pekerjaan Cepat dan Rapi


Tentu dengan pengalaman dan rancangan yang terperinci, membuat pekerjaan pembuatan TPS B3 dari kami menjadi lebih cepat dan rapi.

Tanpa perlu bulak-balik bertanya tentang apa saja yang harus ada dalam TPS B3, kami sudah memiliki daftarnya tersendiri. Sehingga Anda tidak perlu ragu lagi untuk menggunakan jasa PT CHEMINUSA.



5. Siap Mendampingi Audiensi

Kelebihan kelima yang tidak dapat dilawan oleh kompetitor jasa pembuat tps b3 lain adalah,bahwa kami siap mendampingi Anda dalam beraudiensi dengan pihak LH atau BPLHD untuk comply peraturan tentang TPS B3.

Dan kami juga siap memberikan saran untuk perusahaan Anda dalam pengaturan dan pengelolaan limbah B3, bahkan hingga sampai ke titik bagaimana cara menguranginya.



Dan itulah 5 Alasan kenapa Perusahaan Anda harus memilih PT CHEMINUSA Sebagai jasa pembuat tps B3 terbaik. Jika Anda memerlukan bantuan kami, maka jangan ragu untuk menghubungi kami segera pada nomor yang tertera.


Baca selengkapnya

Friday, 2 March 2018

MEMILIH METODE NDT YANG SESUAI

MEMILIH METODE NDT YANG SESUAI


Non-Destructive Testing (NDT) adalah nama yang diberikan kepada segala bentuk pengujian yang dapat memverifikasi integritas dari komponen struktural tanpa merubah komponen tersebut secara visual. NDT dengan cepat dan telah menjadi komponen wajib pengaplikasiannya dalam industri seperti penerbangan, minyak dan gas, pressure vessel, dan tenaga nuklir. NDT diperlukan dalam memverifikasi kualitas pengelasan atau memantau kerusakan korosi pada masa layan.

Secara pengertian, NDT harus tidak menimbulkan kerusakan pada objek yang diuji. Beberapa metode dan teknik telah dikembangkan untuk mendapatkan sampai tingkat kecanggihan yang cukup. Semuanya itu membutukan peralatan untuk beroperasi dan kemampuan yang berinterpretasi terhadap hasil atau personil yang terlatih.

Teknik pemeriksaan permukaan dan kondisi pemantauan diantaranya adalah:

  • · Inspeksi visual 
  • · Liquid Penetrant Testing 
  • · Magnetic Particle Inspection 
  • Metode lainnya yang digunakan untuk memeriksa komponen secara utuh diantaranya adalah: 
  • · Radiografi 
  • · Ultrasonic inspection 
  • · Acoustic emission 
  • · Leak testing 

Pemilihan metode NDT yang paling tepat untuk digunakan tergantung pada beberapa factor, yaitu:

  • · Material konstruksi 
  • · Ketebalan material 
  • · Jenis kerusakan yang ingin dideteksi 
  • · Biaya yang tersedia 
  • · Level kemampuan operator 



Metode NDT Visual Test atau Inspeksi Visual


Visual Test kemungkinan metode NDT yang paling luas dan biasanya digunakan di awal inspeksi. Inspeksi visual melibatkan pemeriksaan secara langsung atau tidak langsung dilakukan untuk mengecek kondisi permukaan, kecacatan, kekasaran atau perubahan dimensi.

Visual Test umumnya diaplikasikan pada:

  • · Inspeksi pengelasan 

Mencakup:

1. Memverifikasi persiapan pengelasan yang benar

2. Menginspeksi kecacatan pada permukaan

3. Memverifikasi profil pengelasan yang sudah selesai

  • · Metrologi 

Mencakup:

1. Mengukur geometri dari komponen

2. Mengukur tingkat kekasaran dari permukaan komponen 
  • · Pemantauan kondisi pada saat masa layan 

Mencakup:

1. Mendeteksi korosi

2. Mendeteksi cacat dan karat

  • · Inspeksi terhadap goresan 

Mencakup:

1. Mendeteksi cacat akibat penggilingan

2. Mendeteksi perlakuan panas yang tidak benar

3. Pemeriksaan metalografi (profil pengelasan, struktur mikro, dll)

Inspeksi visual memiliki banyak teknik yang dapat digunakan untuk membantu operator dan memperluas kemampuannya.



Liquid Penetrant Testing

Selain inspeksi visual, inspeksi dengan menggunakan penetrant mungkin yang tertua dan paling luas penggunaannya dibandingkan dengan metode NDT lainnya. Metode ini dapat diterapkan pada bahan yang tidak berpori. Namun penggunaannya terbatas pada deteksi kerusakaan permukaan.

Cara kerja metode NDT ini adalah dengan menggunakan pewarna pada permukaan yang bersih dan dibiarkan selama 10 sampai 20 menit. Setelah itu kondisi yang terputus akibat tekanan kapiler akan terlihat pada objek. Tekanan kapiler ditentukan oleh lebar bagian yang terputus, gaya tarik permukaan dan sudut kontak antara pewarna dengan permukaan. Pewarna yang berlebih kemudian dikeluarkan dari permukaan dan diganti dengan developer.

Meskipun pewarna memang memberikan rasio kontras yang tinggi yang seharusnya membuat indikasi lebih mudah dilihat , ternyata metode ini tidak selalu memberikan hasil yang maksimal untuk mendeteksi kondisi yang terputus. Metode ini tidak cocok untuk komponen yang kasar dan kondisi permukaan yang kurang finishing karena sulit untuk melepas pewarna yang berlebih.

Jenis-jenis Liquid Penetrant Testing:

· Solvent : biasanya disuplai didalam kaleng aerosol dan diaplikasikan pada permukaan, pewarna yang berlebih dapat dibersihkan dengan kain tanpa benang.

· Water washable : beberapa pewarna mengandung aditif yang mengemulsi minyak didalam pewarna sehingga larut dalam air.

· Post Emulsification : emulsi diaplikasikan sesaat sebelum pencucian dengan air. Tahap emulsi merupakan yang paling kritis. Bila waktu terlalu pendek maka semua pewarna yang berlebih tidak dapat dibuang dikarenakan pengurangan kontras, sedangkan bila waktu terlalu panjang maka pewarna akan terbuang dari komponen yang kondisinya terputus sehingga inspeksi menjadi kurang efektif.



Magnetic Particle Inspection

Merupakan metode yang paling efisien untuk mendeteksi area didekat permukaan yang terputus pada material ferromagnetic. Prinsip yang digunakan adalah bahwa medan magnet akan menyebar sendiri secara merata melalui komponen kecuali apabila adanya cacat. Gangguan tersebut menghasilkan medan magnet lokal yang lebih kuat atau yang dikenal sebagai bidang kebocoran. Area tersebut akan menarik partikel-partikel halus magnetik, baik itu berupa tinta atau bubuk kering yang diaplikasikan pada objek. Hal ini membuat kondisi cacat semakin terlihat jelas.

Keuntungan penggunaan metode Magnetic Particle Inspection antara lain:

· Sederhana dan mudah untuk dilakukan

· Dapat mendeteksi cacat pada permukaan dan dekat permukaan

· Dapat mendeteksi cacat pada objek yang terkontaminasi seperti oksida atau inklusi logam

· Sensitifitas pengujian dapat dispesifikasikan dan diperiksa

Kekurangan penggunaan metode Magnetic Particle Inspection antara lain:

· Hanya dapat diaplikasikan pada material ferromagnetic

· Tidak dapat mendeteksi cacat internal yang dalam

· Arus tinggi yang diaplikasikan pada komponen dapat menyebabkan kerusakan

Baca selengkapnya

Wednesday, 28 February 2018

DEFINISI EDDY CURRENT DAN FUNGSINYA

EDDY CURRENT DEFINISI DAN FUNGSI

adalah suatu metode yang biasa digunakan untuk menggambarkan medan magnet akibat listrik
Pengujian menggunakan Metode Eddy Current


Definisi Eddy Current

Eddy Current (biasa disebut juga dengan Foucault Current) adalah perputaran dari arus listrik yang diinduksi di dalam konduktor dengan mengganti medan magnet yang terdapat di dalam konduktor berdasarkan hukum induksi Faraday.

Eddy Current mengalir didalam loop yang tertutup pada konduktor, dalam bidang yang tegak lurus dengan medan magnetik. Arus Eddy Current dapat diinduksi di dalam konduktor yang tidak dapat diubah oleh medan magnet yang bervariasi waktu yang dihasilkan dari sebagai contoh elektromagnetik AC atau trafo, atau dengan pergerakan relative antara magnet dengan konduktor yang ada didekatnya. 

Besaran dari arus yang diberikan oleh perputaran/loop adalah sebanding dengan kekuatan medan magnet, area perputaran, dan tingkat perubahan arus, serta berbanding terbalik dengan resistivitas material.

Reaksi Eddy Current Terhadap Medan Magnet

Menurut hukum Lenz, Eddy Current menciptakan medan magnet yang menentang perubahan medan magnet yang diciptakan tersebut, dan dengan demikian Eddy Current bereaksi kembali kepada sumber medan magnet. Sebagai contoh, permukaan yang konduktif yang terdekat akan mendesak gaya tarik pada pergerakan magnet yang berlawanan arah geraknya. 

Hal itu disebabkan karena Eddy Current diinduksi oleh permukaan medan magnet yang bergerak. Efek tersebut bekerja pada sistem pengereman Eddy Current yang mana digunakan untuk menghentikan perputaran dari peralatan alat listrik secarap cepat pada saat dimatikan. 

Arus tersebut mengalir melalui tahanan konduktor dan juga membuang energi panas pada material. Jadi, Eddy Current adalah penyebab hilangnya energi pada inductor AC (alternating current), trafo, motor elektrik dan generator, serta mesin AC lainnya, sehingga dibutuhkan perlakuan khusus pada saat pembuatan seperti dengan menggunakan inti magnet yang dilaminasi atau inti besi untuk meminimalkan efeknya. Eddy current juga digunakan untuk memanaskan sebuah objek di dalam tungku dan peralatan pemanasan induksi, dan untuk mendeteksi retak dan cacat pada bagian logam.

Lihat juga : Jasa Pembuatan TPS B3

Asal Istilah Eddy Current


Istilah Eddy Current datang dari arus analog yang terlihat didalam air pada dinamika fluida yang menyebabkan daerah terlokalisir oleh turbulensi yang diketahui sebagai putaran arus yang menimbulkan vortisitas/pusaran air secara terus menerus. Secara analogi Eddy Current akan membutuhkan waktu untuk diciptakan dan hanya dapat bertahan dalam waktu yang singkat karena sifat keinduktansiannya.


Sejarah Eddy Current


Orang pertama yang meneliti Eddy Currents adalah Franҫois Arago (1786-1853), seorang perdana menteri Perancis yang ke-25, juga seorang ahli matematika, fisikawan dan ahli astronomi. Pada tahun 1824 dia meneliti sesuatu yang disebut rotasi magnet, dan menemukan benda yang paling konduktif yang dapat dipengaruhi magnet, hal ini sudah sudah dipelajari secara komplit dan dijelaskan oleh Michael Faraday (1791-1867).


Pada 1834, Heinrich Lenz menemukan Hukum Lenz yang menyatakan bahwa medan magnet pada arah arus listrik yang terinduksi pada sebuah benda akan melawan medan magnet perubahan aliran magnetic yang menyebabkan arus mengalir. Eddy Current menghasilkan bidang sekunder yang mengubah bidang eksternal dan menyebabkan aliran eksternal tersebut bergerak menghindari konduktor.

Fisikawan Perancis, Léon Foucault (1819-1868) dianggap sebagai penemu Eddy Currents. Dia menemukan bahwa gaya yang dibutuhkan pada perputaran cakram tembaga menjadi lebih besar pada saat sisi cakram diletakkan diantara kutub magnet, pada saat yang sama cakram tersebut menjadi panas dikarenakan Eddy Current diinduksi didalam logam. Penggunaan Eddy Current pada NDT dimulai pada tahun 1879 ketika David E. Hughes menggunakan prinsip Eddy Current pada tes metallurgical sorting.

cara untuk melakukan analisa dengan metode eddy current

Penjelasan Eddy Current



Sebuah magnet menginduksi perputaran arus listrik pada lembaran logam yang bergerak melewatinya. Perhatikan Gambar 1. Gambar tersebut menunjukkan lembaran logam yang bergerak ke kanan dibawah magnet. Kutub utara medan magnet melewati lembaran itu. Karena logam tersebut bergerak, aliran magnet pada lembaran tersebut berubah. Pada bagian lembaran di bawah tepi depan magnet (sisi kiri), medan magnet melalui lembaran meningkat saat semakin dekat magnet. Menurut hukum induksi Faraday, hal ini menimbukan lingkaran medan listrik pada lembaran berlawanan dengan arah jarum jam disekitar garis medan magnet. Bidang tersebut menginduksi arus listrik yang berlawanan arah jarum jam pada lembaran tersebut. Hal tersebut yang disebut Eddy Current. Pada tepi magnet (sisi kanan), medan magnet meningkat, menginduksi aliran Eddy Current yang kedua pada lembaran logam searah jarum jam. 








Cara lain untuk mengerti tentang Eddy Current adalah dengan melihat pembawa muatan bebas (elektron) pada lembaran logam yang bergerak ke kanan, sehingga berdasarkan gaya Lorentz, medan magnet akan menimbulkan gaya samping pada lembaran logam tersebut. Karena kecepatan muatan (v) bergerak ke kanan dan medan magnet (B) mengarah ke bawah, berdasarkan kaidah tangan kanan, gaya Lorentz berada pada muatan positif F = q (v x B) mengarah ke belakang diagram (ke kiri saat menghadap arah gerak v). Hal ini terjadi diakibatkan karena arus yang mengarah ke bawah belakang magnet, yang berputar mengelilingi bagian dari lembaran tersebut berada diluar medan magnet, berputar searah jam ke kanan dan berlawanan arah jam ke kiri, dan ke arah depan magnet.
Baca selengkapnya

Monday, 26 February 2018

NON DESTRUCTIVE TESTING PADA FAILURE ANALYSIS

NON DESTRUCTIVE TESTING PADA FAILURE ANALYSIS


Mendeteksi dan mengisolasi sebuah kegagalan dalam sebuah sistem yang terintegrasi adalah persoalan yang tidak mudah. Ada banyak teknik yang dapat digunakan dalam Failure Analysis dan memilih salah satu yang paling tepat dapat diibaratkan sebuah seni dalam sains.

Terkadang kita perlu melakukan banyak sekali teknik untuk mendapatkan analisa yang lebih baik dan pembuktian independen sehingga kita menjadi lebih yakin dengan hasil yang diperoleh. 

Semua pengetesan yang dilakukan dibagai atas dua, yaitu Destructive Testing dan Non Destructive Testing. Pada artikel ini kita akan pahami mengapa NDT sangat penting dan metode-metode apa yang termasuk didalamnya.

Non destructive testing (NDT) merupakan jenis pengetesan yang tidak menyebabkan perubahan-perubahan yang permanen untuk chip atau komponen elektronik pada kondisi yang ideal. Sebaliknya, destructive testing akan menghancurkan komponen tersebut hingga membuat menjadi tidak berguna. Tentu saja tujuannya adalah untuk membuat sebuah Failure Analysis. 

Sebagai contoh dari destructive testing adalah proses decapsulating sebuah chip (membuka material plastik pada chip untuk mengeluarkan sirkuit silikon) untuk mencegah penggunaan berulang pada sebuah sistem.

Selain dikarenakan alasan pembiayaan, pemilihan untuk menggunakan NDT juga ternyata memiliki alasan lain. Sebagai contoh kita gunakan dalam produksi chip yang dilakukan secara masal. Kehilangan sebuah chip tidak akan memberikan dampak yang sangat besar.

Namun bagaimana apabila barang tersebut adalah sebuah prototipe yang sangat mahal. Pada saat kita memilih untuk melakukan NDT, kita dapat melakukannya berkali-kali untuk mendapatkan kesimpulan yang sama sampai kita yakin terhadap kesimpulan tersebut. Sebagai tambahannya, kita dapat melakukan banyak tes yang berbeda dengan bermacam-macam metode untuk mengecek kesimpulan tersebut.

Lihat Juga : 
- Perusahaan Ahli Water Treatment
- Jasa Pembuatan TPS B3

Alasan lain mengapa kita memilih NDT adalah kesulitan untuk menemukan kecacatan pada bagian kecil equipment yang satu dengan yang lain. Misalkan pada pemeriksaan suatu elektronik. Sistem elektronik dibentuk oleh ribuan atau jutaan komponen-komponen yang kecil dan terkadang menemukan satu cacat yang tidak biasanya dapat membantu kita untuk mengidentifikasi kecacatan pada proses manufaktur yang mungkin luput dari perhatian kita.

Banyak teknik yang digunakan dapat digolongkan ke dalam NDT. Contohnya adalah semua prosedur yang mengandalkan radiasi elektromagnetik seperti spektroskopi emisi dan mikroskop optik. Semuanya termasuk dalam NDT. Selain itu ada juga prosedur yang menggunakan mikroskop akustik, dan juga teknik pencitraan microthermal dengan menggunakan radiasi infra merah atau pencitraan cairan kristal.
Baca selengkapnya

Tuesday, 20 February 2018

7 Hal Yang Harus Ada Dalam TPS B3

7 Hal Yang Harus Ada Dalam TPS B3



TPS B3 atau Tempat Penyimpan Sampah Bahan Beracun dan Berbahaya, adalah salah satu tempat yang harus tersedia di Pabrik-pabrik sesuai dengan peraturan Kementrian Lingkungan Hidup dengan nomor

Walaupun hanya sebagai tempat penyimpanan sementara untuk Limbah B3, namun bukan berarti Tempat ini bisa dibuat asal-asalan layaknya sebuah pos kamling di perumahan. Sebab, jika kita tangani dengan asal saja maka Limbah B3 tadi berpotensi untuk mencedrai pekerja, dan juga membahayakan lingkungan.

Bangunan tertutup biasa saja tidak cukup sebagai tempat TPS B3, namun harus juga memiliki beberapa tambahan peralatan lain. Apakah saja peralatan tersebut? Dalam postingan 7 Hal yang harus ada dalam TPS B3 ini akan kita bahas bersama :

1. Ventilasi Yang Cukup 



TPS B3 akan diisi oleh bahan yang beracun dan berbahaya, untuk itu kita harus memastikan operator yang bekerja didalam atau di sekitar TPS B3 tidak terpapar uap beracun dari Limbah tersebut.



Oleh sebab itu, kita harus memastikan bahwa ventilasi udara cukup. Selain itu, sirkulasi udara juga harus diperhatikan agar udara didalam tidak terlalu panas. 



Beberapa limbah B3 yang mengandung pelarut organik ataupun bahan bakar bahkan harus diberikan ventilasi dengan pendingin yang cukup untuk mencegah terjadinya kebakaran akibat tercapainya flash point.



Penambahan Exhaust fan pada atap ataupun pada tembok juga perlu diperhitungkan untuk menambah nilai keamanan pada TPS B3 yang hendak dibuat.



2. Memiliki Lokasi Khusus untuk Limbah Khusus 




Walaupun kita berurusan dengan limbah atau bahan yang akan dibuang. Bukan berarti kita dapat meremehkan persoalan penempatan dari Limbah tersebut. 



Beberapa limbah bahan kimia harus kita periksa MSDSnya untuk memastikan kompatibel tidak dengan limbah lainnya. Jangan sampai limbah yang kita tempatkan akan menimbulkan reaksi dengan limbah lainnya. 



Semisal limbah Asam Nitrat Pekat yang memiliki sifat Oxidizing, tidak dapat disatukan penempatannya dengan limbah yang memiliki sifat mudah teroksidasi seperti besi ataupun pelarut organik.





Oleh karenanya, diperlukan juga semacam garis marking untuk memisahkan antara satu limbah B3 dengan limbah b3 lainnya.



3. Ukuran Pintu Cukup Untuk Pengangkutan Forklift dan Sejenisnya 




Biasanya limbah b3 akan ditempatkan pada suatu wadah yang tidak terpakai lagi di suatu pabrik. Kemudian baru dipidahkan ke TPS B3. Misal menggunakan drum plastik 200 L.



Namun setelah dimasukan dan bertumpuk di TPS B3, biasanya baru bertemu dengan masalah baru. Yakni drum tersebut begitu berat dan sulit dipindahkan dengan tenaga manusia biasa.



Oleh karenanya kita harus memperhitungkan ukuran pintunya. Pintu TPS B3 sebaiknya dibuat dengan lebar sedikit lebih dibanding dengan ukuran palet. Sehingga dapat diangkat dengan Forkilft ataupun dengan Handlift. Hal ini untuk menghindarkan tumpahan limbah B3 yang tentu berbahaya bagi operator dan lingkungan sekitar.



4. Pencahayaan 




Pencahayaan juga sebaiknya diperhitungkan dalam pembuatan TPS B3. Walaupun demi Green Environment dan penghematan, selayaknya perusahaan tetap memberikan pencahayaan pada TPS B3.



Untuk menghemat listrik, dapat diberikan atap yang tembus cahaya pada beberapa bagian. Dan untuk lampu dapat menggunakan LED yang hemat listrik.



5. Saluran Got Untuk Tumpahan 




Hal lainnya lagi untuk diperhatikan adalah, harus ada saluran got yang diperuntukan untuk mengatasi tumpahan limbah B3 Cair.



Limbah B3 cair harus kita tangani secara hati-hati demi menghindarkan kecelakaan kerja ataupun dampak negatif pada lingkungan. Oleh karenanya untuk dapat mentransfer atau mengamankan tumpahan kita harus turut mempersiapkannya.



Biasanya disalah satu ujung ruangan dipasangan pula suatu Pit yang agak besar dimana pompa dapat masuk, sehingga limbah yang tertumpah bisa ditransfer ke wadah yang telah disiapkan.


Cara Membuat TPS B3 yang sesuai dengan standar pemerintah


6. Siapkan APAR untuk TPS B3 limbah Volatile 




Limbah B3 yang mudah menguap dan mematik api, harus memiliki APAR untuk berjaga-jaga ketika terjadi kebakaran sehingga bisa dipadamkan dengan mudah.



APAR tersebut juga harus ditempatkan ditempat yang mudah dijangkau dan terlihat. 



Untuk penjagaan ekstra, kita juga dapat menginstal Water Nozzle yang diintegrasikan dengan smoke detector.



7. Persiapkan Tempat Catatan Administrasi 



TPS B3 wajib memiliki tempat pengarsipan khusus dalam TPS itu sendiri untuk memudahkan pengidetifikasian Limbah B3 serta penghitungannya.



Secara detail akan dijelaskan pada artikel selanjutnya. Namun pada intinya, berfungsi sebagai dokumen history dan administrasi untuk memastikan tidak ada limbah B3 yang menghilang (Sebagian Limbah B3 ada yang masih memiliki nilai ekonomis seperti oli bekas).








Jika sobat pembaca Olah-Air.Com memiliki pertanyaan seputar hal ini. Ataupun membutuhkan suatu bangunan TPS B3 yang sesuai dengan peraturan Lingkungan Hidup. Maka silahkan sobat menghubungi kontak kami dibawah ini.



Salam hangat,





Mr. Anggi Nurbana





Waste Treatment Specialist


Baca selengkapnya