Friday, 19 October 2018

5 Kekurangan dari Penggunaan Sistem EDI

Kekurangan Pada Proses EDI


Haloo sobat olah-air.com selamat malam. Di malam ini di sela-sela kesibukan merancang proses water dan waste water treatment untuk beberapa project. Saya akan mencoba membahas tentang beberapa kekurangan dari proses EDI.

Artikel ini ditujukan untuk menjawab salah seorang peserta workshop yang diadakan oleh tim saya beberapa waktu yang lalu. Dan bagi yang mau ikut workshop tersebut dapat menghubungi nomor tim kami diatas.

Lihat Juga : Jual Mesin EDI Untuk Industri

Mengapa Harus Tahu Kekurangannya?




Sudah selayaknya bagi seorang pengusaha untuk mengetahui resiko dan peluang dari setiap keputusan yang mereka ambil. Dengan mengetahui kekurangan atau resiko dari sesuatu, tentu kita sebagai owner dapat mengambil langkah preventif dan juga plan cadangan untuk mendapatkan hasil yang baik.

Dan dalam artikel Prinsip Proses EDI, saya sendiri sudah menyebutkan beberapa kelebihan dari proses EDI. Sehingga tidak adil rasanya kalau kita tidak membahas kekurangan EDI dalam artikel lainnya.

Seperti yang kita tahu, di Dunia ini tidak ada sesuatupun yang sempurna. Karena kesempurnaan itu sendiri hanya milik ALLAH Sang Tuhan pemilik dan pencipta alam semesta. Namun dari kekurang-kekurangan ciptaan yang ada di dunia, kita sebagai manusia yang diberikan akal serta pikiran tentu menjadi berpikir tentang bagaimana cara mengolah kekurangan tersebut menjadi lebih minimal untuk dapat dikontrol dengan lebih baik lagi. Termasuk dalam system EDI ini.

Nah daripada berlama-lama di pembukaan, yuk langsung saja kita simak daftar kekurangan system EDI.

Lihat Juga : Prinsip Kerja Mesin EDI

List Kekurangan Proses EDI

a. Biaya Installasi Lebih Tinggi

Kekurangan pertama yang akan ditemuka dalam system EDI adalah tentang biaya installasi awal yang sedikit lebih tinggi daripada menggunakan system Mixbed.

Tingginnya biaya installasi ini, bukanlah karena harga modul EDI yang tinggi (saja). Tingginya biaya installasi ini lebih mengarah pada kebutuhan pre-treatment system yang cukup banyak, terlebih lagi jika air yang digunakan tidak memiliki parameter air bersih.

Biaya installasi untuk standar water treatment, Pure Water Treatment dan High Pure Water Treatment perlu kita pikirkan ketika kita berniat menginstall system EDI. Yang tentunya hal ini menjadi kekurangan pertama yang harus kita pertimbangkan.

Proses RO baik One Phase ataupun two phase akan menjadi sebagian dari keseluruhan RAB yang muncul ketika niat membuat system EDI ini terwujud. Dan kita semua tahu bahwa untuk menginstall two phase RO, cukup banyak biaya yang harus kita keluarkan.

Namun, biaya installasi ini dapat kita reduce jika air yang digunakan sebagai air baku sudah memiliki kandungan parameter yang rendah.

b. Inlet Parameter Lebih Ketat

Walaupun memiliki system operasional dan maintenance yang jauh lebih mudah, EDI ternyata memiliki inlet parameter yang jauh lebih ketat jika dibandingkan dengan proses mixbed.

Parameter TDS/Conductivity harus dijaga serendah mungkin hingga bernilai dibawah 5 mg/L ataupun dibawah 18 mS/cm2. Selain itu parameter hardness, silica dan chlorine juga harus dijaga agar berada dibawah 1 mg/L. Dan untuk menjaganya kita memerlukan installasi pre-treatment yang cukup banyak.

apa saja kekurangan pada proses EDI
Jika air yang masuk ke dalam EDI ternyata tidak masuk ke dalam standard yang telah ditetapkan. Maka modul EDI akan terganggu, sehingga debit dapat menjadi turun atau menjadi nol akibat terjadinya clogging ataupun kerusakan permanen pada bagian internal modul EDI. 


c. Masih Kurangnya Spare Part dan Teknisi EDI 



Kekurangan ketiga dari system EDI ini adalah dari sisi ketersediaan teknisi dan spare part yang masih jarang. Harus diakui hal ini terjadi kerena intallasi EDI di Indonesia sendiri masih tergolong baru dan jarang. Oleh karenanya tenaga teknisi yang bisa memperbaiki system ini juga masih sangat sedikit. 



Begitu pula dengan spare-part masih harus mengandalkan proses import yang bisa memakan waktu 1 – 3 bulan lamanya. 



Namun hal tersebut tidak jadi masalah besar, jika sobat melakukan order EDI pada perusahaan kami. Sebab perusahaan kami telah berpengalaman dalam melakukan perbaikan dan installasi mesin EDI sehingga proses perbaikan menjadi lebih cepat. 



Dan lagi, jaringan supply kami telah menyebar hampir diseluruh dunia. Sehingga pengadaan spare part juga bisa lebih singkat hanya dalam hitungan 1-2 minggu saja. 

d. Mudah Terjadi Trouble Jika Inlet Water Bermasalah 


Kekurangan terakhir dari proses EDI ini adalah terlalu sensitifnya modul EDI yang ada dipasaran. Sehingga jika terjadi kesalahan sedikit saja pada proses inlet water, dapat berakibat menurunnya kualitas dan kuantitas product water dari si EDI ini. 



Tidak jarang juga mesin menjadi shut down akibat output yang diberikan tidak ada, dikarenakan terjadinya clogging pada cation/anion chamber yang ada di Modul EDI. 



Untuk menjaga hal ini jangan sampai terjadi, disarankan untuk menginstall pre-treatment yang tepat sebelum air umpan masuk ke dalam system EDI. 



Pastikan installator ataupun perusahaan yang menginstall EDI, paham betul apa saja akar masalah di EDI dan cara-cara tepat untuk mengatasinya. Selain itu, Anda juga harus memastikan bahwa perusahaan tersebut mampu membaca parameter air baku sehingga mampu mendesain pretreatment yang tepat. 

apa saja kekurangan dari mesin EDI CHeminusa






Lihat Juga : Pretreatment Pada Proses EDI

Oke sobat, tak terasa sudah malam juga ini. Maka kita sudahi dulu ya daftar kekurangan dari system EDI ini. Jika sobat memiliki pertanyaan atau kebutuhan Inquiry untuk EDI, silahkan menghubungi kami langsung pada nomor yang tertera di Website ini, kami siap membantu Anda!.

Salam hangat,



Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Jual Mesin EDI untuk Industri

Jual Mesin EDI untuk Industri

PT CHEMINUSA Kontraktor Pembuat Mesin EDI water Treatment


Apa itu EDI? 

EDI atau ELECTRODEIONIZATION adalah suatu system pemurnian air dengan memanfaatkan arus listrik DC untuk memisahkan cation dan anion dalam air sehingga didapatkan air dengan tingkat kemurnian tinggi. EDI sendiri sekarang banyak dijual untuk dapat menjadi alternative bagi penggunaan Mixbed Demin yang dirasa memiliki kekurangan. 



Aplikasi EDI 

EDI di seluruh dunia saat ini telah mendapatkan pengakuan yang cukup baik karena telah diaplikasikan dalam beragam lini industry. Maka dari itu saat ini cukup banyak produsen besar dari Membrane RO yang juga menjual system EDI rakitan. Beberapa jenis industry yang menggunakan EDI antara lain :
- Industri Farmasi 

- Industri Makanan dan Minuman 

- Penggunaan dalam Boiler Bertekanan Tinggi 

- Industri Microelectronic (Chip Komputer) 

- Laboratorium Pengujian 

Keuntungan Penggunaan Sistem EDI yang kami Jual 

EDI adalah proses pemurnian air yang bisa berlangsung secara non-stop serta tidak memerlukan proses regenerasi kimia yang merepotkan. Oleh sebab itu, dengan penggunaan EDI owner system tidak perlu lagi memikirkan down time akibat adanya regenerasi, dan juga mengurangi chemical handling dan storage untuk regenerasi. 

SKID yang kecil dari EDI juga akan menghemat lebih banyak lahan di pabrik, jika kita bandingkan dengan area SKID dari system MIXBED yang cukup besar. Jika dibandingkan areanya, maka area SKID untuk EDI yang kami jual hanya akan menduduki area 30% dari area SKID Demin Mixbed. 

Untuk dari segi output, EDI Jauh lebih stabil karena tidak terpengaruh kejenuhan dari resin. Hal ini sangat menguntungkan, karena dapat mengurangi reject dari produk yang sangat berharga. 

Output Mesin EDI Yang Kami Jual 

EDI yang kami jual memiliki Output yang akan sesuai expektasi dari Owner yang memesan system EDI tersebut. Secara umum berikut ini adalah output yang kami janjikan akan Anda dapatkan dari EDI yang kami jual :



5 Alasan Kenapa Beli EDI di PT. CHEMINUSA 

1. Engineer berpengalaman dan Terampil 

Kemi telah berpengalaman dalam bidang water treatment selama lebih dari 15 tahun. Oleh karenanya kami tidak hanya menjual system EDI karena mesin tersebut memiliki komponen yang bagus. Namun karena kami juga memiliki engineer yang berpengalaman dan terampil. 

Engineer kami telah terlatih untuk dapat menangani beragam permasalahan dan requirement dari system EDI. Sehingga proses installasi dan running akan dilakukan dengan smooth. Ditambah lagi proses transfer knowledge akan diberikan secara serius, sehingga operator Anda akan memiliki pemahaman yang baik dalam menjalankan system EDI yang kami install. 

2. Proses Pengerjaan Cepat 

Tim kami yang terampil, dibarengi dengan bagian pengadaan yang sudah berpengalaman akan membuat proses installasi EDI ditempat Anda menjadi lebih cepat. Total proses pengerjaan bisa hanya selama 1 bulan saja. 

3. Harga Terbaik 

Kami memberikan harga jasa installasi EDI yang sangat bersaing dengan competitor lainnya. Hal ini dikarenakan kami telah memiliki jalur pengadaan EDI yang baik ditambah lagi proses pengerjaan yang cepat membuat EDI yang kami jual adalah pilihan terbaik bagi Anda. 

4. Desain Komplit 

Kami mengerti bahwa system EDI tidak dapat berdiri sendiri. Untuk itu, kami juga akan memberikan rancangan desain system secara Komplit dan menyeluruh. Hal ini bertujuan untuk menjaga investasi EDI anda sehingga tahan lama dan dapat memberikan hasil yang konsisten serta stabil dari waktu ke waktu. 

Kami akan memberikan desain dari mulai water intake/Pre-Treatment, Main Treatment, hingga post treatment. Desain akan disesuaikan dengan requirement standard yang anda inginkan, baik itu sesuai dengan Pharmacopea, ASTM, ataupun ISO. 

5. Garansi Hasil 

Kami berani memberikan garansi hasil atas EDI yang kami jual. Garansi akan diberikan bersama dengan free maintenance dan servis selama waktu yang kita sepakati bersama. Ditambah lagi, kami juga memberikan sparepart cadangan yang akan Anda perlukan untuk proses perawatan ataupun penggantian berkala. 

Oke sobat, itulah dia 5 Alasan terbaik kenapa Sobat harus beli EDI di PT.CHEMINUSA. karena hanya kami yang Jual EDI dengan beragam kelebihan serta jaminan purna jual yang baik. 




Salam hangat,



Olah-Air.Com
Baca selengkapnya

Prinsip Kerja Electro Deinonization (EDI) Dalam Proses Water Treatment

Prinsip Kerja Electro Deinonization (EDI) Dalam Proses Water Treatment




Dunia Industri yang sekarang semakin berkembang dan semakin menuntut spesifikasi yang semakin ketat dari beragam sisi. Salah satu sisi yang cukup ketat adalah dari bidang utility khususnya air. 


Beberapa industry seperti farmasi, instrumentasi juga pembuatan tinta khusus ternyata memerlukan suatu air dengan spesifikasi yang sangat khusus. Spesifikasi ini basa disebut sebagai Spesifikasi Ultra Pure Water. Yang hanya bisa didapatkan dari proses pemurnian tingkat tinggi salah satunya ada proses EDI. 



Dan dalam artikel kali ini kita akan menuliskan bagaimana sih proses EDI itu sehingga bisa menghasilkan air dengan tingkat kemurnian tinggi atau Ultra Pure Water?




Prinsip Penggunaan EDI 



Proses pemurnian air hingga pada tingkat ultra pure water, sebenarnya sudah biasa dilakukan dalam industry farmasi dan juga intrumentasi. Proses mendapatkan ultra pure water ini, biasa dilakukan dengan system Mixbed Demin. 



Sistem Mixbed demin ini, dahulu adalah yang utama dipakai untuk mendapatkan Ultra Pure Water sebelum proses EDI Ditemukan. Prosesnya adalah dengan proses penyerapan cation dan anion yang berada di air dengan resin yang ada dalam tangki. 



Proses penyerapan cation dan anion yang ada dalam air ini, harus melalui proses regenerasi resin yang dimana cukup merepotkan dan memerlukan banyak biaya baik. 


Kontraktor Pembuat EDI



Prinsip kerja EDI, memiliki perbedaan dengan prinsin kerja Mixbed Demin. Dimana cation dan anion ini nanti diberikan reaksi lewat arus listrik DC. Sehingga akhirnya dapat memisahkan diri dari air permeate menuju air concentrate. Hal ini memberikan kelebihan pada proses EDI, karena tidak perlunya proses regenerasi seperti pada proses Mixbed Demin. 




Kelebihan Penggunaan EDI 



Setelah mengetahui tentang prinsip kerja dari Proses EDI, maka kita akan membahas sedikit tentang apa saja sih kelebihan dari proses EDI (Electrodeionization). Cekidot 



a. Tidak memerlukan proses regenerasi 



Proses pemurnian air menggunakan EDI, tidak memerlukan proses regenerasi. Hal ini dikarenakan prinsip kerja dari EDI itu sendiri bukanlah merupakan pertukaran Ion. Tapi lebih kepada injeksi muatan electron pada senyawa pengotor yang ada diair. Fungsinya adalah untuk dapat dengan mudah membuat pengotor tersebut berpindah ke dalam cation atau anion chamber di Sistem EDI. 



Dengan ketiadaan proses regenerasi, tentu membuat operasional cost berkurang, diiringi dengan berkurangnya juga proses operasional dan juga installasi yang merepotkan. 





b. Tidak menghasilkan Limbah 



Proses penyerapan cation dan anion dengan meggunakan mixbed, akan membutuhkan proses regenerasi agar si mixbed dapat digunakan terus menerus. Proses regenerasi itu sendiri tentu kita tahu, bahwa dia memerlukan Asam HCl dan juga basa NaOH. Yang akhirnya nanti akan menghasilkan limbah regenerasi yang memiliki pH dan TDS diluar batas yang bisa diterima baku mutu. 

Lihat Juga : 5 Kekurangan Mesin EDI



Limbah regenerasi ini nantinya harus diolah dalam proses pengolahan air limbah (IPAL / WWTP) dan hal ini tentu merupakan cost tambahan yang harus diperhitungkan. Karena pemilik Demin harus mengeluarkan biaya Investasi dan operasional untuk dapat mengolahnya. 



Berbeda dengan proses pada EDI, dimana tidak perlu melakukan regenerasi sehingga owner tidak perlu pusing lagi memikirikan biaya untuk investasi IPAL dan juga operasionalnya. 





c. Sistem Operasional Yang Lebih Simple 



Ketiaadaan proses regenerasi, tentu akan membuat berkurangnya valve yang harus dioprasikan. Hal ini akan memudahkan proses operasional seperti halnya proses operasional antara RO dan Demin. 



Sistem operasional yang lebih simple akan berdampak pada menurunnya jumlah operator yang diperlukan untuk running system. Dan hal ini juga akan berdampak pada lebih stabilnya debit yang dihasilkan karena proses maintenance dan regenerasi juga akan berkurang jauh. 



d. Low Power Consumption 



Walaupun dalam prinsip kerjanya EDI menggunakan arus listrik DC. Tapi dalam kenyataan dilapangan jikalau kita hitung dengan berkurangnya proses pumping, regenerasi, maintenance dan lain-lain maka sudah tentu dari segi power consumption jauh lebih rendah daripada proses Mixbed ataupun demin yang digantikan. 

Lihat Juga : 6 Teknik Anaerob untuk Pengolahan Air Limbah



e. Area Sistem Yang Lebih Kecil 



Kelebihan terakhir dari pemilihan EDI sebagai proses untuk mendapatkan ultra pure water adalah karena EDI hanya memerlukan area yang jauh lebih kecil. Yakni hanya 30% dari area yang diperlukan oleh system Mixbed. 



Area yang lebih kecil ini didapat karena proses EDI telah mengeleminasi kegiatan regenerasi, back wash, rinsing, dan juga proses maintenance lainnya. Alhasil area system EDI ini sendiri menjadi lebih kecil. 



Keuntungan area ini tentu sangat diinginkan oleh para Owner yang memiliki area terbatas di pabrik mereka. 





Nah itu dia, Sedikit pembahasan tentang Prinsip kerja dari EDI beserta dengan beberapa kelebihan dari system ini. Untuk pertanyaan lebih lanjut atau permintaan Quotation EDI ini dapat menghubungi kami di PT. CHEMINUSA. 






Salam Hangat, 






Mr. Anggi Nurbana

Baca selengkapnya

Pretreatment Pada Proses EDI

Pretreatment Pada Proses EDI

Cara untuk memproses EDI kontraktor EDI


Assalammu’alaikum Sobat Olah-air.com sekalian. Apa kabar? Semoga sobat sekalian sehat selalu ya!

Kalau di artikel sebelumnya kita sudah membahas tentang prinsip EDI beserta beberapa kelebihannya. Maka dari itu dalam artikel kali ini kita akan membahas tentang pretreatment yang diperlukan oleh EDI itu sendiri.

Pemahaman tentang pretreatment untuk EDI ini cukup penting untuk dapat dimiliki oleh para owner atau pelaku usaha yang ingin memiliki ultra pure water lewat proses EDI. Sebab tanpa pengetahuan ini, bisa jadi EDI yang dimiliki hanya akan bertahan sebentar saja. Karena EDI mengalami kerusakan akibat input air yang belum diproses pre-treatment terlebih dahulu.

Proses pre-treatment ini juga yang sebenarnya membuat cost installasi dari system EDI dibilang lebih mahal sedikit dibandingkan dengan cost installasi pemurnian air menggunakan proses Mixbed Ion Exchange.

Namun jikalau kita timbang dengan pengeluaran operasional dalam jangka waktu panjang, Proses pretreatment ini akan membayarnya dengan memberikan hasil yang lebih stabil dan low cost operasional.

Seperti apa saja sih pretreatment yang diperlukan oleh proses EDI ini. Mari kita simak saja langsung dalam postingan dibawah ini.

a. Clean Water Generator 

beli EDI untuk water treatment cheminusa


Pretreatment pertama yang harus dilakukan untuk menjaga kestabilan dari proses EDI adalah dengan adanya Clean Water Generator System Yah istilah mudahnya sih standar water treatment proses.

Tujyan dari Clean Water Generator ini sendir adalah untuk mendapatkan air yang masuk ke dalam standar baku mutu air bersih dan layak digunakan untuk keperluan sehari hari.

Proses dalam Clean Water Generator atau Standar Water Treatment process ini biasaya akan meliputi sedimentasi, eleminasi partikel lumpur (Suspended Solid), penyerapan zat warna, penyerapan hardness dan juga eleminasi bakteri.

Untuk lebih mudahnya dapat melihat skema dibawah ini.

Clean Water Generator dapat dibuat lebih ringkas jika air sumber yang digunakan telah terjamin kualitasnya. Seperti air yang berasal dari WTP kawasan ataupun dari PDAM. Hal ini akan mengurangi proses injeksi chemical untuk koagulasi dan flokulasi, mengurangi sedimentasi dan proses sludge handling. Sehingga proses Clean Water Generator hanya akan berfokus untuk penyerapan pengotor, pengurangan hardness, bakteri dan pengurangan pollutant chlorinse serta ammonia saja.

b. Pure Water Generator 

Jual mesin EDI


Proses pre-treatment kedua ini sebenarnya sudah biasa dillakukan dibanyak perusahaan. Terlebih untuk perusahaan yang banyak menggunakan air dalam proses produksinya.

Industri Makanan dan Minuman, Industri Farmasi, Industri Plating, Industri Bahan kimia, industry kertas dan lain sebagainya biasanya memerlukan air dengan tingkat kemurnian yang cukup baik.

Pure Water juga biasanya diperlukan dalam mesin boiler dengan tekanan tinggi. Beberapa karakter dari Pure Water dapat dilihat dibawah ini.

Pure water biasanya didapatkan lewat proses filtrasi tingkat dua seperti dengan menggunakan Cartridge filter, Ultra Filtration ataupun nano filtration.

Hasil dari proses RO yang masih memiliki nilai TDS diatas 50 juga dapat digolongkan kepada proses Pure Water Generator.

c. High Pure Water Generator 



Proses pretreatment ketiga untuk inlet ataupun feed EDI system adalah High Pure Water Generator. Proses ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan inlet yang lebih stabil dan lebih murni dari pada Pure Water.

Ion atau pollutant yang biasa dikontrol dalam proses Ini antara lain :

- Hardness (Baik Calcium ataupun Magnessium)

- Silica

- Chlorine

- Dan Total Dissolved Solid

Seluruh parameter diatur ataupun ditreatment sedemikian rupa sehingga dapat masuk ke dalam standar inlet dari proses EDI.

Tidak jarang, untuk treatment High Pure ini digunakan proses RO dengan system TWO Phase ataupun menggunakan proses Demin Cation dan anion. 
perusahaan kontraktor EDI untuk water treatment farmasi
EDI tanpa Proses Pre-treatment, Bisakah? 

Kalau ditanya bisa atau tidak. Maka jawabannya adalah bisa! Asalkan air baku yang digunakan sudah masuk ke dalam standar High Pure Water seperti air hujan atau air pegunungan yang sangat murni. 

Dan bisa juga sih, air tanah atau air PDAM langsung masuk ke dalam system EDI, asalkan owner memiliki uang yang sangat banyak sehingga setiap hari bebas ganti modul EDI sesukanya hahaha.. 

Oke sobat olah-air.com itu dia tulisan singkat tentang pretreatment yang dilakukan pada system atau proses EDI. Semoga menjadi tercerahkan dan mendapatkan input positif untuk desain yang sedang sobat kerjakan. 

Jangan lupa, jikalau memerlukan bantuan ataupun jasa kontraktor untuk desain dan pengadaan EDI. Sobat dapat menghubungi kami langsung pada nomor yang tertera diatas. 







Salam Hangat,



Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Friday, 17 August 2018

Cara Menghilangkan Pengotor dari Biogas

Cara Menghilangkan Pengotor dari Biogas

Cara tercepat untuk membuat biogas menjadi bersih

Hallo sobat olah-air.com sekalian, senang sekali ketemu libur yang cukup panjang. Yang artinya saya bisa memberikan beberapa materi untuk website tercinta yang akan membahas tentang solusi-solusi dalam bidang water treatment dan environmental engineering.

Kali ini sesuai subject, kita akan membahas tentang cara menghilangkan pengotor dari biogas. Biogas adalah gas methane yang dihasilkan dari proses anaerobic yang banyak digunakan sebagai sumber energi. Dan rasanya untuk bahasan sejarah dan beberapa bahasan lainnya bisa ditemukan dalam link dibawah ini :

4 Partikel Pengotor / Pollutant pada Biogas dan Cara Menghilangkannya !

Ada setidaknya 5 partikel/senyawaan yang biasa kita temukan dalam biogas yang dihasilkan. 5 jenis partikel ini akan menurunkan kualitas dari biogas yang dihasilkan, merusak fasilitas biodigester dan juga akan membuat biogas yang dihasilkan gagal untuk menyala.

Dan dalam artikel ini kita kan membahas tentang apa sajakah mereka dan cara untuk menghilangkan pengotor tersebut dari Biogas.

Baca Juga :
- Pretreatment untuk Proses Biogas
- Sejarah Asal Mula Penggunaan Biogas 
- Proses Anaerob Penghasil Biogas

A. Uap Air

Air dapat kita temukan hampir disemua bahan baku dari biogas ini. dari mulai kotoran hewan ternak, limbah sawit, sampah organik, dedaunan kering (Jerami dsb) dan lainnya semuanya mengandung air maka tentu saja air akan menjadi salah satu kandungan yang keluar bersamaan dengan gas methane.

Keberadaan uap air dalam biogas dapat membuat biogas yang dihasilkan gagal ignite, dan berkualitas rendah. berikut ini adalah beberapa cara yang bisa diambil
 1. Mendinginkan Biogas dengan Passive Cooling ; 
Pipa pentransfer Biogas dapat dipendam dalam tanah untuk memberikan efek pendinginan pasif, untuk selanjutnya uap air akan menjadi kondensat yang dapat dipisahkan.

2. Pendinginan dengan Heat Exchanger
Biogas dapat didinginkan dengan dilewatkan pada heat exchanger, kemudian gas yang sudah dilewatkan dikeringkan.

3. Penyerapan Uap Air
Cara ini adalah yang paling umum dan gampang diaplikasikan. wadah pengumpul biogas diletakan bahan penyerap air seperti silica gel, kapur, glycol atau lainnya. Air akan terserap pada absorbent dan gas yang keluar akan lebih bersih dari uap air.

Baca Juga : Konsultan Pengolahan Air Indonesia

B. H2S atau Sulfida

Sulfida akan banyak ditemukan pada biogas yang dihasilkan dari sampah organik ataupun dari kotoran. Kandungan sulfida yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya korosi pada biodigester, dan juga bisa merusak tungku. Sulfida juga kita tahu dapat mereduksi senyawaan metal/logam sehingga menjadi karat dan rusak.

Keberadaan Sulfida dapat dideteksi dari baunya yang seperti telur busuk.

Cara untuk menghilangkan pengotor sulfida dalam biogas adalah sebagai berikut :

1. Proses Water Scrubbing
Biogas dilewatkan pada water scrubber tower. Dimana air disemprotkan dan airnya yang turun ke bawah akan mengandung sulfida, sedangkan udara yang keluar akan bebas dari sulfida. biasanya proses dilanjutkan denngan menggunakan gas dryer.

2. Menggunakan Karbon Aktif
Karbon aktif diletakan pada jalur aliran biogas atau tempat penyimpanan biogas. Carbon aktif dapat menyerap sulfida dan pengotor lainnya sehingga biogas yang dihasilkan bisa lebih bersih.

3. Menggunakan Fe(OH)3
Besi atau bahan kimia Besi Hydroksida bisa juga digunakan untuk menyerap sulfida. Sulfida akan menyebabkan Fe(OH)3 berubah menjadi FeS yang berwarna hitam

Cara Mendesain Biodigester

C. Ammonia

Ammonia pada biogas dapat menyebabkan timbulnya bau pesing pada biogas dan menyebabkan korosi pada peralatan dan pemipaan. Untuk menghilangkan ammonia dapat menggunakan beberapa cara berikut :

1. Water Scrubber
Prinsipnya sama dengan ketika menghilangkan Sulfida. Sifat ammonia yang larut di dalam air, akan membuatnya turun bersamaan dengan turunnya tetesan air dari water scrubber.

2. Proses pendinginan
Bisa dengan menggunakan proses passive cooling, dimana ammonia nanti akan terikut bersama dengan uap air yang mengembun. Namun proses water scrubber masih menunjukan hasil yang lebih baik dari pada proses ini.

Baca Juga : Solusi dari Permasalahan di Cooling Tower

D. Partikel atau Debu

untuk menghilangkan partikel debu ataupun yang sejenis dari biogas dapat dengan menggunakan dust filter atau pun semacam dust collector. Nanti akan diperlukan semacam blower ataupun compressor untuk mempercepat proses ini.

Oke Sobat olah-air.com itu dia cara-cara untuk melakukan pemurnian pada Biogas. Untuk aplikasi secara besar dan skala komersial tentang plant biogas, dapat menghubungi kami secara langsung.



Baca selengkapnya

Thursday, 2 August 2018

Pretreatment Untuk Proses Menghasilkan Biogas

Pretreatment Untuk Proses Menghasilkan Biogas di Biodigester

Biogas dihasilkan dengan mesin biodigester


Selamat malam, sobat sekalian. Alhamdulillah sekarang bisa kembali menulis ditengah kesibukan proyek yang sunggu menyita perhatian dan waktu. Kali ini kita masih akan membahas tentang proses Biodigester untuk menghasilkan biogas dari Biomassa.

Dalam postingan sebelumnya tentu sudah dijelaskan tentang pengertian dari Biogas dan Sejarahnya. serta beberapa proses anaerob untuk menghasilkan biogas.

Kalau belum, maka sobat Olah-Air.Com dapat membacanya pada postingan dibawah ini.

Kali ini sesuai dengan subject, kita akan membahas tentang proses pretreatment untuk menghasilkan Biogas dari alat biodigester. Yang akan kita bahas ini, adalah tentang aplikasi pada Biodigester skala kecil. Yakni skala 25 Kg perhari hingga 250 kg perhari. Skala kecil ini biasanya diterapkan pada alat biodigester yang dipasang pada pemukiman pendudukan yang cukup padat, dengan tujuan untuk menurunkan jumlah sampah, dan memberikan imbal balik energi untuk dapur umum.

Apa saja sih, proses pretreatment untuk menghasilkan biogas, langsung saja kita Cekidot dibawah ini :
- 6 Teknik Anaerob Penghasil Biogas
- Sejarah Komersialisasi Biogas

1. Pemilahan Sampah Yang Bisa dan Tidak

Proses pertama yang harus dilakukan pada sampah atau biomassa yang akan dimasukan pada biodigester adalah kita harus melakukan pemilahan terlebih dahulu. Kita pilah, mana sampah yang dapat diproses dengan bakteri pengurai sehingga menjadi biomassa penghasil biogas dan mana sampah yang tidak dapat terurai.

Pada umumnya, semua sampah yang sulit terurai seperti : plastik, kaca, kaleng, logam, fiber, bahan bakar harus dipisahkan terlebih dahulu. Sehingga tidak terjadi kerusakan pada biodigester.

Lalu beberapa sampah organik yang sulit terurai juga harus dipisahkan agar tidak merusak atau memberikan "penyakit" pada biodigester. Beberapa sampah organik yang juga harus turut dipisahkan (Berdasarkan pengalaman) antara lain :

a. Daun Pisang
Daun pisang, dilapangan dapat menyebabkan Biodigester menjadi kembung seperti orang bunting (Asli ini pengalaman). Walaupun masih tergolong sebagai bahan organik, namun ternyata dilapangan daun pisang ini sulit diuraikan oleh alat biodigester.

Daun pisang, dalam jumlah yang cukup banyak akan menggumpal dalam biodigester, dan tidak turut hancur menjadi slurry. Hal ini menyebabkan proses peleburan dan pemecahan gas methane menjadi terhambat. Berujung pada biodigester yang membengkak.

Oleh karenanya, sangat dianjurkan (Wajib dah) untuk memisahkan daun pisang dari sampah yang akan masuk ke dalam biodigester.

Daun pisang dapat dikubur dan diberikan taburan slurry dari biodigester sehingga berubah menjadi kompos bagi tanah.

Cara pretreatment untuk proses biogas


Lihat Juga : Cara Melihat Keterkaitan Parameter di Hasil Analisa Air Limbah

b. Kayu
Bahan organik kedua yang sangat disarankan untuk dipisahkan sehingga tidak masuk ke dalam biodigester yang kita kelola. Zat lignin dalam kayu, merupakan salah satu zat yang akan menghambat proses penguraian, karena lignin terdiri dari makromolekul kompleks.

Makanya, disarankan untuk tidak memasukan kayu (apalagi dalam ukuran besar), kedalam alat biodigester.

c. Biji Mangga dan Alpukat
Sampah organik ketiga adalah kedua jenis biji ini. Saya juga belum menemukan alasan kenapa kedua jenis biji ini sulit diuraikan dalam alat biodigester. walaupun tidak sampai menyebabkan biodigester menjadi "sakit" seperti akibat memakan daun pisang. namun biji mangga dan alpukat ini setelah lama diproses dalam biodigester ternyata tidak menjadi hancur. Malahan akan keluar seperti bentuk aslinya bersama dengan slurry.

Yang jelas, kedua jenis biji ini dapat menghambat pada saluran keluar slurry karena keduanya tida menjadi hancur dalam proses penguraian dalam biodigester.



Lihat Juga : Memasukan Nilai Ergonomi dalam tata letak System

d. Makan Yang Kemungkinan Mengandung Kimia
Jenis sampah organik keempat yang harus dipilah ini disebabkan karena bahan kimia dalam makanan tersebut akan mengganggu proses penguraian bakteri penghasil biogas dalam biodigester. Makan seperti Ikan Asin, bakso serta makan instan curah lain seperti kornet dan nugget curah kemungkinan mengandung Boraks, Formalin dan pengawet lainnya yang sebaiknya dipisahkan dari sampah organik yang akan masuk ke dalam biodigester.

Boraks, Formalin serta bahan pengawet dapat memberikan efek anti oksidasi dan anti bakteri. Sehingga dilapangan dapat membuat proses penguraian menjadi lebih sulit. Hasilnya adalah biodigester menjadi lebih cepat penuh dan lebih sedikit biogas atau gas metane yang dihasilkan.

Lihat Juga : Teknik Pengolahan Limbah di Pabrik Sawit


Cara Mengolah Sampah untuk proses biogas di Peta hijau


2. Pencacahan Sampah Organik

Proses pretreatment kedua adalah dengan mencacah sampah yang akan masuk ke dalam biodigester. Sampah organik dicacah atau dipotong potong dalam bentuk ukuran sekitar 2cm. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses penguraian oleh bakteri.

Proses pencacahan bisa dilakukan dengan menggunakan pisau ataupun dengan mesin pencacah tersendiri.

Lihat Juga : 7 Point Penting dalam mendesain STP

3. Pencampuran Sampah Organik

Proses pretreatment terakhir adalah dengan melakukan pencampuran sampah tadi ke dalam alat biodigester.

Sampah dimasukan perlahan sambil dilakukan pengocokan. Tujuannya agar tidak terjadi penumpukan biomassa dalam satu sisi biodigester saja. Dengan pencampuran perlahan juga, untuk menghindari air sampah menjadi berceceran.

Itu dia 3 proses pretreatment yang biasa dilakukan pada alat biodigester skala kecil untuk menghasilkan biogas. Semoga bermanfaat. Dan stay tune terus dengan Google Plus Mr. Anggi Nurbana agar selalu mendapatkan Update Informasi tentang pengolahan air dan air limbah.

Salam Lingkungan



Mr. Anggi Nurbana


Baca selengkapnya

Thursday, 5 July 2018

6 Teknik Anaerob dalam Pengolahan Air Limbah


6 Jenis teknik Anaerob Dalam Pengolahan Air Limbah

Hallo sobat sekalian, masih bersama Mr. Anggi Nurbana di olah-air.com. Sesuai dengan janji saya pada postingan sebelumnya bahwa dalam sekitar 5-7 postingan ke depan kita akan membahas tentang proses biogas. Dan maka dari itu, pada postingan kali ini kita akan membahas tentang salah satu tahapan proses pembuatan biogas, yakni proses anaerob. 

Anaerob, sesuai namanya adalah suatu proses penguraian zat organic tanpa menggunakan udara. Proses ini biasanya dibantu oleh bakteri jenis autotroph. 

Dalam proses anaerob, bakteri dipaksa untuk melakukan penguraian zat makanan dengan memecahkan zat organik menjadi unsur dan senyawa yang lebih sederhana. Target utama dari proses anaerob adalah penguraian rantai panjang organic menjadi rantai pendek sehingga terjadi penurunan nilai COD, BOD maupun TOC pada air limbah sedangkan terbentuknya gas methane (biogas) adalah sebagai hasil samping yang diharapkan. 

Setidaknya ada 6 Jenis teknik anaerob yang cukup popular dan digunakan secara luas. Dalam postingan ini kita akan membahas secara singkat, gambaran tentang ke-enam proses anaerob tersebut dari segi positif dan negatifnya pula. Sudah siap? Yuk mari kita bahas bersama. 


1. Anaerobic Lagoon 


Proses Anaerob di Kelapa sawit sangat mudah dengan lagoon
Contoh Penampakan Anaerob metode Lagoon



Anaerobic Lagoon adalah system pengolahan air limbah metode biologi yang paling mudah. Mudah dikarenakan tidak memerlukan teknologi khusus, hanya memerlukan sebuah kolam atau danau yang cukup besar untuk menampung 30 hari debit. 

Tidak memerlukan pengaturan khusus seperti pembatasan nilai suspended solid ataupun pun penambahan bahan kimia. 

Metode Anaerobic lagoon ini, sangat banyak dipilih oleh perusahaan sawit. Khususnya mereka yang memiliki lahan yang sangat luas sehingga leluasa untuk membuat kolam bervolume ribuan kubik. 

Kekurangan metode ini adalah diperlukannya lahan yang sangat luas, sehingga tidak cocok untuk usaha yang berada di lingkup area terbatas (kalaupun ada mahal banget harga tanahnya) seperti Jabodetabek. 

Kekurangan lainnya dari metode anaerobic lagoon adalah harus ada usaha untuk pengerukan dead sludge secara berkala. Jikalau tidak maka akan terjadi pendangkalan kolam yang berakibat berkurangnya waktu tinggal anaerob terus berimplikasi pada gagalnya proses pengolahan. 


2. Continously Stirred Reactor (CSTR) 



Teknik Anaerobic kedua yang cukup dikenal adalah CSTR. CSTR adalah sebuah teknik anaerob dimana air limbah ditempatkan dalam sebuah bejana tertutup kemudian dilakukan pengadukan atau stirring secara constant. Hal ini membuat proses dekomposisi suspended solid menjadi lebih baik dibanding dengan proses dengan lagoon. 

Kelebihan lainnya adalah waktu tinggal air limbah dapat dikurangi lebih banyak menjadi hanya dibawah 7 hari saja. Selain itu, nilai biogas atau gas methane yang dihasilkan juga jauh lebih banyak dibanding dengan metode lagoon, sebab gas methane diarahkan untuk mengalir pada satu lubang pipa khusus. 

Kekurangan dari metode ini adalah , perlunya installasi cost yang cukup tinggi sebab memerlukan equipment stirrer dan tangki yang cukup besar. Ditambah lagi material untuk kedua equipment tersebut juga tidak bisa dari bahan fiber melainkan harus dari steel dengan proteksi linning tambahan. 

Kekurangan lainnya dari proses CSTR adalah, sulit mengambil biomassa yang mengendap dikarenakan sludge selalu tercampur dalam cairan limbah. 

Kekurangan ketiga adalah perlunya energy yang konstan untuk proses pengadukan air limbah yang datang. Dan sebagai catatan untuk bisa berhasil, air limbah yang datang diharapkan akan sama jumlahnya dengan air limbah yang keluar. 

3. Anaerobic Contact Process 
Proses ini hampir mirip dengan CSTR, namun ada tambahan sedimentation tank. Hal ini tentu bagus untuk membantu memisahkan air limbah yang sudah jernih dengan yang masih terlihat kotor dan mengandung banyak solid. Namun proses ini juga tentu memerlukan biaya lebih banyak dibandingkan dengan CSTR. 

4. Anaerobic Filter 
Teknik anaerob yang satu ini dianggap cukup baik untuk menumbuhkan dan mempertahankan daya hidup bakteri. Sebab bakteri diberikan rumah tinggal berupa rongga-rongga filter sehingga mereka bisa bekerja dengan lebih baik. 

Teknik ini tidak memerlukan banyak energy seperti CSTR, sehingga dalam installasinya tidak memerlukan banyak installasi elektrikal. 

Kekurangan dari teknik ini adalah kelemahannya dalam menghandle limbah yang mengandung banyak sludge biomassa. Serta banyak kemungkinnan tersumbatnya lubang filter. Maka dari itu, system ini tidak cocok untuk air limbah dengan kandungan TSS yang tinggi. 

Kekurangan lainnya adalah, kita harus selalu memantain pH dari air limbah tersebut dan memastikannya berada diatas angka 4. Sebab dalam salah satu aplikasi di perusahaan farmasi ternama, metode ini ternyata memakan filter itu sendiri ketika pH drop dibawah 4. 

5. Upflow Anaerobic Sludge Blanket Reactor 



Metode UASB ini cukup popular dimana-mana. Sebab metode yang satu ini terbukti cukup berhasil menangani limbah-limbah dengan organic load yang tinggi. Disamping itu, desainnya yang meninggi membuatnya tidak memakan banyak lahan sehingga banyak dipakai oleh perusahaan di daerah perkotaan. 

Waktu tinggal dengan menggunakan metode ini hanya sekitar 24 jam, jauh lebih sedikit dibanding dengan metode lagoon. Dan juga, tidak diperlukan installasi elektrikal seperti mixer membuatnya lebih low cost. 

Kekurangan dari proses Ini adalah keharusan untuk menurunkan tingkat suspended solid terlebih dahulu hingga berada direntang 500-800 mg/L. Kalau tidak maka dalam prosesnya akan menyulitkan operasional. 



5. Expanded Granular Sludge Bed Internal Circulation
Contoh EGSB gambar dari watertreaters.com

EGSB ini sebenarnya adalah pengembangan dan penyempurnaan dari proses UASB, perubahannya adalah dengan adanya suatu membrane atau bed tempat bakteri bersarang. Ditambah lagi adanya system sirkulasi dengan submersible mixer sehingga membuat penguraian lebih sukses.

Zat organic yang bersifat racun seperti benzene, ataupun rantai panjang yang sulit diurai dengan proses anaerob biasa ternyata dapat diurai dengan proses EGSB.

Kekurangan dari proses ini adalah biaya installasi dan operasional yang lebih mahal dibandingkan dengan lainnya. Kemudian jumlah biomass yang terbuang juga banyak karena proses pretreatment yang dilakukan sebelum masuk EGSB.

Oke sekian sedikit pembahasan tentang teknik pengolahan limbah dengan metode anaerob. Kita akan berjumpa lagi dalam postingan yang lainnya. Sampai jumpa.



Salam Lingkungan


Baca selengkapnya

Sunday, 1 July 2018

Sejarah Asal Mula Komersialisasi Biogas

Sejarah Asal Mula Komersialisasi Biogas


Saat ini kita semua tentu mengetahui bahwa sebagian besar energy yang diperlukan oleh manusia dihasilkan dari sumber daya tak terbarukan. Yang dimana sumber daya tersebut, setelah pemakaiannya akan meninggalkan “Jejak” racun bagi bumi.

Hal ini tentu, semakin menjadi masalah ketika racun tersebut menjadi boomerang bagi kehidupan aneka ragam mahluk hidup di bumi ini dengan dampaknya yang bernama pemanasan global.

Padahal selain sumber energy tak terbarukan yang biasa disebut fossil energy resource, bumi kita ini juga memiliki sumber daya terbarukan yang juga disebut renewable energy resources.

Renewable energy resources yang sudah banyak dilirik antara lain : tenaga air, tenaga angin, tenaga panas bumi (geothermal), dan juga ombak. Namun ada satu sumber daya lainnya yang ternyata masih sedikit kita manfaatkan, malah hampir semua pihak menggapnya hanya sebagai masalah yang harus dienyahkan yakni energy biomassa.

Biomassa secara mudah adalah bahan bakar yang dihasilkan oleh system yang dapat diperbaharui. Contohnya seperti biofuel ataupun biogas yang dihasilkan dari bahan baku tanaman yang diproses sedemikian rupa sehingga menjadi bahan bakar.

Salah satu biomassa yang cukup dikenal dan banyak dihasilkan dari proses pengolahan air limbah adalah biogas.

Sejarah Proses Biogas


Menurut para peneliti sejarah proses pengolahan air limbah yang menghasilkan biogas, telah mulai dilakukan sejak zaman sumeria (3000 tahun sebelum masehi). Dimana bangsa tersebut menggunakan proses anaerob untuk mengolah limbah domestic mereka.

Dan dalam sejarah yang dicatat oleh bangsa romawi, mereka telah biasa mengenal terjadinya gas yang terbakar diatas rawa sejak 50 tahun sebelum masehi.

Pada tahun 1776 Alessandro Volta memulai penelitian tentang biogas dengan mengumpulkan gas yang dihasilkan dari rawa Lake Como. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa udara yang keluar dari hasil fermentasi bisa memiliki sifat eksplosif ketika bertemu dengan udara bebas.

Ukuran yang tercatat paling awal yang saya baca adalah percobaan Louis Pasteur pada tahun 1884. Pada tahun tersebut beliau mencoba mendapatkan biogas dari kotoran kuda yang dikumpulkannya di jalanan kota Paris. Bersama dengan muridnya yang bernama Gavon, Louis Pasteur berhasil menghasilkan 100L gas methane dari 1 kubik kotoran kuda yang difermentasikan.

Louis Pasteur menyatakan bahwa dengan nilai konversi seperti ini, dan melihat jumlah kotoran yang berserakan di Paris, dia yakin bahwa proses ini dapat mengcover kebutuhan listrik jalanan kota paris jika diseriusi.

Produksi Biogas Pertama Untuk Keperluan Komersial


Dari hasil publikasi penemuan Louis Pasteur tersebut akhirnya pemerintah Prancis memberikannya kesempatan untuk memulai proyek pembuatan biogas. Akhirnya pada tahun 1897 lampu jalan di Paris menyala dengan menggunakan limbah domestic dengan proses anaerob. Hanya saja ternyata masih banyak gas methane yang terbuang di lingkungan dimana hal tersebut cukup berbahaya.

Usaha Penyempurnaan Proses Pembuatan Biogas


Pada tahun 1904 seorang ilmuwan bernama Travis melanjutkan proses produksi biogas dengan menggabungkannya dengan proses pengolahan air limbah. Dan pada tahun 1906 Sohngen menemukan adanya asam asetat sebagai hasil samping. Dia juga menemukan bahwa Methane terbentuk dari tiga senyawa yakni Formate, Hydorgen dan Carbon Dioxida (Ini kesimpulan dia ya, saya juga tahun kalau unsur utama Methane itu hanya Carbon dan Hydrogen).

Pada tahun 1906 seorang ilmuwan bernama Imhoff yang berasal dari Jerman mendesain sebuah tangki anaerob dengan waktu retensi selama 60 hari yang hari ini kita kenal sebagai “Imhoff Tank”.


Dan penjualan Biogas diprakarsai di Jerman pada tahun 1923, dimana Biogas mulai dijual kepada masyarakat luas. Dan hingga hari ini terus meluas ke seluruh dunia.

Pada tahun 1947, Imhoff mempublikasikan lagi hasil penemuannya yang menyatakan bahwa ; kotoran sapi memiliki potensi 100 kali biogas dibandingkan dengan limbah domestic. Hal serupa juga tidak jauh beda dengan kotoran ternak lainnya seperti kotoran kuda dan kotoran babi. Dan dari sana pada tahun 1950, sekitar 50 Plant Biogas dipasang di Negara Jerman.

Biogas Di Indonesia


Di Indonesia sendiri proses pembuatan biogas sudah cukup popular di kota-kota besar, hanya saja penggunannya yang paling banyak hanya sekedar untuk produksi gas bagi keperluan rumah tangga biasa saja. Dan plant ini sudah banyak dipasang oleh team kami di Daerah bandung, Sumedang, Surabaya dan daerah lainnya di Indonesia.

Untuk plant besar skala komersial, salah satu yang cukup terkenal adalah yang dimiliki oleh PT. Sewatama yang dibangun di daerah Kalimantan Selatan. Biogas Plant ini menggunakan POME (Palm Oil Mill Effluent) sebagai sumber karbonnya.

Biogas Plant ini diharapkan mampu menghasilkan energy sebanyak 2,4 Mega Watt dan dalam pengoprasiannya diharapkan dapat bersinergi dengan PT. PLN Area Kalimantan.

Harapan Untuk Proses Biogas Ke Depannya


Proses generasi energy dari limbah ataupun biomassa seperti Biogas ini harus kita dukung dan aplikasikan. Sebab proses ini selain mampu menciptakan energy terbarukan, juga dapat membantu mengolah air limbah menjadi sesuatu yang berguna dan membuatnya lebih aman bagi lingkungan.

Indonesia diharapkan menjadi Negara yang turut menghasilkan energy lewat jalan ini. Sebab Indonesia saat ini memiliki pabrik pengolahan sawit yang cukup banyak, dan tentu menghasilkan limbah yang luar biasa pula.

Akhir Kata : Mari Kita Ubah Frame Berpikir Kita


Untuk Anda yang selalu berpikir bahwa pengolahan limbah hanya menguras kantong Anda (Ya karena kelestarian lingkungan tidak menjadi main interest para pengusaha besar), maka lihatlah bahwa sesungguhnya limbah yang Anda buang masih memiliki nilai jual dan potensi energy yang besar. Maka berpartisipasilah dalam mengembangkannya dan mengaplikasikannya pada sector yang Anda pegang.



Salam Lingkungan



Mr. Anggi Nurbana
Baca selengkapnya

Thursday, 3 May 2018

4 Cara Melunakan Air Limbah

4 Cara Melunakan Air Limbah



Air limbah adalah air yang telah tercemar oleh polutan tertentu sehingga air tersebut tidak lagi aman untuk dibuang ke lingkungan bebas. Air Limbah juga sangat berbeda dengan Limbah B3. Dimana limbah B3, memiliki kandungan air yang rendah, malah kebanyakan polutan daripada airnya.

Oh iya, kembali ke topik. kali ini kita akan membahas tentang cara-cara untuk melunakan air limbah. Yakni sebuah proses untuk membuat air limbah menjadi lebih mudah diolah. Tujuan proses ini tentu untuk dapat mengolah air limbah secara lebih efektif dan lebih murah serta aman.

Contoh kasus :
Sebuah perusahaan farmasi, memiliki buangan air limbah dari produk ekspektoran mereka. Jika limbah tersebut langsung dibuang ke lingkungan maka akan merusak. Dan jika langsung diolah, maka tentu membutuhkan proses yang berat. Oleh karena itu dilakukanlah proses pelunakan air limbah.

Dibawah ini adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk melunakan air limbah :

1. Penambahan Limbah Domestik
Sobat bisa menambahkan Limbah domestik yang berasal dari toilet ataupun dari washtafel pada air limbah konsentrat yang sobat miliki. Teknik ini akan membuat air limbah tercampur dan memiliki jumlah volume lebih tinggi, namun memiliki jumlah polutan yang lebih rendah secara rata-rata.
Dengan begitu, proses pengolahan air limbah dapat menjadi lebih mudah.

efek tambahannya adalah, nanti standar baku mutu yang harus digunakan akan menjadi lebih ketat. Karena bukan lagi standar baku mutu air limbah industri tapi ke limbah domestik.

2. Pencampuran dengan Limbah Jenis Lainnya
Teknik kedua hampir mirip dengan yang pertama. hanya saja ada sedikit perbedaan. Disini air limbah industri dicoba dinetralkan dengan limbah industri lainnya. Seperti air limbah hasil regenerasi anion di homogenkan dengan air limbah regenerasi cation. Maka akan terjadi air limbah yang netral (Walau tds-nya naik ya hhehe).

Pengaplikasian teknik ini pada intinya adalah dengan menghomogenkan jenis-jenis limbah yang bisa saling netral atau saling reaksi. Yang perlu diingat adalah menghindari reaksi oksidasi ataupun pembakaran terjadi.



3. Penggunaan Air Terbuang
Ada banyak air yang terbuang dan tidak masuk ke dalam kolam air limbah. Padahal air tersebut bisa membantu proses pelunakan air limbah sehingga menjadi lebih mudah diolah. Beberapa saran saya untuk air terbuang yang dapat digunakan antara lain :
a. Air Wastafel dan Wudhu
b. Air buangan Boiler
c. Air Buangan Cooling Tower
d. Air hujan (kalau yang ini sebenarnya ga boleh)

4. Gravitasi Process
Cara pelunakan air limbah yang keempat adalah dengan membuat beberapa proses fisika gravitasi. Pemisahan padatan tersuspensi dilakukan terlebih dahulu. Teknik ini bisa dilakukan dengan membuat beberapa pit sedimentasi. Bisa juga dengan membuat oil ataupun junk trap.
Dengan proses ini, parameter pengotor dapat dikurangi dengan usaha yang minimal, namun akan memberikan impact yang besar pada pengolahan selanjutnya.
ahli pengolahan air indonesia


Baca selengkapnya

Tuesday, 1 May 2018

7 Point Penting Dalam Pembuatan Desain STP

7 Point yang Penting untuk Dipertimbangkan dalam Pembuatan STP


STP atau Sewage Treatment Plant adalah salah satu sistem yang dibuat untuk dapat mengolah Limbah Domestik. STP sering disebut juga dengan IPAL Domestik, karena IPAL jenis ini dimaksudkan untuk mengolah limbah domestik.

Selama hampir 10 tahun bergelut dalam bidang pengolahan air limbah dan air bersih. Saya cukup banyak menjumpai STP yang dibuat dengan mengabaikan beberapa point penting yang saya sebutkan disini. Hasilnya STP tersebut akhirnya menjadi gagal dalam mengolah air limbah yang masuk.

Kegagalan tersebut akan menimbulkan hasil olahan STP melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Dan dalam jangka panjang akan membuat STP tersebut menjadi malfunction.

Dan dalam postingan kali ini, kita akan sama-sama mengulas secara singkat tentang apa saja sih point penting yang harus turut dipertimbangkan dalam pembuatan STP, sehingga memiliki hasil yang ideal dan mampu mengolah limbah hingga masuk ke dalam baku mutu yang dipersyaratkan.

Lihat Juga : Cara Memilih Metode NDT yang sesuai

1. Ukuran Biological Process

Point pertama yang harus dipertimbangkan adalah ukuran dari proses biologi untuk STP. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa STP akan mengolah air limbah yang banyak mengandung pengotor yang berasal dari aktifitas sehari-hari manusia. Yakni Mandi, Cuci, Kakus dan masak.
Oleh karenanya, kebanyakan air limbah yang masuk ke STP tentu mengandung senyawa organik dalam jumlah yang tinggi (walau tidak setinggi air limbah industri makanan dan minuman). Maka dari itu, sejatinya STP itu sendiri akan bertumpu pada proses biologi untuk menghilangkan pencemarnya.

Tingkat cemaran biologi pada STP biasanya diukur pada parameter : COD, BOD, Oil & Grease serta ammonia. Yang sebagian besar dari parameter tersebut akan diselesaikan lewat proses biologi jenis aerob atau aerasi.

Untuk ukuran tangki aerasi, idealnya harus memiliki 1 hari dari debit full limbah yang masuk. Atau paling sedikit berjumlah 3/4 hari. Jikalau kurang dari itu, maka dikhawatirkan proses pengolahan yang terjadi tidak akan maksimal dan akan lebih banyak gagalnya dari pada berhasil.

Misalkan, debit air limbah yang masuk perhari adalah 30 m3/day, maka untuk ukuran aerasi setidaknya adalah 22.5 m3.

Hal ini untuk memastikan bakteri memiliki waktu proses dan waktu tinggal yang cukup, untuk dapat menguraikan senyawa organik yang melekat sebagai pencemar di air limbah.

Lihat Juga : Cara menghilangkan Warna di Air Limbah

2. Ruang Hidup Bakteri


Point penting kedua dalam pembuatan desain STP adalah penyiapan ruang hidup bakteri. memang pada dasarnya banyak yang berpendapat bahwa untuk membuat bakteri dapat hidup maka cukup menyediakan ruangan biologi baik aerasi ataupun anaerob.
Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, namun untuk praktek saat ini saya rasa kurang tepat. Sebab saya pribadi telah membuktikan dilapangan, tanpa didukung dengan media bakteri maka proses pengolahan bisa menjadi seperti trial dan error. Lagi, bakteri juga akan lebih cepat tumbang ketika air limbah mengalami fluktuasi debit ataupun parameter pencemar.

Kita ibaratkan, manusia untuk hidup hanya disediakan sebuah aula yang luas. Dan dalam aula tersebut ada ratusan orang. Maka manusia tersebut tidak akan nyaman dalam beraktifitas dan bekerja karena privasinya terganggu. Senada dengan hal tersebut, untuk bakteri yang sama-sama mahluk hidup juga perlu diberikan ruang khusus tersendiri agar memiliki privasi dan kenyamanan yang lebih dalam beraktifitas.

Ruang untuk bakteri tesebut dapat diterapkan dengan media seperti :
a. Bioball
b. Honey Comb
c. MBBR
d. Biocylinder / Caged Crum Ball

dari keempat media bakteri tadi, saya paling merekomendasikan menggunakan metode ke-empat dikarenakan efektifitasnya di lapangan yang saya temukan lebih tinggi serta lebih tahan banting ketika menghadapi fluktuasi.

Lihat Juga : Honey Comb Vs Bio ball, Mana yang lebih baik?

3. Pretreatment

Point ketiga yang sangat penting dalam pembuatan rancangan STP adalah persiapan pretreatment sebelum air limbah masuk ke pengolahan Inti.

Pretreatment disini dimaksudkan untuk mencegah benda atau sesuatu yang bukan peruntukannya masuk ke dalam jalur pengolahan air limbah STP.

Pretreatment yang dapat dipasang antara lain :
a. Wastafel grease Trap
b. Junk Trap
c. Bak Kontrol
d. Water Mur
e. Emergency Line

4. Grease Separator


Grease atau Oil separator (Biasa disebut juga dengan grease trap) adalah bangunan atau alat yang digunakan untuk dapat menangkap lemak sebelum masuk ke dalam sistem pengolahan inti. Sebab lemak memiliki ikatan organik yang cukup kuat yang sulit dipecahkan dengan proses fisika ataupun biologi. Jikalau bisapun maka akan membutuhkan retention time yang lebih lama daripada biasanya.

Oleh karenanya menginstall grease separator sebelum STP adalah langkah yang cukup bijak untuk mengamankan effluent dari terlewatkannya baku mutu yang dipersyaratkan.

Grease atau oil trap dapat dibuat sekaligus besar ataupun dipecah menjadi bagian-bagian kecil tiap wastafel. Untuk hasil yang lebih efektif disarankan untuk memecah grease trap menjadi bagian kecil. Karena dengan begitu lemak akan dengan lebih mudah dipisahkan karena jumlahnya lebih sedikit dan lebih mudah dalam pemantauanannya.

Lihat Juga : Membaca Keterkaitan Antara Parameter di hasil analisa

5. Nutrient Dosing

Point kelima yang penting untuk dipertimbangkan adalah pemberian nutrisi atau nutrient dosing pada STP.

Point ini penting untuk dilakukan ketika dua hal ini terjadi :
a. Starting Culture
b. Idle System



Untuk starting culture, tujuannya adalah untuk membooster pertumbuhan bakteri dengan nutrisi yang tepat sebelum akhirnya dapat beradaptasi dengan makanan dari air limbah yang ada.

Dan untuk idle system adalah ketika tidak ada asupan air limbah yang masuk, maka bakteri dapat menjadi kanibal karena mereka menjadi kelaparan. Hal ini biasa terjadi ketika gedung mengalami libur cukup panjang. Dalam kejadian seperti ini perlu ditambahkan nutrisi tambahan untuk menjaga daya hidup bakteri yang telah dengan susah payah kita pelihara dalam sistem STP kita.

Lihat juga : Desain Proses Biologi di IPAL Domestik

6. Odour Remover

Bau adalah salah satu masalah yang sering ditemukan dan dikeluhkan oleh orang-orang yang berada disekitar STP baik karyawan ataupun warga sekitar.

Bau juga dapat mengurangi estetika serta semangat kerja, yang dalam jangka waktu lama bahkan bisa menyebabkan konflik.

Maka dari itu, untuk sebuah sistem STP yang baik, seharusnya sudah menyiapkan proses penghilangan atau peredaman bau yang muncul. Proses penghilangan bau itu sendiri dapat dibuat dengan pembuatan exhaust fan ataupun dengan pengembangan culture bakteri yang tepat. Bakteri jenis enterobacter, dan Azetobacter serta Bacillus dapat menjadi pilihan yang cukup tepat dan hemat energi dalam praktek penghilangan bau di STP.

Lihat Juga : Cara Menghilangkan Bau di WWTP/IPAL

7. Final Make-Up Process


Point terakhir yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan STP adalah perlunya dibuat proses make-up pada tahap akhir.

Proses make-up ini adalah untuk mendempul hasil buangan agar masuk ke dalam standar. Beberapa parameter seperti TSS, Total Coliform, Warna, Rasa, Bau, pH dan lainnya perlu di make-up untuk memastikan semuanya ok dan masuk ke dalam standar.

Bebeberapa cara make-up yang dapat dipilih antara lain :
a. Installasi Filter Carbon dan Sand/ Multimedia Filter
b. Pembelian jalur atau Tube Chlorinasi
c. Dosing dan pH Reader untuk alkali

Oke sobat olah-air.com itu dia 7 Point penting yang dapat sobat includekan dalam STP yang sedang sobat persiapkan. Untuk hasil terbaik dalam pembuatan STP, selalu pilihlah dan gunakan ahlinya.

Salam hangat,



Mr. Anggi Nurbana
Water Treatment Specialist

Baca selengkapnya